
“Apakah mereka berdua akan baik-baik saja ditinggalkan begitu saja?“ Isander menatap Giya dan Nina dengan wajah yang sedikit khawatir.
Giya segera merespons, menoleh ke samping dan berkata, “Kurasa mereka berdua baik-baik saja. Wanita itu memiliki kemampuan yang kuat dalam pertahanan, Bullager saja bisa dia tahan hantaman tanduknya meski terluka.“
“Benar, pria itu juga memiliki kemampuan senjata yang cukup bagus dalam ofensif. Omong-omong, mereka berdua setara dengan kita karena sama-sama Agter Senior,” tambah Nina kepada Isander.
Mereka berdua sempat mengobrol dengan Bima, dan Bima menuturkan bahwa mereka berdua adalah seorang Agter Senior. Perbedaannya, mereka berdua baru naik ke Agter tingkatan Senior, alias bintang 1 atau one star.
Sementara itu, Nina dan Giya adalah Agter senior yang tingkatnya berada di atas bintang 1.
Tidak masalah untuk Bima dan Fina melawan para monster Catagtress atau sejenisnya yang memiliki kekuatan yang sama atau setara.
Maka dari itu, keduanya bisa menjawab pertanyaan Isander dengan yakin tanpa ada keraguan dalam ucapannya.
Namun, begitu mendengar ucapan mereka berdua, Isander makin tidak yakin dengan pendapat mereka berdua. Dia memiliki firasat dan perasaan yang tidak baik terhadap keduanya.
Bukan karena apa-apa, Isander sempat melihat bagaimana kedua orang tersebut melawan monster, itu sangat-sangat amatir dan ceroboh tanpa ada strategi yang dilakukan oleh keduanya.
Jika mereka bisa menahan beberapa kali serangan Monster Banteng Merah Raksasa yang bernama Bullager ini, Isander bisa percaya dengan tanggapan serta opini Giya dan Nina berikan.
“Apakah kalian yakin? Aku memiliki firasat yang buruk terhadap keduanya.“ Isander menatap kedua mata mereka dengan pandangan mata yang cemas.
Melihat Isander yang khawatir seperti ini, Giya menepuk bahu Isander dengan pelan takut Meisya terbangun dengan gerakannya yang tiba-tiba ini. “Semoga saja mereka berdua baik-baik saja. Jangan terlalu berpikiran negatif seperti itu. Kita percayakan mereka kepada kemampuan yang mereka miliki.“
“Aku harap mereka selamat dalam misi ini dan bisa bertemu dengan kita berempat lagi seperti tadi.“ Nina juga tersenyum dan mencoba membuat Isander berpikir positif.
“Baiklah.“ Isander menyingkirkan perasaan tidak enaknya terhadap Bima dan Fina. Mencoba untuk berpikir yang positif.
Meisya sudah tidur di pelukannya setelah beberapa saat mereka berempat berjalan menuju ke dalam hutan. Tampilan Meisya ketika tidur begitu lucu dan imut, membuat orang-orang yang melihat ingin sekali untuk mencubit dan menyentuh pipinya yang kenyal.
Giya dan Nina beberapa kali menyentuh pipi Meisya karena tidak tahan lagi dengan pesona imut yang dikeluarkan oleh wajah Meisya. Perjalanan menjadi tidak begitu seram dengan adanya Meisya yang ikut bersama mereka. Setidaknya, ada hiburan alami di antara mereka.
Sangat melelahkan jika setiap saat melihat darah dan monster yang jelek. Mata mereka butuh sesuatu pemandangan yang manis dan melelehkan hati. Dengan adanya Meisya ini sangat cocok untuk kebutuhan mental mereka.
Medan perjalanan terasa makin menanjak, menandakan mereka sedang mendaki ke daratan yang menjorok ke arah gunung.
Hutan yang mereka telusuri sudah berada di atas kaki gunung yang tinggi.
Akan tetapi, Giya memberi tahu hutan ini masih belum dalam, mereka harus berjalan ke dalam lagi untuk mencapai ke tempat sebuah sungai yang besar.
Benar, di atas sana ada sungai yang adalah aliran awal atau aliran sungai pertama yang mengaliri ke sungai yang ada di Rain Settlement.
Kemungkinan besar, sungai yang ada di Bogor berasal dari sungai tersebut. Sungai ini sudah berganti nama menjadi sungai awal atau Initial River.
Initial River merupakan sungai yang pertama yang mengaliri air ke banyak sungai sehingga banyak cabang aliran sungai yang berasal dari sungai besar tersebut.
Digadang-gadang sungai ini memiliki banyak monster Salmagtress. Banyak kelompok monster Salmagtress yang hidup di sana.
Oleh karena itu, mereka berempat pergi ke sana untuk memburu monster ikan yang menjijikkan dan bau.
Salmagtress memiliki bau yang sangat menyengat yang bisa membuat hidung sakit.
Mereka yakin bahwa rumah pohon yang semalam sempat mereka tempati sudah tercemar oleh bau busuk dan amis dari monster Salmagtress.
Banyak bangkai monster Salmagtress yang ditimbun di sana oleh Isander. Seharusnya, di sana sudah tercemar bau yang tak sedap.
Rumah pohon itu harus didiamkan beberapa hari agar bau yang mengendap itu keluar serta menghilang dan tidak lagi menyelimuti seluruh rumah pohon mereka.
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya harus berhenti berjalan. Pasalnya, hari sudah menunjukkan langit yang mulai redup dna remang-remang.
Pertanda hari menjelang malam.
__ADS_1
Dengan begitu, mereka harus membuat sebuah tempat singgah dadakan di waktu yang singkat ini.
Beruntungnya, Isander ikut dengan mereka. Dengan kemampuan Isander yang mengendalikan kayu, dia dengan mudah untuk membuat rumah kayu dalam waktu yang tidak lama.
Isander dengan cepat mengonsentrasikan kekuatannya kepada pohon redwood terdekat untuk diambil akarnya. Setelah itu, dia memotong beberapa akarnya untuk membuat dinding rumah pohon.
Batang kayu daei pohon redwood sangat keras cocok digunakan untuk membuat rumah pohon yang akan ditempati dalam waktu yang lama.
Kelemahannya, batang kayu ini sangat susah dipotong, Giya dan Nina harus menggunakan kekuatan Agta yang berjenis pisau atau senjata untuk memotong akar ini.
Setelah banyak akar keras dan beberapa potongan batang pohon yang berkambium dari pohon Redwood.
Isander mulai menyusun dinding dan alas pohon di salah satu pohon redwood yang cukup tinggi dan cocok dijadikan tempat bertenggernya rumah pohon mereka.
Cara menyusunnya tentu saja dengan memanjat. Isander harus menitipkan anaknya kepada Giya. Tentu saja, jika tidak dititipkan Meisya akan terbangun dari tidurnya. Apalagi, akan ada banyak serbuk kayu di udara yang bisa dihirup oleh hidung kecil Meisya. Tidak bagus untuk kesehatan anaknya.
Kurang dari 1 jam mereka membuat rumah pohon baru, sebuah rumah pohon dengan ukuran yang hampir sama dengan rumah pohon yang ada di hutan sebelumnya, kini ditampilkan di depan mereka.
Ukuran rumah pohon ini bahkan lebih besar dari rumah pohon itu, tata letak ketinggiannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketinggian rumah pohon di sana.
Lebih luas, lebih aman, dan lebih nyaman untuk ditempati.
Untuk bisa ke atas sana, Isander sudah membuat pijakan yang memudahkan mereka semua untuk bisa sampai ke rumah pohon yang memiliki ketinggian lebih dari 10 meter.
Pijakan ini bisa digenggam dengan mudah dan takkan licin begitu dicengkeram menggunakan tangan.
Selain itu, Isander juga sudah menyediakan sebuah akar gantung di samping pijakan untuk berjaga-jaga apabila mereka terjatuh.
Tali yang terbuat dari akar ini sangat berguna dalam kondisi yang darurat.
Setelah mereka memanjat melalui pijakan yang Isander buat dengan alami.
Mereka semua akhirnya sampai di atas rumah pohon dengan selamat tanpa terluka sedikit pun.
Ruang tidur ini sudah ada ranjang yang terbuat dari kayu. Meskipun tidak empuk, tetapi ini rata dan tak ada benjolan yang membuat tubuh sakit setelah bangun tidur.
Mereka bisa menutup alas keras dan kasar ranjang dengan kain yang mereka bawa.
Luas ruang kamar atau tidur ini cukup untuk dua orang tidur bersama. Cocok sekali dengan jumlah mereka. Ada 4 orang.
Penerangan hanya ada di ruang berkumpul, sengaja itu diletakkan di ruang tersebut karena jendela tidak ada di ruang berkumpul.
Tidak disematkan atau dibuat oleh Isander.
Sengaja seperti itu agar cahaya yang ada di ruang berkumpul ini tidak keluar. Cahaya terhalang tembok yang memisah ruang tidur dan ruang tempat berkumpul.
Jendela hanya ada di 2 ruang tidur tersebut.
Sebagai kesimpulannya, mereka bisa menyalakan lampu minyak sampai malam buta tanpa khawatir cahaya bocor keluar.
Jendela dibiarkan terbuka untuk pertukaran udara atau ventilasi, terbuka pun tidak lebar, secukupnya saja.
Kekurangannya, ruang tidur tidak bisa diterangkan.
Namun, itu bukan masalah bagia mereka berempat, Meisya sudah biasa tidur di tempat gelap meski sebelum tidur harus ada penerangan.
Kalau sudah mata terpejam, Meisya tidak masalah dipindahkan ke tempat yang gelap.
Meisya sudah bangun sejak rumah pohon hampir selesai dibangun atau dibuat.
Suara bising yang dihasilkan oleh proses pembuatan rumah pohon membuat Meisya terganggu.
__ADS_1
Di saat ini, Meisya sedang ikut makan malam bersama dengan Isander, Giya, dan Nina. Menikmati daging ayam yang dibakar.
Selagi Isander membuat rumah pohon, Nina memburu beberapa ayam yang kebetulan kerap berkeliaran di sekitar mereka.
Ketiga wanita ini membakar ayam-ayam hasil buruan Nina. Mereka memiliki bekal makan untuk besok. Masih tersisa 2 ekor ayam di tas Nina. Itu jatah mereka berempat makan besok hari.
Sehabis makan dan perut masing-masing dari mereka terasa kenyang.
Mereka duduk sejenak sebelum pergi tidur.
Kerapatan tembok rumah pohon ini cukup tinggi sehingga suara mereka berbincang tidak tembus keluar rumah pohon.
Terbilang aman dan bisa bebas mengobrol di dalam rumah pohon.
“Kamu tahu apa kemampuan Bima, Giya?“ Nina bertanya kepada Giya yang duduk di sebelahnya sambil bersandar ke tembok kayu.
Pertanyaan Nina tidak langsung direspons, Giya meminum air putih terlebih dahulu, kemudian dia menjawab, “Bukannya kamu tahu?“
“Pedang, kan?“
“Iya, itu dia.“ Giya mengangguk membenarkan. “Namun, aku lihat lagi, pedang Bima memiliki bentuk yang keren. Mirip dengan pedang bermata dua yang dipakai perang zaman dahulu.“
“Benar, pedangnya terlihat klasik sekali.“ Nina ikut mengangguk.
Isander yang sedang mengelus punggung Meisya yang sibuk memeluknya merasa tertarik dengan obrolan mereka berdua. “Kurasa ada yang spesial dengan kemampuan wanita yang bernama Fina itu.“
“Aku juga berpikir sama.“ Giya setuju dengan perkataan Isander. “Perisainya kuat menahan serangan tanduk dari Bullager tanpa tergores dan rusak.“
“Iya juga, ya. Aku baru sadar. Kalau begitu, perisai Fina kuat.“ Nina memegang dagunya merenung dan dia baru sadar dengan detail ini.
Isander berkata dengan senyum yang kecut, “Sayangnya, kekuatan fisik Fina tidak bisa menguasai perisai tersebut. Fisiknya terlalu lemah. Akibatnya, Fina bisa terluka karena tidak kuat menahan benturan keras atau getaran dari tabrakan antara perisai dan tanduk Bullager.“
“Benar juga. Terlepas dari itu, perisai bulat dia memang kuat. Semoga saja mereka berdua bisa hidup lebih lama lagi. Melihat dari wajahnya, mereka lebih muda dari kita.“ Giya tersenyum sambil melihat langit-langit rumah pohon yang terbuat dari kayu dan beberapa daun lebar. “Oh, iya. Omong-omong, berapa umur kamu, Isander?“
“Aku baru berumur dua puluh satu tahun. Kamu berdua?“ Isander menjawab dengan jujur.
Umurnya yang ada di Bumi dan di dunia ini sama, yaitu 21 tahun. Semestinya, tahun ini di 2022 adalah 22 tahun karena dia lahir di tahun 2000.
Nina dan Giya tersenyum penuh arti, keduanya sempat saling memandang, dan kemudian menatap Isander bersamaan.
“Ternyata kamu masih muda. Aku sudah berumur dua puluh tiga tahun. Kamu akan menjadi adik laki-laki aku.“ Giya tersenyum sambil menutup mulutnya.
“Tidak, Isander lebih cocok menjadi adik laki-laki aku, umur aku dan dia terpaut lebih jauh dari umurmu, Giya. Aku berusia dua puluh lima tahun,” ucap Nina memandang Isander dengan ekspresi wajah yang dewasa, terkesan serius.
Mengetahui umur keduanya, Isander cukup terkejut.
Awalnya dia kira Giya dan Nina umurnya berada di bawahnya, ternyata kedua wanita ini lebih tua.
Isander hanya bisa tersenyum canggung ke arah mereka berdua tanpa menjawab.
Berikutnya, mereka mengobrol biasa tanpa terpaku selisih usia di antara mereka.
Usai mengobrol, mereka berdua pergi tidur di ruang tidur yang sudah ditentukan. Isander tentunya dengan Meisya, dan kedua wanita tersebut tidur bersama di ruang tidur lainnya.
Malam menghilang, digantikan dengan langit biru yang cerah.
Mereka berempat sudah keluar dari rumah pohon dan menginjak tanah.
Akan tetapi, hari ini tampaknya akan sulit.
Di awal pagi mereka sudah disuguhkan oleh 9 monster Salmagtress yang berdiri mengelilingi mereka semua.
__ADS_1
“Jangan bercanda, aku baru saja bangun tidur. Aku belum sarapan."