SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 131: Monster Berevolusi


__ADS_3

Dengan kilatan cahaya yang muncul dari tubuh monster tersebut yang sedang berada di ambang kematian.


Suatu perubahan terjadi secara tiba-tiba pada tubuh monster gajah raksasa yang masih belum diketahui namanya.


Sebuah lapisan daging yang dilumuri darah membungkus seluruh tubuh monster besar raksasa tersebut.


Lapisan daging berasal dari luka sobekan besar yang mencuat keluar melapisi sekujur tubuh monster yang sangat besar ini dan membentuk bola daging dengan urat merah yang berlumuran darah.


Deg!


Suara dentuman terdengar dari dalam bola daging monster tersebut disertai dengan kilasan cahaya putih.


Suara tersebut terus bermunculan setiap detik berlalu.


Dengan fenomena aneh ini, semua Agter menjadi sangat cemas dan penuh kekhawatiran di hatinya.


Isander bergeming tak bergerak di udara, dia terbang menghadap bola besar tersebut dengan pandangan yang serius.


Semua Agter, bahkan para petinggi Kota Komodo yang tak bergerak dan diam di gedung pusat terkejut dengan hal ini. Mereka semua sangat mengkhawatirkan hidup mereka sendiri.


Firasat tak enak melanda hati mereka semua. Sebuah dugaan jelek terlintas di benak mereka, bola daging ini akan memunculkan monster yang lebih berbahaya dari monster besar sebelumnya.


Pada saat yang sama, di luar wilayah Kota Komodo yang hancur, Giya dan lainnya dapat melihat bola yang terbuat dari daging dan darah di Kota Komodo.


Mereka semua melihat ini dengan kengerian di wajahnya.


"Kak Giya, bola menjijikkan apa itu?" tanya Meisya yang terkejut dengan kemunculan bola daging besar yang terus mengembang menjadi besar setiap detik berjalan.


Giya berusaha untuk menampilkan senyum natural seolah sesuatu yang Meisya lihat bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan.


Akan tetapi, Giya bingung harus menjawab apa dengan pemandangan aneh tersebut.


"Itu adalah—"


Duar!


Sebuah ledakan yang keras memotong ucapan Giya.


Ledakan tersebut memunculkan sebuah cahaya putih terang menyilaukan mata dalam radius puluhan kilometer dari pusat bola daging tersebut berada.


Setelah ledakan ini menghilang, mereka semua dapat melihat sesosok monster besar dalam bentuk yang aneh.


"Kak Giya, apa itu?!" Helen bertanya kepada Giya dan menunjuk ke sosok monster besar di tempat di mana bola daging muncul sebelumnya.


Sontak, Giya dan yang lainnya dengan lekas melihat ke sosok monster yang ditunjuk Helen.


Mereka melihat monster humanoid dengan tinggi lebih dari seratus meter sedang berdiri di tempat bola daging sebelumnya berada.


Monster tersebut memiliki empat tangan dan dua gading panjang yang mencuat di kedua pipinya, tidak memiliki rambut dan kepalanya cuma ada kulit mengerut dan mengelupas.


Gruoahhh!!!


Berikutnya, monster tersebut memajukan tubuhnya dan meraung penuh kemarahan ke arah Isander yang terbang di udara.


Semua Agter dan orang yang ada di sekitar Kota Komodo menjadi ketakutan dengan suara teriakan monster tersebut, jantung mereka seolah bergetar.


"Kak Giya, Meisya takut!!"


Meisya menarik baju Giya dan memeluk tubuh Giya dengan erat penuh ketakutan.


Dengan kelembutan yang mendalam, Giya memeluk Meisya dan mencoba untuk menenangkannya meski dirinya sekarang sedang panik.


Monster yang sekarang mereka lihat adalah monster kuat dalam mode humanoid. Monster yang bisa melakukan perubahan bentuk ke bentuk manusia adalah monster kuat dan levelnya sudah berbeda dengan monster lainnya.


Giya takut Isander tak bisa mengalahkan monster ini. Pasalnya, monster ini benar-benar kuat, dari penampilannya saja sudah membuat jantung mereka berdegup cepat karena perasaan takut.


Mengelus punggung kecil Meisya, Giya berkata dengan nada suara yang lembut, "Tenang, Meisya Sayang. Monster itu tidak begitu berbahaya."


Mendengar ucapan Giya, Meisya masih merasa sedikit takut dan kurang percaya, kemudian dia bertanya, "Apakah ayah bisa mengalahkan monster besar itu?"

__ADS_1


"Itu ... tentu saja bisa. Maka dari itu, kita harus berharap ayah Meisya bisa mengalahkan monster itu," jawab Giya dengan senyuman yang terlihat meragukan.


Pada dasarnya, Meisya adalah anak yang selalu ingin ayahnya baik-baik saja, dia segera berharap Isander memenangkan pertarungan melawan monster besar dan mengerikan tersebut.


"Kumohon, Ayah, kalahkan monster itu dan kembali ke sini untuk memeluk Meisya."


Meisya mengatakan itu dengan mata jernihnya yang berkaca-kaca, cengkeraman tangannya makin kuat pada baju Giya karena khawatir dengan ayahnya sendiri.


Di saat yang bersamaan, Isander yang terguncang di udara akibat raungan keras monster sangat bingung dengan bagaimana caranya melawan monster ini.


Ledakan monster sebelumnya sudah menguras stamina Isander karena dia membuat Wind Barrier di sekitar bola daging.


Dia memaksakan kemampuannya ke batasnya sehingga energi di tubuhnya terkuras habis.


Untungnya, dia memiliki kemampuan yang sangat berguna sehingga tubuhnya yang terasa kosong kembali terisi meski dalam kecepatan yang tidak begitu cepat.


Wind Barrier sukses menahan efek ledakan dari bola daging yang bisa menghancurkan setengah lebih Kota Komodo.


Beruntung, Wind Barrier bisa mengurangi efek ledakan meski bola daging raksasa itu menghancurkan segala sesuatu di jangkauan puluhan meter darinya.


Tidak ada korban dari ledakan tersebut.


Isander bisa merasakan kekuatan dari monster ini begitu besar karena pancaran aura di tubuh monster sangat terasa.


"Aku tak yakin bisa mengalahkan monster ini dengan kekuatan yang aku miliki saat ini." Isander menatap monster yang berdiri kokoh di kejauhan sembari menstabilkan terbangnya.


Di kesempatan ini, Isander kembali merasakan ancaman yang kuat dari seekor monster setelah beberapa lama tidak merasakan ancaman tersebut karena kekuatannya meningkat drastis.


Sekarang dia merasa dirinya tidak begitu kuat dan merasa sedang berada di posisi rendah di hadapan monster.


Di depan monster ini, Isander kembali tidak percaya diri karena dia mengukur kekuatannya tak bisa mengalahkan monster ini.


Namun, sebelum bisa menilai, dia perlu mencobanya.


Dengan begitu, Isander segera mengeluarkan serangannya untuk menguji kekuatan monster tersebut.


Zztt!


Ukuran bola tersebut terus bertambah ibarat bola kempes dipompa sampai mengembang.


Ball of Storm terus membesar di tangan Isander hingga Isander harus mengangkatnya menggunakan kedua tangan.


Ukuran bola akhirnya berhenti saat diameternya telah mencapai 10 meter.


Ini adalah batas kemampuan Ball of Storm yang bisa ia ciptakan. Di luar dari ini, Isander sama sekali tak bisa menciptakan yang lebih besar.


Suara angin yang kencang bagai badai di tengah gurun pasir dapat didengar oleh semua Agter yang ada di Kota Komodo.


Selain itu, petir yang bermunculan dari bola raksasa tersebut membuat suara dengungan yang mencekam, terdengar seperti udara kosong tersengat oleh busur petir kuning tersebut.


Melihat ini, Agter-Agter yang ada di Kota Komodo menjadi tercengang dengan mulut yang terbuka lebar.


"Fak!"


Goron terkejut melihat Ball of Storm milik Isander ini dan tak bisa menahan untuk tidak mengumpat.


Sebuah kemampuan yang belum pernah ia lihat dari Isander, kini dia bisa melihatnya dan ini sangat mengagumkan.


Tidak sampai di situ, Isander mengerahkan kemampuan lainnya yang telah lama dia latih dan jarang digunakan. Sudah waktunya untuk melihat hasil kerja keras dirinya berlatih.


Brak! Bam! Bang!


Beberapa batang pohon bermunculan dari bawah tanah tempat monster humanity tersebut berdiri.


Dengan kontrol yang luar biasa, Isander mengendalikan batang pohon yang banyak tersebut untuk menahan kedua kaki monster.


Dalam sekejap mata, kedua kaki monster yang kuat telah ditutupi oleh banyak sekali batang pohon hingga tampak sesak saking ramainya batang pohon yang menempel.


Monster humanoid tersebut terkejut dengan gerakan ini dan mencoba untuk melepaskan kakinya dari jeratan kayu yang entah datang dari mana.

__ADS_1


Memang pada dasarnya kekuatan monster ini sangat besar, dengan tenaganya dikerahkan, jeratan batang pohon yang tangguh lama kelamaan hancur.


Melihat ini, Isander dengan cepat melemparkan Ball of Storm versi raksasa ke sosok monster humanoid tersebut seraya berkata, "Coba terima ini!"


Dengan bunyi dengungan di udara yang keras, Ball of Storm terbang membidik monster humanoid tersebut yang masih berusaha untuk membebaskan diri dari kekangan batang pohon.


Namun, monster tersebut terlalu lambat untuk melepaskan diri sehingga Ball of Storm besar menabrak dengan keras monster humanoid.


Duar!


Ledakan tercipta di sekitar monster, efek gelombang kejut masih bisa ditahan oleh Wind Barrier sehingga tidak menghancurkan bangunan di jarak yang lebih luas.


Wind Barrier hancur dan gelombang kejut dari ledakan masih bisa dirasakan oleh semua Agter yang mengungsi di bagian Utara kota. Sementara para Agter yang menahan monster di luar kota hanya merasakan angin keras yang menerpa tubuhnya.


Beberapa Agter terpental beberapa meter, tidak menyebabkan mereka tewas, hanya luka-luka ringan.


Usai ledakan tersebut, pemandangan yang mengejutkan terjadi.


Semua orang, termasuk Isander terkejut karena mereka melihat sosok monster tersebut masih bisa berdiri meski seluruh tubuhnya terbakar dan dipenuhi oleh luka robek yang terhitung jumlahnya.


Pemandangan ini sangat mengerikan, mereka menjadi tahu betapa kuatnya pertahanan dan daya tahan tubuh monster ini.


Mereka menjadi terkejut lantaran luka yang di tubuh monster berangsur pulih dalam kecepatan yang sedikit cepat.


Jika ini dibiarkan, semua orang khawatir monster ini membaik dan sembuh total dalam beberapa menit.


Gruoahhh!!


Monster ini meraung keras ke Isander untuk melampiaskan kemarahannya yang memuncak.


Dia tidak bergerak karena masih dalam proses pemulihan diri.


Melihat ini, Isander segera menyerang monster dengan Dark Spear miliknya, tetapi saat dia ingin mengayunkan senjatanya, perasaan lemas yang tak tertahan melanda tubuhnya dan membuat Isander terjatuh dari atas langit dan mendarat keras di jalanan di bawahnya.


Bam!


Sekarang dia benar-benar kehabisan tenaga untuk menyerang dan dia sama sekali tak bisa banyak bergerak.


"Sial!"


Masih dalam kondisi Mode Baryon Cenagon, Isander berlutut di atas tanah yang retak dengan tubuh yang kaku sulit untuk bergerak.


Dia telah menghabiskan seluruh tenaganya, bahkan untuk berdiri pun dia kesulitan.


Pandangan Isander masih terkunci ke sosok monster yang perlahan lukanya menghilang.


Hal tersebut membuat Isander makin cemas, dan perasaan putus asa mulai muncul di dalam hatinya.


"Sialan!" Isander mengumpat dengan suara yang tak begitu keras.


Dia sangat membenci perasaan tak berdaya ini. Sama sekali dia tak menginginkan hal ini terjadi padanya. Isander ingin bangkit dan melawan monster hingga monster humanoid tersebut mati.


'Ayolah! Aku tidak mau banyak korban manusia berjatuhan karena monster ini! Bangkit, Isander! Ayo!!' Isander menyemangati dirinya sendiri di dalam hati, semangat juang yang berapi-api muncul di dalam matanya, dia sangat ingin berdiri dan menyerang monster lagi.


Sayang sekali, tubuhnya tidak bisa mengikuti keinginan Isander, anggota tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan kakinya untuk berdiri.


Graahh!!


Monster ini sudah mulai bergerak selama Isander berlutut kaki tak bisa berbuat apa-apa.


Langkah dibuat oleh monster humanoid untuk mendekati Isander, berniat untuk membalaskan dendam karena sudah membuatnya terluka.


Melihat gerakan monster ini, Isander menjadi kesal dengan kelemahannya yang masih melekat pada dirinya, dia benar-benar muak dengan kemampuannya, dia sangat marah kali ini.


'Bajingan! Kamu tak boleh seperti ini! Ayolah! Bangun dan serang monster ini! Kumohon ... jangan lemah seperti ini ....'


Dengan wajah yang bengis, mata Isander sudah dipenuhi oleh warna merah akibat amarah yang mendalam. Namun, di dalam hatinya tersimpan rasa takut yang sangat mendasar. Dia sama sekali tidak mau kalah karena dia masih memiliki tanggung jawab besar di dunia ini.


Tepat ketika keputusasaan mulai menguasai tubuh Isander, tiba-tiba dia mendengar suara mekanis dingin yang muncul di benaknya.

__ADS_1


Di detik berikutnya, sekejap Isander mengubah wajahnya menjadi cerah dengan hati yang senang tak terkatakan.


[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Memberikan Anda Kemampuan Hand of Hell Titan]


__ADS_2