
Kei dan timnya sedikit menyesal datang ke sini karena mereka bukannya menjauh dari bahaya, malah masuk lebih dalam ke sumber bahayanya.
Diam duduk di sini saja bisa mengancam nyawa mereka semua. Banyak sekali monster-monster yang kuat muncul untuk mencoba menyakiti Isander dan timnya.
Secara otomatis juga mereka menjadi target baru yang harus dibunuh lantaran bergabung dengan Isander.
Meskipun mereka takut, tetapi di lain sisi mereka merasa aman. Keberadaan Isander yang membuat mereka merasakan keamanan yang tinggi.
Pria yang mengajak mereka ke markas ini adalah pria kuat dengan banyak sekali kemampuan luar biasa yang masih menjadi rahasia.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Kei yang tidak paham dengan monster-monster di luar.
Isander tersenyum di bibirnya, menggelengkan kepalanya sedikit, menjawab sambil memegangi kepalanya, "Alasan aku menanyakan kamu melihat keanehan yang lain saat menempuh perjalanan ke sini adalah karena itu. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka mengincar kami semua. Paling jelas mereka datang ini bukan secara alamiah. Ada sesuatu yang menarik atau menang ada pihak lain yang menyuruh mereka."
"Oh, begitu."
Kei baru mengerti mengapa Isander menanyakan tentang abnormal lain selain monster yang berlari bersama.
Secara pribadi, Kei setuju dengan pendapat Isander yang mengatakan bahwa fenomena ini ada dalang atau sesuatu yang menjadi penarik dan pendorong mereka untuk menargetkan Isander serta anggota kelompoknya.
Tidak mungkin jika monster-monster itu datang secara tiba-tiba dan berbarengan tanpa ada kompromi.
Bagaimana pun, mereka ini berasal dari daerah yang berbeda, tidak mungkin punya koneksi yang jauh dan luas.
Jika memang iya, mengapa sebelumnya mereka semua tidak bersama juga untuk menyerang Agter yang membunuh salah satu monster.
Panorama atau pemandangan yang sekarang terjadi tidak sembarang atau muncul asal-asalan tanpa ada sebabnya.
"Menurutku, ada dua kemungkinan yang menyebabkan peristiwa ini terjadi." Sadam melirik Kei dan yang lainnya. "Pertama karena ada pihak ketiga atau pihak lain yang mengendalikan atau memerintahkan mereka. Pihak ini punya kemampuan untuk berkomunikasi atau menghubungi seluruh monster dengan jangkauan yang luar biasa jauh. Kedua, sebabnya dikarenakan oleh pihak internal dari tim. Ada sesuatu yang menarik dan berarti bagi monster sehingga mereka mati-matian untuk datang ke tim."
Semuanya termenung diam secara bersamaan, memikirkan tentang perkataan Sadam yang berisikan spekulasi yang belum tentu menjadi fakta.
Dipikir-pikir oleh mereka, pernyataan Sadam ada benarnya juga dan memang masuk akal dengan terjadinya peristiwa yang sekarang terjadi.
Hendra yang diam dan banyak berpikir mulai membuka mulutnya dan berbicara, "Aku cenderung lebih memilih tebakan kedua Sadam karena mereka ini punya kemampuan mendeteksi bau Agter. Bisa saja bau kuat yang terpancar oleh Isander membuat mereka datang untuk menyerang."
"Tidak, aku rasa tidak." Kei menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Mengapa kamu menyanggahnya? Apakah ada tebakan yang lain?"
Kei menepuk dagunya dengan jari telunjuk sambil berpikir.
"Aku lebih percaya ke tebakan pertama Sadam. Semua monster memang ada yang mengendalikan di balik layar. Gerakan mereka itu benar-benar terhubung satu sama lain. Aku bisa melihat bahwa monster-monster itu tidak hanya di level A saja, ada level B yang punya indra tidak lebih kuat dari level A. Oleh sebabnya, mereka bisa saja tidak tahu ada keberadaan Isander lantaran tidak menemukan pancaran kekuatan Isander dari jarak yang begitu jauh, " terang Kei dengan segala kemungkinan yang dia pikirkan.
Semua Garuda Comity dan Isander mulai pusing dan mengantuk memikirkan ketidakpastian ini.
Sebelum Garuda Comity izin tidur beberapa jam, Isander menanyakan masalah perihal Tara yang masih belum tuntas penjelasannya.
Informasi yang Isander dapat mengenai persoalan kasus Tara cukup banyak dari Kei dan teman-temannya.
Ketua Garuda Comity ini sudah memiliki keanehan semenjak beberapa hari sebelum peristiwa mengerikan terjadi.
Tara ini sering ke rumah pemimpin kota yang Isander sendiri tidak mau tahu namanya. Tidak penting.
Masih belum diketahui apa motif dari Tara yang sering berkunjung ke rumah pemimpin kota.
Masih belum ada jawaban dari pemimpin kota secara langsung hingga mereka semua izin keluar dari kota untuk mencari pelaku penyebaran minuman bahaya di pagi hari tadi.
Semuanya masih menjadi misteri bagaimana caranya Tara bisa berkhianat kepada teman dan kota sendiri.
Meskipun sifat Tara menyebalkan dan membuat banyak orang marah, sosok Tara sangat dibutuhkan oleh kota dan petingginya.
Kekuatan Tara begitu besar, mereka masih tak percaya orang sekuat Tara bisa berkhianat dan mudah berkhianat begitu saja.
Isander ikut tertarik dengan kasus ini. Sebuah dugaan muncul di hati Isander kalau keganjilan di hari ini ada hubungannya dengan kasus Tara.
Anehnya, peristiwa ini berlangsung begitu dekat, seolah pelaku penyebaran minuman monster butuh waktu beberapa saat untuk melanjutkan misinya.
Kalau memang tidak berhubungan, harusnya peristiwa pada Isander tidak terjadi berdekatan.
Isander menyimpan pikiran ini, sekarang dia harus memeriksa luar markas, tidak lupa memperkuat jebakan dan dinding pertahanan mematikan.
Di larut malam ini, Isander menemukan bahwa monster tidak begitu banyak menyerang tempat di mana Isander berbunyi.
Hanya beberapa puluh monster yang datang, mudah untuk membujuk mereka semua.
__ADS_1
"Aku harus meminta pendapat Cenagon."
Melihat masih ada waktu untuk pergi ke ruangan khusus Cenagon. Isander segera memindahkan kesadarannya ke dalam ruangan Cenagon.
Beberapa jam sebelum pagi terbit, Isander telah banyak mengobrol dengan Cenagon.
Mendapatkan hasil konsultasi dengan Cenagon yang juga satu pendapat.
Pendapat Cenagon dan Isander satu frekuensi.
Cenagon yakin betul ada orang atau monster yang memberikan komando menyerang Isander.
Namun, Cenagon sendiri tidak tahu apa alasan yang tepat mengapa pihak itu melakukan hal tersebut kepada Isander yang bahkan belum pernah bertemu sama sekali.
Keduanya sepakat bahwa motif atau latar belakang dari pihak ketiga adalah identitas pihak ketiga merupakan musuh Isander yang sebenarnya.
Musuh tidak butuh alasan untuk menjatuhkan lawannya, bahkan kalau alasannya itu karena ketidaksukaan pribadi yang sepele.
Isander harus berhati-hati sekarang.
Ketika hari kembali cerah, tim Isander dan Garuda Comity bertemu secara lengkap.
Aqila terkejut mengetahui tentang Tara yang berkhianat ketika mengobrol bersama Kei.
Sebagai teman atau rekan dekat, Aqila benar-benar tidak menduga Tara bisa sangat berani melakukan tindakan sampah.
Sifat Tara itu cenderung sombong, mustahil untuk menjadi bawahan orang lain kecuali petinggi kota.
Pria itu bahkan tidak ingin dibandingkan dengannya yang padahal secara kekuatan menang Aqila ketika bertarung satu lawan satu dengan Tara.
Dengan obrolan di pagi harus usai sarapan pagi, mereka semua memutuskan dan sepakat bahwa peristiwa keanehan yang masih berlangsung sampai pagi hari ini ada kaitannya dengan kasus Tara berkhianat.
Setelah kenyang, Kei dan anggota Garuda Comity memilih untuk bergabung sejenak bersama Isander dan kelompoknya pergi menuju Purbalingga bagian utara.
Letaknya cukup dekat dari tempat singgah ini.
Akan tetapi, perjalanan mereka sangat terhambat oleh ribuan monster A berdatangan untuk membunuh mereka semua.
__ADS_1
"Tebasan Burung Api!"