
Secarik kertas yang mereka semua temukan berisi sebuah pesan tentang pembunuhan yang terjadi ini.
Secara eksplisit memberi tahu bahwa Tara yang membunuh semua orang di sini. Tulisan Tara yang membunuh orang-orang ada di balik kertas kecil, begitu kecil dan harus jeli melihatnya.
Penulis pesan ini adalah seseorang yang memiliki nama panggilan GoA.
"Tara? Ini tidak mungkin."
Kei dengan jelas memahami sifat Tara yang narsistik tinggi, tetapi dia tetap peduli kepada mereka semua.
Jikalau ada monster yang sulit dikalahkan, pria narsis dan selalu merasa bangga itu datang dan menyelesaikan masalah yang berat.
Meskipun menyebalkan, kehadiran Tara dibutuhkan oleh Garuda Comity.
Sangat mustahil untuk Tara membelot dan berani membunuh orang-orang kota, terlebih istri pemimpin kota yang dihormati.
Tangan Kei yang memegang kertas kecil ini mulai gemetar. Makin lama dia memikirkan tentang kebaikan Tara, makin tak percaya dirinya dengan fakta ini.
Hendra pun tidak pernah berpikir Tara bisa melakukan hal kejam dan hina ini.
Walau selalu menghina dan mengejeknya, Hendra tahu bahwa Tara peduli dengannya dan tim yang lain.
Memang saja, beberapa hari ini Tara terlihat tidak baik-baik saja, kerap bepergian dari markas entah ke mana. Terakhir diketahui dia ke sini untuk tujuan yang tak diketahui.
Jujur saja, peristiwa ini sulit Hendra percaya, rekannya bisa berkhianat, berbuat jahat di kota sendiri.
Rasanya usaha dan perjuangan mereka semua untuk melindungi kota itu sia-sia, dan hanya sandiwara semata yang tidak serius.
Bukan hanya kota, semua temannya pun merasa dikhianati.
Hendra melihat kedua tangan Kei yang bergetar hebat, matanya terbuka lebar dengan perasaan kecewa yang mendalam.
Rona merah sudah mendominasi matanya, tidak akan lama lagi akan menangis.
"Tidak baik! Tidak mungkin! Tidak nyata! Semua ini hanya bohongan, bukan?!" Kei melempar secarik kertas di tangannya ke bawah lantai, menatap Hendra dengan amarah yang dinyalakan oleh kekecewaan.
Hendra memeluk Kei dengan pelukan persahabatan, berharap hati Kei menjadi tenang.
"Semua ini hanya dugaan, lebih baik kita keluar dari sini terlebih dahulu."
Setelah memeluk Kei, beberapa petugas keamanan dan Hendra membawa Kei untuk keluar.
Kei hanya diam, dia memandang lantai dengan pandangan yang kosong.
Merasa sangat kesepian karena orang yang selalu membuatnya emosi telah pergi dan menjadi musuhnya.
Dengan bujukan dan ucapan Hendra yang penuh dengan harapan, emosi Kei berangsur-angsur mereda, tubuhnya yang panas karena kekuatan Agta sudah menjadi dingin kembali, semua aman terkendali.
Tak lama kemudian, Sadam datang bersama Redrin dan jajaran petinggi kota.
Wajah mereka tampak sangat panik dan rumit mengetahui ini, terlebih Redrin sendiri.
Ia sangat terkejut melihat rumahnya sudah dikerumuni oleh banyak orang dan petugas keamanan.
Sadam, Kei, dan Hendra tidak masuk kembali ke dalam rumah, mereka menunggu Redrin dan jajaran petinggi kota selesai melihat bukti pembunuhan yang sangat brutal dan sadis.
Di dalam kamar tempat pembunuhan berada, Redrin menangis sekeras-kerasnya sembari melihat tubuh dan kepala istrinya yang sudah terpisah.
Organ dalam yang ada di tubuh istrinya saja udah dilucuti bagai mainan anak-anak jenis bongkar pasang.
__ADS_1
"Pak, petugas keamanan menyebutkan bahwa pelakunya adalah Tara yang membelot. Diduga ada orang lain yang datang ke sini," lapor pemimpin petugas keamanan kota.
Petugas keamanan mendapatkan petunjuk dengan jelas dari melihat bukti-bukti pada TKP.
Wajah Redrin menjadi stagnan, tubuhnya membeku diam seperti patung, seolah dirinya lupa untuk bergerak , beberapa detik berhenti menangis sambil melihat jasad istrinya.
Pemimpin petugas keamanan melanjutkan, "Organ-organ tubuh semua korban lengkap, hanya ada satu organ yang hilang milik istri Anda, Pak. Organ yang hilang itu adalah rahim yang diduga besar telah membentuk janin ...."
Semua data-data yang didapatkan dari petugas keamanan dijabarkan secara lengkap oleh ketua atau pemimpin petugas keamanan.
Mengapa hasilnya bisa sangat cepat, lantaran para petugas keamanan memiliki kemampuan Agta yang hebat dan cocok dalam investasi kasus seperti ini.
Ada beberapa kemampuan yang bisa mencium jejak orang, memiliki mata yang tajam dan jeli, dan masih banyak kekuatan yang tak bisa digunakan untuk penyerangan.
Tipe kekuatan Agta tersebut tidaklah banyak dibandingkan dengan kemampuan Agta yang lain.
Maka dari itu, petinggi kota membuat kelompok keamanan yang terdiri dari orang-orang tersebut.
Di malam hari, Isander dan anggota kelompoknya sudah pergi ke arah timur untuk melanjutkan lagi perjalanan menuju ke tempat monster S di Purbalingga bagian utara.
Mereka ada di pertengahan antara wilayah Brebes dan Purbalingga. Masih ada setengah jalan lagi untuk mereka bisa sampai di Purbalingga bagian utara itu.
Tempat yang mereka gunakan untuk bermalam sekarang adalah rumah kayu yang dibuat di atas tanah sebuah perbukitan kecil.
Jelas, Isander yang membuat tempat bermalam mereka semua. Selain lebih cepat, desain yang dipakai oleh Isander pun sangat bagus.
Semua anggota timnya menyukai rumah kayu atau tempat tinggal yang dibuat oleh Isander.
Sekarang mereka sedang duduk mengobrol dengan santai di ruangan yang luas dan lebih lebar dari ruangan kamar yang lain. Aktivitas atau rutinitas biasa yang mereka lakukan di setiap malam hari.
Berdiskusi tentang pengalaman yang mereka dapatkan di hari ini. Guna mendekatkan dan memperkuat ikatan teman serta keluarga, juga mengetahui sudut pandang masing-masing anggota tim.
Semua tim Isander melirik ketua timnya sendiri, yaitu Isander. Mereka ingin tahu dengan tanggapannya terhadap pertanyaan Reza yang super di luar pemikiran orang-orang.
Mulut Isander melengkung naik, tersenyum ke arah Reza dan menjawab, "Tidak bisa. Bulan tidak kecil, itu sangat besar dan luas. Ketahanannya pun jangan dikatakan lagi, pasti sangat kuat. Bukan karena aku bisa membuat lubang dengan diameter kilometer, aku dianggap bisa menghancurkan Bulan."
Begitu Reza mendengar ini, dia tersenyum canggung menatap Isander.
Sebuah perkiraan itu muncul begitu saja di dalam kepala Reza dan tak bisa ia tahan untuk tidak dikeluarkan.
Ternyata jawabannya tidak sesuai dengan perkiraan Reza. Isander memang tidak sekuat itu sampai bisa menghancurkan Bulan yang memang terlihat kecil kalau dilihat dari sini.
Yakinlah, Bulan tidak sekecil itu.
Goron dan tim yang lainnya mengangguk mengerti mendengar jawaban Isander. Memang itu sangat berlebihan jika seorang Agter bisa menghancurkan satelit planet ini.
Lagi pula, kalau memang bisa menghancurkan Bulan, lebih baik Isander menghancurkan sebuah daerah dengan satu tembakan serangan kekuatannya dari pada membunuh satu per satu monster.
Terlalu merepotkan dan memakan waktu banyak jika membunuh monster satu demi satu, lebih baik membinasakannya secara masif.
"Kalau aku memang bisa melakukan hal luar biasa itu, aku akan pergi ke tempat di mana Monster S berkumpul, kemudian melenyapkan mereka sampai ke tempat-tempat di mana mereka berada," kata Isander dengan senyum bercanda. "Namun, itu sulit untuk dilakukan, bisa-bisa manusia yang ada di sana untuk bersembunyi ikut menghilang."
Benar, jika serangan besar dilaksanakan, tidak hanya monster yang binasa, tetapi manusia dan makhluk yang ada di dalam jangkauan serangan.
Jangkauan yang luas juga berisiko, tidak sepenuhnya aman dan terjamin keselamatan para umat.
Dengan begitu juga, ditakutkan para umat manusia tak berkembang lantaran mengandalkan satu orang saja.
Hal tersebut menjadi degradasi umat manusia yang makin lemah dan kalah oleh monster-monster di dunia ini.
__ADS_1
Nina mengangguk dan setuju dengan ucapan Isander. "Aku juga berpikir seperti itu. Dengan jangkauan kerusakan yang luas, itu akan merugikan sekutu sendiri."
"Omong-omong, monster apa yang akan kita temui di lokasi selanjutnya?" Kila bertanya sekaligus mengubah pembicaraan mereka semua.
Pertanyaan Kila membuat semua anggota tim berpikir keras dan menduga-duga jawabannya.
Isander saja tidak tahu jawaban pastinya karena itu termasuk ke suatu hal yang belum diketahui, ada keraguan yang besar setiap tebakan. Bisa benar dan bisa tidak.
Mengelus dagunya sambil berpikir, Goron menemukan tebakannya dan menjawab, "Mungkin saja itu Elgoter."
Goron menebak ini dengan pemikiran singkat, tentu saja tidak ada petunjuk yang mendukung tebakannya.
"Elgoter lagi? Tidak, aku tidak mau." Nina menggelengkan kepalanya dan tak mau tebakan Goron benar.
Menurut Nina, Monster Elgoter adalah monster yang menyusahkan, mereka tidak bisa melawan dan cuma Isander saja yang mampu mengalahkannya.
Meskipun mereka sudah bergabung, kekuatan mereka belum bisa mengimbangi kekuatan Supreme Elgoter. Mereka dapat dipastikan kalah.
Reza dan Kila menggelengkan kepalanya, mereka berdua juga tidak mau kalau dugaan Goron menjadi kenyataan. Nantinya hanya Isander yang bergerak, sedangkan mereka cuma diam dan menunggu hasil kemenangan Isander.
Tidak ada kemajuan pada kekuatan mereka apabila Isander yang selalu menyelesaikan monster S, kekuatan mereka bisa tertahan atau terhambat dan sulit untuk berkembang.
Bisa saja kekuatan mereka menjadi merosot karena jarang diasah.
Aqila menatap semua orang dan ikut menyumbangkan tebakannya.
"Aku menebak ada Hipgoter di sana."
"Hipgoter? Apalagi monster itu, lebih berbahaya dibandingkan Supreme Elgoter," kata Nina yang tidak ingin monster S yang ada di Purbalingga bagian utara adalah Hipgoter.
Hipgoter yang memiliki kekuatan penarik atau menyedot apa pun di depan mulutnya, sangat berbahaya dan sulit untuk dikalahkan oleh mereka.
Kekuatannya yang menarik dengan kekuatan angin yang mengisap, semua anggota tim Isander tidak yakin bisa hidup jika sudah tersedot ke dalam mulut besar Hipgoter.
Satu-satunya orang yang bisa mengalahkan Hipgoter di antara mereka adalah Isander.
Mau itu kekuatan es, api, angi, air, dan tanah, kalau terkena area isapan mulut Hipgoter, itu akan binasa dan ditelan.
Setelah menebak-nebak dan menjawab pertanyaan Kila, mereka semua berharap monster yang di sana adalah monster yang kurang kuat.
Mereka ingin mencoba melawan monster S lagi untuk meningkatkan kekuatan yang mereka punya.
Ketika mereka semua tidur, hanya ada Isander dan Aqila yang ditinggal berdua dalam keadaan sadar.
Aqila naik ke pangkuan Isander dan memandang wajah tampan Isander yang terdapat banyak tanda perjuangan dengan tatapan penuh kelembutan.
"Mau bermain lagi malam ini?" Aqila menatap Isander dengan pandangan mata seduktif.
Kedua tangan Isander meremas dua roti besar Aqila dan mengangguk. "Sebentar saja, aku harus berlatih dan bermeditasi."
"Itu tidak masalah, asalkan kamu mengeluarkan itu di dalam ruang bayiku, oke?"
"Bukannya setiap kali kita melakukan itu, aku selalu mengeluarkan benih di dalam tubuhmu?"
Aqila mengangguk membenarkan, kemudian berkata, "Aku ingin mengandung anak kamu, anak kembar lebih baik."
"Kamu yakin dengan itu?" Isander sedikit takut jika Aqila memang mengandung anak kembar.
Kesulitan untuk melahirkan juga bertambah.
__ADS_1
"Tentu, aku ingin melakukan itu denganmu, denganmu seorang. Aku diciptakan untukmu, Sayang."