
Wajah Goron tampak pucat melihat Isander yang terbaring di dalam lubang pada tembok kota.
Di kejauhan, para Agter melihat Isander yang terbujur kaku dengan baju zirah hitamnya yang mengeluarkan cahaya lilac yang remang-remang.
Mereka semua tidak tahu bahwa Isander sedang menahan rasa sakit akibat tampan keras dari belalai monster.
Menyentuh zirah pada bagian perutnya, sebuah lampu yang bersinar hijau muncul dari telapak tangan Isander. Dia sedang menyembuhkan luka dalamnya dengan kemampuan penyembuhannya.
Setelah itu, Isander mencoba menggerakkan tubuhnya untuk menghadapi monster raksasa di kejauhan.
"Aku tak mengira akan sekuat ini."
Isander bersusah payah untuk berdiri di atas lubang dinding. Menatap monster di kejauhan dengan tatapan yang tak percaya.
Di saat Isander berusaha untuk bangkit dan menyembuhkan diri, para Agter mencoba untuk menahan kembali monster gajah raksasa tersebut dengan serangan jarak jauh.
Gerakan mereka berguna dan berhasil menahan monster gajah untuk mengambil langkah ke dalam Kota Komodo.
Akan tetapi, Goron tampak khawatir, serangan mereka takkan bisa bertahan lama dan monster ini akan melancarkan serangan untuk menyingkirkan serangan gabungan para Agter.
Gruoahhh!
Monster ini menahan rasa sakit pada kulitnya yang ditusuk oleh berbagai jenis anak panah dan tombak.
Melihat ini, Goron segera bergerak untuk membeli waktu Isander memulihkan tubuhnya.
"Aku takkan membiarkanmu maju lagi!"
Dengan tubuh yang sedih sakit, Goron meninju tanah dan membuat tanah yang ada di depannya menjulang tinggi membentuk sebuah perangkap yang mengekang keempat kaki monster yang besar.
Goron kali ini benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk mengulur waktu Agara Isander bisa kembali membantu mereka dari krisis ini.
Monster gajah raksasa terkejut karena semua kakinya tak bisa digerakkan, dia menundukkan kepalanya ke bawah dan melihat keempat kakinya terjebak oleh tanah kering yang menyelimuti setengah dari tinggi kakinya.
GRUOAAH!
Dengan amarah yang memuncak, monster tersebut meraung liar dan mengerahkan kekuatan tubuhnya pada kakinya.
Tanah yang menjebak keempat kaki monster perlahan tampak terdapat garis halus yang menjalar, garis halu tersebut terus bergerak hingga menjadi retakan yang kasar dan sangat jelas.
Goron yang mengetahui ini segera mengeluarkan semua staminanya untuk mengerahkan tanah untuk memperkuat lapisan tanah.
Sayangnya, retakan itu makin banyak dan akhirnya tanah yang menahan keempat kaki monster hancur berkeping-keping.
Mengetahui ini, Goron menjadi putus asa dan memandang monster raksasa jauh di depannya dengan pandangan yang pasrah.
Di detik berikutnya, perasaan menyerah menghilang di hati Goron. Pasalnya, dia melihat sosok Isander terbang tepat di atas para Agter yang melontarkan banyak serangan jarak jauh.
"Terima kasih."
Ucapan yang begitu dalam dapat didengar oleh semua Agter, termasuk Goron.
__ADS_1
Suara Isander yang berkharisma dan berwibawa membuat semua Agter yang putus asa menjadi semangat seolah hidup kembali.
"Yaa!!!"
"Akhirnya!!"
Semua Agter bersorak dengan penuh semangat juang yang tinggi.
Mereka semua menatap Isander dalam mode Baryon Cenagon dengan harapan di matanya.
Senyuman muncul di wajah Goron yang pucat dan putus harapan. Dia memandang Isander dengan rasa terima kasih yang tinggi.
"Terus serang monster itu, semuanya!" ucap Goron dengan suara yang lantang.
"Baik, Pak!"
Dengan perintah yang dikeluarkan oleh Goron, semua Agter yang punya kekuatan Agter berjenis senjata jarak jauh melemparkan serangan secar intens tanpa henti.
Meskipun mereka merasa lelah, mereka harus tetap berjuang agar tempat tinggal mereka selamat dari ancaman pada monster.
Sekejap, monster gajah raksasa tak bisa berbuat apa-apa karena serangan kecil mereka sangat mengganggu.
Melihat ini, Isander tersenyum puas, pada momen langka ini para Agter bersatu untuk melawan monster.
"Baiklah, aku akan serius sekarang!"
Isander menatap sosok monster raksasa di depannya dengan semangat yang membara.
Bukan tanpa alasan, monster ini sudah berbeda level dengan monster lainnya, jauh lebih kuat dari Deegiant.
Zing!
Dark Spear muncul dengan bilah yang bercahaya ungu gelap, kemudian Havoc Zweihander terbentuk di tangan kirinya dengan cahaya lilac pada bilahnya.
Kedua senjata ini berdengung akibat energi yang terus terisi di bilahnya.
Cahaya di senjatanya bertambah terang hingga sosok Isander ditutupi oleh kedua cahaya dalam dua warna yang berbeda.
Dari kejauhan, banyak Agter yang melihat dengan jelas dua cahaya berasal dari kedua senjata Isander. Tampak begitu menyilaukan.
Tepat ketika monster raksasa ini sadar dengan cahaya yang berasal dari Isander, sebuah ayunan Pedan dan tombak Isander lakukan dengan gerakan yang begitu cepat.
Kali ini, Isander tidak hanya melambai dua kali, melainkan tiga kali ayunan sehingga memunculkan tiga gelombang energi di setiap senjatanya.
Swosh! Swosh! Swosh!
Serangan energi ini tampak lebih besar dan kental dari serangan Isander pada biasanya, hal ini karena Isander benar-benar serius sehingga dia memfokuskan kekuatannya pada bilah senjatanya.
Udara terlihat terbelah akibat keenam serangan energi ini, menimbulkan suara dengungan di atas langit.
Berikutnya, gelombang energi yang berbentuk bilah pedang menghantam tubuh monster dengan telak.
__ADS_1
Bang! Bam! Bum!
Beberapa ledakan tercipta dengan gelombang angin yang mampu menerbangkan berbagai barang di sekitar.
Asap debu membumbung tinggi menutupi sosok monster tersebut.
Gruoaahhh!!
Suara rintihan kesakitan terdengar jelas di telinga semua Agter, membuat Agter Kota Komodo menjadi senang.
Mereka menduga di balik asap debu ada monster raksasa yang sekarat.
Namun, dugaan mereka salah karena begitu kabut debu menghilang, itu memperlihatkan monster gajah raksasa yang masih berdiri kokoh dengan luka panjang di sekujur tubuhnya.
Meskipun luka tersebut kelihatan sangat berat, tetapi monster gajah raksasa masih bisa tegak berdiri seakan dia takkan pernah tumbang.
Tidak hanya Agter Kota Komodo yang terkejut, Isander pun tidak berpikir monster raksasa bisa menahan serangannya.
Alis Isander terangkat naik, kemudian dia mulai melancarkan serangan lanjutan.
Pada kesempatan ini, Isander sungguh tidak main-main, dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membunuh monster raksasa ini.
Akan tetapi, dia harus mempertimbangkan serangannya supaya tidak menimbulkan korban pada pihak Agter.
Dengan keempat sayapnya yang ada di belakang punggungnya, sosok Isander menghilang dan muncul di atas tubuh monster gajah.
Swoosh!
Tebasan ungu gelap yang terasa dingin menabrak tubuh monster raksasa dengan kuat, semburan darah bau menyembur keluar dari luka yang dihasilkan dari serangan Isander.
Ayunan demi ayunan Isander lakukan di tempat yang berbeda pada tubuh monster, gerakannya yang bisa dilihat oleh mata orang biasa lambat laun menjadi tak terlihat karena akselerasi serangan Isander yang makin cepat.
Monster gajah raksasa ini hanya bisa berteriak sambil menggoyangkan belalainya di sekitar tubuh untuk menangkap sosok Isander.
Sayang sekali, kecepatan Isander kali ini lebih cepat dari belalai monster gajah raksasa. Sampai kapan pun, monster ini takkan bisa menangkap Isander yang terbang di udara.
Pada saat berikutnya, monster gajah raksasa yang tampak megah berubah dalam waktu yang singkat menjadi monster penuh luka sobekan yang dalam.
Beberapa bagian tubuh pada monster raksasa terekspos hingga organ dalamnya bisa dilihat dari kejauhan.
Tampak jelas sekali bahwa monster ini akan mati, Isander terbang di depan monster tersebut dan memandangnya dengan tatapan yang kasihan.
Monster gajah pun menatap Isander, matanya yang lemah terasa begitu menyedihkan. Monster itu seakan pasrah dan tahu bahwa ini adalah akhir hidupnya.
"Maaf, aku harus menyingkirkan kamu
sekarang. Selamat tinggal, Monster Besar!"
Selanjutnya, Isander mengangkat kedua senjatanya tinggi, bersiap melancarkan serangan pamungkasnya untuk mengeksekusi monster gajah ini.
Tepat ketika monster tersebut hendak dibunuh oleh Isander, suatu perubahan yang tak terduga terjadi.
__ADS_1
Graaahh!