
Mereka semua pergi meninggalkan area pemukiman di bawah tatapan Pak Tole dan beberapa warga pemukiman yang lainnya.
Isander dan lainnya tidak melewati jalan di mana Pak Ghandi dan seorang pedagang berinteraksi, tempat mereka berdua ada di sebelah kanan dari pintu gerbang pemukiman.
Entah mengapa mereka begitu jauh dengan orang yang menjaga pemukiman. Kemungkinan mereka sedang membahas sesuatu yang penting dan krusial, tidak sembarang orang yang tahu tentang informasi tersebut.
Mengabaikan Pak Ghandi dan seorang pedagang tersebut, mereka berjalan melewati jalan setapak yang dibuat oleh orang-orang pemukiman tanda agar mereka mengetahui di mana pemukiman dan tidak tersesat.
Sebelumnya, sudah banyak kasus warga pemukiman yang tersesat karena tidak ada tanda dan peta yang mereka buat.
Jalan setapak yang hanya dibuat dengan membersihkan rerumputan dan tanaman liar merambat sehingga membuat sebuah jalan yang cukup untuk satu orang berjalan, alas jalan ini hanyalah tanah yang tak ditutupi tanaman dan semak.
Panjang jalan hanya beberapa puluh meter saja dari tempat pemukiman berada lalu dilanjutkan dengan sebuah tanda rahasia yang digunakan untuk penunjuk keberadaan daerah pemukiman, tanda ini hanya diketahui oleh orang tertentu saja, termasuk pedagang tersebut.
Tandanya hanya sebuah tanda kecil yang terbuat dari kayu yang tertancap di dekat pohon. Cara untuk tidak mudah dikenali oleh orang asing, kayu yang ditancapkan ke tanah ini memiliki tanda lain, yakni kayu yang ditancapkan tidak terlalu dekat dengan pohon dan tak selalu ditancapkan ke tanah, terkadang ada yang ditancapkan di batang pohon bagian atas. Biasanya, pohon yang memiliki tinggi kurang dari dua meter ini yang ditandai oleh para warga.
Jarak antartanda berkisar 10 meter. Itu sudah diukur dengan alat, kebetulan salah satu dari warga memiliki alat pengukur atau biasa disebut meteran. Seharusnya, namanya adalah pita ukur atau gulungan meter.
Biasanya warga sudah ingat dengan tanda ini lantaran ada cara khusus mengetahui arah di mana pemukiman berada.
“Warga biasanya meletakkan penanda kayu tersebut dengan posisi yang tegak, melainkan sengaja dimiringkan ke suatu arah entah itu timur, barat, selatan, utara, tenggara, timur laut, dan lainnya.
“Jikalau tanda kayu miring ke barat, artinya arah tanda berikutnya ada di barat. Ikuti arah kemiringan tanda kayu yang tertancap, kalian akan tahu jalan pulang ke pemukiman, nah, ini ada contohnya.“
Tepat ketika Giya menginformasikan tentang penanda tongkat kayu, mereka bertiga melewati sebuah tanda kayu yang timbul di antara semak rindang. Hampir tidak terlihat, tetapi jika diperhatikan sekali itu akan jelas penampakan tongkat kayunya.
__ADS_1
Sesuai dengan ucapan Giya, letak tongkat kayu ini tak begitu dekat dengan berdirinya sebuah pohon. Tanda ini juga miring ke utara di mana pemukiman itu berada.
Melihat bukti ini, Isander mengangguk mengerti, sebuah informasi yang menarik.
Sebelumnya, Isander harus mengingat arah matahari dan beberapa lokasi yang ikonik, seperti pohon bercabang satu dan reruntuhan desa yang memiliki tiga di tengahnya.
Dari situ Isander membuat peta dalam otaknya sendiri agar tidak tersesat, dia memperhatikan jalan.
Meskipun cara itu efektif, tetapi tidak efesien. Isander harus mengingat tempat tersebut dan mengira-ngira, tak serupa dengan penunjuk jalan ini yang praktis dan sangat berguna.
Adanya informasi inu membuat Isander tak kesulitan untuk pulang.
“Mereka yang keluar dari pemukiman diwajibkan untuk membenarkan arah penunjuk jalan dari tongkat kayu ini. Pasti ada sebuah peristiwa yang membuat arah tongkat berubah karena pergeseran tanah akibat faktor alam, antara lain hujan, angin kencang, atau senggolan dari hewan lain yang berkeliaran di hutan.“ Giya membenarkan arah dari beberapa tanda penunjuk yang mereka bertiga lewati.
Selama Giya dan Nina memberikan sebuah informasi kepada Isander, Meisya yang di pelukan Isander menyimak ucapan mereka berdua. Kelihatan seperti mengerti apa yang diucapkan oleh Giya dan Nina.
Pada saat ini, pedagang yang mengobrol dengan Pak Ghandi berpamitan untuk pergi karena waktunya sudah menipis untuk berangkat ke lokasi pemukiman selanjutnya.
Kereta kayu yang ditarik kuda ini berjalan mengikuti penunjuk jalan ke arah barat.
Di dalam kereta, pria yang mengendalikan kuda ini mulai bergerak aneh. Sebuah kain yang menutupi setengah wajahnya di buka, koboi yang ia kenakan dilepas dari kepalanya dan mengungkapkan rambut panjang berwarna pirang yang tergerai id belakang punggung yang memakai jaket kulit.
Sebuah wajah yang cantik diperlihatkan saat ini, ini bukan seorang pria, melainkan seorang wanita cantik yang sedang menyamar.
“Pria yang menggendong seorang gadis kecil tadi mirip dengan Meisya dan Isander, tetapi aku tidak yakin apakah itu benar mereka berdua atau bukan.“ Pupil biru laut yang menatap jalan yang dipenuhi rerumputan datar samar-samar bergetar. Terlihat seperti orang yang bingung.
__ADS_1
Tangan kiri yang memegang tali pengendali kuda terlepas dan bergerak untuk melepaskan jaket kulit berwarna cokelat gelap ini.
Sosok tubuh bagian atas yang menonjol terlihat setelah jaket itu terbuka. Gerakan wanita ini sangat lembut dan tidak kesulitan sama sekali, sangat indah.
Tubuh bagian atas ini sangat panas, dengan dua buah gundukan besar terselimuti oleh baju polos berwarna putih, samar-samar tampak terlihat sesuatu yang menonjol berwarna pink di antara kedua gundukan tersebut.
Orang-orang yang melihat sosok wanita pasti menjadi tegang dalam sekejap. Sosok yang indah.
Wanita ini mirip dengan seseorang yang muncul di tempat jasad monster Catagtress yang Isander bunuh.
Memegang dagunya, wanita ini kelihatan sedang berpikir keras merenungkan sebuah pikiran. “Mereka berdua, aku rasa pergi ke arah utara. Ya, aku akan pulang lewat jalur itu setelah pergi dari pemukiman berikutnya.“
Setelah mengatakan itu, pupil biru itu menyala menampilkan rasa dingin yang luar biasa ektrim. Wajahnya yang terlihat bingung langsung berubah menjadi tanpa ekspresi dan datar.
Dengan perlahan, wanita ini mengendalikan kereta kudanya ke arah sebuah pemukiman yang dekat dari Rain Settlement.
Di sisi lain, Isander dan kedua wanita ini berjalan santai selama berjam-jam. Di pertengahan jalan mereka bertiga, ditambah dengan Meisya sempat singgah di bawah pohon besar yang mampu menutupi sosok mereka semua.
Makanan yang mereka makan berupa ayam panggang yang mereka panggang saat itu juga ketika mereka ingin makan.
Cukup satu potong ayam saja untuk mereka semua makan dan itu mampu bertahan sampai malam nanti.
Di sore hari, mereka akan memanggang ayam lagi untuk makan malam jika terasa lapar.
“Kita sudah hampir sampai di aliran sungai di mana aku tak sadarkan diri pada tepi sungai dan ditemukan oleh Isander dan Meisya,” celetuk Giya kepada Nina yang berjalan di sebelah kanannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Giya, Nina mengangguk mengerti, ternyata sungai yang mengalir ke daerah selatan Dramaga. “Sungai ini? Kurasa ini sungai baru.“
“Memang, seperti aliran sungai ini terbentuk begitu saja. Sebelumnya, memang tidak ada.“