SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 30: Sirip Monster


__ADS_3

“Sekarang bagaimana, Giya? Isander sudah muncul?“ Nina bertanya kondisi terkini kepada Giya. Meisya menatap Giya dengan mata yang penuh harapan.


Meisya berharap Isander kembali dan bertemu dengannya lagi. Dia sangat takut kehilangan ayah tercinta.


Pertanyaan Nina tidak segera Giya jawab, Giya sedang fokus memantau ke arah tempat pertarungan antara Isander dan para monster.


Saat ini, situasi pertempuran terpantau sepi dan cahaya ungu maupun kuning sudah tidak bermunculan lagi. Giya berspekulasi bahwa pertempuran sudah selesai dan pemenang telah ditentukan.


Giya mencengkeram salah satu pedang yang adalah manifestasi dari kekuatan Agta miliknya. Harus memasang kewaspadaan dan antisipasi yang tinggi lantaran dia tidak tahu siapa pemenang dari pertemuan yang telah terjadi.


Setelah beberapa saat mengamati ke pepohonan di arah utara, Giya bisa melihat suatu bayangan hitam sedang berjalan ke arah mereka.


Cengkeraman tangan Giya terhadap salah satu pisaunya makin kencang, ia benar-benar tegang dan memasang tubuhnya untuk bertempur.


Akan tetapi, setelah Giya tunggu dan pantau bayangan ini, bayangan tersebut memiliki bentuk seperti seorang yang tengah berjalan.


Beberapa detik kemudian, Giya bisa melihat bahwa bayangan ini ternyata seorang manusia dan itu adalah Isander yang berhasil kembali.


Sebuah napas panjang keluar dari mulut Giya, dia merasa santai setelah melihat sosok Isander yang baik-baik saja.


Menoleh ke belakang, Giya berkata kepada Nina, “Isander sudah kembali, dia sedang ke sini.“


“Syukurlah …. Aku tahu dia akan menang.“ Nina tersenyum dan merasa senang dengan berita yang diberitahukan oleh Giya.


Mendengar ucapan Giya, Meisya tersenyum bahagia, wajahnya yang cemas langsung berubah menjadi ceria dan bahagia.


Ayahnya berhasil melawan monster bau itu.


“Akhirnya, kamu kembali, Isander.“ Giya tanpa aba-aba memeluk Isander begitu melihat Isander datang ke balik pohon tempat mereka berdiri dan bersembunyi.


Merasakan pelukan Giya, Isander membalas pelukan dengan ringan. Tidak ditekan.


Berikutnya, Nina juga ikut memeluk bersamaan dengan Meisya. Mereka bertiga melepaskan kekhawatirannya kepada Isander.


Isander tersenyum lepas melihat mereka bertiga berhasil kabur dan baik-baik saja di sini. Tidak sia-sia usahanya melawan para monster.


“Bagaimana kondisi kalian? Baik-baik saja, kan?“ Menggendong Meisya, Isander bertanya ke arah mereka berdua.


Giya dan Nina merespons bersamaan dengan anggukan kepala beberapa kali.

__ADS_1


“Kita baik-baik saja. Para monster semuanya mengalihkan fokusnya kepada kamu sehingga kamu bertiga bisa mudah lolos dari rumah pohon,” jawab Giya sambil tersenyum.


Pernyataan Giya dikonfirmasi lagi, dan Nina berkata, “Salmagtress, mereka memang mudah untuk terpancing dan teralihkan. Maka dari itu, kami bisa lolos karena perhatian mereka sepenuhnya terpusat kepada kamu.“


“Bagus kalau kalian baik-baik saja. Setelah ini kita ingin ke mana?“ Isander menatap keduanya meminta jawaban.


“Umm, sebaiknya, kita ke tempat monster yang kamu bunuh tadi, kita harus mengumpulkan bukti telah membunuh monster,” kata Giya setelah merenung sesaat.


Mendengar ini, Nina mengangguk setuju dan Isander pun ikut setuju.


“Namun, itu terlaku berbahaya untuk kalian ke sana. Aku daja yang pergi ke sana untuk mengumpulkan bukti. Kalian jaga Meisya, ini hanya sebentar.“ Isander mencium pipi Meisya dengan penuh cinta, kemudian memberikan Meisya kepada Giya.


Giya tidak bisa menolak dan dia mengangguk sembari menerima Meisya. “Untuk bukti, kamu hanya perlu mengumpulkan sirip atas Salmagtress. Pastikan sirip itu terpotong dengan sedikit dagingnya supaya orang percaya.“


“Baik, aku paham.“ Isander sedikit mengangguk setelah mendengar pengingat Giya.


Setelahnya, Isander mencium pipi Meisya sekali lagi sebelum pergi.


Sosok Isander berubah menjadi bayangan hitam saking cepatnya dia bergerak, daun-daun yang berjatuhan di atas permukaan tanah terhempas dan terbang ke atas.


Rambut mereka bertiga juga diterpa angin yang tercipta dari akselerasi kecepatan Isander berlari.


Dengan lekas, Isander menggunakan senjata barunya untuk memotong setiap sirip yang ada di tubuh monster.


Sayang sekali, beberapa monster ada yang tidak memiliki sirip atas karena rusak oleh serangan tombaknya. Jadi, Isander hanya berhasil mengumpulkan 26 sirip atas monster dan dia kumpulkan dengan cara diikat dengan menggunakan tali yang terbentuk dari dahan pisang.


Sirip atas atau sirip punggung monster ikan memiliki ukuran 2 kali ukuran kertas A4, itu terbilang lebar. Isander menumpukkan sirip-sirip tersebut dan mengikatnya, seperti sedang mengikat bungkus kado dengan pita.


Setelah itu, Isander menjinjing sirip ini dan kembali ke tempat mereka bertiga bersembunyi.


Begitu Isander meninggalkan tempat bekas pertempuran, sebuah reaksi terjadi terhadap mayat monster ini, tanah kembali retak dan itu membuat lubang sehingga beberapa monster tertelan ke dalam lubang. Lubang itu langsung menjepit dan menelan mayat monster menjadi pipih.


Beberapa pohon ikut bergerak dan menutupi retakan tanah tersebut.


Isander mencoba membersihkan medan pertempuran, tetapi dia tidak terlalu niat dan hanya semaunya saja.


Meskipun demikian, medan pertempuran sudah tersamarkan, beberapa jasad menghilang meski ada yang timbul dan terlihat.


Bukan masalah, jasad monster itu nantinya akan mengering dan menghilang.

__ADS_1


Setibanya di mereka bertiga, Isander memberikan tanda bukti pembunuhan berupa sirip punggung monster kepada keduanya.


Melihat bukti ini, Giya memasukkan semua bukti ke dalam tasnya. Tasnya yang dia bawa memang khusu tempat untuk menyimpan banyak bukti pembunuhan. Sementara itu, tas Nina berisikan makanan dan beberapa baju milik keduanya.


Biasanya Nina dan Giya tidak membawa baju ganti. Adanya Isander, mereka harus membawa baju ganti.


Mereka berdua tidak bisa memperlihatkan tubuhnya yang diselimuti dengan baji yang basah di depan Isander. Maka dari itu, dia harus mengganti pakaiannya.


“Kurasa kita harus mencari pohon besar untuk tidur sejenak. Malam masih panjang, kita tidak bisa terus berjalan,” ucap Giya kepada Isander dan Nina. Menurutnya, mereka tidak diperkenankan untuk melanjutkan perjalan di malam hari. Mereka harus berhenti dan beristirahat.


Nina mengangguk. “Lebih baik kita berangkat sekarang. Ditakutkan monster yang lain berdatangan ke tempat jasad monster Salmagtress.“


“Benar. Ayo kita pergi Isander!“


Giya memimpin mereka semua dan berjalan ke arah selatan.


Untungnya, di hutan ini tidak terlalu gelap. Mereka masih bisa melihat wajah satu sama lain. Cahaya bulan menerangi malam. Langit di malam ini cukup bagus, tidak berawan sehingga tidak menutupi cahaya rembulan.


Setelah beberapa menit berjalan, mereka menemukan sebuah pohon yang tinggi. Pohon ini memiliki dahan yang besar dengan ketinggian yang cukup, beberapa monster tidak bisa memanjat pohon setinggi ini.


Dengan demikian, mereka sepakat untuk beristirahat di atas pohon ini.


Sebagai jaga-jaga, Giya yang naik lebih dahulu. Sambil naik, dia juga membuat jalan panjatan ke atas pohon agar mereka berdua lebih mudah mencapai ke atas sana.


Usai melihat Giya duduk di atas dahan pohon yang besar, giliran Isander untuk memanjat.


Dia dengan satu tangan dengan mudah memanjat pohon yang memiliki tinggi 5 meter lebih.


Pemandangan ini masih membuat Giya dan Nina takjub. Kekuatan Isander memang sangat besar.


Beberapa saat kemudian, Nina sampai di dahan pohon yang lainnya. Mereka bertiga tidak duduk di dahan yang sama. Mencegah dahan patah dan roboh karena kelebihan beban.


Dengan perasaan aman dan nyaman, Meisya tertidur di pelukan Isander begitu Isander sampai di atas pohon.


Isander tersenyum, dia membiarkan anaknya tidur di pelukannya.


Giya dan Nina ikut tersenyum, dia menatap Isander memberikan tanda atau isyarat.


Respons Isander adalah anggukan dan itu adalah jawabannya.

__ADS_1


Sehabis melihat Isander yang mengangguk, keduanya bersandar pada batang pohon dan mulai tidur.


__ADS_2