
Pada saat yang sama, seorang wanita yang merekrut Tara menjadi anggota kelompoknya sedang berdiri di gubuk kecil bersama beberapa anak buahnya yang jelek dan memiliki wajah yang mengerikan.
Mereka tengah bermusyawarah dengan apa yang harus dilakukan.
Pasalnya, mereka semua sudah banyak kehilangan pasukan mereka yang sudah dipersiapkan dalam waktu yang lama, dan sulit untuk mendapatkan pasukan sebanyak itu.
Kerugian mereka cukup besar hanya untuk mengalahkan sekelompok manusia Agter.
Terlihat wajah dari wanita itu tampak gelap, karena dia sudah sangat salah menilai musuh kali ini.
"Apakah mereka masih bisa bertahan dari gempuran ratusan ribu monster?" tanya wanita itu dengan wajah yang berat.
Salah satu anak buahnya mengangguk dan menjawab, "Masih bisa bertahan, bahkan mereka terlihat tidak begitu kesulitan. Kita butuh pasukan yang lebih kuat."
Mendengar jawaban ini, wanita itu terlihat lebih rumit, termenung dengan pikiran yang berat.
Bukan karena apa-apa, dia sudah salah langkah melawan tim Agter satu ini.
Sudah terlalu jauh dan sulit untuk menahannya lagi lantaran akan terasa lebih sia-sia lagi.
Maka dari itu, dia memang harus mengeluarkan seluruh kekuatannya dalam menghentikan dan menghabisi tim Agter yang menyusahkan itu.
"Pasukan lebih kuat?" Wanita itu memikirkan tentang kalimat terakhir dari anak buahnya.
Memang dia harus merekrut pasukan yang lebih kuat lagi dari monster buatannya.
Susah sekali kalau memang mengandalkan pasukan monster A dan monster buatan miliknya.
Wanita itu merasa skeptis terhadap rencana merekrut monster yang lebih kuat, yaitu monster level S.
Bukan tanpa alasan dugaan buruk itu muncul. Wanita tersebut dengan jelas mengetahui tiga Monster Hipgoter tingkat S dikalahkan begitu saja oleh pria yang diincarnya.
Pria itu adalah Isander, timnya juga sudah menjadi target pemusnahan wanita tersebut.
Sangat disayangkan, usaha mereka semua tidak bagus dan gagal sepenuhnya di hadapan Isander.
Monster S yang mereka kirim saja tidak berarti bagi Isander, mudah untuk dibunuh dan dikalahkan.
Serbuan pasukan monster buatan dalam skala yang banyak dan telah berlangsung berhari-hari ini tidak sukses membantu Isander. Mereka sangat rugi dalam rencana ini.
Monster S direkrut dan digunakan sebagai alat pembunuh Isander, bahkan wanita itu sendiri ragu dengan rencana tersebut.
__ADS_1
Ragu bukan berarti tidak akan dilakukan, wanita itu akan mencoba rencana ini.
Dengan begitu, banyak sekali asap hitam mulai berterbangan dari tubuhnya menuju ke berbagai tempat dalam kecepatan yang cukup cepat.
Tanpa disadari dia sudah memberi tahu letak di mana dirinya berada karena kekuatan yang dikeluarkan.
Pancaran kuat tersebut dapat dirasakan Isander, dan membuat Isander bertanya-tanya tentang makhluk apa yang punya kekuatan sebesar itu.
"Monster S yang aku panggil akan datang kepada mereka semua, kita hanya perlu terus mengarahkan monster A ke bawah dan monster buatan kita menyerbu mereka, tujuannya untuk tidak memberikan waktu untuk mereka bisa beristirahat," kata wanita tersebut dengan suara yang dalam.
Mereka semua mengangguk meski ada sedikit keengganan di dalam hati mereka.
Sudah jelas di awal ketuanya ke sini, ketuanya akan menghadapi secara langsung pria yang menyebabkan kekacauan.
Akan tetapi, ketuanya sama sekali tidak mau langsung melawan pria tersebut dan memilih untuk mengandalkan pasukannya sendiri.
Alhasil, mereka menjadi kalah dan kehilangan banyak pasukan.
Anak buah wanita itu yakin kalau ketuanya akan menang melawan pria tersebut satu lawan satu, atau tatap muka secara langsung tanpa dibantu.
Anehnya, ketuanya langsung berubah pikiran dan lebih memilih mengandalkan pasukan recehnya.
"Baik, ketua! Kami akan memantau pasukan yang ada."
Anak-anak buah wanita tersebut menurut dan mengangguk.
Setelah mendengar jawaban ini, wanita itu mengubah sosoknya menjadi kabut asap hitam dan menghilang dari tempat dirinya berdiri.
Isander kembali ke timnya dan dia membantu mereka untuk menghancurkan semua gelombang serbuan monster yang terus berdatangan.
Api putih Isander membekukan setiap monster yang ada di dalam jangkauan 5 kilometer dari dirinya sebagai pusatnya.
Semua monster menjadi benar-benar belum, sangat rentan untuk dihancurkan tanpa banyak sekali usaha.
Dengan begitu, semua anggotanya bisa membantai mereka semua semaunya.
Setelah itu, Isander bisa meninggalkan mereka semua membantai musuh yang menjadi patung es, tidak lupa membawa Meisya yang sudah rindu padanya.
Pertarungan melawan puluhan ribu monster di hari ini berlangsung sampai malam menjelang.
Di malam hari, mereka semua berlindung di markas yang dibuat Isander dalam waktu singkat menggunakan kemampuannya.
__ADS_1
Selain kemampuan super, Isander dituntut untuk bisa mengetahui bagaimana rumah dan ruang-ruangan itu berfungsi dengan baik, dan juga kokoh tanpa cepat rusak.
Tentu, sebagai ketua tim juga Isander harus bisa melakukan itu semua karena tanggung jawab.
Timnya juga membantu Isander dalam pembuatan markas, semua anggotanya tidak semata-mata diam dan melenggangkan kakinya dengan santai.
Semuanya harus bekerja sama karena mereka adalah tim dan bukan perorangan atau individu.
"Aku merasakan ada energi yang lebih besar dari Hipgoter dari arah barat daya," kata Isander dengan wajah yang serius.
Saat ini, mereka sudah selesai makan, dan tengah berdiskusi seperti biasa di rutinitas mereka semua.
Semua orang mengubah wajahnya setelah mendengar ucapan Isander, mereka menjadi takut dan khawatir.
Aqila memiliki ekspresi yang sungguh-sungguh dan bertanya, "Kamu tahu apa makhluk itu?"
"Tidak aku sama sekali tidak tahu karena terlalu jauh jaraknya, tetapi yang jelas makhluk itu sangat kuat dibandingkan Whale Gozer sekalipun," jawab Isander tanpa ada rasa sedikit bercanda.
Isander memang tidak tahu seperti apa wujud monster tersebut, itu jauh dari tempat Isander berada.
Bisa saja Isander ke sana, tetapi Isander khawatir dengan keselamatan dirinya dan timnya juga.
Tidak boleh bertindak gegabah dalam hal yang krusial dan memiliki risiko yang besar.
Oleh sebabnya, Isander memilih untuk memberi tahu mengenai masalah ini daripada main hajar dan bertarung begitu saja dengan monster yang belum diketahui.
"Apakah ada monster yang lebih kuat dari Monster Whale Gozer?" Reza memandang Aqila, Goron, dan Kei.
Ketiganya merupakan orang yang dekat dengan kota dan mungkin memiliki banyak rahasia besar terhadap monster.
Goron mengangguk, kemudian menjelaskan, "Ada, dan itu hanya asumsi semata dari hasil para petinggi Kota Komodo. Masih asumsi atau spekulasi, belum tentu kebenarannya."
"Aku masih belum tahu," kata Kei dengan pengalamannya sendiri.
Kei memang belum tahu mengenai hal ini, serupa dengan Aqila.
Hal ini membuat semua anggota Isander memusatkan pandangannya pada Goron. Hanya dia satu-satunya yang mengetahui bahwa ada monster kuat dari Whale Gozer.
Melihat mereka semua mengarahkan tatapan pada tubuhnya, Goron mengembuskan napas dan pasrah.
"Aku belum mendapatkan kejelasan dari para petinggi kota ...."
__ADS_1