
"Masih jauh, mungkin tiga hari kemudian atau lebih kita baru sampai di Kota Komodo, itu pun kalau memang tidak ada banyak monster yang datang kepada kita," balas Reza sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Reza mengira-ngira jarak yang telah mereka tempuh dan dikurangi durasi mereka semua membersihkan monster yang menghalangi jalan.
Masih panjang mereka semua untuk bisa tiba di tujuan. Jarak dari Kota Garuda Komodo tidak main-main jauhnya.
Isander mengangguk dan dia mengusap wajah Meisya yang tertidur pulas bersama Helen dan Reren di sebelahnya.
Mereka semua tidur di ruangan besar di dalam rumah ini karena tempatnya tidak begitu luas layaknya rumah mereka yang ada di dekat Kota Garuda.
Mengetahui bahwa mereka masih lama untuk berada di kota, Isander mencari cari bagaimana caranya untuk bisa mempercepat perjalanan mereka agar tidak terlalu lama di hutan belantara dekat pegunungan.
Saat membuat rumah ini, Isander sempat melihat pemandangan yang ada di hutan ini dan ternyata mereka telah berada di sebuah bukti atau pegunungan yang memanjang dan melingkar dengan hutan yang merambat ke seluruh tempat. Tampak seperti lautan dedaunan dan pepohonan.
Sangat berbahaya di sini lama tanpa ada tempat berlindung, monster-monster ada yang pasti tinggal di sini, berbagai jenis yang mungkin belum Isander temui dan lebih ganas daripada yang pernah diatasi oleh Isander.
Banyak risiko apabila tinggal di sini dalam waktu yang lama.
Isander bersandar di dinding kayu rumah, menatap Giya, Nina, Kila, dan Reza yang masih segar dan belum mengantuk dengan pandangan yang serius.
"Aku ingin bertanya tentang monster level S. Apakah ada dari kalian yang tahu tentang monster yang pernah menyerang Kota Garuda dan meninggalkan jejak besar di luar tembok kota?" tanya Isander yang ingat dengan jejak kaki besar di pemukiman luar kota.
Dia masih memikirkan tentang monster yang diberitahukan oleh Helen dan Reren saat itu. Rasa penasaran akan monster tersebut masih tersimpan di dalam tubuhnya.
Giya dan lainnya mengangkat kedua alisnya begitu mendengar pertanyaan yang dilemparkan Isander. Kelihatannya mereka tahu tentang monster yang dimaksud oleh Isander dalam pertanyaannya.
"Banyak monster yang pernah menyerang Kota Garuda dari berbagai jeni tingkatan kekuatan mereka. Ada peristiwa yang terkenal di Kota Garuda bahwa monster Gorgoter yang mirip Gorila besar pernah membobol pertahanan tembok kota, tetapi monster itu dikalahkan oleh banyak Agter Master dan Grand Master, dia terbunuh dan dijadikan sebagai objek museum di dalam kota, bentuk dari pencapaian manusia yang telah hidup di bawah tekanan monster-monster kuat," jawab Reza sembari menusuk potongan buah di atas piring di depannya.
"Gorgoter? Berapa tingkatan kekuatannya?" Isander fokus pada nama monster yang menyerang Kota Garuda.
Kila membuka mulutnya dan berkata, "Gorgoter level S, dia jauh lebih besar dan kuat dari Spidgarets dan Cantgarets yang pernah kamu lawan. Ukurannya yang besar merupakan senjatanya."
"Benar, level S yang berada di atas level A. Itu tidak bisa dihadapi oleh Agter Grand Master lagi, butuh Agter King dan ke atas untuk bisa mengalahkan satu monster tersebut. Bisa juga diserang bersama, seperti yang terjadi di Kota Garuda saat itu."
Monster yang mengerikan, ukurannya yang raksasa mampu menghancurkan tembok kota yang besar dan kokoh, tidak perlu diragukan lagi kekuatannya.
Isander menjadi ingin bertemu dengan monster tersebut, apakah dia bisa menanganinya sendiri atau tidak.
Membunuh monster level A agak membosankan karena kekuatannya mudah untuk membinasakan mereka.
Namun, Isander berharap sebelum bertemu dengan monster level S, dia bertemu dengan monster level A dengan jenis yang lain.
"Di dalam level monster apa ada pemimpin atau monster yang lebih kuat dalam level yang sama?"
Sesuatu yang baru Isander tanyakan secara spontan, pertanyaannya muncul begitu saja.
Kali ini Giya yang mengeluarkan jawabannya setelah diam karena sedang memakan camilan. "Monster di level C ada Dogagtress yang paling kuat, di level B ada Bullager, untuk level A aku belum tahu."
"Digadang-gadang level A punya monster yang masih menjadi misteri karena monster ini jarang keluar dan ditemukan oleh para Agter. Banyak yang bilang monster tersebut ada daerah yang menyambungkan Kota Garuda dan Kota Komodo, yakni daerah yang kita injak dan tempati sekarang ini," ujar Reza dengan wajah yang serius.
Pernyataan Reza diperkuat oleh anggukan kepala Giya dan lainnya. Mereka berempat memiliki informasi yang sama.
"Apa namanya? Dan bagaimana bentuk dan kekuatannya?" Isander bertanya lagi karena makin penasaran dengan monster yang mereka bicarakan.
Kila, Reza, dan yang lain, saling menatap dan berdiskusi satu sama lain.
Berikutnya, Reza berkata pada Isander dengan suara yang dalam dan penuh kengerian, "Deegiant, monster yang katanya memiliki bentuk seperti rusa dan ada yang bilang mirip kijang, bahkan kuda. Informasi yang valid tentang monster ini adalah tubuhnya dipenuhi oleh banyak tumbuhan dan ada yang bilang juga tubuhnya memang terdiri dari banyak tumbuhan yang berkumpul dan membentuk monster tersebut.
"Kekuatannya masih belum diketahui karena para Agter sendiri belum pernah melawan monster tersebut. Monster ini punya ukuran tubuh yang besar hampir setinggi Gorgoter. Kemungkinan besar kekuatannya hampir sama dengan Gorgoter yang mengandalkan kekuatan fisiknya."
Isander bingung dengan monster yang punya ukuran tubuh yang besar. Mereka besar dan kuat, sayangnya tak ada kekuatan yang hebat seperti beberapa monster ruang lebih lemah dari mereka. Jika memang mengandalkan kekuatan fisik mentah saja, Isander memiliki harapan bahwa dirinya akan menang.
Fisik Isander belum ditunjukkan seluruhnya, lebih sering menggunakan senjata untuk membunuh monster. Pertama mendapatkan kekuatan pun Isander belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatan fisik. Apa yang sudah Isander tunjukkan sebelum-sebelumnya itu bukanlah kekuatan penuh dari fisik Isander.
Entah apa yang bisa dia lakukan dari menggunakan kekuatan fisiknya secara penuh dan maksimum.
Malam hari ini, Isander mengambil banyak informasi tentang monster tingkat tinggi dari anggota kelompoknya yang di mana ini cukup penting.
Ternyata monster-monster di dunia ini sudah berevolusi dan menjadi lebih kuat. Sama seperti manusia yang terus berkembang menjadi kuat.
Jenis-jenis monster pun banyak di dunia ini, banyak variasi dalam Isander membunuh monster agar tidak bosan.
__ADS_1
Ada 2 monster yang Isander fokuskan dan ia jadikan tujuan dalam menghabiskan monster di dunia.
Jika ingin mengalahkan musuh, maka bunuh orang yang terkuat dari kelompok musuh.
Kedua monster tersebut merupakan salah satu perwakilan monster terkuat di kelompok tingkatan kekuatannya.
Giya dan yang lain bilang bahwa monster dengan level tinggi tak mempunyai jumlah yang banyak. Makin kuat monster, jumlahnya makin sedikit.
Level S saja mungkin cuma ada puluhan saja atau lebih, berbeda dengan level A yang seharusnya lebih banyak.
Dengan begitu, menjadi lebih mudah menghancurkan keberadaan kelompok monster di dunia ini.
Hancurkan saja bosnya, secara otomatis monster akan kalah dan mudah untuk dibunuh.
Namun, hal itu tidak segampang mengupil dan mencium ketiak. Butuh kekuatan yang lebih dari kekuatan yang dimiliki monster tersebut untuk mengalahkannya.
Sementara itu, umat manusia belum memiliki banyak Agter yang kuat.
Dari informasi yang diberikan Reza dan anggota kelompoknya yang lain, ada beberapa Agter kuat yang sudah berada di tingkat Agter King dan Emperor. Sayangnya, keberadaan mereka sangat tersembunyi dan jarang bercampur dengan Agter-Agter yang lain.
Sebagian besar dari mereka menjalankan misi sendirian tanpa bantuan orang lain.
Keberadaannya sangat tersembunyi dan tak diketahui, mungkin beberapa orang tahu dan itu tak banyak.
Ketika Isander bertanya mengapa mereka ini tidak memusnahkan monster di dunia ini, Giya dan lainnya bilang bahwa mereka masih belum sanggup.
Meskipun mereka kuat, ada monster yang lebih kuat dari mereka.
Dengan begitu, Isander bertanya kepada mereka berempat mengapa mereka mau membantunya untuk mengalahkan monster sedangkan mereka tahu bahwa Agter yang kuat saja tak mampu.
Mereka menjawab mereka percaya kepada Isander bahwa dia dapat mengubah planet ini menjadi lebih baik lagi.
Dan dia saat Isander bertanya lebih detail lagi, mereka menjawab diri mereka sendiri tanpa disadari tiba-tiba memercayai Isander.
Setelah obrolan di malam hari selesai, mereka semua pergi tidur untuk mempersiapkan diri untuk besok melanjutkan perjalanan yang sangat jauh
Energi sangat diperlukan dalam perjalanan jauh ini. Tanpa energi dan stamina, mereka tidak akan bisa menempuhnya.
Isander masih sama dengan aktivitas malamnya yang selalu dilakukan setiap hari, yaitu bermeditasi dan mengobrol dengan Cenagon di ruangan khusus.
"Kewaspadaan jangan sampai menjadi lengah, di hutan ini, kemungkinan akan berbahaya. Jikalau ada sesuatu yang aneh dan sesuatu yang berbahaya, tolong segera ingatkan anggota yang lain," imbau Isander kepada mereka semua sebelum berangkat.
Semuanya mengangguk dan mengingat pengingat Isander di dalam otaknya.
Dengan ucapan Isander keluar, mereka semua mulai bepergian menjelajah hutan sambil menuju Kota Komodo.
Hutan di sini sangat lebat, banyak semak belukar dan juga rumput tinggi yang membuat mereka agak kesulitan dalam berjalan dan melewati medan jalan.
Isander menggunakan tombak hitam atau Dark Spear untuk memotong banyak dedaunan, dahan, atau ranting yang menghalangi jalannya agar mudah lewat.
Sesekali ada beberapa monster Bugagtress berbentuk monster nyamuk besar dan lalat. Untungnya, monster-monster ini tidak kuat dan mudah dikalahkan.
Perisai bulat milik Reren bahkan mudah untuk menghancurkan mereka, tetapi Isander tidak menyarankan Reren membunuh monster ini karena mereka saat mati mengeluarkan cairan asam hijau.
Duri pada perisai Reren sempat rusak, dan bisa ditumbuhkan kembali oleh kekuatan bawaan Reren. Ketika perisainya rusak, Reren bisa meregenerasi perisainya kembali dengan energi Agta yang dia punya.
Energi Agta bisa diisi layaknya stamina dan kapasitasnya akan terus bertambah seiring seringnya kemampuannya digunakan.
Untuk mengalahkan Bugagtress yang berdatangan, Giya dan Helen yang bertugas mengalahkan mereka karena kekuatan mereka yang sangat pas untuk melawan mereka semua.
Dengan panah dan pisau lempar yang keduanya miliki mudah untuk membunuh monster tersebut dari jarak jauh.
Krieett!
Cuakks!
Dalam serangan monster kali ini terdapat dua jenis monster sekaligus dan mereka memasuki pertempuran yang sedikit serius.
Beberapa panah dilepaskan menunjuk ke arah tanah dan ledakan es pun terjadi.
Bongkahan es kecil melukai banyak monster sehingga memperlambat dan mengganggu mereka dalam melakukan penyerangan.
__ADS_1
Reren bersiaga di barisan depan menempatkan kedua perisainya ke arah depan, menggunakan perisainya sebagai penghalang mematikan.
Whoosh!
Hembusan angin terdengar di kedua telinga Reren, dua sosok meluncur dari belakangnya dan bergegas menuju kumpulan dua jenis monster yang berbeda.
Sosok Reza dan Nina muncul di tengah-tengah ramainya monster yang berlarian ke arah Isander dan kelompoknya.
Kehadiran mereka berdua untuk membunuh monster dari dalam.
Pisau lempar berapi dan cambuk batu membereskan monster yang pergi menjauh. Mengeksekusi mereka yang berniat untuk kabur.
Mereka semua melakukan tugasnya dengan baik, kerja sama yang terkoordinasi membuat mereka kuat dalam melawan ratusan monster dalam sekali pertarungan.
Isander dan Meisya telah pindah, dia tidak ada di tempat itu melainkan berada di depan jalan, membunuh mereka yang datang hendak menyerangnya.
Monster terus menerus bermunculan dari segala arah, termasuk dari arah Isander berada, yaitu daerah timur hutan.
Dengan Wind Barrier miliknya, tak ada yang bisa menyentuh Isander dan anaknya.
Semua monster yang menyerangnya hancur akibat angin kencang yang membentuk lingkaran menutupi sekeliling Isander dan Meisya.
Tubuh monster berubah menjadi daging cincang merah yang berceceran di mana-mana.
Isander dan Meisya tidak memperhatikan monster-monster yang kebetulan menemuinya. Keduanya menatap jam tangan dan menonton film kartun anak-anak.
"Ayah, ini namanya apa?" Tangan kecil Meisya menunjuk ke layar jam tangan.
Melihat sesuatu yang ditunjuk oleh putrinya, Isander tersenyum dan berkata, "Itu namanya kereta api. Kalau kita naik benda itu, kita bisa pergi ke kota dengan cepat."
"Mengapa kita tidak naik ini saja, Ayah?" tanya Meisya yang heran.
"Benda itu sudah tidak ada. Oleh karena itu, kita hanya bisa berjalan untuk ke kota," jawab Isander dengan senyuman lembutnya khas seorang Ayah.
Meisya mengangguk menandakan dirinya paham apa yang dijelaskan oleh ayahnya.
Selama obrolan itu berlangsung, sudah ada belasan monster yang mati akibat menabrak Wind Barrier.
Isander tidak terlalu menyesal karena menggunakan 1 kartu peningkatan kemampuan untuk Wind Barrier. Kemampuan satu ini berguna untuknya jika malas berurusan dengan monster.
Sosok Isander dan Meisya menghilang di bawah dan mereka berdua muncul di atas pohon, duduk sembari melanjutkan menonton film.
Pada saat ini, Garuda Comity telah pulang dari Rain Settlement sambil membawa beberapa sampel berupa tangan makhluk humanoid, tanah yang terkena darah manusia, dan daging kering di suatu rumah dekat lapangan kosong.
Tara dan teman-temannya berjalan di sekitar hutan dengan di sampingnya terdapat sungai yang mengalir deras.
"Entah mengapa aku merasa di daerah dekat pemukiman jarang ada sekali monster, kalian merasakan hal ini?" Tara bertanya sembari melihat Kei dan lainnya.
"Bukannya memang jarang? Selama kita berjalan dari pagi sampai siang, kami tidak menemukan monster di beberapa tempat di hutan ini," jawab Hendra dengan tatapan yang agak sinis.
Melihat wajah Hendra yang tampak tidak senang, Tara tersenyum aneh dan dia menghilang di detik berikutnya, dan muncul di samping Sadam sembari mengangkat tubuh Hendra. "Apa maksudmu memasang wajah itu padaku?"
"Kenapa?" Hendra membalas dengan senyuman yang meremehkan. Pria ini tidak takut dengan Agter yang lebih kuat darinya. "Aku ingin berekspresi seperti itu dilarang olehmu? Aneh, bajingan!"
"Ck, kamu makin menjengkelkan." Tara melempar tubuh Hendra ke pinggir sungai dengan santai dan menggelengkan kepalanya.
Entah apa yang ada di otak orang ini, perilakunya sangat acak dan tidak bisa diprediksi.
Hendra segera berdiri setelah mendarat di atas tanah, tetapi sesosok manusia tiba-tiba muncul di depannya tengah melemparkan sebuah kepalan tangan ke wajahnya.
Bang!
Tubuh Hendra terhempas jauh menyebrangi sungai hingga menabrak beberapa pohon hingga rusak sebelum akhirnya berhenti.
"Berhenti sok kuat. Ingat, kamu hanya seorang Support di kelompok ini."
Berdiri di tempat Hendra terbangun sebelumnya, Tara melipatkan tangannya sambil melihat Hendra di kejauhan.
Wajahnya menunjukkan perasaan meremehkan dengan senyumannya yang dapat membuat orang kesal.
Di seberang sungai di kejauhan, sosok Hendra terlihat sedang terbaring di atas batang pohon yang hancur akibat tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Darah merah menetes dari mulutnya menodai bajunya yang lusuh dan kotor.
Mulutnya yang mengeluarkan darah itu tiba-tiba tersenyum dan perlahan Hendra mengangkat kepalanya. "Ternyata pukulanmu terasa makin lemah, Tara."