
"Hehe, itu karena sudah diburu oleh kami." Reza menggaruk-garuk kepalanya, ia terlihat canggung.
"Di daerah ini memang sudah jarang ditemukan kumpulan ayam, jauh sebelum kami memburu ayam yang tersisa," kata Kila yang mengetahui jelas daerah ini.
"Benar, di sini sudah sedikit ayam yang berkeliaran," tambah Reza mengangguk tegas.
Isander dan lainnya terdiam memikirkan ini. Mungkin saja populasi ayam di sekitar hutan ini habis oleh mereka berdua kalau memang sebelumnya sudah ditangkap dan dijadikan makanan.
Pandangan Isander fokus ke sekelilingnya mencoba untuk mencari sosok ayam, berharap ada seekor ayam atau lebih yang masih hidup di tempat ini.
Memindai dengan jeli, mata Isander belum mendapatkan sosok yang dicari, hanya ada binatang serangga kecil di pohon yang dia lihat.
Akan tetapi, mata Isander tiba-tiba berhenti bergerak dan dia melotot ke arah depan.
Jauh di depannya, dia melihat tiga sosok monster yang sedang menggigit sesuatu di masing-masing mulut mereka.
Bentuk monster ini baru dilihat oleh Isander. Sebelumnya, dia belum pernah mendapati monster dengan bentuk yang serupa.
Penglihatan Isander dikuatkan sehingga dia bisa melihat benda apa yang dimakan oleh monster-monster ini.
"Bukankah itu ayam?" gumam Isander kecil. Suaranya sangat kecil, lebih kecil dari bisik-bisik orang biasa.
Benda putih yang digigit oleh monster ini memiliki bentuk yang mirip dengan ayam yang biasa dia tangkap. Isander tidak salah lihat, ini benar-benar ayam.
"Aku tahu siapa pelakunya," celetuk Isander kepada mereka semua.
Mendengar ini, Giya dan lainnya menatap Isander dengan penasaran.
"Siapa? Apakah ada orang lain?"
"Siapa pelakunya?"
"Kamu melihatnya?"
"..."
Mereka semua melontarkan banyak pertanyaan kepada Isander saking ingin tahunya.
Apa yang Isander lihat tidak bisa dilihat oleh mereka. Jarak monster itu berada sudah lebih dari 200 meter dari tempat mereka berjalan.
Pandangan mereka terhalang oleh rerumputan dan pepohonan.
Sementara itu, Isander bisa melihat dari sela-sela rerumputan dan pohon hingga dia dapat menemukan keberadaan monster-monster ini.
Penglihatan Isander sangat tajam bagai mata burung elang. Alasan mengapa itu bisa terjadi karena kemampuan Magnetar Body yang meningkatkan semua indra tubuhnya.
"Peluk Meisya, Giya. Aku ingin mengatasi pelakunya." Isander menyerahkan Meisya yang tertidur di pelukannya kepada Giya.
Seperti biasa, Giya menerima dan mengambil alih Meisya ke dalam pelukannya yang hangat.
Reza dan Kila bingung dengan apa yang ingin dilakukan oleh Isander.
Whoosh!
__ADS_1
Di bawah tatapannya, sosok Isander menghilang di tempat, mereka berdua hanya merasakan angin yang berhembus kencang pada tubuhnya.
Dengan wajah yang terperangah, Reza dan Kila bertanya bersamaan, "Di mana Isander?"
"Isander telah pergi ke depan. Aku juga tidak tahu," jawab Nina yang sudah biasa melihat pemandangan Isander yang menghilang secara tiba-tiba.
"Dia ingin menatap pelaku yang menghilangkan ayam-ayam di sini," kata Giya sambil menimang Meisya.
Reza dan Kila mengalihkan pandanganya ke arah depan, arah Isander menghilang.
Glup!
Keduanya tersadar, bahwa Isander memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dari mereka. Tidak mengherankan jika mereka berdua tiba-tiba tidak sadarkan diri, kecepatan Isander melebihi kecepatan mereka dapat menghindar secara refleks.
Dengan kata lain, refleksnya dikalahkan oleh kecepatan Isander berlari di jarak pendek.
Pada saat ini, Isander berjongkok di atas ranting pohon sedang menatap tiga monster yang tengah melahap puluhan ayam hidup di lubang yang dalam dan cukup besar.
Monster ini memiliki bentuk yang memiliki kesamaan dengan berang-berang, tetapi ini mempunyai perbedaan ukuran dan beberapa anggota tubuh yang mengerikan dari berang-berang biasa.
Ukuran monster ini sama dengan ukuran beruang, dan di sekujur tubuhnya terlihat jelas akar pohon yang tumbuh dari dagingnya, darah serta luka menghiasi tubuh monster ini.
Cakar tajam di kaki depannya pun terlihat mengerikan, itu dengan mudah mencabik daging ayam, seperti sedang mencabik-cabik boneka.
Melihat mereka tidak menyadari kedatangannya, Isander mengulurkan tangan kanannya ke samping, dan Dark Spear keluar di genggaman tangannya.
Busur listrik ungu menyala dan membungkus tubuh tongkat, membuat visual tombak ini menjadi lebih keren.
"Halo, Kalian!" panggil Isander dengan suara yang ramah seolah-olah menyapa teman.
Dalam sekejap, gerakan monster-monster yang sedang makan ini berhenti. Ketiganya menoleh ke belakang hampir bersamaan dan menemukan Isander yang berdiri di belakang tubuh mereka.
Senyuman Isander yang ramah membuat monster ini menganggap Isander adalah musuh.
Insting monster mereka dalam sekejap aktif dan langsung menjadi agresif.
Kyaatt!
Suara monster ini sangat unik, seperti tikus yang mencicit.
Cakar kedua kaki mereka yang berkilauan terangkat dan menebas ke arah Isander.
Senyuman Isander langsung berubah, kini terlihat menyeramkan.
Dengan tombak hitam di tangannya, Isander sama sekali tidak takut dengan serangan monster ini.
Dia mengayunkan tombak di tangan kanannya menghantam keenam cakar mereka.
Bang!
Debu dan tanah beterbangan akibat benturan keras dari tombak Isander dan cakar-cakar monster.
Di detik berikutnya, cahaya ungu menyala di dalam kabut debu, sebuah angin besar berhembus dan membubarkan asap debu yang menghalangi Medan pertempuran.
__ADS_1
Saat asap debu menghilang, terlihat jelas sosok Isander yang berdiri bersandar di tombaknya yang ditancapkan di tanah. Di depan Isander tergeletak tiga monster tersebut yang sedang sekarat oleh luka-luka yang didapat dari Dark Spear Isander.
Jika dilihat dengan saksama, bisa ditemukan benang listrik yang menjalar pada tubuh mereka yang membuat banyak luka bakar begitu parah.
Cakar panjang milik mereka bertiga terpotong, hanya menyisakan tangan dengan cakar yang tumpul dan rusak.
Ayam-ayam yang terjebak di sebuah lubang telah keluar semuanya oleh Isander. Kemampuan tanahnya membuat dasar lubang terangkat naik sehingga ayam-ayam yang ada di lubang mampu meloloskan diri dengan cara melompat.
Menyaksikan monster-monster di depannya tidak sanggup untuk bangun, Isander berpikir untuk mengakhiri hidup mereka.
Mencabut Dark Spear yang menjadi sandaran, Isander merentangkan tombak ke samping sambil mengaktifkan gelombang energi gelap yang berasal dari Dark Spear.
Asap hitam yang membungkus dan menyelimuti tombak sepenuhnya menjadi lebih tebal dan pekat, ditambah dengan cahaya ungu yang samar-samar di tepi asap yang keluar.
Listrik yang mengitari tombak makin banyak, siap untuk menyambar monster sampai mati.
"Darkness Slash!"
Swoshh!
Gelombang energi hitam yang disertai benang listrik ungu terbang menuju ketiga monster yang terbaring sekarat.
Berikutnya, tebasan energi hitam meledak dan menimbulkan kehancuran yang hebat.
Duar!
Di jarak 10 meter dari lokasi ledakan dapat dirasakan getaran pada tanah.
Serangan gelombang gelap Dark Spear Isander tidak main-main.
Suara ledakan yang besar ini bisa didengar oleh Giya dan lainnya yang saat ini sudah berada di jarak 100 meter dari sumber ledakan.
Setelah ledakan dan angin yang berhembus kencang menghilang, menampilkan sebuah lubang besar yang berdiameter lebih dari 10 meter. Terbentuk akibat serangan tombak Isander.
Mayat monster berang-berang sebagian besar lenyap, hanya menyisakan moncong monster ini yang memiliki gigi taring yang mencuat dari rahang bawah.
Melihat ini, Isander menoleh ke arah ayam-ayam pergi. Dia memiliki niat untuk memburu beberapa dari mereka untuk dijadikan makan malam nanti.
Sosok Isander sekali lagi menghilang, cuma terlihat bayangan hitam dengan warna ungu yang melintas cepat sehingga membuat lintasan ungu di udara.
Bayangan ungu melintas di area tidak jauh dari munculnya lubang ini, satu per satu ayam yang berlari menghilang diambil oleh bayangan tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Isander memburu 7 ekor ayam yang masih hidup.
Dia membawa tujuh ekor ayam dengan cara memegang kaki mereka, membiarkan mereka mengepakkan sayapnya berusaha untuk membebaskan diri.
Tak lama berselang, sosok Giya dan lainnya datang ke tempat lubang besar berada.
Mereka menampilkan wajah terkejut secara serempak saat melihat Isander duduk santai dengan ayam-ayam di tangannya.
Reza langsung terfokus dengan lubang yang ada di dekat Isander, membuatnya tanpa sadar menelan ludah.
"Apakah ini dampak pertarungan dia setelah menghabisi pelaku predator ayam?!"
__ADS_1