
Di dalam rumah, setelah mereka masuk ke dalam, mereka melihat bahwa isi rumah terlihat kosong, tampak tidak ada jejak orang yang masuk ke dalam, seperti barang-barang yang diletakkan berantakan, kursi tidak ditata dengan rapi, dan tanda yang lain.
Terlalu bersih untuk rumah yang pemiliknya tengah sakit.
“Tidak ada warga yang menjenguk Pak Ghandi atau bagaimana? Mengapa sangat bersih sekali?“ tanya Giya yang merasakan kejanggalan pada ruang depan yang ada di dalam rumah.
Berdiri di kursi ruang makan rumah Pak Ghandi, Nina menopang tubuhnya pada kursi. “Bisa jadi mereka membersihkan rumah ini ketika Pak Ghandi sakit.“
Pernyataan Nina masuk diakal setelah dipikir-pikir, itu mungkin bisa terjadi.
“Hei, kalian berdua. Segera ke sini!“
Suara Isander yang sedikit dikeraskan memanggil keduanya yang sedang mengobrol.
Ketika mendengar suara panggilan Isander, mereka berdua langsung menoleh ke arah sumber suara Isander.
Tidak tahu kapan Isander sudah ada di pintu kamar Pak Ghandi, berdiri sambil menggendong Meisya yang tertidur di pelukannya. Wajah Isander tampak begitu rumit.
Mendengar panggilan Isander, mereka berdua bergegas berjalan dan mendatangi Isander.
“Ada apa?“ tanya Giya yang penasaran dan berdiri di depan Isander sambil menatap kedua matanya.
Nina pun sama, dia ingin tahu alasan mengapa Isander memanggil dia dan Giya untuk datang kepadanya.
Tanpa berbicara, Isander sambil menggendong Meisya menunjuk ke arah belakangnya, yaitu ke arah dalam kamar Pak Ghandi.
Saat Isander menunjuk, Giya dan Nina merasa ada sesuatu yang tidak baik di dalam sana.
Begitu mereka berdua masuk ke dalam kamar, mereka langsung diperlihatkan sesosok pria tua yang terbaring di atas kasur dengan kondisi yang sangat aneh.
Di kulitnya terdapat banyak luka yang berdarah dan mengeluarkan cairan nanah yang berbau busuk, hampir seluruh kulit tubuh yang tidak terbungkus baju memiliki luka yang sama.
Pria tua itu adalah Pak Ghandi, mereka tidak salah lihat, wajah dari pria tua yang terluka memiliki wajah yang mirip dengan Pak Ghandi.
__ADS_1
Mereka berdua berhenti mendekat, keduanya berdiri 1 meter dari kasur, menghindari sesuatu hal yang tidak terduga datang kepada mereka berdua.
Di ruangan ini, tercium bau busuk yang menyengat, membuat kedua wanita ini harus menutup hidungnya. Apabila tidak ditutup, bisa-bisa mereka berdua memuntahkan isi makanan yang sudah ada di dalam perut.
Giya menatap sejenak kondisi tubuh Pak Ghandi dari jauh, dia memperhatikan gerakan kecil atau reaksi yang ada pada tubuh Pak Ghandi.
Tubuh Pak Ghandi sangat-sangat parah, bahkan wajahnya saja sudah dipenuhi luka yang menampilkan kulit yang robek dan daging di dalamnya. Sangat mengerikan.
Namun, dada dan perut pak Ghandi tampak bergerak kembang-kempis layaknya orang yang sedang bernapas secara otomatis.
Usai 2 menit lebih dia mengamati dengan saksama, Giya menepuk bahu Nina dan berbalik keluar dari kamar. Nina mengikuti Giya keluar dari kamar.
“Aneh, kondisinya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Pak Tole,” kata Giya sambil melihat Nina dan Isander.
“Makanya, aku terkejut saat melihat Pak Ghandi,” sambung Nina yang ekspresi wajahnya kebingungan.
Isander yang sejak awal memiliki firasat yang buruk memiliki pendapatnya pribadi. “Aku sudah tahu, pemukiman ini sudah tidak aman lagi. Bisa kalian lihat di jalan tadi, para warga mempunyai reaksi yang asing dan tak biasa.“
Mengingat lagi pemandangan di luar sebelumnya, Giya dan Nina setuju dengan pernyataan Isander. Memang benar, dari awal masuk ke dalam pemukiman, banyak sesuatu yang aneh dan mengherankan.
Tidak hanya dia seorang, Nina pun sangat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Apakah Pak Ghandi masih hidup?“
“Jika dilihat dari tubuhnya masih terlihat bernapas normal.“ Giya menatap Nina, kemudian dia mengintip ke dalam kamar untuk memastikan.
Benar, Pak Ghandi masih hidup dan bernapas.
“Aku ingin tahu sejak kapan Pak Ghandi seperti ini. Apakah sudah lama atau baru terjadi. Menurut kalian bagaimana?“ Mengalihkan wajahnya ke arah Isander dan Giya. Nina menatap mereka dengan maksud meminta pendapat.
Giya memegang dagunya sambil bersandar di tembok kayu. Dia tidak bisa mengetahui berapa lama luka-luka pada tubuh Pak Ghandi muncul. Sama sekali tidak bisa menebak.
“Jika luka itu basah, kemungkinan besar baru beberapa hari,” kata Isander dengan pendapatnya.
“Apakah itu benar?“ Nina yang tidak terlalu paham dan tidak tahu melirik Isander dengan kurang yakin.
__ADS_1
“Bisa saja, Nina. Kamu pernah terluka, kan? Seharusnya, kamu tahu kalau luka basah artinya baru saja terluka, tidak begitu lama.“ Giya mulai sependapat dengan Isander.
Isander yang duduk di atas bangku mulai bangkit dan berdiri.
Melihat Isander yang seperti hendak pergi, Nina yang ada di dekat kursi tempat Isander duduk langsung bertanya, “Mau ke mana?“
“Daripada bertanya-tanya tak jelas, lebih baik kita tanyakan kepada Pak Tole, dia kebetulan ada di depan pintu dari tadi,” balas Isander sambil berjalan ke pintu rumah Pak Ghandi.
Sontak keduanya menjadi bingung dan kaget dengan jawaban Isander.
Mereka berdua berjalan dan mengikuti Isander.
“Dari mana kamu tahu ada Pak Tole di depan pintu?“ Giya benar-benar tercengang dengan ucapan Isander.
Dia sama sekali tidak merasakan ada kehadiran Pak Tole di depan rumah. Biasanya, apabila ada orang di depan rumahnya, Giya bisa tahu karena ada suara langkah kaki dari orang lain di luar.
Akan tetapi, dia tidak bisa mendengar ada suara langkah kaki di sekitar rumah ini, dia sama sekali tak mendengar.
Isander tidak menjawab, dia hanya menatap pintu dengan mata yang berbeda, dia tidak santai lagi kelihatannya.
Tangannya terulur, kemudian dia menarik gagang pintu ke belakang.
“Halo, Agter Giya, Agter Nina, dan Agter Isander!“ Sosok Pak Tole benaran ada di depan pintu. Dia melambaikan tangannya dan menampilkan senyuman yang tak normal. “Apakah kalian sudah melihat kondisi Pak Ghandi?“
Dengan suara yang datar, Isander berkata, “Sudah, baru saja kita bertiga melihat kondisi tubuh Pak Ghandi, tetapi itu tidak sama dengan yang diucapkan Pak Tole. Apa yang sebenarnya terjadi pada Pak Ghandi?“
Pak Tole tetap tersenyum, dia mengabaikan suara dingin Isander yang agak menekan, kemudian dia membalas dengan wajah yang cerah dan aneh, “Sebaiknya, kita bicarakan di dalam. Hari sudah mau malam. Kebetulan aku sudah membawa ayam yang dibakar. Kita akan makan di dalam.“
Memicingkan matanya, Isander curiga dengan Pak Tole. Namun, dia tetap membiarkan Pak Tole masuk ke dalam rumah bersama mereka.
Di ruang tamu, atau ruangan paling depan di dalam rumah, mereka semua duduk bersama. Giya dan Nina duduk di kursi menghadap ke Pak Tole yang duduk di kursi di depannya, sedangkan Isander berdiri di samping Giya yang duduk.
Kursinya tidak ada lagi, Isander memilih untuk berdiri sembari mengusap tubuh Meisya yang tertidur pulas di gendongannya.
__ADS_1
“Apa yang aku katakan di depan gerbang adalah benar. Tubuh Pak Ghandi mulai bereaksi aneh sejak satu hari setelah dirinya terluka karena terbentur dari atas kasur. Para warga sudah menjenguk dan mengobati Pak Ghandi. Sayangnya, keadaan Pak Ghandi sama sekali tidak membaik, dan luka yang bernanah tersebut muncul.“