SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 38: Bermesraan Depan Giya & Nina


__ADS_3

Dari permukaan kulitnya, wanita ini memiliki kulit yang pucat, kini perlahan memerah layaknya orang yang tidak sakit. Darah yang yang menghilang kembali muncul akibat tulang belakang berhasil diperbaiki dan menghasilkan banyak sel darah merah untuk sementara waktu untuk mengisi darah yang hilang.


Organ dalam wanita ini yang bergeser dan terluka dipulihkan secara bertahap. Semua luka ditutup dan organ dalam kembali ke posisi semula.


Proses penyembuhan ini terjadi selama beberapa menit. Tidak ada efek samping yang dirasakan secara langsung ketika proses sedang dilakukan.


Alih-alih efek samping yang buruk, wanita ini dapat merasakan sebuah perasaan yang hangat dari sesi penyembuhan ini.


Saat ini, wanita ini mendapati sebuah mimpi yang indah. Dalam mimpinya, dia sedang terbaring di atas padang rumput yang luas dan hijau. Ketika dia berbaring di padang rumput, banyak angin yang berhembus perlahan-lahan dan tenang, angin tersebut menerpa tubuhnya, memberikan dia perasaan yang damai. Cahaya matahari menyoroti tubuhnya secara langsung, perasaan hangat dan nyaman ini masuk ke dalam tubuh membuatnya menjadi betah dan ingin berlama-lama di tempat ini.


Akan tetapi, sebuah suara bergema di tempat tersebut sehingga wanita ini tersadar dan bangun dari kondisi pingsan.


Ketika wanita ini membuka matanya, dia langsung diperlihatkan sebuah wajah yang dikenalnya, wajah ini adalah pria yang selalu bersamanya.


Wanita tersebut mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah pria tersebut.


“Bima ….“


Wajah pria tersebut tersenyum dan matanya mengeluarkan air mata. Dia menggenggam tangan wanita tersebut di pipinya dan berkata, “Akhirnya … kamu bangun, Fina.“


Keduanya saling bertatapan mata satu sama lain selama beberapa detik. Pria tersebut langsung mencium tangan kanan wanita tersebut yang masih lemas sambil mengucapkan permintaan maaf.


“Maafkan aku! Aku tidak sanggup melindungi kamu! Maaf ... karena aku telah gagal menjadi orang yang berjanji bisa melindungi kamu dari segala ancaman monster! Maafkan aku … maafkan aku … karena aku terlalu lemah—”


“Tidak perlu meminta maaf, Bima.“ Wanita yang bernama Fina ini memeluk Pria tersebut dan menghentikan ucapan pria ini yang terdengar miris.


Pelukan Fina yang nyaman dan hangat membuat pria yang memiliki nama Bima ini terdiam. Penyesalan yang dia rasakan menghilang, hatinya kembali tenang.


“Itu bukan salahmu.“ Fina mengelus punggung Bima sambil tersenyum dan menutup matanya. “Aku yang salah karena tiba-tiba muncul di depan monster itu.“


“Namun, itu juga karena aku yang lengah—”


“Sutt …. Jangan ingat itu, kita berdua memang salah karena terlalu lemah. Jika saja kita berdua kuat, kita tidak akan mendapatkan musibah ini. Jadi, sudahi menyalahkan diri sendiri.“


Fina melepaskan pelukannya dan menatap Bima dengan tatapan yang lembut. “Lebih baik kita bersama-sama berlatih untuk menjadi Agter kuat dan hidup bersama sampai umur menghentikan kita, apakah kamu mau?“

__ADS_1


“Kalau itu denganmu, aku pasti menjawab mau.“ Bima tersenyum dan mengangguk.


Setelahnya, keduanya saling berpandangan mata dengan intens, mereka tidak sadar bahwa tubuh mereka berdua makin dekat.


Kedua wajah mereka menghampiri satu sama lain dan bibir mereka berdua bersatu. Fina dan Bima berciuman selepas Fina selesai disembuhkan.


Giya dan Nina memalingkan wajahnya. Mereka berdua tidak sanggup untuk melihat kemesraan kedua insan di depannya tersebut.


Jujur saja, kedua wanita ini iri begitu melihat mereka berdua beradu mulut, mereka juga ingin mendapatkan pasangan yang mampu mencintai diri mereka berdua selamanya.


Pipi kedua wanita ini muncul rona, mereka ikut tersipu karena pemandangan yang mesra ini.


Sementara itu, Isander mengajak Meisya melihat-lihat pohon di sekitar untuk mengalihkan pandangan Meisya dari sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.


Anaknya masih kecil, belum saatnya melihat sesuatu yang kurang sopan dan dewasa.


Tidak lama mereka berdua berciuman, hanya kurang dari 5 menit. Keduanya berpandangan wajah beberapa detik dan mengalihkan wajah karena malu.


Bima berpura-pura menggaruk kulit kepalanya, sedangkan Fina menundukkan kepalanya dan memainkan kain bajunya.


“Siapa?“ Fina melirik Bima dan bertanya dengan ekspresi yang terkejut sekaligus ingin tahu.


Menoleh ke samping, Fina baru sadar bahwa ada orang lain selain dia dan Bima.


“Apakah dua wanita itu?“ Fina berkata sedikit berbisik pada Bima.


“Mereka berdua membantu dalam penyelamatan kamu, kamu juga harus berterima kasih kepada mereka, tetapi mereka bukan orang yang menyembuhkanmu.“ Bima menggelengkan kepalanya, tanda jawaban dan tebakan Fina salah.


“Lantas siapa?“


Tangan Bima terulur dan perlahan bergerak ke tempat di mana Isander dan Meisya sedang memandangi salah satu pohon. “Pria itu yang menyembuhkanmu.“


“Dia?“ Fina menoleh dan meminta konfirmasi keaslian dari ucapannya.


“Benar, itu dia.“ Bima menganggukkan kepala dengan tegas, kemudian dia mengulurkan tangannya ke Fina. “Pegang tanganku! Aku akan membantumu berjalan menuju mereka.“

__ADS_1


“Baik.“


Tangan lemah Fina terangkat dan menggenggam tangan besar Bima. Setelah itu, Bima menopang tubuh Fina dengan cara dirangkul dengan gerakan yang hati-hati.


Fina berjalan secara perlahan dibantu oleh Bima menuju Giya dan Nina.


Namun, Giya dan Nina kebetulan keduanya berjalan ke arahnya, dan mereka bergegas menghampiri Fina yang berjalan bersama Bima tergopoh-gopoh terlihat kesulitan.


“Jangan banyak bergerak. Kamu harus istirahat sejenak, tubuh kamu belum sepenuhnya normal dan optimal.“


Giya dan Nina menahan Fina, keduanya membuat Fina beristirahat lagi dan bersandar pada batang pohon.


“Anu, aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua karena telah membantu Bima dan menolong aku.“ Fina menyentuh tangan Giya dan Nina. Matanya melirik wajah mereka berdua dengan penuh rasa terima kasih.


Hati Giya dan Nina menjadi lembut dan dia mengangguk hampir bersamaan. Giya tersenyum lembut dan berkata, “Sebagai sesama manusia, sudah sepatutnya kita saling menolong, kan? Jadi, tidak perlu dipikirkan. Kami berdua menerima terima kasih kamu.“


“Benar, lebih baik kamu beristirahat di sini sesaat sampai kondisi hampir puluh sepenuhnya. Isander bilang jangan banyak bergerak karena kemampuan penyembuhannya masih berlangsung meski sudah tidak terasa lagi efeknya secara langsung,” tambah Nina kepada Fina sambil menunjukkan wajahnya yang super ramah.


“Baik, aku mengerti.“ Fina membalas senyuman mereka dan menuruti permintaan tersebut.


“Kamu ingin berterima kasih juga kepada Isander?“ Giya tampaknya tahu niat Bima dan Fina.


“Benar, apakah orang yang menyembuhkan aku adalah orang yang bernama Isander?“


“Iya. Namun, dia sedang sibuk bersama anaknya. Saranku kamu istirahat di sini sejenak, dan tunda niatmu untuk berterima kasih kepada dia. Bisa dilakukan nanti.“


“Oke. Aku akan mengikuti kalian.“


Dengan demikian, Fina membiarkan tubuhnya beristirahat dan memulihkan kembali kondisinya secara mandiri.


Masih ada efek penyembuhan yang tersisa pada Fina. Maka dari itu, dia harus diam dan beristirahat agar penyembuhan menjadi lebih optimal.


Giya dan Nina duduk di atas rumput sambil melihat kondisi Fina, Bima juga sibuk mengorek-ngorek tas untuk mengambil sesuatu.


Sementara itu, Isander masih sibuk dengan anaknya, memberi tahu tentang daun dan pepohonan.

__ADS_1


“Ayah, mengapa pohon-pohon di sini besar-besar semuanya? Apakah pohon-pohon ini banyak makan?“


__ADS_2