
"Ya?"
Isander berhenti berjalan, menoleh ke Aqila dengan alis kanan yang terangkat.
Melihat Isander yang mendengar panggilannya, Aqila mendekati Isander dengan hati-hati dan tidak berani memandang wajah Isander.
"Aku minta maaf. Aku meminta maaf kepadamu, aku tidak ingin kita berdua terpisah dan bermusuhan, aku ingin kita kembali seperti dahulu lagi," ucap Aqila dengan suara yang makin lama makin gamang intonasinya.
Aqila takkan lama lagi akan menangis karena suaranya kian berat.
Respons Isander hanya diam di tempat sembari pandangan matanya tertuju pada sosok Aqila yang berdiri di depannya.
Di dalam hati Isander yang paling dalam, dia sudah memaafkan Aqila, dia juga tidak ingin mereka berdua bermusuhan.
Akan tetapi, Isander masih belum siap jika dirinya bersama lagi dengan Aqila sebagai seorang teman.
Dia sudah memiliki sebuah tim, dan Aqila juga telah masuk ke dalam tim yang lain.
Mereka berdua sulit untuk bersatu layaknya seorang teman.
Menghela napas, Isander berkata dengan suara yang dalam, "Aku sudah memaafkan mu. Namun, aku belum bisa selalu bersamamu seperti dahulu. Terima kasih telah membantuku beberapa waktu yang lalu."
Isander membalikkan badannya sekali lagi hendak pergi, tetapi dia memiliki sesuatu yang ingin dia ucapkan kepada Aqila sebelum pergi.
"Besok, kamu pergi ke luar Kota Komodo, aku ingin berbicara denganmu tentang suatu hal ...."
Dua pasang sayap keluar dari punggung Isander dengan megah dan indah, mengepak beberapa kali menerbangkan dedaunan kering di permukaan tanah.
"Aku akan menunggumu di sana. Selamat tinggal ...."
Setelah mengatakan ucapan itu, Isander pergi dengan cara terbang menggunakan sayapnya sambil membawa anak rusa aneh di pelukannya.
Kecepatan terbang Isander sangat cepat, hanya dalam hitungan detik sosoknya menghilang dari atas hutan.
Mata Aqila dan teman-temannya mengikuti ke arah Isander terbang hingga sosok itu menghilang.
Anggota Garuda Comity lain dalam sekejap menatap Aqila dengan penasaran dan ingin tahu yang besar.
Mereka menganggap ada sesuatu yang terjadi di antara Aqila dan pria kuat yang bernama Isander ini.
__ADS_1
"Aqila, bisakah kamu menjelaskan tentang apa yang terjadi saat ini?" pinta Kei dengan suara yang ramah dan sopan.
Sikap Kei kepada Aqila sangat berbeda saat dia berhadapan dengan Tara, sikapnya seketika menjadi orang yang mudah marah dan cepat tersulut emosi.
Menatap Kei dan yang lainnya, ada perasaan rumit di dalam matanya, Aqila bingung harus apa.
Setelah berpikir sejenak, dan memikirkan tentang permintaan Kei, keputusannya adalah memberi tahu tentang hubungannya dengan Isander.
Aqila membeberkan cerita Isander dengannya dari cerita sebelum dunia ini belum hancur dan kacau hingga Aqila bertemu lagi dengan Isander kemarin.
Setelah mendengar cerita kenyataan Aqila, Kei dan lainnya paham apa datang telah terjadi kepada mereka berdua ini.
Perbuatan Aqila memang dianggap salah meski tidak seratus persen salah, begitu juga sikap Isander yang marah pada Aqila, mereka tidak bisa menganggap Isander seratus benar.
Di antar Aqila dan Isander memang rumit, mereka pun tidak bisa banyak membantu karena itu tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Kei yang masih punya hati nurani ingin membantu Aqila dalam menyelesaikan masalah yang bersangkutan dengan Isander. Hitung-hitung sebagai imbalan Isander telah menyelamatkan mereka saat pertempuran tadi.
Tanpa Kei sadari, dia sudah menjadi penggemar kecil Isander karena adegan keren yang ditunjukkan oleh Isander terekam jelas di kepalanya.
Sadam dan Hendra pun ingin membantu Aqila dalam menyelesaikan masalah ini.
Mereka semua berharap bisa berteman baik dengan Isander yang kuat ini.
Jadi, mereka semua akan ke Kota Komodo untuk menemani Aqila bertemu Isander esok hari.
Tak lama mereka berdiri dan berbicara tentang rencana mereka pergi ingin bertemu Isander di besok hari.
Sosok Tara akhirnya datang kepada mereka semua sambil membawa puluhan Agter yang berasal dari Kota Komodo.
Saat tiba di tempat kejadian perkara di mana monster Deegiant berada, Tara menjadi bingung, dan segera menanyakan tentang keberadaan monster besar yang kuat beberapa menit yang lalu.
Kei dengan santainya bilang monster itu telah mati.
Dengan begitu, banyak para Agter kecewa pada Tara dan membuat Tara disoraki oleh banyak Agter Kota Komodo.
Wajah Tara menjadi gelap setelah mendapatkan celana dan hinaan para Agter Kota Komodo.
Dia ingin sekali memotong kepala kumpulan para Agter ini satu per satu, tetapi dia tahu itu sulit untuk dilakukan karena kumpulan Agter ini terlalu banyak.
__ADS_1
Meskipun banyak dari mereka yang tidak begitu kuat, saat mereka bergabung itu sudah tak bisa dianggap remeh.
Tara tak bisa mengalahkan mereka sekaligus, bahkan jika dia dibantu oleh anggota timnya.
"Dasar, Agter Kocak!"
"Capek-capek aku berlari ke sini, monsternya sudah mati!"
"Kalau bukan seorang Agter Kota Garuda, aku tidak segan untuk membunuhnya."
"Aku tandai orang ini. Lain kali aku tidak akan percaya oleh perkataannya."
"..."
Lambat laun kulit wajah Tara berubah menjadi merah, dia sudah sangat mata saat ini, tetapi anggota timnya mencoba untuk menenangkannya dengan perkataan.
Tidak baik jika para Agter saling bertarung karena hal yang cukup sepele ini.
Martabat dan reputasi Aqila yang tinggi, membuat orang-orang yang datang dari Kota Komodo ini pergi dengan sikap yang cukup kondusif tanpa harus menghina Tara.
Setelah melihat para Agter Komodo pergi ke kota asalnya, Tara melirik teman-temannya dengan wajah yang kesal.
"Kalian benar-benar membunuh monster itu?!" tanya Tara dengan amarah yang masih tinggi di dalam hatinya.
Aqila yang punya sikap santai mengangguk dan menjawab sambil tersenyum, "Benar, kami berhasil membunuh dan melenyapkan monster itu. Namun, bukan kita sepenuhnya yang membunuh monster itu, melainkan ada orang yang membunuh monsternya dengan kontribusi paling banyak dari pada kita semua."
Jawaban Aqila membuat Tara terperanjat hampir terjatuh ke belakang.
"Siapa dia?!"
Tara menunjukkan ekspresi wajahnya yang marah. Dia sangat marah kepada orang yang membunuh monster ini karena telah membuat popularitas dan citranya jelek di mata para Agter.
Dengan senyuman misterius, Aqila berkata, "Kamu akan tahu besok."
Pada saat yang sama, Isander mendarat tepat di depan bangunan tempat dia dan para anggotanya berisitirahat semalam.
Kedatangan Isander diketahui oleh semua anggotanya dan mereka keluar dari rumah dengan hati yang bahagia serta lega.
Mengabaikan tentang kedua pasang sayap di punggungnya, mereka terfokus kepada rusa kecil atau bayi rusa aneh di pelukan Isander.
__ADS_1
Mereka semua belum pernah bertemu dengan makhluk yang lucu dan aneh ini.
Menatap rusa kecil di tangan Isander, mendekat untuk melihat lebih jelas, dan Reza melemparkan pertanyaan, "Apa benda yang kamu pegang itu, Isander? Apakah itu boneka?"