
“Mungkin saja,” kata Nina yang mendengar kata-kata Giya. “Namun, aku belum pernah melihat orang yang terkontaminasi yang memiliki efek seperti itu. Sangat menjijikkan dan membuat merinding.“
“Benar, aku juga belum pernah melihat seseorang yang terkena virus mengalami perubahan tubuh yang lambat seperti Pak Ghandi. Apakah ada kemungkinan yang lain?“ Giya menatap Isander dan Nina dengan mata yang bingung dan bertanya-tanya.
“Entahlah, aku tak begitu mementingkan penyebab Pak Ghandi bisa menjadi seperti itu. Aku lebih memikirkan apakah Pak Ghandi dapat membahayakan kita, terlebih Meisya atau tidak jika nantinya ada sesuatu yang aneh yang terjadi.“
Duduk di kursi yang satu-satunya kosong, Isander menghadap ke arah keduanya dan memandang mereka dengan sikap yang santai.
Sebagai seorang ayah, Isander memiliki pikiran yang terfokus kepada anaknya, dia tidak mau anaknya kenapa-kenapa. Maka dari itu, dia memikirkan hal ini. “Atau aku bunuh saja Pak Ghandi?“
Giya dan Nina yang mendengar ini langsung menjadi panik. Terlihat sangat tidak setuju.
“Jangan, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Pak Ghandi dan para warga yang ada di sini,” tolak Giya dengan tegas, wajah yang terlihat serius, agak cemas.
“Benar. Jangan bertindak gegabah, Isander. Kita harus memastikan terlebih dahulu. Lebih baik kita periksa Pak Ghandi lagi di hari besok? Bagaimana?“
Mendengar saran Nina, keduanya terdiam sejenak untuk merenungkan ini.
“Aku tidak masalah. Namun, kurasa kita jangan semuanya tidur, salah satu dari kita tetap berjaga. Aku merasa malam ini tidak akan begitu nyaman,” ucap Giya yang mempunyai sedikit perasaan yang buruk malam ini.
Melihat kedua wajah wanita ini begitu cemas dan gelisah, Isander berkata dengan senyuman, “Biar aku saja. Kalian tidur di kamar dengan Meisya, aku akan menjaga kalian malam ini.“
“Tidak perlu, biar aku saja, Isander. Aku tidak pikun, aku masih ingat dengan jelas kamu tidak tidur selama beberapa hari. Kamu harus istirahat.“ Giya menggelengkan kepalanya menentang ucapan Isander. Dia sangat keberatan.
Nina mengangguk mendukung perkataan Giya, dia juga tidak setuju dengan Isander yang hendak berjaga lagi. “Aku saja, biar aku yang menjaga kalian tidur.“
Mereka berdua sangat terlihat peduli dengannya, Isander merasa hangat di dalam hatinya, perasaan kekeluargaan yang telah lama tidak dia rasakan selama beberapa tahun belakangan.
__ADS_1
“Kalau boleh jujur, aku sebenarnya tidak membutuhkan tidur, kekuatanku yang telah aku bangkitkan membuatku jauh lebih kuat sehingga tidak mudah kehabisan tenaga ataupun energi meskipun aku telah bertarung begitu lama,” jelas Isander dengan senyum hangat di wajahnya. Dia sudah percaya dengan kedua wanita ini, tak perlu disembunyikan lagi perihal ini.
Tidak ada akan menjadi ancaman apabila informasi ini bocor dan diberikan kepada Giya dan Nina. Walaupun mereka berkhianat, mereka berdua takkan bisa mengalahkan dirinya.
Wajah Giya dan Nina berubah menjadi terkejut ketika mendengar kalimat Isander. Menatap Isander dengan mata yang membesar hampir bersamaan.
Dengan perasaan yang tidak percaya, Giya bertanya, “Kamu pasti berbohong, bukan? Tidak ada manusia yang tak memerlukan tidur. Agter tingkat tertinggi pun tak bisa melakukan itu.“
Senyuman Isander bergerak sedikit miring, dan dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, tatapan matanya tampak serius, dia sama sekali tidak sedang berbohong. “Untuk apa aku berbohong? Bukankah kalian berdua sudah melihat buktinya secara langsung?“
“Benar juga. Kamu selalu duduk diam ketika kami berdua tidur. Namun, aku kurang percaya dengan kemampuan kamu itu. Kamu sudah merasa kantuk yang berat, ya?“ Nina menatap lekat wajah Isander sampai tubuhnya menunduk ke depan. Berusaha mencari tanda-tanda Isander mengantuk dari wajahnya. Sayangnya, dia sama sekali tidak menemukan tanda Isander mengantuk.
Wajah Isander masih segar, tidak berubah, masih sama dengan wajah waktu pagi, awal mereka pergi menuju ke pemukiman.
Berbeda sekali dengan muka keduanya, itu terlihat begitu lelah, mata mereka sudah sedikit sayu dan lemas.
“Emm … baiklah, aku akan makan malam sekarang saja.“
Saran Isander didengar oleh keduanya, kemudian mereka membuka keranjang yang ditutupi oleh kain ini. Keranjang yang diberikan oleh Pak Tole yang katanya berisi ayam bakar.
Saat dibuka, mereka bertiga memang bisa melihat ada 1 ekor ayam utuh yang diletakkan di dalam keranjang, tetapi mereka merasa aneh dengan ayam ini.
“Mengapa ayam dibakar masih terlihat pucat begini? Sebenarnya, ayam ini direbus atau dibakar?“ ungkap Giya yang terheran melihat bentuk atau wujud makanannya.
“Ayamnya buat kamu saja, Giya. Aku jadi tidak nafsu makan.“ Nina menutup mulutnya, kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali duduk. Tidak kuat melihat makanan ayam di dalam keranjang itu.
Mata Giya memindai makanan ini beberapa saat, kain yang menjadi penutup itu diletakkan kembali oleh Giya dan keranjang kembali seperti semula.
__ADS_1
“Aku sama sekali tidak yakin dengan makanan itu. Aku makan ayam yang kemarin dibakar saja, apakah masih ada, Nina?“ Giya menoleh kepada Nina yang duduk di kursi.
Segera, Nina mencari makanan yang diinginkan Giya, setelah menemukannya dia mengeluarkan makanan ayam bakar tersebut dari dalam tas.
Begitu sisa potongan ayam yang dibungkus kain ini dibuka, daging ayam yang terlihat ada bekas dibakar itu terlihat. Nina mengendus beberapa kali aroma daging ayam ini dan itu masih tercium normal dan tak ada aroma asam. “Kurasa ini masih bisa dimakan.“
Berikutnya, Nina meletakkan potongan ayam di atas piring yang Giya ambil dari ruang dapur Isander, kemudian dia membelah beberapa potongan menggunakan pisau kekuatan Agta miliknya.
Tangan Giya terulur, dia mengambil potongan daging ayam bagian dada yang memiliki tekstur serat. Menggigit sedikit daging ayam ini, Giya tidak merasakan rasa aneh dari daging ini. Daging ayam masih bisa dimakan.
“Isander, makan daging ayamnya, sebentar lagi daging ayam ini tak bisa dimakan, ada sedikit aroma tak enak dari daging ini, harus segera dihabiskan,” kata Giya kepada Isander. Di tangannya masih ada daging yang ada bekas gigitannya.
Isander mengangguk, kemudian dia mengambil salah satu potong daging dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Benar kata mereka berdua, masih bisa dimakan, tetapi sudah berada di ambang ingin basi atau tak layak konsumsi.
Tepat ketika Isander dan kedua wanita tersebut makan malam dengan ayam
Pak Tole yang seharusnya ada di dalam rumah, kini sedang berjalan di luar menuju ke arah di mana rumah Isander berada.
Di belakang Pak Tole terdapat puluhan warga yang ikut berjalan. Anehnya, penampilan mereka semua tampak tak bisa dan abnormal, mereka tidak berjalan layaknya manusia biasa, beberapa dari mereka ada yang berjalan dengan menunduk ke bawah dengan leher yang kelihatan patah, dan ada yang berjalan dengan kaki yan bengkok tidak lazim.
Wajah para warga ini sangat mengerikan, bukan seperti wajah yang ditampilkan oleh seorang manusia.
Grrr!
Pada sekarang ini, Isander yang sedang santai mengunyah daging, tiba-tiba menoleh ke arah pintu keluar masuk rumah. Wajahnya yang santai menghilang dan digantikan dengan raut yang waspada.
__ADS_1
“Giya, Nina, kalian harus mempercepat makannya. Aku merasakan ada sesuatu yang buruk datang.“