SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 124: Mengakhiri Serbuan Monster


__ADS_3

Siluet lilac bercampur ungu gelap melintasi 5 Monster Rhigarets yang berlari hendak menghampiri Isander.


Berikutnya, kelima monster meledak dengan darah yang menyembur keluar membasahi tanah medan pertempuran.


Daging-daging monster terbelah menjadi balok daging yang halus yang ditutupi oleh darah merah kehitaman.


Sosok Isander yang melesat sangat cepat muncul di atas langit dengan kedua senjata di tangannya.


Topeng Isander yang memiliki cahaya lilac menghadap ke bawah untuk melihat kondisi 5 monster yang terakhir ia bunuh.


Monster-monster tersebut telah menjadi daging cincang hanya dalam waktu 3 detik.


Semua monster berhasil Isander bunuh, sudah waktunya untuk pergi.


Dengan sayapnya yang mengepak, Isander terbang cepat ke arah hutan. Meninggalkan Pasukan Agter yang memandangnya dari bawah dengan sorot mata yang tak percaya.


Bersama hilangnya sosok Isander di langit, tembok tanah yang menjulang tinggi runtuh dan kembali rata dengan permukaan tanah.


"Ke mana dia pergi?" tanya Goron yang terbaring di atas kain tempat orang terluka dibaringkan.


Salah satu wanita yang memiliki racikan obat-obatan tengah membuat obat cair untuk Goron menjawab pertanyaan Goron, "Dia pergi ke hutan, Pak. Burhan memberi tahu tadi."


"Hutan? Apakah mereka tahu ke mana tepatnya dia pergi?"


"Tidak, mereka kehilangan jejak orang itu di dalam hutan karena lebatnya dedaunan di sana."


Mendengar ini, Goron menghela napas kecewa sambil memejamkan matanya.


Dia benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Agter bersayap dan kelima Agter tersebut.


Akan tetapi, Goron masih ingat dengan wajah kelima Agter yang sempat membantu mereka dua kali di serbuan monster kali ini.


Whoosh!


Hembusan angin terasa di kulitnya, Goron menikmati perasaan nikmat ini dalam diam dan santai.


Namun, ketenangannya hancur begitu salah satu perawat Agter memanggilnya.


"Pak, sesuatu telah terjadi!"


Sontak Goron terbangun dari keadaan berbaring dan duduk di atas kain sembari membuka matanya. "Ada apa?!"


"Se–semua pasukan sudah sembuh!" kata wanita tersebut dengan suara yang keras dan sedikit gugup lantaran terkejut.


Tanpa sadar Goron langsung memeriksa sekujur tubuhnya dan ia melihat beberapa luka goresan pada tangan dan kakinya menghilang.

__ADS_1


Selain itu, rasa perih dan nyeri saat duduk telah lenyap seakan itu tak pernah ada.


Tubuhnya kini dipenuhi oleh energi yang besar dan staminanya penuh kembali.


Dengan lekas Goron berdiri dan melompat-lompat di tempat untuk menguji kesehatan tubuhnya.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Agter yang bertugas sebagai perawat pasukan, tubuhnya sungguhan telah sembuh.


Menatap wanita di depannya, Goron bertanya dengan rasa ingin tahu yang besar, "Apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya?"


Alih-alih perawat tersebut menjawab, beberapa anak buah Goron datang dan salah satu Agter menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi.


"Gelombang energi hijau meledak dan membuat hembusan angin hijau yang menyentuh kami semua yang ada di sini.


"Sinar hijau yang disertai hembusan angin dingin membuat tubuh kami pulih dengan cepat, terutama yang memiliki luka ringan."


Pupil mata Goron menyusut sembari memandang tubuhnya sekali lagi.


Masih sama dengan sebelumnya, dia benar-benar pulih dari luka. Ucapan mereka tidak berbohong.


"Untuk Agter yang terluka berat bagiamana?"


"Mereka berangsur-angsur pulih, tetapi butuh waktu lama. Kami belum memperkirakan. Hal yang pasti ialah mereka kian membaik setiap detiknya." Salah satu Agter yang paham dengan kondisi para pasukan memberi tahu informasi yang telah didapatkan dari serbuan ini.


"Baik, terima kasih atas informasinya. Kalian pergi dan memeriksa area sekitar bersama beberapa ratusan orang lain, pastikan tempat ini aman," perintah Goron kepada pasukan yang ada di bawah komandonya.


"Siap, Pak!"


Prok! Prok! Prok!


Tiba-tiba Goron bertepuk tangan untuk mengambil perhatian semua orang di kejauhan dan dia berkata lantang, "Para Agter perawat! Semuanya silakan bantu pemulihan korban yang memiliki luka berat!"


"Siap, Pak!"


Secara serempak mereka semua yang bertugas sebagai perawat bergegas menuju ke tempat para Agter yang terluka berat ditangani.


Melihat semua Agter yang punya tugas merawat Agter terluka bergerak, Goron berlari menuju ketiga temannya yang memimpin Pasukan Agter lainnya.


Dari jauh Goron sudah bisa melihat bahwa ketiga temannya berdiri dengan sehat tanpa sedikit luka di tubuhnya.


Tampaknya, angin hijau tersebut menyembuhkan mereka juga.


"Kawan, bisakah kalian beri tahu apa yang sedang terjadi saat ini?"


Goron masih butuh penjelasan dari temannya.

__ADS_1


Dengan demikian, teman-temannya memberi tahu tentang apa yang sedang terjadi atas persepsi masing-masing.


Saat ini, pelaku dari fenomena yang menghebohkan Pasukan Agter yang melawan Monster Rhigarets dan Rhitager sedang berjalan menjauh dari tempat Pasukan Agter berada.


Isander tersenyum di wajahnya sambil menggendong Meisya yang tertidur pulas di tangannya.


"Mereka sudah sembuh?" tanya Reza kepada Isander yang memandang wajah imut Meisya.


Kepala Isander mengangguk sekali dan mengangkat kepalanya untuk melihat Reza dan dia menjawab, "Bola hijau sebesar bola basket meledak tepat di atas langit yang di bawahnya terdapat Pasukan Agter, posisinya ada di bagian tengah perkumpulan itu. Seharusnya, mereka sudah sembuh, terlebih kebanyakan dari mereka hanya punya luka ringan."


Sudah jelas, Isander adalah pelaku dari kejadian penyembuhan misterius tersebut.


Dengan natural healing yang terkonsentrasi menjadi bola berisikan energi pemulihan, Isander melempar dari jarak jauh sangat tepat di tengah Pasukan Agter.


Natural Healing Ball meledak dan mengeluarkan terpana angin segar berwarna hijau yang memiliki sifat menyembuhkan.


Cara kerja pemulihan tersebut adalah mempercepat kerja regenerasi tubuh pada tubuh seseorang.


Alasan Isander membantu Pasukan Agter tersebut adalah beberapa monster level B akan datang dari arah yang berbeda, tepatnya dari arah barat, tetapi tujuannya tetap ke arah di mana para Pasukan Agter sedang beristirahat sekarang.


Apabila tidak disembuhkan, Isander yakin mereka akan kewalahan.


Disebabkan Isander membutuhkan kontribusi mereka dalam membunuh monster. Isander memutuskan untuk membantu memulihkan mereka semua.


Selain di arah barat, kumpulan monster pun ada yang datang dari arah timur.


Kelihatannya, dampak Isander dalam menghancurkan Monster-monster Rhigarets tadi terlalu besar sehingga dapat membawa banyak kumpulan monster berdatangan.


Ini bukan berita yang buruk, sebab mereka sedang membutuhkan monster untuk diburu dan dijadikan Koin Agta.


"Syukurlah kalau begitu." Reza mengembuskan napas ringan dan merasa lega.


Reza punya hubungan baik dengan Agter Kota Komodo. Wajar jika Reza menginginkan mereka dalam keadaan baik-baik.


"Monster Rhigarets tadi terbilang kuat, aku cukup merasa berat melawan satu monster saja," kata Nina yang berkata jujur.


Mendengar kalimat Nina, Kila pun membalas, "Tidak hanya kamu, kami pun sama."


"Benar." Reza mengangguk ringan dan menambahkan, "Jika aku tidak mengeluarkan kecepatan maksimal dan tak dibantu oleh banyak pasukan Agter, cukup sulit mengalahkan mereka di bawah waktu sepuluh menit."


"Apakah memang sehebat itu Monster Rhigarets?"


Giya penasaran dengan pengalaman mereka semua. Pasalnya, dia tidak turun ke lapangan untuk membantu Pasukan Agter.


"Kuat, mereka monster kuat, kulitnya tebal. Paling yang aku takutkan adalah kemampuan mereka dalam mengendalikan tanah. Jika aku tidak sering bergerak, mungkin kakiku sudah terjebak oleh tanah yang bergerak mengurung," jawab Kila yang memiliki pengalaman begitu menegangkan.

__ADS_1


"Monster Rhigarets memang punya kendali atas tanah, dia sempat menjebak kedua kaki aku. Untungnya, itu mudah untuk diselesaikan," Isander menambahkan karena dia mengalami secara langsung ketika terjebak oleh tanah yang dikontrol oleh lima monster tersebut


__ADS_2