
Menoleh melihat Meisya di gendongannya, Isander tersenyum dan berkata, "Nanti ayah ikut bergabung dan membantu mereka."
"Kenapa tidak sekarang saja, Ayah? Meisya tidak apa-apa menunggu Ayah di sini bersama Kakak Giya," balas Meisya dengan mata yang jernih dan polos.
Wajah Meisya saat melihat ayahnya tampak lucu dan menggemaskan, membuat Isander tidak tahan untuk tidak mencium pipinya.
"Nanti saja, Ayah ingin mencium pipi Meisya terlebih dahulu."
Berikutnya, Isander mencium pipi Meisya yang kenyal sambil menggodanya.
"Haha, Ayah, itu membuatku geli!"
Meisya merasakan geli saat Isander mencium pipinya dengan intens dan juga berbunyi. Isander membuat bunyi lucu saat menciumi Meisya untuk membuatnya tertawa.
Menyaksikan orang tua dan anak tertawa bersama, Giya tersenyum karena merasakan kebahagiaan juga.
Sangat indah melihat kebahagiaan di sekitar kita, membawa hawa positif yang membuat kita ikut senang dan bahagia.
Semua orang membutuhkan hal tersebut, sudahi peperangan dan darah dunia ini, mereka sudah cukup menderita selama 5 tahun hidup di bawah rantai makanan alam.
Pada saat yang sama, di ratusan meter dari mereka, para Agter sudah mulai bertarung melawan monster Rhitager berbentuk seperti seekor badak dengan ukuran yang lebih besar, 1,5 kali lebih besar dari normalnya, ditambah lagi bentuk mereka berbeda dengan badak normal karena di sekujur tubuh mereka dipenuhi oleh akar kecil, dan anehnya punya ekor berduri yang panjang.
Dengan ukuran yang besar, serangan dari senjata tajam milik Agter cukup bisa ditahan dengan kulitnya yang tebal. Meskipun demikian, para Agter masih bisa melukai mereka asalkan kecepatan mereka melebihi kecepatan kelompok Monster Rhitager.
Berbagai serangan dari bermacam-macam senjata yang dipegang Agter diluncurkan ke arah ratusan Rhitager yang sudah berpencar.
Mereka semua mencoba untuk melukai Agter terdekat dengan cara menabrakkan tanduknya ke tubuh Agter.
Namun, gerakannya yang lebih lambat dari Agter, mereka kesusahan untuk menanduk Agter-Agter yang berkeliaran melukai mereka.
Walaupun begitu, ada beberapa Agter tingkat rendah yang terluka parah akibat tertusuk cula tajam milik Rhitager dan ada Agter tingkat menengah seperti Agter Master yang terluka karena terkena cambukan ekor duri Rhitager.
Ekornya tak bisa diremehkan, memiliki kecepatan yang cukup cepat untuk menghantam Agter tingkat Senior dan Master jika mereka lengah.
Kraahh!
Salah satu Rhitager bergerak melambaikan ekor panjangnya yang berduri secara vertikal membuat lingkaran.
Ekornya tersebut melukai setidaknya belasan Agter terdekat, dan menghempaskan mereka bersama darah yang mengucur deras.
Agter lain yang melihat ini segera membantu Agter terluka dan melumpuhkan Rhitager ini.
"Serang dia!"
Salah satu Agter berseru memberi arahan kepada Agter lain untuk menyerang Rhitager yang satu ini, kemudian dia berlari penuh amarah sembari membawa palu Godam di kedua tangannya.
__ADS_1
Selanjutnya, beberapa Agter mengikuti arahan tersebut dan ikut menyerbu satu Rhitager tersebut.
Palu godam, bilah pedang, golok, tombak, tongkat kayu, dan senjata dekat lainnya menghantam sampai membuat Rhitager tersebut terluka parah.
Tidak sampai 1 menit bertahan, Rhitager tersebut mati lantaran terlalu banyak menerima luka yang dalam, bahkan kepalanya hampir menjadi pipih karena palu godam yang menabrak kepalanya dengan sangat keras.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa perbuatan mereka memicu monster lain mengamuk marah dan melakukan hal yang sama seperti Rhitager yang terbunuh.
Ratusan monster tersebut mengayunkan ekornya yang berduri ke sekeliling untuk membunuh Agter terdekat.
Hal tersebut mengorbankan nyawa belasan Agter yang menjadi daging suwir akibat robekan dari duri tajam pada ekor monster.
Melihat ini, Goron yang sampai di tengah medan pertempuran segera menghentikan monster tersebut dengan kekuatannya.
Mengangkat tinggi-tinggi kedua tinjunya, Goron memukul tanah dengan keras hingga mengeluarkan bunyi.
Bang!
Tanah di medan pertempuran terhentak ke atas membuat semua yang ada di atas terhempas beberapa sentimeter di udara.
Dengan begitu, semua monster berhenti menggerakkan ekornya yang berbahaya.
"Kalian harus membayarnya, Kulit Tebal!"
Kedua tangan Goron diselimuti oleh sarung tangan yang lapisan tanah keras membentuk sebuah kepalan tangan raksasa.
Kedua kepalan tanah itu ditabrakkan menunjukkan betapa keras kepalan tangan raksasa yang terbuat tanah yang padat.
Berikutnya, Goron berlari cepat menuju Rhitager paling dekat sembari mengangkat tinju kanannya yang besar.
Bum!
Kepalan tangan besar tersebut memukul tubuh monster dengan keras hingga terhempas jauh menabrak Rhitager lainnya.
Tidak berhenti di situ, Goron melemparkan pukulan mentah ke Rhitager paling dekat sampai tubuh monster tersebut remuk dan terdistorsi.
Pemandangan Goron yang membombardir banyak Rhitager membuat Agter lainnya menjadi bersemangat kembali.
Semua orang secara serempak bergerak menghajar semua monster Rhitager.
Akan tetapi, semua Rhitager buru-buru melakukan hal yang sama seperti sebelumnya dan menggoyangkan ekornya ke arah Agter yang mendekat.
"Sialan, kalian semua!"
Goron menghentikan banyak ekor monster yang telah menumbangkan puluhan Agter.
__ADS_1
Kedua tangannya yang keras beradu dengan ekor-ekor monster yang terayun keras.
Jari-jari kepalan tangan Goron terbuka dan meremas ekor monster tersebut untuk mematahkannya sampai tak sanggup bergerak lagi.
Melihat jumlah Rhitager begitu banyak, Goron merasa hal ini cukup merepotkan.
Pasukan Agter yang dibawanya kewalahan melawan monster-monster ini. Dia harus mematahkan ekor monster tersebut agar tidak bisa bergerak dan menyusahkan pasukan Agter ini.
Tepat ketika ia hendak meluncur ke monster Rhitager lainnya, matanya menangkap beberapa sosok yang berhasil mengalahkan banyak Rhitager dengan mudah.
Menyipitkan matanya untuk melihat beberapa sosok Agter ini.
"Bukankah orang-orang itu yang datang bersama dengannya?"
Beberapa Agter tersebut adalah Reza dan anggota kelompok Isander lainnya yang membantai dengan telak banyak Rhitager.
Reza dengan belati anginnya mampu memotong ekor berbahaya Rhitager dengan beberapa ayunan belatinya.
Nina dan Kila pun sama, dia tidak begitu kesulitan membunuh Rhitager yang ada dengan kekuatannya.
Dalam sekejap, mereka semua menjadi pusat perhatian orang-orang. Kekuatan yang mereka tampilkan sangat mencolok, terlebih Helen dan Reren yang punya kekuatan yang cukup kuat.
Kedua perisai Reren mampu memblokir sekaligus melukai ekor Rhitager yang tajam.
Helen pun mampu membekukan ekor monster hingga tidak bisa bergerak dengan anak panah esnya.
Mata Goron membesar setelah melihat performa bertarung mereka semua, dia terkejut saat tahu Agter-Agter ini punya kekuatan elemen yang sangat jarang dimiliki oleh banyak Agter.
Sorot matanya berubah menjadi cerah seolah dirinya menemukan harta karun.
Dengan adanya anggota kelompok Isander, pertempuran didominasi oleh para Agter.
Semua Agter yang ikut dalam pertempuran melawan ratusan Rhitager seolah semangatnya kembali terisi hingga penuh. Seluruh Agter menjadi berapi-api melawan semua monster yang ada.
"Matilah, kalian!"
"Oraa!!"
Dalam serentak, semua Agter menjadi lebih kuat lantaran semangat yang bergelora di dalam tubuh mereka.
Serang mereka menjadi mematikan dan tepat dengan bidikannya.
Seketika monster-monster tersebut dipukul keras oleh pasukan Agter dan berada di pihak yang tak lama lagi akan kalah.
Goron yang melihat pasukan Agter menjadi terbalik posisinya menjadi pihak yang menekan menjadi terkejut, dan wajahnya berubah cepat menjadi menampilkan ekspresi senang dengan senyuman yang penuh makna.
__ADS_1
"Kalian semua, lihat ke depan sana!"