SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 73: Kelompok Aneh


__ADS_3

Di saat yang bersamaan ketika Isander pergi, kelompok yang beranggotakan 4 orang tersebut berlarian cepat meninggalkan area reruntuhan pemukiman kompleks yang rusak.


Tara, Kei, Sadam, dan Hendra berlari luntang-lantung dari tempat mereka singgah karena takut dengan sesosok makhluk aneh yang mereka lihat tadi.


Makhluk tersebut sangat kuat bagi mereka, dengan sekali tebasan saja monster level B sekejap berubah menjadi darah, daging serta tulang meleleh menjadi cair.


Di antara mereka tidak ada yang yang memiliki kerusakan yang sehebat itu, bahkan Tara yang sombong pun tidak bisa memberi hasil serangan semacam itu. Paling-paling hanya memotong monster sampai menjadi balok-balok kecil, tidak sampai mencair seperti itu, itu sangat jauh levelnya ketimbang mereka berempat.


Mengingat makhluk tersebut tidak diketahui jenisnya, apakah itu monster atau manusia, tetapi melihat dari tingkahnya itu adalah manusia, tidak mungkin monster membunuh kelompoknya sendiri.


Hal yang abu-abu itu membuat mereka cemas, mereka tidak tahu apakah makhluk itu lawan atau kawan.


Lebih baik menghindar terlebih dahulu daripada mengambil risiko untuk. Berteman dengan makhluk tersebut.


Mereka tidak tahu bahwa makhluk yang memiliki armor aneh dan mengerikan adalah Isander, seorang manusia Agter.


Duduk di bawah pohon besar, mereka berempat menatap ke arah di mana reruntuhan pemukiman yang rusak berada, mereka telah berlari belasan kilometer demi menjauhi makhluk tersebut.


Ketakutan mereka membuat mereka berlari sejauh ini.


"Aku pikir makhluk itu tidak mengejar kita dari awal," ucap Hendra yang merasa lelah karena lari terlalu jauh.


"Apakah iya? Mengapa kamu tidak memberi tahu aku?! Untuk apa aku berlari sejauh ini?!" Tara yang tahu akan hal ini segera marah. Ternyata dia berlari dengan sia-sia.


Memanjangkan kakinya ke depan, Kei merilekskan tubuhnya untuk meringankan rasa kelelahan akibat berlari lama. Mata Kei mengarah ke wajah mereka bertiga dan dia berkata, "Mau itu mengejar atau tidak, kita harus menjauh dari dia. Apakah kalian melihat energi warna ungu feminim tersebut menghancurkan monster? Bukankah itu sangat bahaya jika terkena kita."


"Ya, kamu benar, Kei," balas Sadam yang merasa tubuhnya menjadi dingin ketika mengingat kembali energi berwarna lilac yang dikeluarkan oleh makhluk itu.


Berdiri di depan mereka bertiga, Hendra membersihkan sepatunya yang telah kotor karena berlari di berbagai medan jalan. Dia berjongkok, kemudian menyeka ujung sepatunya yang telah dikotori serpihan tanah yang basah


"Ada sesuatu yang aku pikirkan, makhluk itu monster atau manusia?" tanya Hendra sambil membersihkan sepatunya.


Mendengar pertanyaan Hendra, semuanya terdiam serentak, merenungi tentang hal ini.


Tidak ada yang tahu apa sebenarnya makhluk tersebut. Mereka berempat melihat dari sudut pandang dan objek yang sama dalam waktu yang bersamaan.


Mereka berempat memikirkan hal ini dengan gaya masing-masing, Tara naik ke atas pohon dan masih berpikir.


Sementara Kei, dia tetap bersandar pada pohon dan terdiam, sedangkan Sadam dan Hendra duduk di rumput yang kering saling berhadapan.


Setelah beberapa saat mereka merenung, Tara tiba-tiba turun dari atas pohon dan berkata, "Bukankah makhluk itu menghancurkan monster? Kemungkinan besar dia seorang manusia."


"Namun, itu belum pasti, Tara. Ada kemungkinan sosok tersebut adalah seorang monster humanoid yang sedang mengambil kekuatan dari monster-monster," ucap Kei yang memiliki pendapatnya pribadi. "Untuk meningkatkan kemampuannya sendiri. Mengorbankan sejenisnya."


Hendra diam-diam mengangguk. "Sulit untuk mengidentifikasi dan menebak tanpa ada bukti."


"Terpenting kita sudah jauh dari makhluk itu. Jujur saja, aku pribadi tidak bisa mengalahkan makhluk misterius itu." Kei memasang wajah yang serius dan juga agak kecewa.


Dia merasa kecewa dengan kekuatannya yang masih lemah. Menurut orang lain, kekuatan yang dia miliki adalah yang terkuat. Nyatanya itu salah, di hadapan makhluk misterius tersebut dan monster-monster di atas level A.


Kekuatannya terasa tak ada artinya, dia mirip semut di antara keberadaan mereka.


Tara berdiri tegak dengan menunjukkan wajahnya yang bangga. "Itu hal yang wajar, kamu memang lemah."


"Apa katamu!" Kei mengubah wajahnya dalam sekejap.


Sebuah senjata siwar yang berapi merah muncul di tangannya, mata Kei sudah menjadi merah dengan urat-urat muncul di wajahnya.


Tara masih dengan keadaan yang tenang, dia tersenyum meremehkan dan berkata, "Kamu ingin bertarung?"


"Banyak omong!" Kei yang pendiam tiba-tiba menjadi orang yang mengamuk karena emosi amarah yang mendalam.


Tangannya melambaikan siwar di tangannya untuk memotong tubuh Tara tangan ada di depannya.


Swoosh!


Sosok Tara menghilang tepat ketika bilah berapi untuk ingin menyentuh bajunya.


Melihat ini, Kei menjadi waspada dia berdiri diam sambil memegang siwar atau golok di tangannya, matanya bergerak ke area sekitar untuk mencari keberadaan Tara.


"Mencari aku?" Suara Tara terdengar di telinga kiri Kei.


Mengetahui ini, Kei menebas dengan kecepatan yang tinggi pada sosok Tara yang muncul di samping kirinya.


Akan tetapi, siwar berapinya ditahan oleh celurit angin milik Tara.


Bang!


Gelombang kejut terbentuk, menerbangkan dedaunan kering yang ada di tanah, bahkan rambut kedua orang ini berkibar ke belakang.


Hendra dan Sadam telah berpindah tempat, dia menjauhkan diri dari mereka berdua dan berdiri di puluhan meter dari tempat mereka bertarung.


Melihat serangannya ditahan, Kei menjadi makin marah, emosinya mulai mengontrol tubuhnya.


Blar!


Siwar di tangannya memunculkan api yang besar. Selanjutnya, dia mengeluarkan tenaganya yang besar untuk membuat Tara yang menerima serangannya ini terhempas jauh.


Bam!


Kei menendang tanah dan tubuhnya terbang menyusul Tara yang terbang, dan dia muncul di udara tepat di atas Tara yang terpental ke belakang.


Kondisi Tara terlihat tak berdaya seolah tidak bisa melawan. Meskipun demikian, senyuman yang selalu bisa membuat kesal orang ini tidak lenyap. Tara menatap Kei dengan sorot mata yang main-main.


"Keparat!"


Siwar di tangan Kei berputar dan kemudian terayun dengan kecepatan yang luar biasa menebas tubuh Tara di udara.


Wajah Tara tidak menampilkan rasa takut, melain dia mengubah ekspresinya menjadi perasaan jijik yang ditujukan kepada Kei.


Klang!


Serangan bilah siwar berapi itu ditangkis lagi oleh celurit Tara.


Namun, Tara tidak lagi bertahan, dia mengubah modenya menjadi ofensif.

__ADS_1


Setelah menggagalkan serangan Kei, Tara menghilang bersamaan dengan siluet hitam yang melintas di depan Kei.


Mendarat di tanah dengan keras, Kei berdiri sembari melirik ke sekelilingnya.


"Jangan seperti orang pengecut! Muncul dan lawan aku!" teriak Kei yang dimaksudkan untuk Tara.


Alih-alih menjawab, sosok Tara dalam sekejap berdiri di depan Kei.


Dengan gerakan tangan yang sangat cepat, celurit di tangan Tara berayun ke arah leher Kei yang terbuka tanpa ada pelindung.


Kei tak sempat bereaksi dengan ini, dia mencoba untuk menahan serangan ini menggunakan siwarnya, tetapi itu terlambat.


Di detik berikutnya, bilah celurit yang melengkung itu berhenti di dekat leher Kei dengan jarak yang sangat dekat, hanya tinggal 1 sentimeter untuk melukai Kei.


Tidak tahu mengapa Tara tak jadi memotong leher Kei.


Menatap wajah Kei yang terpana, Tara tertawa kecil dan mengejek, "Sudah jelas, bukan? Kamu memang lemah."


"Sialan!"


Kei menyimpan kembali senjatanya dan mengepalkan tangannya melotot ke arah Tara.


Terlihat dari wajahnya dia sangat marah dan geram kepada Tara karena ejekannya yang menusuk.


Fakta juga membuktikan dirinya kalah dari Tara, tetapi bukan berarti dirinya lemah.


Memandang Kei dengan santai sembari melemparkan senyuman yang menyebalkan, Tara tetap memancing Kei untuk marah.


Namun, sebagai orang yang sering dekat dengan Tara dan juga kerap bertarung seperti sekarang ini contohnya, Kei tidak lagi terpancing dan memalingkan kepalanya berjalan meninggalkan Tara.


"Mengapa kamu pergi? Kamu takut?" ujar Tara dengan raut yang meledek.


Mendengar cemoohan Tara, Kei tak lagi ingin mendengarkan, dia lebih baik istirahat daripada bertarung melawan orang yang sangat menjengkelkan.


Akan tetapi, niatnya tidak ingin bertarung pecah karena jalannya dihentikan oleh Tara yang menampilkan wajah yang merendahkan, seakan menganggapnya kecil.


Klang!


Golok berapi dan celurit angin bertemu untuk sekian kalinya, dan mereka berdua melanjutkan pertarungan dalam ronde kedua.


Pada sekarang ini, Isander sudah pulang dan duduk di dalam bangunan tempat peristirahatan mereka semua.


Dia sedang memikirkan tentang kemampuannya, khususnya Beaster Badge ini.


Setelah mencoba ke dalam mode beast, dia merasa kekuatannya seperti meningkatkan, tetapi itu tidak, kekuatan fisiknya pada jendela sistem masih mencantumkan angka 300 poin, tidak bertambah.


Intinya, Isander merasa ada sesuatu yang meningkat di dalam dirinya.


Penampilan Isander yang normal pun sekarang memiliki perbedaan dari sebelumnya. Matanya menjadi lebih dalam, ketampanannya pun bertambah, ada aura yang garang dan jantan yang memancar dari tubuhnya.


Di tubuh Isander juga ada sebuah perbedaan, yakni tepat di tengah dadanya terdapat batu permata berbentuk prisma segi lima berwarna lilac.


Apabila Isander menyentuhnya sebuah armor atau baju zirah menyelimuti dirinya. Selain itu juga, pedang besar muncul dari sana.


Ada dua cara dalam menggunakan kemampuan dari Beaster Badge.


Secara keseluruhan, kemampuan ini sangat-sangat kuat, Isander puas sekali dengan mode beast Cenagon ini.


Melihat jam tangan, waktu masih berada di malam hari, pagi akan datang di beberapa jam kemudian.


Jadi, Isander memanfaatkan waktu luang ini untuk melatih kemampuannya yang lain.


Reza dan Isander menjalankan latihan melalui cara meditasi sampai fajar timbul dari arah timur.


Membuka matanya, Isander melihat Reza merebahkan diri dan tertidur. Tampaknya pria ini tidak kuat dan memilih untuk tidur.


Hal Itu diwajarkan karena Reza baru pertama kali berlatih dengan menggunakan metode ini.


Memang sangat melelahkan dari segi pikiran. Duduk dalam waktu yang panjang bukan berarti tidak mengkonsumsi tenaga dan tidak capek, duduk lama mengakibatkan kelelahan juga.


"Ayah~ ...."


Kelembutan dari suara Meisya tiba-tiba terdengar oleh telinga Isander.


Memalingkan wajahnya dan dia melihat Meisya yang berjalan perlahan menuju ke arahnya.


Isander berdiri dan menghampiri Meisya yang baru saja bangun dari tidur.


Memeluk tubuh Meisya, dia menggendong Meisya ke dalam pelukannya dan mengelus-elus punggungnya.


"Kamu masih mengantuk, Sayang?"


"Um, aku ngantuk, Ayah, tetapi perutku terasa lapar."


Isander tersenyum mendengar ucapan Meisya. Anak ini memang menggemaskan.


Segera Isander berjalan menuju tasnya disimpan dan mengeluarkan kotak sereal dan susu dari tas sembari menggendong Meisya.


Dia memberikan air minum usai membuat sarapan untuk Meisya, sebelum beraktivitas dan makan harus minum, tujuan membasahi usus dan organ pencernaan lainnya.


Di saat Meisya ingin melahap sesendok sereal, Giya dan lainnya keluar dari ruang tidur dan berjalan keluar bersama tempat Isander dan Meisya berada.


Dengan begitu, mereka semua melakukan sarapan pagi bersama-sama.


Beberapa porsi makanan diambil oleh Isander dari tas untuk anggota kelompoknya makan. Sebagian besar makanan yang diambil adalah makanan yang cocok untuk sarapan, yaitu nasi uduk, cocok untuk sarapan bagi orang Indonesia.


Cuma Meisya yang makan sereal dengan susu, orang dewasa makan makanan yang berat semacam nasi uduk ini.


Mereka sarapan sampai habis lalu bergegas bersiap-siap untuk pergi.


"Apakah kalian tahu di mana sumber air terdekat?" tanya Isander kepada keempat anggotanya.


"Aku tahu." Reza mengangkat tangannya. "Kalau tidak salah ingat, ada pemukiman di jalur yang akan kita lalui, di sana terdapat sungai kecil."


"Benar, aku juga ingat sekali tempat itu." Kila mengangguk menguatkan pernyataan yang dilontarkan Reza.

__ADS_1


Mereka berdua masih ingat dengan tempat tersebut, mereka secara langsung pernah mengunjungi dan menginap di sana.


"Kalau memang seperti itu, kalian berdua pimpinan kita semua menuju ke sana," kata Isander yang membawa Meisya di tangannya.


"Oke!"


Setelah berbicara sejenak, mereka semua pergi keluar dari daerah reruntuhan permukiman ini.


Ketika mereka berjalan menuju arah keluar, mereka semua melihat dengan jelas ada jejak kaki yang besar dan retak sedikit dalam di permukaan jalan, ada beberapa noda hitam akibat terbakar serta goresan panjang di beberapa tempat di sekitar.


Pemandangan ini ada di area sebelum perbatasan reruntuhan dengan tempat luar.


Melihat semua ini, mereka berspekulasi bahwa ada pertarungan yang terjadi di tempat ini.


Beberapa saat mereka berdiri di sini, melihat-lihat jejak pertempuran yang ada, bahkan mereka menyusuri jejak langkah kaki yang besar ini yang kebetulan mengarah ke luar reruntuhan.


Wajah Isander terlihat terkejut ketika tahu bahwa jejak ini kemungkinan besar mengarah ke tempat di mana dia mencoba kemampuannya tadi malam.


Untungnya, jejak langkah kaki ini berhenti sebelum mereka sampai ke tempat Isander mencoba kemampuan baru.


Mereka melanjutkan lagi jalannya ke luar permukiman.


"Semalam aku sama sekali tidak mendengar ada yang bertarung di dekat sini."


Semua mengalihkan pandangannya ke Reza.


"Kamu tidak tidur semalam?"


"Iya, Kila. Aku bermeditasi, mengikuti Isander, hehe." Reza tersenyum senang. "Sungguh, aku tidak mendapatkan suara kegaduhan dari luar, semuanya semalam terdengar sunyi dan sepi."


Sebenarnya, Reza setengah tertidur ketik bermeditasi bersaman saat pertarungan Sadam dan Tara berlangsung.


Isander menatap wajah mereka semua dan berkata, "Semalam aku merasa ada beberapa orang yang hadir di area ini, sebelum sempat aku periksa, mereka sudah pergi. Kemungkinan besar jejak tadi berasal dari mereka."


"Benarkah?"


"Siapa mereka?"


"Untung saja mereka tidak menemukan kita saat beristirahat."


"..."


Giya dan lainnya terkejut mendengar ini sekaligus lega karena mereka tidak menemukan mereka di sini.


Jika saja mereka menemukan Isander dan kawan-kawan, sebuah pertempuran terjadi di antara mereka.


"Sekarang mereka tidak ada di sini, mereka pergi entah ke mana. Tak perlu memikirkan itu, lebih baik kita fokus berjalan," saran Isander pada semua anggotanya.


Mereka semua mengerti dan mengangguk mengikuti saran Isander.


Perjalanan ke Garuda City atau Kota Garuda cukup lama karena letaknya ada di ratusan kilometer dari tempat mereka mulai berjalan.


Sekarang pun mereka masih terhitung jauh dari Kota Garuda, masih ada jarak tempuh puluhan kilometer untuk mereka sampai di sana.


Perkiraan waktu mereka untuk sampai ke tujuan mungkin lebih dari 2 hari.


Berjalan melewati berbagai macam permukaan jalan dan tempat, hari ini mereka mendapat perjalanan yang cukup ringkih dan merepotkan.


Banyak monster tingkat B dan C menyerang mereka dan menghalangi mereka.


Tentu saja, Isander tidak ikut menghabisi para monster yang berdatangan, dia sibuk memanjangkan putrinya dan membiarkan Giya dan lainnya menghabisi mereka.


Akan tetapi, jika monster level di atas B muncul, Isander akan turun tangan, seperti saat ini, Isander bersiap melawan monster tingkat A yang lain.


Isander sendiri berdiri di kejauhan saling berhadapan dengan monster besar.


Monster yang akan Isander lawan adalah Beargarets. Monster yang berasal dari beruang yang terinfeksi oleh virus.


Tidak heran monster tersebut mirip dengan bentuk beruang hitam dengan ukuran yang sangat besar dan terdapat luka berdarah serta akar yang tumbuh dari tubuhnya.


Memiliki banyak persenjataan alami di tubuhnya, taring tajam menjulang dari rahang atas, hampir sama dengan taring besar makhluk purba Sabertooth, cakarnya pun panjang dan besar yang mampu menghancurkan Catagtress dalam sekali serangan.


Ukurannya terbilang besar, bahkan melebihi Bullager yang termasuk monster besar. Monster di depannya ini mempunyai tinggi 9 meter ketika berdiri.


Monster ini jarang sekali berjalan menggunakan empat kaki, bisa dilihat oleh Isander sekarang, monster ini terus berdiri dan memperhatikan sosoknya.


Giya dan lainnya bilang kepada Isander bahwa monster ini memiliki kekuatan fisik yang kuat. Maka dari itu, mereka berpesan kepada Isander untuk selalu menghindari pukulan atau serangan monster ini.


Pesan mereka diingat oleh Isander sekarang, dia sudah menyiapkan diri untuk memulai pertarungan.


Groahhh!


Suara khas beruang besar yang terdengar sangat keras bagai suara knalpot mobil mewah dengan turbo. Itu dapat membuat tubuh kita bergetar jika berada di dekatnya.


Setelah meraung keras, dia berlari cepat menabrak semua pepohonan yang menghalangi jalannya menuju Isander.


Senyuman muncul di wajah Isander, kemudian dia menyentuh permata di dadanya yang tertutup bajunya.


Dalam sekejap sosok Isander dilapisi armor hitam yang disertai dengan energi berwarna lilac. Pada helm hitam armor yang menutupi seluruh kepalanya muncul sepasang cahaya lila berbentuk mata.


Walaupun armor ini ada di bawah terangnya cahaya matahari, warna hitamnya begitu pekat seakan menyerap cahaya yang datang sehingga tidak dipantulkan.


Begitu Cenagon Armor menyelimuti tubuhnya, Isander berlari ke arah yang berlawanan dengan monster ini.


Keduanya saling berlari saling mendekati sembari berancang-ancang mengeluarkan serangan.


Beargarets mengangkat cakarnya siap untuk mencakar Isander, sedangkan Isander sudah mengepalkan tinju kanannya yang dibungkus armor, dia pun bersedia menyerang monster ini.


Berikutnya, kedua serangan bertemu dan ledakan hebat tercipta.


Duar!


Gelombang kejut menghempaskan segala sesuatu yang ada di dekat tempat dua serangan bertabrakan terjadi.


Banyak bongkahan tanah besar dan kecil berhamburan, bahkan terlempar sampai puluhan meter jauhnya.

__ADS_1


__ADS_2