
Mereka semua memperhatikan Badge yang ada di tubuh kedua orang ini.
Mata Giya menyipit untuk melihat dengan jelas tanda kebangkitan mereka berdua dari jarak jauh.
Dalam beberapa waktu yang lama, sekitar 5 menit mereka memandang bukti-bukti yang ditunjukkan oleh Reza dan Kila, mereka semua mengidentifikasi bahwa lencana atau Badge yang ada pada tubuh mereka adalah asli.
"Sudah cukup, kami percaya dengan kalian," kata Giya kepada Reza dan Kila dengan wajah serius.
Giya dan Nina selalu memasang ekspresi wajah yang serius selama ada kehadiran dua orang ini. Mereka berdua tampak sangat waspada dengan Reza dan Kila.
Pasalnya, Giya dan Nina tidak mengenal Reza dan Kila yang berasal dari kota yang sama. Makanya mereka tidak bisa langsung percaya.
Sekarang mereka percaya meski tidak seratus persen. Jika dipikir lagi, kota yang paling dekat dari sini hanya ada Garuda City, tidak ada lagi kota yang lebih dekat.
Otomatis pernyataan mereka itu benar dan tidak bohong.
Reza dan Kila duduk kembali di bawah lantai keramik yang berdebu, menatap Isander dan lainnya dengan kikuk.
Mereka tampak seperti orang yang ketahuan melakukan perbuatan tak terpuji oleh warga sekitar.
"Sebelumnya, kalian benar-benar tidak di sini atau berpindah-pindah?" tanya Isander sambil mengelus tubuh Meisya.
"Kami tinggal di daerah sekitar sini, tidak bertempat di satu spot atau bagian saja, kami selalu berpindah demi menghindari monster-monster yang ada," jawab Reza dengan sikap yang mulai santai.
Mengetahui Isander dan kawan-kawan adalah orang yang tidak agresif dan kejam, Reza dan Kila tidak begitu panik dan malah mulai bersikap tenang.
Walaupun mereka salah karena mengendap-endap dan mencurigakan, tetapi mereka tidak terbukti berbuat jahat jadi tidak mengapa mereka tenang dan mulai berbaur dengan Isander dan lainnya.
Kila mengangguk dan menambahkan, "Kamu tidak tinggal di satu tempat di daerah ini, kami kadang ada di bawah pohon untuk tinggal, atas pohon, reruntuhan rumah, dan sebuah gubuk tua."
"Kebetulan kalian ke sini, dan menemukan kita?"
"Ya, itu sudah kami jelaskan tadi."
Isander menatap Giya untuk memberi sebuah kode.
"Kalian sudah makan?" Isander menatap mata Reza dan Kila bergantian. Pandangan mata Isander yang biasa terasa berbeda ketika Reza dan Kila lihat. Sangat mencekam.
__ADS_1
Reza dan Kila mengangguk kaku. Mereka ke sini karena tertarik dengan aroma wangi ayam bakar, artinya mereka memang lapar.
"Beri mereka potongan ayam yang tersisa, Giya."
"Baik."
Giya langsung mengikuti perintah Isander, dan mengeluarkan dua potong ayam yang dua-duanya bagian paha.
Melihat ini, mata Reza dan Kila menjadi cerah, apa yang mereka cari akhirnya dikasih.
Akan tetapi ketika mereka mendapatkan potongan ayam dari Giya, mereka tidak langsung memakannya, melainkan memandangi keseluruhan potongan ayam dengan begitu teliti.
Secara pribadi, mereka berdua masih takut dengan Isander dan lainnya. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Jika ada orang yang kelihatan baik pun, itu tidak selalu baik.
Dengan demikian, mereka memeriksa makanan ini ditakutkan Isander dan lainnya berbuat jahat kepada mereka berdua.
Menyaksikan gerakan mereka yang sangat berhati-hati, Isander mengerti dengan maksud dari gerakan mereka berdua. Oleh karena itu, Isander berkata dengan suara yang datar, "Ayam itu higenis dan aman dari racun. Kamu tidak meracuni kalian. Makan saja, bukankah kalian lapar?"
"Eh, iya. Kami akan makan sekarang," ucap Reza dengan suara yang terdengar takut.
Dalam ucapan Isander tidak sengaja aura kekuatannya keluar sehingga itu menekan jiwa dan tubuh kedua orang ini.
Untungnya, Isander sadar dan langsung mengunci lagi aura tubuhnya.
Reza dan Kila, pasangan ini makan daging ayam sangat lahap, tidak menyisakan sedikit pun daging yang menempel pada tulangnya.
Mereka benar-benar kelaparan. Tak heran mereka mengendap-endap ketika langsung mencium aroma daging yang enak di hidung.
Melihat mereka berdua selesai makan, Giya dikirim kode tatapan oleh Isander dan Nian.
Giya mengeluarkan air minumnya yang disimpan di botol yang telah lama ia temukan, dan memberikannya kepada Rena dan Kila.
Namun, itu ditolak oleh keduanya dengan alasan dia sudah memiliki air minum.
Tas yang ada di punggung mereka berdua berisikan kebutuhan utama mereka. Banyak benda atau barang yang krusial bagi keduanya.
"Dari mana kalian mendapatkan air minum?" Giya bertanya dengan wajah yang ingin tahu.
__ADS_1
Pertanyaan Giya tak langsung dijawab cepat, dia menenggak air minum dari air minum masing yang terbuat dari plastik.
Banyak benda yang terbuat dari plastik yang tersemat di banyak reruntuhan.
Tidak tahu mengapa banyak benda yang terbuat dari plastik tergeletak begitu saja di banyak tempat di reruntuhan.
Menemukan botol air minum plastik bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi tetap dianggap lebih baik dari pada tidak menemukan apa-apa.
Menelan air putih yang segar, Reza mengungkapkan jawabannya, "Terus saja berjalan ke arah timur, kalian nanti menemukan sungai yang kecil, tetapi tidak terlalu kecil ukurannya dan juga tidak begitu besar."
"Apakah ada monster di sana?" Nina kali ini bertanya kepada Reza dan Kila.
"Sejauh yang aku tahu, di sungai tidak terlalu banyak monster, hanya beberapa saja. Makanya kami berani untuk mengambil air putih, virus tidak bisa menyebar melalui air."
"Oke, kami tampaknya harus ke sana," celetuk Isander sambil menggendong Meisya sampai tidur terlelap.
Meisya tidak baik untuk ikut bertualang di umurnya masih kecil ini. Maka dari itu, Isander membuat anak tertidur lelap jika ada konflik masalah.
Selain mengurangi teriakan, psikologi Meisya baik-baik saja dan tidak begitu tercemar oleh sadisme monster dan dia ketika saling bertarung.
Tidur adalah solusi yang tepat untuk sementara waktu.
"Mau kami antarkan biar cepat? Anggap saja ini balas budi kami berdua karena kalian sudah membantu kami keluar dari rasa kelaparan," tawar Kila kepada Isander dan lainnya. Wajahnya masih terlihat bingung.
Berbeda dengan Reza yang sudah masuk ke dalam getaran dan atmosfer Isander, Giya, Nina, dan Meisya. Tidak terasa asing lagi, tetapi dia tetap waspada sebagaimana seharusnya orang yang baru kenal harus berhati-hati.
Semua orang tidak tahu maksud dari orang-orang di sekitarnya atau satu sama lain. Makanya tidak boleh sembarang untuk berteman jika tidak tahu sifat asli dari orang baru dikenal.
Isander, Giya, dan Nina saling memandang satu sama lain, menimbang-nimbang tawaran Kila dan Reza yang bersedia untuk mengantarkan Isander dan lainnya ke tempat sungai yang mereka berdua maksud.
Setelah renungan yang dilakukan mereka selama lebih dari 3 menit, mereka memutuskan untuk menerima tawaran mereka membawa mereka ke sungai yang di maksud.
Dalam sekejap, mereka langsung melakukan persiapan untuk melanjutkan perjalanan sebelum malam tiba.
Dipimpin oleh Reza dan Kila, mereka berangkat menuju sungai kecil di timur.
"Di mana ayam-ayam yang biasa ada di hutan? Mengapa aku tidak melihatnya satu ekor pun di sekitar sini?"
__ADS_1