
"Jangan bercanda, Isander." Reza menepuk bahu Isander dengan senyum yang canggung. "Mana mungkin tanaman merambat bisa bergerak secepat pahlawan super berkostum merah dengan logo listrik di dadanya."
Giya dan lainnya mengangguk, mereka tidak langsung percaya dengan ucapan Isander tadi. Mustahil untuk tanaman bisa bergerak sangat cepat, bahkan mereka tidak menyadari keberadaan tanaman-tanaman tersebut.
Isander menampilkan senyumannya yang menawan di mata para wanita, termasuk Helen dan Reren, kemudian dia menggelengkan kepalanya tanpa daya. "Apa yang aku dapatkan saat aku bercanda di situasi yang serius ini?"
"Tidak ada," jawab Reza tanpa sadar.
Isander menunjuk dan mengangguk. "Ya, benar. Aku tidak mendapatkan apa-apa."
Dalam sekejap, mereka semua terdiam tak bergerak bagai pajangan patung.
Dengan kata lain, Isander benar-benar berkata sejujurnya dan tak mengada-ada. Apa yang diucapkan oleh Isander merupakan sesuatu yang memang terjadi di hari ini.
Begitu selesai terkejut, mereka semua langsung merenung untuk memikirkan hal yang janggal ini.
Terdengar sangat mustahil kejadian tersebut memang terjadi. Maka dari itu, mereka berpikir untuk mengetahui tentang apa makhluk tersebut, bisa saja itu ada hubungannya dengan monster.
Semua keanehan tidak luput dari keberadaan monster. Tersangka pertama dari kejadian ini adalah monster.
"Mungkinkah monster yang menyebabkan itu semua?" Giya menatap Isander dan lainnya dengan ekspresi yang serius.
Reza dan Kila saling memandang, dan keduanya mengangguk bersama. Reza berkata dengan ekspresi yang sama seriusnya, "Aku juga berasumsi seperti itu, tetapi aku tidak tahu monster apa yang bisa melakukan hal tersebut. Itu terlalu ajaib."
"Benar, monster yang kita ketahui tampaknya tidak ada yang sehebat itu. Mampu membuat tanaman merambat ke suatu arah dan jumlahnya tidak sedikit," tambah Kila yang punya dugaan yang sama.
Anggota lain pun berpikir seperti mereka bertiga, tetapi mereka tidak yakin dengan dugaan mereka.
Isander masih menggendong Meisya yang tertidur di pelukannya. Jujur, dia punya tebakan yang mirip dengan mereka semua, Isander sendiri curiga kepada monster.
Monster yang dia curigai adalah monster Deegiant, monster yang punya anatomi tubuh mirip binatang rusa dengan tubuhnya terbuat dari banyak tanaman.
Bisa saja tumbuhan yang merambat tersebut merupakan bagian tubuh monster Deegiant dan pergi ke suatu titik untuk berkumpul membentuk monster Deegiant.
Namun, itu masih asumsi dan dugaan Isander tentang kejadian aneh ini.
Dia merasakan ada banyak sekali tanaman merambat yang pergi ke arah timur, kekuatannya bisa merasakan sesuatu yang bergerak dalam radius 1 kilometer lebih dari tempatnya berdiri.
Entah dugaannya benar atau tidak, dia berharap bertemu dengan monster itu untuk mengetahui batas kekuatannya.
"Deegiant, aku merasa dia pelakunya," celetuk Reza setelah mereka semua terdiam untuk berpikir lagi.
"Jangan, aku masih belum siap untuk bertemu dengan puncak monster level A," kata Giya yang enggan bertemu dengan monster tersebut.
Mendengar rumor dan isu monster itu saja membuatnya merasa ngeri dan takut. Bayangkan saja ada monster yang memiliki ukuran yang besar puluhan meter dengan kemampuan yang kuat dan unik. Sulit untuk dibunuh bahkan oleh kemampuannya sendiri.
Tidak tahu jika itu Isander yang mencoba membunuh monster tersebut, kemungkinan bisa dibunuh.
Kila dan Nina mengangguk, mereka setuju dengan Giya, mereka masih belum berani melawan monster tingkat A, lebih lagi puncak dari satu tingkatan.
Monster Deegiant momok menakutkan bagi para Agter karena itu sudah menjadi sebuah cerita, bahkan dianggap mitos oleh banyak orang.
"Terlepas dari menakutkan apa tidaknya, probabilitas itu Deegiant agak besar. Setahu kita, tidak ada monster yang punya kekuatan mengendalikan tanaman, kan? Kita hanya tahu ada satu monster yang punya kemampuan tersebut, dan itu Deegiant," terang Reza yang malah memperkuat dugaannya sendiri.
Kila memukul tangan Reza dan berkata, "Sudah-sudah, jangan menduga ke monster itu. Bukankah monster itu cuma mitos atau cerita saja, belum ada bukti monster tersebut pernah bertemu orang-orang."
"Oke, Sayang." Reza mengangguk mengerti dan mengelus tangannya yang sakit.
Mereka semua memikirkan ucapan Reza hingga mereka semua pergi tidur. Dalam hati mereka yang sebenarnya, ucapan Reza sangat masuk diakal, membuat mereka mempercayai tentang ini, tetapi juga mereka menyangkal karena takut dugaan Reza menjadi kenyataan.
Burung-burung terdengar berkicau suatu yang jarang terjadi, menandakan pagi sudah datang dan menyuruh seluruh manusia untuk bangun dari tidur mereka.
Isander dan semua anggotanya sarapan pagi sebelum pergi lagi menempuh jalan agar bisa sampai di Kota Komodo.
Sarapan pagi mereka terbilang sangat enak, mereka mencoba untuk tidak boros dan menghemat makanan, makan secukupnya.
__ADS_1
Makan berlebihan pun tidak baik bagi mereka karena itu akan mengganggu mereka dalam melakukan penyerangan untuk membunuh monster, terlebih juga mereka akan mudah mengantuk dan perjalanan tidak akan mulus.
Sehabis mereka sarapan pagi, mereka bersiap-siap untuk bepergian dan meninggalkan rumah ini.
Isander membuat tanda untuk supaya bangunan tempat mereka singgah ini dapat ditemukan oleh orang-orang dan digunakan oleh mereka yang kebetulan melewati tempat ini.
Mungkin mereka akan kembali ke sini lagi setelah datang ke Kota Komodo.
Begitu semua dirasa siap dan berang tak ada yang tertinggal, mereka semua pergi dari daerah reruntuhan pemukiman, berjalan menuju ke arah timur yang mereka yakini tempat Kota Komodo berada.
Reza sudah lama tidak ke Kota Komodo, Reza dan Kila mengaku mereka sudah 1 tahun tidak mengunjungi kota tersebut karena jaraknya yang jauh dan medan perjalanan yang lumayan sulit.
Dikarenakan mereka sudah lama tidak ke Kota Komodo, mereka menjadi agak lupa dengan jalurnya, tetapi mereka masih bisa mengingat dengan meraba-raba tempat.
Pada intinya, Isander menggunakan kompas yang menjadi fitur jam tangannya untuk menentukan jalur yang tepat. Reza dan Kila bersaksi bahwa Kota Komodo ada di arah timur dari Pulau Jawa, artinya dia memang harus terus berjalan ke timur hingga sampai ke tempat yang mirip Kota Garuda.
Bentuk Kota Komodo agak mirip dengan Kota Garuda kata Reza dan Kila, sama-sama mempunyai tembok tinggi yang kokoh.
Tak jauh berbeda, mungkin bentuk wilayahnya saja yang berbeda. Giya dan Nina sudah lupa tentang Kota Komodo. Jadi, perjalanan ini benar-benar mengandalkan informasi yang ada pada Reza dan Kila.
Setelah berjalan lebih dari 3 jam, mereka sudah sampai di suatu tempat yang dipenuhi oleh hutan yang lebat dan diisi banyak pepohonan tinggi.
Monster di daerah ini cukup banyak monster dengan jenis yang berbeda, mereka tidak jarang bertemu dua jenis koloni monster dalam sekali penyerangan monster.
Untungnya, Isander membantu mereka semua dengan menganugerahkan mereka dengan Wind Barrier sehingga mereka benar terlindung dari serangan luar monster. Selain itu juga Isander mengeluarkan Dark Spear untuk membunuh monster yang dikira sulit dibunuh.
Setiap kali Isander mengayunkan senjatanya, banyak monster hancur karena terpotong oleh energi berwarna hitam gelap dan banyak listrik ungu.
Kerusakannya bahkan melebihi kerusakan yang ditimbulkan oleh kekuatan semua anggota kelompok Isander.
Mereka akan terkejut saat Isander meluncurkan serangannya terhadap monster, itu terlihat keren dan menakjubkan.
Helen dan Reren menatap Isander dengan mata penuh bintang, memiliki perasaan kagum yang sangat tinggi pada Isander.
Dengan bantuan Isander, perjalanan hari ini akan lebih jauh jarak tempuhnya daripada kemarin.
Tempat mereka sudah aman dari monster, Isander sudah menjamin keamanan mereka karena persepsinya yang kuat dibantu oleh kemampuannya.
"Kalian lihat itu?" Reza menunjuk ke suatu semak-semak yang ada di sekeliling mereka yang sesekali bergerak karena sesuatu. "Aku curiga tanaman merambat kemarin yang menggerakkannya."
"Sungguh? Aku tidak percaya." Giya menatap Reza dengan ekspresi yang meragukan.
"Tunggu," ucap Reza yang sedang mempersiapkan sesuatu.
Dia memunculkan belati anginnya di tangan kanan, kemudian bilah belati menyala berwarna hijau muda. Terlihat ada energi yang sedang Reza tahan pada bilah belatinya lalu menebaskan belatinya ke arah semak-semak yang beberapa kali bergerak dan berbunyi.
Slash!
Angin berbentuk lengkungan bilah terbang sangat cepat memotong semak yang ada di depannya. Dengan lebar angin yang melebihi 1 meter, semak itu terpotong menjadi beberapa bagian dan memperlihatkan sesuatu di baliknya.
Benar yang Reza katakan, di balik semak belukar tersebut terdapat banyak sekali tanaman yang merambat sangat cepat seolah itu sedang lari maraton ke suatu tujuan yang ada di timur.
Semua terkejut saat tahu ini, dan mereka langsung mempercepat proses makan siangnya.
"Ayah mau ke mana?" Meisya memanggil Isander yang berdiri dan berjalan.
"Ayah ingin lihat-lihat sesuatu yang ada di depan, kamu di sana saja bersama Kakak Giya, Helen, dan Reren," balas Isander berjalan mundur ke arah anggota kelompoknya yang masih makan.
Isander berniat untuk memeriksa tanaman yang sudah satu hari bergerak tidak berhenti dan kelelahan. Isander pikir, tanaman yang merambat ini berasal dari banyak daerah, bukan satu daerah, mungkin dari arah selatan dan utara terdapat tanaman merambat yang sama-sama bergerak.
Hal yang ingin ketahui adalah di mana tanaman merambat ini berkumpul.
Isander berdiri di jalur di mana tanaman merambat itu terus merayap dengan cepat.
Dengan sambaran tangan Isander yang sangat cepat, dia berhasil menangkap salah satu tanaman merambat yang bergerak dengan cepat.
__ADS_1
Tanaman merambat yang tampak seperti tali ini meliuk-liuk dan hidup. Isander melihat tanaman ini mirip dengan ular, tetapi tanpa kepala dan buntut dan corak khasnya.
Ini benar-benar tanaman merambat dan bukan entitas makhluk hidup yang benar-benar hidup layaknya binatang dan manusia. Tanaman punya pergerakan yang tidak leluasa dan cepat.
Blarr!
Tanaman hijau yang panjang ini dibakar oleh Isander karena berusaha untuk menyakitinya dengan melilit pergelangan tangannya dan menahan urat nadinya.
Dapat dirasakan energi yang mirip dengan monster-monster pada umumnya. Dari ini saja Isander dapat menyimpulkan bahwa tanaman merambat berasal dari monster. Bukan hal yang mustahil bahwa tanaman ini bagian dari tubuh monster.
Dengan begitu, Isander melemparkan bola api sebesar kelereng dari sepuluh jarinya, membakar semua tanaman merambat yang lewat ke arahnya.
Giya, Nina, dan lainnya yang melihat ini langsung terkejut, memandang Isander dengan wajah yang tidak mengerti.
"Apakah dia sedang menghancurkan tanaman-tanaman yang bergerak cepat itu?" tanya Kila kepada Giya dan lainnya.
Helen yang punya mata tajam bak mata elang mengangguk dan menjawab, "Bola apinya menghancurkan setiap tanaman merambat yang lewat, tak ada satu pun yang terlewatkan."
"Sungguh?!" Reza terperanjat dan menatap Helen dengan mimik yang tak percaya.
Kepala Helen bergerak naik turun menunjukkan ucapannya benaran nyata.
Sebelum mereka pergi membantu Isander, bola api yang dilemparkan oleh Isander secara bertubi-tubi telah selesai, dan Isander kembali berjalan menghampiri mereka.
"Tanaman itu sudah habis. Mungkin tanaman merambat yang berasal dari barat telah habis," kata Isander kepada mereka sambil duduk di dekat Meisya yang asyik melahap makanannya.
"Jadi, tanaman itu ada yang berasal dari arah yang berbeda?"
"Benar, aku menduga seperti itu." Isander mengangguk ke arah Giya yang bertanya.
Mereka semua terdiam dan keadaan menjadi sunyi. Masing-masing dari mereka memikirkan tentang ini dan membuat suatu kesimpulan mengenai hasil pikirannya.
Secara musyawarah, mereka sama-sama menduga bahwa ini adalah perbuatan dari monster mitos level A yang sangat-sangat misterius.
Isu-isu yang beredar tentang tubuhnya dilengkapi banyak tumbuhan membuat mereka yakin dengan dugaan mereka semua.
Tidak mungkin tanaman bergerak sendiri terlebih dengan kecepatan yang tinggi jika tidak ada pengaruh dari seseorang.
Belum ada informasi tentang Agter yang mampu mengendalikan tanaman sejauh dan sebanyak itu. Isander bukan mengendalikan tanaman, melainkan kayu. Kayu lebih spesifik dan tanaman lebih universal.
Usai mereka makan siang, semuanya melanjutkan lagi perjalanan karena mereka masih belum sampai di tempat tujuan.
Menurut Reza mungkin mereka akan sampai besok atau besok lusa di Kota Komodo, jika memang tak ada kendala dan halangan yang sangat mengganggu.
Mereka kira tanaman merambat telah tidak ada, ternyata itu perkiraan mereka salah, masih banyak tanaman merambat dengan panjang dari 30–100 sentimeter yang bergerak begitu cepat di sekitar mereka.
Itu tidak muncul dari satu arah melainkan dari segala arah. Bergerak bak prajurit yang berlari dalam peperangan melawan musuh.
Memakai kekuatan mereka semua, tanaman-tanaman yang bergerak itu dihancurkan sekejap, tanpa ada yang dibiarkan lolos meski itu satu tanaman.
"Jangan biarkan mereka pergi ke sana, hahaha!"
Reza memotong tanaman merambat yang melilit kakinya dengan belatinya dengan ayunan yang cepat, tanpa melukai kulit kakinya.
Mendengar ucapan Reza, mereka semua bergerak dan memotong tanaman merambat tersebut dengan kemampuan Agta masing-masing.
Helen dan Reren bekerja sama dalam memblokir jalan tanaman tersebut. Perisai bulat berduri menghancurkan semua tanaman yang ada di radius panjang perisai yang dibariskan ke samping.
Panah beku Helen membuat tanah hancur yang menghambat akselerasi tanaman merambat bergerak.
Giya dan Kila menghancurkan merambat yang lolos dalam pertahan yang dibuat oleh Helen dan Reren.
Sementara Nina dan Reza menjadi penyaring tanaman yang masih lolos dari serangan anggota sebelumnya. Gerakan mereka berdua yang cepat menjadi pengeksekusi yang baik.
"Hihi, serang mereka semua! Rasakan itu, Rumput Jelek!"
__ADS_1
Meisya yang melihat mereka bekerja sama tertawa kegirangan karena dia menganggap tanaman merambat penjahat kecil yang tidak menyeramkan.
Tak ada jejak darah saat mereka semua merusak tanaman merambat tersebut.