
"Aku hanya tahu satu orang, yaitu orang yang memimpin pasukan Agter di awal tadi, dia bernama Goron. Seorang Agter Grand Master Three Star yang punya kekuatan Agta berelemen tanah," kata Giya kepada Isander.
"Aku juga sama." Reza mengangguk dan berdiri di atas dahan pohon yang tebal. "Goron sudah terkenal di Kota Komodo, aku sudah tahu lama dia, di dua tahun belakangan. Dia termasuk Agter yang punya peningkatan kekuatan begitu cepat, hanya dalam dua tahun dia sudah mencapai Gran Master Three Star."
Kila duduk di antara Helen dan Rara di dahan yang lain, mengangguk dan menambahkan, "Benar, dia punya kekuatan Agta elemen tanah yang hampir mirip denganmu, Isander. Akan tetapi, kamu lebih kuat darinya. Seperti yang sempat kamu lihat, dia bisa menghentakkan tanah membuat kejutan singkat untuk musuh."
Mereka semua, kecuali Helen dan Reren kenal dengan Goron, Agter elemen tanah yang kuat. Mendengar informasi dari mereka, Isander menyentuh dagunya sambil memandang pertempuran di kejauhan.
Goron, Isander mengingat nama ini. Pria itu memiliki kesan yang baik bagi Isander, dia tidak seperti anggota Garuda Comity yang terlihat mencurigakan dan ambigu.
Dilihat dari wajah dan perlakuannya terhadap pasukan Agter tadi, Isander bisa menilai Goron adalah orang yang baik. Setidaknya, dia benar-benar peduli dengan Agter lainnya.
Mereka semua berdiam di pepohonan yang ada di kejauhan tempat pertempuran antara Pasukan Agter Kota Komodo melawan Puluhan Monster Rhigarets.
Di medan pertempuran terlihat begitu ramai dengan banyak kabut debu yang sesekali menutupi tempat mereka bertarung bersama.
Namun, performa mereka begitu lambat ketika membunuh satu Monster Rhigarets, butuh ratusan Agter untuk membunuh satu monster, dan itu pun menghabiskan banyak waktu belasan menit, hampir menyentuh puluhan menit.
Dalam setengah jam berikutnya, Isander melihat mereka hanya dapat menumbangkan kurang lebih 28 monster.
Masih tersisa 42 monster lagi yang masih mencoba membunuh Pasukan Agter yang berjumlah ribuan.
Di kejauhan, ada banyak Pasukan Agter yang mundur karena alasan terluka. Korban meninggal meningkat menjadi puluhan orang. Lebih banyak orang yang terluka akibat ditabrak oleh fisik Rhigarets yang besar dan kuat.
Lambat laun Isander saksikan, Pasukan Agter berkurang seperempat dari awal penyerangan di menit 30 atau setengah jam, sedangkan Monster Rhigarets masih banyak yang hidup.
Melihat ini, Isander meminta Reza dan lainnya, kecuali Giya untuk membantu mereka kembali dan mengambil beberapa bukti dari pembunuhan Monster Rhigarets yang berhasil mereka lakukan.
Tanpa berkomentar dan berat hati, mereka semua turun dari pepohonan dan berkumpul sesaat untuk membuat strategi.
Berikutnya, mereka semua berpencar ke beberapa arah, berniat menyerang monster dan membantu Pasukan Agter dari segalah arah dan tidak hanya di satu titik penyerangan saja agar lebih seimbang.
Pada saat ini, Goron yang menahan keempat kaki monster untuk para pasukannya bebas menyerang monster hingga mati menangkap satu sosok yang tiba-tiba masuk ke dalam Pasukan Agter dan menyerang monster di dekatnya.
Orang tersebut mengangkat dua buah belati yang digenggam oleh kedua tangannya bergegas menuju monster.
Kecepatan orang ini cukup cepat, tetapi Goron salah fokus dengan gerakan orang tersebut yang santai dan mengalir begitu saja bagai angin sepoi-sepoi.
Di bawah pandangannya yang terkejut, pria tersebut tiba di atas tubuh monster meninggalkan jejak ribuan luka sayatan yang dalam pada tubuh monster.
Samar-samar Goron menangkap gerakan pria tersebut yang terus-menerus bergerak memanjat sambil menebas kulit Rhigarets yang tebal.
Tak sampai 3 menit berlalu, monster yang diserang oleh orang tersebut terluka hebat dengan kulit yang dipenuhi sayatan panjang.
Darah mengucur di setiap luka tersebut merembes dan menetes ke tanah.
__ADS_1
Bang!
Goron melihat Rhigarets yang ia tahan selama lebih dari 15 menit akhirnya tumbang dengan banyak luka besar di tubuhnya.
Melihat ini, Goron segera mengakhiri hidup dari monster tersebut dengan tinju kembarnya yang terbuat dari tanah keras.
Bam!
Dengan suara dentuman yang keras, kepala monster Rhigarets penyok dan menjadi cekung ke dalam.
Darah dan organ dalam otak keluar menyembur ke tanah.
Begitu melakukan ini, Goron segera mengarahkan pandangannya ke sosok pria tersebut, tetapi sosok itu menghilang.
Setelah mencari dengan cepat, dia menemukan pria tersebut telah berada di atas tubuh Monster Rhigarets yang lain.
Goron tahu pria ini karena sebelumnya dia melihat pria tersebut di serbuan pertama. Pria yang dia lihat adalah termasuk keempat atau lima orang Agter kuat yang membantu mereka dalam membunuh Rhitager.
Di kesempatan ini, Goron ingin berkenalan dengan pria dan teman-temannya, melakukan satu langkah merekrut orang-orang kuat dan berpotensi ini.
Berlari menghampiri monster yang diserang oleh pria itu, Goron mengaktifkan jebakan tanah lagi kepada monster Rhigarets, membantu pria misterius ini membunuh monster bersama pasukannya.
Dengan bantuan Goron, waktu untuk membunuh monster tersebut lebih cepat dari sebelumnya, kurang dari 2 menit pun monster itu mati dengan luka yang banyak.
Di saat Goron ingin memanggil orang ini, tiba-tiba sosok pria tersebut menghilang di hadapannya seperti angin yang berhembus kencang. Tidak memberi kesempatan untuk Goron berkenalan.
Orang punya potensi seperti Tara adalah orang yang langka, dia memang harus dimasukkan ke dalam kelompoknya agar kelompoknya menjadi lebih kuat lagi.
Namun, Goron bingung caranya, kecepatan orang ini sedikit lebih cepat darinya sehingga dia sulit untuk berkenalan di situasi seperti ini.
Oleh karena itu, perkenalan yang Goron niatkan langsung diundur hingga pertempuran selesai.
"Bajingan, takkan kubiarkan kamu hidup, Makhluk Besar!"
Goron melampiaskan sedikit kekesalannya ke salah satu monster hingga monster tersebut mati.
Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa 30 menit berlalu dan pertempuran makin intens.
Pasukan Agter berhasil mengalahkan lebih dari setengah pasukan monster.
Tersisa 25 ekor monster yang belum mereka bantai.
Goron dan kawan-kawan sudah sangat lelah, energi Agta yang ada di dalam tubuh mereka semudah terkuras banyak.
Banyak dari Pasukan Agter yang mundur untuk beristirahat karena kehabisan energi.
__ADS_1
Mendecakkan lidah penuh kesal, Goron berkata di dalam hatinya, 'Aku lelah, tetapi aku tidak bisa meninggalkan monster ini. Jika aku terus bertahan seperti ini, aku bisa-bisa pingsan di tengah-tengah pertempuran. Sial, apa yang harus aku lakukan?!'
"Argh!"
Sebuah kaki monster yang besar tiba-tiba menghantam tubuh Goron yang sedang menahan keempat kaki monster yang lainnya.
Sosok Goron terhempas jauh menabrak tanah dengan keras.
Goron terbaring lemah di tanah dengan tubuh yang dilanda rasa sakit yang hebat.
Wajah Goron terdistorsi, dia sangat marah sekarang, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu Agter lain menolongnya dan membawa ke barisan belakang untuk merawat tubuhnya yang terluka.
Tidak lama Goron menunggu, beberapa Agter mengetahui keberadaan Goron dan segera menggotong tubuhnya ke pasukan barisan belakang.
Di perjalanan, Goron mengumpat dan mengutuk Monster Rhigarets yang melukainya. Di sisi lain, dia juga pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya kepada para pasukan yang telah ditinggal.
Selama di perjalanan, dia mendengar laporan bahwa korban terluka hampir menyentuh setengah dari pasukan, artinya ada 5 ribu orang yang terluka, dan 5 ribu kurang masih di medan pertarungan melawan dua puluh Monster Rhigarets yang masih hidup.
"Ka–kalian, apakah ka–kalian melihat kelima orang yang membantu kita lagi? Ap–apakah mereka ma–masih di sini dan membantu ki–kita?" Goron bertanya dengan susah payah kepada beberapa orang yang mengangkat tubuhnya.
Salah satu dari mereka segera menjawab, "Tidak ada, mereka menghilang ke dalam hutan setelah membunuh banyak monster."
Mendengar ini, harapan Goron menjadi pupus dan hilang.
Awalnya dia pikir kelima orang yang kuat tersebut masih melawan monster-monster, ternyata mereka juga pergi dari tempat pertempuran.
Dengan begini, Gorom hanya bisa berharap ke teman-temannya yang juga sudah kelelahan untuk tetap bisa bertahan sampai Monster Rhigarets terakhir.
"Lapor! Ketiga pemimpin pasukan gugur dan terluka!"
Tiba-tiba, seorang Agter berlari dan ikut berjalan di samping orang-orang yang mengangkut tubuh Goron, dia melaporkan sesuatu informasi.
Dalam sekejap, wajah Goron menjadi putih pucat karena harapan terakhirnya menghilang.
Goron benar-benar putus asa, dia memejamkan matanya, menerima kekalahan yang takkan lama lagi terjadi.
Jujur saja, Pasukan Agter yang ia bawa tidak begitu kuat dan sangat mengandalkan dirinya, tanpa dia, Pasukan Agter tersebut bukan apa-apa.
Tepat ketika Goron menutup matanya, sebuah bayang besar tiba-tiba menutup sosok dia dan beberapa orang yang mengangkat tubuhnya.
Bayangan ini sempat dilihat oleh Goron di sela kelopak matanya yang menyipit.
Membuka matanya lebar-lebar, dia melihat seseorang terbang dengan sayap lebar di udara.
"Lihat, sosok besar apa itu!"
__ADS_1
Suara yang menonjol terdengar di antara Pasukan Agter, seseorang berseru sembari menunjuk ke atas.