
Kekuatan aneh terbangun dari tubuh Aqila. Tidak sama dengan kekuatan esnya, energi yang muncul di dalam tubuhnya memiliki sensasi panas, tetapi berbeda dengan panas yang berasal dari sebuah api.
Elemen kedua dari kebangkitan kemampuan Agtanya adalah elemen petir yang merusak. Petir putih yang hampir menyerupai putih esnya.
Aqila tahu petirnya ini bisa dikombinasikan dengan kemampuan esnya untuk membuat serangan yang kuat.
Mengetahui ini, Aqila menjadi ingin mencoba kemampuan barunya.
Sebelum menguji, dia harus melihat kondisi sekitar terlebih dahulu, di dalam bangunan rumah ini ada anggota Garuda Comity lain yang tidur di ruangan lain. Jadi, harus memastikan mereka benar-benar tidur agar tidak tahu bahwa dirinya sudah membangkitkan kemampuan elemen Agta yang kedua.
Jujur saja, Aqila sangat kaget dirinya berhasil membangunkan kemampuan elemen kedua. Awalnya, ia kira kartu ini hanya kartu mainan, tetapi sejak kartu itu menghilang saat menyentuh pergelangan tangannya, dia menjadi percaya dan optimis.
Pada akhirnya, dia benar-benar membangunkan kekuatan elemen.
"Mereka sudah tidur, aku akan mencobanya di luar pemukiman."
Melihat Kei dan lainnya tidur di salah satu ruangan tanpa ada tanda-tanda mereka akan bangun, Aqila dengan berhati-hati keluar dari tempat peristirahatannya dan pergi menuju luar pemukiman.
Di hutan dekat pemukiman, terlihat Aqila sedang berdiri tegap sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.
Matanya terlihat fokus memandang kedua tangannya untuk siap melakukan sesuatu.
"Bangkitlah Petirku!"
Zzztt!
Busur listrik berwarna putih terang muncul di tangan kiri Aqila, bergerak-gerak tanpa bisa diprediksi.
Benang listrik berwarna putih makin besar dan itu menyambar udara di sekitarnya.
Setelah itu, Aqila memanggil salah satu pedangnya berwarna biru laut di tangan kanan dan bersiap untuk mengaktifkan kekuatan esnya.
Bang!
Saat tangan kiri Aqila yang diselimuti aliran listrik memegang pedang bersama tangan kanannya, pedang Aqila yang mengeluarkan asap dingin langsung bercampur dengan benang-benang listrik, membentuk sebuah bilah yang dikelilingi oleh listrik putih.
Melihat ini, lengkungan tipis terbentuk di mulutnya, kemudian Aqila mengayunkan pedangnya ke depan menuju pohon di depannya.
Duar!
Pohon besar yang berdiri di depan Aqila tumbang dan hancur.
Lapisan es membekukan setengah batang pohon hingga ke akarnya.
Serangan Aqila belum selesai, ratusan busur listrik putih muncul dan menghancurkan batang pohon yang membeku menjadi bongkahan es kecil.
Mata Aqila terbelalak melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu serangan miliknya.
"Ini terlalu kuat!" Aqila berseru terkejut.
Memandang pedangnya, sebuah senyuman lain muncul di sudut mulutnya, dia sangat senang dengan kekuatan barunya.
Blarr!
Busur petir putih keluar dari bilah pedang Aqila tanpa ada uap es yang membekukan.
Aqila mencoba untuk menggunakan pedangnya sebagai media mengeluarkan petir putih.
Sambaran petir yang keluar dari bilah pedang menghancurkan setengah batang pohon yang tidak membeku, kemudian menghancurkannya menjadi serpihan kayu yang berterbangan.
Dari serangan ini Aqila mengetahui bahwa kekuatannya bisa digunakan satu per satu, tak hanya digunakan secara bersamaan.
Setelah lebih dari 20 menit dia menguji kemampuan elemen petirnya, Aqila kembali ke tempat dirinya bermalam dengan senyuman bahagia di wajahnya.
Kembali di ruangan sebelumnya, Aqila masih belum mempercayai sepenuhnya dengan kekuatan petir tadi.
Baginya, hal ini sangat ajaib, Isander memiliki sebuah benda yang sangat menakjubkan, mampu membuat orang membangunkan kemampuan elemen Agta.
Dia baru tahu bahwa ada sebuah benda yang bisa membangkitkan kekuatan Agta pada diri seseorang. Isander ini makin misterius, dia bersembunyi terlalu dalam terhadap kekuatannya.
Sebagai informasi, Aqila secara otomatis menjadi seorang Agter yang sangat langka lantaran dia adalah orang yang punya dua elemen alam sekaligus.
__ADS_1
Dari kedua elemen yang ia dapatkan termasuk ke dalam kategori yang kuat. Petir adalah elemen yang punya kerusakan yang hebat.
Melihat hasil dari kekuatan petirnya, kemampuan ini dapat menghancurkan benda padat dalam skala besar.
Jangkauan serangan petirnya cukup jauh, ditambah dengan kecepatan serangan petirnya yang sulit untuk dihindari. Kecepatan serangan petir putih milik Aqila mempunyai kecepatan lebih cepat dari kecepatan suara, sulit untuk orang lain mengelak serangannya.
Selain itu, kekuatan Agta yang ada pada dirinya meningkat. Seharusnya, kekuatannya sudah mencapai tingkat Agter Grand Master Three Star. Peringkatnya naik dua tingkat sekaligus.
"Aku harus memberi tahu informasi ini kepada Isander."
Segera, Aqila mengirim sebuah pesan yang tertulis tentang dirinya berhasil membangkitkan kemampuan Agta berbasis elemen alam yang kedua.
Sayangnya, Isander tidak menjawab pesan Aqila karena dia masih berlatih di dalam ruangan milik Cenagon yang terdapat di dalam tubuhnya.
Menunggu selama lebih dari 5 menit, Isander tidak memberi tanda-tanda ingin membalas.
Aqila langsung berpikir bahwa Isander telah tidur lebih dahulu.
Mengingat sekarang sudah jam 12 malam, sudah waktunya orang tidur dan bermimpi.
Dengan demikian, Aqila pun memutuskan untuk beristirahat sejenak hingga pagi datang.
Keesokan harinya, Isander dan anggota kelompoknya pergi menuju hutan utara dari Kota Komodo.
Giya memberi tahu bahwa di sana sedang ada perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh Agter dari Kota Komodo.
Untuk lebih jelasnya, Giya tidak tahu ada apa di sini, yang pasti di sana pasti ada banyak monster karena ini sudah melibatkan banyak Agter.
"Entah apa yang ada di sana, semoga saja ada kumpulan monster yang banyak sehingga kita memperoleh banyak Koin Agta," ujar Reza dengan penuh harap.
Nina menoleh dan membalas ucapan Reza, "Kemungkinan besar di sana sedang kacau dan darurat, tidak mungkin para Agter ke sana beramai-ramai."
"Mungkinkah di sana ada ribuan monster yang ingin menyerang Kota Komodo?" tebak Giya yang sepintas mempunyai pikiran tersebut.
"Mungkin saja."
"Bisa jadi seperti itu."
Mendengar obrolan mereka semua, Isander ikut penasaran dengan apa yang sedang terjadi kepada Kota Komodo.
Dengan kecepatan langkah kaki yang konstan, mereka akhirnya tiba di bagian utara hutan dari Kota Komodo.
Setibanya mereka di sana, mereka semua bisa melihat bahwa ada banyak Agter berkumpul di satu titik hutan, seperti sedang mengantre untuk mengambil sembako.
Semua Agter yang berkumpul ini melakukan persiapan berburu sembari berbaris memandang ke sosok yang berdiri di depan barisan.
Di sini ramai oleh orang-orang yang berdiskusi tentang sesuatu.
Dari apa yang mereka bicarakan, Isander menangkap satu bahasan yang berbicara bahwa mereka sedang menunggu suatu kelompok monster dalam skala yang sangat besar hendak menyerbu Kota Komodo dari arah utara, artinya dari arah tempat mereka berkumpul ini.
Selain di sini, ada beberapa titik di hutan utara yang menjadi tempat para Agter berkumpul.
Kedatangan Isander menarik perhatian banyak wanita yang juga seorang Agter. Jarang sekali mereka melihat pria tampan menggendong seorang anak kecil yang imut di kumpulan para Agter yang siap bertempur.
Sosok tampannya juga menjadi alasan mengapa Isander menjadi objek perhatian para Agter di perkumpulan ini.
Namun, mereka tidak ada yang berani mendekati Isander karena ada Giya dan wanita yang lain menjaganya di sekeliling sehingga menyulitkan para wanita yang ingin berkenalan dengan Isander.
Di depan, seorang pria dengan tubuh besar penuh otot berdiri dengan gagah memandang semua Agter yang berkumpul.
Ketika pria berbadan besar ini memandang para Agter yang berkumpul, matanya berhenti pada sosok Isander yang menonjol di keramaian.
Kontak mata terjadi antara Isander dan pria tersebut, tetapi tidak berlangsung lama karena pria besar segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan butiran keringat bermunculan di dahinya.
'Siapa orang itu? Mengapa aku merasa ketakutan saat menatap matanya?' Di dalam hati pria besar itu, dia bertanya-tanya tentang identitas pria yang baru saja ia pandangi. Pria tersebut baru pertama kali melihat seorang Agter yang lebih kuat darinya hanya dengan satu pandangan.
Menekan rasa takut di hatinya, pria besar ini memasang tubuh bangganya kepada semua Agter dan berkata, "Hari ini, kita akan menghadapi serbuan monster yang kuat, kemungkinan besar jumlah monster ini sangat banyak. Maka dari itu, aku bertanya kepada kalian, apakah kalian sudah siap sekarang?!"
"Kami siap!"
Secara serempak para Agter menjawab dengan gairah bertarung yang melonjak tinggi.
__ADS_1
Mendengar sahutan dari para Agter ini, pria besar tersebut masih merasa kurang puas.
"Sekali lagi kutanyakan, apakah kalian siap untuk bertarung melawan mereka?!"
"Kami Siap, Tuan Goron!"
Semua Agter menjawab dengan semangat yang tinggi, membuat seruan mereka terdengar megah.
Pria tersebut adalah Goron, seorang Agter Grand Master Three Star yang sangat dipandang dan dihormati oleh banyak Agter di Kota Komodo. Orang ini terkenal akan kekuatannya oleh orang-orang.
Dia ditunjuk sebagai pemimpin kelompok Agter ini oleh pemerintah pusat.
Mendengar ucapan mereka semua, Goron mengangguk puas menatap mereka semua.
Akan tetapi, dia tidak menatap Isander yang sedari tadi meliriknya. Dia masih trauma dengan perasaan yang diberikan ketika menatap Isander secara langsung.
"Semuanya, ikuti aku!"
Goron berbalik dan berjalan ke arah utara dengan tangan di belakang.
Melihat ini, semua Agter bergerak bersama mengikuti Gorong di belakang.
Orang-orang kembali berdiskusi mengobrol mengenai urusan mereka masing-masing.
Isander dan kelompoknya ikut bergabung dengan kumpulan Agter ini meski banyak pandangan aneh yang berasal dari Agter-Agter sekitar.
Mereka memandang Isander dengan aneh karena dia membawa dua gadis remaja dan juga satu anak kecil yang ia gendong dalam kelompok penyerangan ini.
Ingin sekali mereka beri tahu bahwa anak kecil tidak diperbolehkan untuk ikut dalam penyerangan ini, tetapi melihat Isander yang tidak ditegur oleh Goron, mereka memilih untuk diam dan membiarkan.
Kumpulan Agter ini terus berjalan ke dalam hutan, hampir lebih dari 10 menit mereka berjalan akhirnya mereka menemukan sesuatu keanehan di depan.
Goron yang ada di depan mendapatkan pesan dari pemimpin kelompok lain bahwa di tempat mereka sudah melakukan konfrontasi dengan monster-monster.
Menutup handy talkie di tangannya, Goron menghadap para Agter untuk mengabarkan sesuatu.
"Seperti yang bisa kalian lihat di kejauhan, di sana ada ratusan atau mungkin ribuan Rhigarets yang menuju ke arah kita semua. Mereka memiliki tujuan untuk menyerang Kota Komodo. Kami di sini datang untuk menghentikan mereka dan melenyapkan serbuan ini. Kalian diperbolehkan membunuh mereka semua, tetapi ingat dengan risikonya, Rhitager kelompok monster level B, tetapi mereka termasuk ke dalam monster level B paling kuat dari monster level B yang lain, kalian harus berhati-hati. Jika kalian mengerti, kalian boleh menyerang mereka sekarang. Selamat bersenang-senang!"
Setelah mengatakan itu, Goron memberi salam kepada para Agter, kemudian melompat tinggi ke pohon di kejauhan.
Berikutnya, ratusan Agter yang datang di perkumpulan Agter ini bergegas berlari ke depan menuju gerombolan Rhitager dengan kekuatan masing-masing.
Semua Agter telah mengaktifkan kekuatan Agtanya yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kekuatan Agta berupa pisau dapur, tongkat kayu, shuriken, golok, dan senjata tajam lainnya, tetapi mereka tak punya kekuatan elemen yang lain. Kebanyakan dari mereka mempunyai kekuatan Weapon Badge berupa pisau dan pedang. Ada 40% orang dari ratusan Agter ini yang mempunyai kekuatan Weapon Badge berupa perisai, godam, knuckle, palu, panahan, dan lainnya.
Dengan seruan semangat, mereka berlari cepat menyerang kumpulan Rhitager bersama-sama.
Goron yang melihat ini tersenyum senang karena kelompok yang dibawanya punya semangat juang yang tinggi.
"Aku juga harus ikut membantu," ucap Goron yang sudah siap masuk ke dalam penyerangan. "Tunggu, mengapa orang itu tidak ikut menyerang? Apakah dia hanya ingin melihat dan menganggap ini sebagai piknik?"
Di kejauhan, Goron melihat Isander dan kelompoknya tidak bergerak dan masih berdiri di tempat memandang semua Agter yang sudah bertarung melawan monster-monster.
Dia menganggap Isander datang ke sini untuk hiburan dan piknik semata karena telah membawa anak kecil.
Hal ini membuat Goron tidak senang.
Di lain sisi juga, Goron tak berani menegur orang ini.
Jadi, dia hanya memendam kekesalan di dalam hatinya.
Sosok Goron melompat ke bawah dan berlari dengan cepat masuk ke dalam pertarungan.
Isander memperhatikan Goron dalam diam, dia cukup tertarik dengan orang ini, sebab kekuatan Goron lebih menonjol dari semua Agter yang berkumpul.
"Apakah kamu boleh bergerak sekarang?" tanya Reza yang tak sabar ikut bertarung bersama mereka semua.
Isander mengangguk dan menjawab, "Tentu saja, tetapi Giya tetap bersamaku untuk menjaga Meisya."
"Baik, kami mengerti."
Setelah itu, mereka semua kecuali Giya berlari menuju kerumunan Agter yang tengah bertarung melawan monster berbentuk badak bercula dua dengan ukuran yang besar, meninggalkan Isander dan Giya di belakang.
__ADS_1
"Ayah, kamu tidak membantu mereka?"