SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 154: Hubungan Isander dan Aqila


__ADS_3

"Sudah, kita harus memeriksa energi besar di sana. Kita tunda dahulu."


Isander berdiri di depan kasur sambil mengenakan kembali pakaiannya yang terlepas.


Di atas kasur, Aqila duduk bersandar dan masih menahan lubang pada tubuhnya agar cairan Isander tidak banyak keluar.


Peristiwa barusan sangat menggairahkan, sudah berapa tahun Isander tidak merasakan kenikmatan dunia ini.


Aqila ternyata memiliki nafsu dan libido yang sangat-sangat tinggi. Wanita ini benar-benar sudah puas. Untungnya, Isander punya barang besar dan tahan lama. Aqila tidak bisa menang satu kali pun.


Bisa dibilang Aqila kalah telak dalam kegiatan itu, belasan kali dia keluar dengan cairan bening yang menyembur kencang, menandakan Aqila sangat puas dengan Isander.


Sementara itu, Isander hanya keluar sekali saja, dan itu langsung keluar sangat banyak. Aqila merasa tubuhnya penuh dan hangat.


Dapat dilihat dengan jelas kalau Aqila benar-benar berusaha agar cairan Isander keluar dari tubuhnya, wanita ini tidak bercanda untuk ingin memiliki bayi dari Isander.


Saat mengenakan pakaian saja, Aqila sengaja menahannya dengan pakaian yang paling dalam dan kemudian memakai celananya yang ketat serta seksi.


Setelah pakaiannya terpasang dengan rapi di tubuhnya. Aqila melompat ke tubuh Isander dan mencium bibirnya penuh cinta.


"Ayo kita berangkat!" seru Aqila yang semangat.


Kepala Isander mengangguk dan menggendong Aqila sambil terbang menuju ke tempat energi besar berasal.


Sengaja akselerasi terbang Isander tidak dipercepat, Isander dan Aqila harus melihat juga memeriksa sesuatu yang ada di hutan bawah mereka berdua.


Ditakutkan ada monster yang berbahaya dan mengancam keduanya yang sedang terbang.


Lagi pula, Aqila tidak bisa dibawa terbang cepat tanpa tabung logam yang Isander buat, sedangkan Aqila tidak mau dikurung seperti itu lagi.


Mau tidak mau Isander membiarkan Aqila memeluknya dengan kecepatan terbang yang dilakukan pelan.


Tidak butuh lama untuk mereka berdua menemukan sebuah energi besar yang mereka cari.


Energi yang besar itu berasal dari monster S yang baru pertama kali Isander temui.


Monster itu adalah Whale Gozer.


Terlihat Whale Gozer yang besar ini sedang tidur dan meringkuk di dekat perbukitan.


Sebagian tubuhnya menjadi kering dan ditumbuhi banyak tanaman kecil juga besar, dan itu membuat penampilannya mirip seperti bukit kecil.


Isander dan Aqila turun di beberapa kilometer dari Whale Gozer itu berada, memantaunya dari jauh dan jangan sampai terbangun.


Sebenarnya, Isander bisa membunuh monster ini dengan kemampuannya sekarang. Namun, ini bukan sekadar membunuh monster s saja, melainkan ada sebuah strategi yang Isander buat untuk sesuatu.


Mereka memutuskan untuk menjaga dan mengamati monster ini dari kejauhan memastikan bahwa Monster Whale Gozer tidak terbangun.


"Kurasa monster ini sudah tidur lama," gumam Aqila yang memiliki asumsi pribadi.


Kepala Isander bergerak mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aqila, bahwa monster ini sudah tidur lama.


Bukan karena tanpa alasan dan bukti di tubuh monster itu sudah ditutupi tanah sebagian dan juga tumbuhan. Tak heran mirip dengan bukti kecil di sebelahnya.


Mereka di sana memantau lebih dari 1 jam, masih sama dengan kondisi sebelumnya. Monster yang mirip dengan ikan paus biru dan memiliki kaki yang ditekuk ini tak bergerak.


Merasakan bahwa akan baik-baik saja jika ditinggal, Isander dan Aqila memutuskan untuk pergi ke rumah lagi, menjaga anggota tim lainnya yang tidur.


Glatash dan Magtash, juga Kimaya, Isander tugaskan untuk menjaga rumah, selagi mereka berdua pergi dan memeriksa energi besar di kejauhan.


Meski ada monster A, mereka bertiga bisa mengurusi monster tersebut dengan tidak sulit.


Kembali ke rumah, mereka berdua melakukan kegiatan itu di dahan pohon.


Nafsu Aqila yang sudah dibendung bertahun-tahun, sekarang dikeluarkan ke Isander sekaligus. Untungnya, Isander bisa meladeni nafsu besar Aqila yang besar.


Mereka berdua sangat brutal, gerakan mereka cukup kuat untuk menggoyangkan satu pohon yang dekat dengan rumah.


Isander membuat rumah kecil di dekat area sekitar rumah utama, untuk mereka berdua melakukan kegiatan tersebut dengan aman dan nyaman.


Aqila tetap saja kalah, sama sekali tidak bisa mengalahkan Isander. Kekuatan fisik Isander dan Aqila sangat-sangat jauh perbedaannya.


Tak heran jika Aqila selalu kalah dalam pertempuran ini.


Pertarungan keduanya diakhir dengan pelukan bersama dan tubuh Aqila yang gemetar hebat.


Cairan kental berwarna putih sekali lagi memenuhi tubuh Aqila. Keduanya bermain dengan intens, mereka memang ingin berkembang biak.


Aqila tepatnya yang ingin memiliki seorang anak.


Umurnya Aqila sekarang sudah menyentuh 25 tahun, memang sudah cukup dan matang untuk memiliki anak.


Apalagi Aqila juga ternyata seorang wanita yang sangat-sangat Hyper dengan pasangannya. Jika ada kesempatan waktu, dia memilih untuk bermesraan dengan pasangannya.


Dengan begitu juga, Aqila bilang bahwa dia takkan kembali cepat ke Kota Garuda karena ingin menikmati waktu bersama Isander.

__ADS_1


"Aku sayang kamu, Isander." Aqila memeluk Isander dengan tubuh di atas Isander.


Keduanya saat ini benar-benar tidak mengenakan pakaian, mereka sudah mengakhiri pertempuran dengan mengeluarkan cairan pamungkas ke dalam tubuh Aqila


Meski Aqila terlihat cukup tertutup, tubuhnya yang ditutupi itu punya aset yang sangat besar, bola-bolanya hampir sebesar bola basket, ditambah lagi dengan lubangnya yah berwarna pink, bersih, dan wangi.


Saat Isander masukkan pun sangat-sangat sempit, darah keluar sedikit dari lubangnya.


Benar, masih tersegel dengan baik. Mungkin sudah sedikit sobek karena dia bertarung dan gerakannya begitu liar sehingga secara alami sedikit terbuka.


Hal yang wajar jika tidak tersegel karena kecelakaan.


Hal yang tidak wajar adalah tidak tersegel karena sengaja dibuka oleh orang lain yang belum tentu akan menjadi pasangan hidup selamanya.


"Aku juga sayang kamu dan Kayshila," kata Isander sambil mencium kening Aqila.


Dengan mata yang satu akibat kelelahan, Aqila menatap wajah Isander dengan senyuman tipis di mulutnya. "Maksud kamu, kamu ingin memiliki dua istri?"


"Um, iya. Bisa dibilang seperti itu." Isander mengangguk dan membalas senyuman Aqila.


"Dasar pria, semuanya sama saja," ujar Aqila sedikit kesal.


Isander meletakkan tubuh Aqila di bawah, dan posisinya ada di atas, kemudian dia mendekatkan wajahnya seraya berkata, "Semua pria itu berbeda, tidak bisa disamakan. Jika memang sama, mengapa tidak ada yang seperti aku lagi? Bahkan, kamu saja berbeda dengan wanita yang lain."


"Iya, aku tahu, Isander. Kamu berbeda, tetapi sifat liar kamu sama dengan orang lain, memiliki keinginan untuk menikahi dua istri," balas Aqila yang masih keras kepala.


"Tidak ada yang salah, bukan? Wajar apabila pria punya banyak wanita jika memang wanita yang ingin dijadikan istri nomor berapa itu menerima. Tidak wajar jika wanita punya banyak suami, bagaimana cara menentukan anak yang dikandung?"


"Aku mengerti. Kamu berbeda dan kamu telah menjadi milikku sekarang. Jangan pergi lagi, aku sudah terlanjur sayang padamu, bahkan sebelum hari terakhir tiba."


Aqila tiba-tiba melingkari leher Aqila, kemudian dia mencium sekilas bibir Isander.


"Takkan pergi jika kamu memang tidak membutuhkan aku lagi." Isander melekatkan dahinya ke dahi Aqila.


Mereka berdua saling meluapkan kasih sayangnya tanpa mengetahui bahwa seseorang ada yang mengintip kegiatan mereka berdua.


"Sudah aku duga, mereka berdua memiliki hubungan yang dalam." Seseorang kembali ke dalam rumah dengan wajah yang tercengang.


Orang itu adalah Giya yang terbangun karena suara samar-samar yang Isander dan Aqila buat di rumah sebelah yang Barus saja dibangun.


Dia habis mengintip di rumah tersebut tanpa diketahui oleh Isander dan Aqila karena mereka menurunkan kewaspadaannya.


Giya punya perasaan kepada Isander, tetapi dia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


Sayangnya, hubungan anggota dan ketua kelompok membuat mereka merasa jauh meski sebenarnya mereka sering berdekatan.


Mengingat Giya sering dimintai bantuan oleh Isander untuk menggendong Meisya yang tertidur atau yang terbangun selagi Isander ingin menyerang para kelompok monster yang tak bisa para anggotanya hadapi.


Mata Giya basah oleh air mata, ia meringkuk di atas kasur dengan rasa kecewa yang berat.


Keesokan harinya, Isander dan yang lain berjalan bersama menyisir hutan menuju ke arah selatan.


Makin lama mereka berjalan, lambat laun perasaan krisis dan berbahaya menjadi lebih besar.


Ini tidak lagi dirasakan oleh Isander dan Aqila, anggota yang lain pun dapat merasakannya.


Tidak lama kemudian, mereka semua berdiri di atas dahan pohon yang tinggi dan besar, mereka menghadap ke bukit yang aneh.


"Whale Gozer, dia ada di sini?" Goron terkejut melihat sosok monster yang kini meringkuk menyerupai bukit kecil.


Mendengar ucapan Goron yang terpana memandang bukit di kejauhan, semua anggota tim Isander ikut kaget dengan sosok yang sedang mereka lihat sekarang.


Giya, Nina, Reza, Kila, Helen, dan Reren, mereka semua berdiri membeku tak bergerak sembari melotot ke arah bukit jauh di depan mereka.


"Bukit kecil itu Whale Gozer?" Reza menoleh untuk bertanya ke Goron yang ada di sebelahnya.


Goron mengangguk, mengeluarkan napasnya dan menjawab, "Benar, Whale Gozer yang sedang tidur."


"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Reza bertanya lagi ke semua anggota tim.


Berdiri di dahan yang lain sambil menggendong Meisya, Isander berkata ke mereka semua, "Aku akan membunuhnya."


"Membunuh monster raksasa itu?!"


Giya dan yang lain terkejut dengan perkataan Isander.


Mereka semua khawatir dengan pilihan Isander ini karena monster S yang akan dilawan sangat berbeda dengan Eagoter yang pernah dikalahkan sebelumnya.


Level kekuatan antara Whale Gozer dan Eagoter cukup jauh perbedaannya meski tetap di satu tingkatan.


Terlebih lagi, ukurannya juga terpaut jauh berbeda. Dua Eagoter saja tidak mampu menyamai ukuran satu Whale Gozer.


Selain semua anggota khawatir, Meisya yang Isander gendong pun ikut khawatir.


"Ayah, apa kamu serius ingin mengalahkan monster raksasa menyeramkan itu?" tanya Meisya yang penuh kekhawatiran sembari menunjuk bukti di depan.

__ADS_1


Isander tersenyum lembut dan mengelus rambut Meisya yang halus, kepala ISANDER mengangguk beberapa kali dan menjawab, "Serius, ini harus dilakukan demi kamu dan manusia lain yang ada di dunia ini. Monster besar ini akan mengancam manusia dan teman-teman yang lain jika terus dibiarkan hidup."


Begitu mendengar ucapan ayahnya, Meisya memeluk tubuh Isander dengan erat seraya berkata, "Ayah, kamu harus kembali dengan selamat, dan aku juga ingin Ayah menang melawan monster itu dengan mudah."


[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Memberikan Anda Kemampuan Crystal Control dan 1 Kartu Peningkatan Kemampuan!]


Setelah mendengar pemberitahuan ini, Meisya diserahkan kepada Giya karena sudah terbiasa.


Giya yang menggendong Meisya di tangannya menatap Isander dengan tatapan yang rumit.


Di mata semua timnya, Isander terbang ke atas menghampiri monster yang besar di kejauhan.


"Kita harus menjauh dari sini, minimal pergi dan menunggu Isander di rumah," ucap Goron yang memiliki kesadaran tentang keselamatan para anggota timnya.


Segera, mereka semua bergerak cepat untuk kembali ke rumah.


Namun, Aqila dan Goron kembali lagi bersama Magtash dan Glatash untuk memantau proses Isander mengalahkan monster besar ini.


Mereka penasaran dengan cara Isander akan membunuh monster S, monster puncak dari monster yang ada di dunia ini.


Terlebih lagi, Whale Gozer punya ukuran terbesar dibandingkan dengan ukuran monster S yang lain.


Bentuk Monster Whale Gozer ini bukan mirip paus benih, melainkan Paus Biru yang besar karena ujung kepalanya menyudut, berbeda dengan Paus Benih yang berkepala kotak.


Dengan tubuhnya yang melengkung ini, membentuk sebuah gundukan besar yang mirip bukti.


Mereka salah mengira bentuk dari monster ini.


Terbang di atas monster yang sangat besar ini, Isander segera mempersiapkan diri untuk mengeluarkan serangan besarnya.


Seluruh tubuh Isander sudah diaktifkan Mode Armor Baryon Cenagon dengan dua pasang sayap.


Berikutnya, kedua tangan Isander dinaikkan tinggi-tinggi dengan cahaya lilac yang menyala di matanya.


"Titan Metal Sword ...."


Setelah suara itu keluar dari mulut Isander, sebuah logam kecil muncul di atas telapak tangan kanannya yang menunjuk ke atas langit.


Logam kecil tersebut mengembang dengan kecepatan yang cepat sehingga kurang dari 1 menit berselang, sebuah pedang rakasa dengan ukuran panjang 300 meter terbentuk di langit yang tinggi.


Besarnya pedang ini tampak sangat megah dan memukau.


Saking besarnya pedang, Giya dan yang lainnya di rumah bisa melihat ini sedikit di langit.


Glup!


Goron dan Aqila menelan ludahnya begitu melihat pedang raksasa yang diciptakan oleh Isander.


Seolah pedang raksasa yang terbuat dari logam belum cukup.


Isander menggunakan kemampuan barunya untuk menciptakan pedang raksasa dalam desain yang berbeda dengan bahan kristal keras dan tajam.


Munculnya pedang kristal raksasa di langit, membuat cahaya matahari yang mengarah ke pedang kristal menjadi dipantulkan ke arah yang lain.


Ini membuat semua orang yang melihat pedang kristal menjadi sulit untuk melihat pemandangan di atas langit.


Hanya dengan menggunakan kedua kekuatan untuk membentuk dua pedang raksasa ini saja, Isander merasa energi tubuhnya sedikit terkuras.


Beruntung Magnetar Body bisa mengisi ulang energi yang hilang dengan cepat di bawah matahari.


Kilauan yang dihasilkan pedang kristal membuat Whale Gozer yang ada di bawah terbangun karena merasa diganggu.


Bam!


Sebuah dentuman yang keras diiringi dengan getaran yang kuat muncul setelah Whale Gozer terbangun.


Tepat ketika Whale Gozer berdiri dengan keempat kakinya dan melihat benda berkilauan di atas langit, Isander segera memulai serangannya.


"Selamat pagi, aku di sini ingin memberikan kamu hadiah. Tolong terima hadiah ini!"


Setelah kata-kata Isander keluar, kedua pedang raksasa yang melayang di langit langsung bergerak ke bawah menunjuk ke arah Monster Whale Gozer di bawah.


Melihat serangan ini, Whale Gozer tidak takut, dan dia juga mengirimkan sebuah serangan untuk menahan dua pedang raksasa ini.


Mulutnya yang diisukan punya ukuran yang besar, kini ditampilkan di depan mata Isander.


Mulut Whale Gozer yang lebarnya bisa 400 meter itu mencoba menelan dua serangan Isander.


Sudut mulut Isander membentuk kurva, dan dia berkata, "Kamu kira ini camilan?"


Tepat ketika kedua pedang raksasa masuk ke dalam mulut Whale Gozer, energi berwarna hitam dan lilac menyelimuti seluruh tubuh pedang.


Mata merah Whale Gozer membesar dengan pancaran sinar ketakutan diperlihatkan.


"Pada akhirnya, kamu mati."

__ADS_1


__ADS_2