
Gelombang udara yang mengerikan menyapu seluruh area, permukaan tanah menjadi retak dan hancur lebur oleh tabrakan dari kedua serangan mereka.
Dampak ini meluas sampai puluhan meter. Pohon-pohon yang tumbuh di dekat medan pertempuran terkoyak menjadi serpihan kayu yang terbang ke segala arah.
"Lumayan kuat."
Setelah debu tanah menghilang, terlihat Isander yang berdiri sambil melihat sosok monster beruang yang terlempar beberapa meter.
Pemenang dari hantaman dua serang barusan sudah jelas adalah Isander yang menggunakan Cenagon Armor.
Meskipun menang dalam adu serangan kali ini, armor Isander mendapatkan kerusakan dari tajamnya cakar monster.
Namun, itu dengan cepat diperbaiki sendiri secara otomatis. Bagian armor yang menutupi kepalan tangan Isander yang rusak telah kembali normal, seperti sebelum digunakan.
Dari sini Isander menjadi tahu bahwa kekuatan Cenagon Armor mempunyai fitur memperbaiki sendiri kerusakan dengan menggunakan energi fisiknya.
Semua kemampuan Isander terhubung dengan kekuatan fisik. Makin kuat fisiknya, makin banyak kemampuan yang bisa dia gunakan secara beruntun dan berkala.
Grroahhh!
Beruang raksasa menjadi sangat marah, amarahnya meletus kuat sehingga tubuhnya bergerak atas kemarahan yang bersemayam.
Kaki depan Beargarets turun ke permukaan tanah lalu berlari menggunakan keempat kakinya.
Kecepatan berlarinya sangat cepat, tetapi di dalam pandangan mata Isander masih terlihat lambat.
Berikutnya, monster ini membuka mulutnya lebar-lebar berusaha untuk menggigit tubuh Isander yang sangat kecil dari tubuhnya.
Seberapa banyak percobaan yang dilakukan Beargarets, Ida takkan bisa berhasil melukai Isander dengan gigitannya.
Sekarang ini, pemandangan monster besar ini tampak sedang dipermainkan oleh Isander.
Setiap kali monster besar tersegel hendak berhasil menggigit Isander, sosok Isander menghilang dan muncul di tempat yang lain.
Dan itu terjadi berulang-ulang, membuat monster ini makin marah, sampai-sampai amarahnya tidak terbendung.
Grroahhh!
Monster ini mencakar-cakar permukaan tanah sampai terkoyak tak beraturan.
Melihat monster ini yang makin liar dan menyerang tanpa jelas, Isander berpikir untuk membunuh monster ini sebelum dia menghancurkan hutan ini dengan sia-sia.
Zzttt!
Sebuah pedang terproyeksi di udara lalu tangan Isander menangkap pedang ini dengan kuat.
Pedang besar dengan ukuran lebih dari 2 meter diangkat oleh Isander dengan tinggi, sebuah cahaya menyala di bilah pedang yang panjang, dan kemudian dia mengayunkan pedan besar ke depan secara vertikal.
Gelombang energi berwarna lilac terbang cepat menghantam tubuh monster dengan telak.
Energi tersebut menghilang dan luka sayatan yang begitu dalam terbentuk di perut Beargarets.
Isander dapat melihat isian perut Beargarets satu per satu keluar dan jatuh ke tanah.
Namun, luka tersebut tidak membuat Beargarets mati, dia masih hidup meski organ tubuhnya keluar secara bertahap.
Beargarets berlari ke depan, melambaikan cakar ke arah tubuh Isander.
Sekali lagi Isander dengan mudah menghindari serangannya.
Pada akhirnya, monster tersebut mati setelah Isander mengeluarkan bilah energi yang terbang dari pedangnya yang berhasil memotong kepala monster dalam sekali serangan.
Ternyata bagian leher monster ini tidak lebih kuat dari bagian tubuhnya yang sanggup menahan energi aneh dari pedang Isander.
Berdiri di dekat mayat monster besar ini, Isander merasa tidak puas dengan pertarungannya kali ini. Ini terasa hambar dan mudah.
Awalnya dia kira monster ini akan lebih kuat dari Spidgarets Pak Tole, ternyata ini lebih lemah.
Mungkin juga dia yang sekarang terlalu kuat untuk melawan monster di tingkat yang sama dengan Spidgarets Pak Tole.
"Monster level A tidak cocok untuk aku lawan. Aku pikir aku harus bertemu dengan monster level S untuk mengetahui potensi armor dan pedang dari mode beast," gumam Isander sambil memandang jasad Beargarets yang telah mati.
"Tidak-tidak, tak perlu melawan monster tingkat S, beberapa dari monster ini pun cukup membuatku kewalahan." Isander menggelengkan kepalanya.
Setelah dipikir-pikir kembali, monster level S terlalu berlebihan untuk dia lawan. Bukannya dia akan tahu seberapa kuat dirinya sekarang, malah dia mati berhadapan dengan monster level S yang kekuatannya sudah di luar jangkauan banyak manusia.
Mengingat level Isander sendiri pun baru di tingkat Grand Master Tiga Bintang, itu masih dianggap lemah dan bukan lawan dari monster yang kekuatannya di tingkat S.
Dia tidak boleh gegabah lantaran ada putri yang dijaga dan lindungi.
Isander tidak ingin mati konyol.
"Aku harus menyembunyikan jasad monster ini."
Dengan sigap Isander melakukan pembersihan dengan cara membuat lubang besar untuk mengubur dan menenggelamkan tubuh monster di dalam tanah.
Semua organ tubuh monster ini yang berbau tidak enak yang mudah membuat orang muntah telah Isander kubur bersama dengan tubuh monster.
Bagian kepala tidak dia masukkan, sengaja akan dia taruh di suatu tempat sebagai tanda di sini pernah ada monster Beargarets yang hidup.
Proses pembersihan berlangsung lebih dari 5 menit. Hasilnya, tempat pertarungan menjadi rapi, paling tidak tanah yang berlubang dan terkoyak akibat tabrakan dua serangan hebat dan cakar monster telah lenyap.
Beberapa genangan darah bisa dilihat, tetapi itu akan menghilang di waktu yang cepat.
Isander pergi dari tempat ini dan berlari ke tempat di mana para anggotanya menunggu dirinya.
Setelah bertemu, Isander dan yang lain terus melanjutkan perjalanan hingga matahari menghilang dan digantikan oleh bulan.
Medan perjalanan ini makin lama makin banyak melewati hutan, tidak seperti sebelumnya yang kerap kali ditemui oleh mereka sebuah pemukiman besar para manusia sebelum hari kehancuran terjadi.
Maka dari itu, mereka membuat tempat singgah mendadak, seperti biasanya Isander yang membuat tempat peristirahatan mereka semua dengan memakai bahan material dari kayu pohon.
Perjalanan mereka sangat monoton, berjalan puluhan kilometer dalam sehari, bertemu monster, membunuh mereka semua, istirahat makan dan minum, kemudian tidur di malam hari.
Pola tersebut dilakukan oleh mereka semua dalam 3 hari lamanya.
Pada tanggal 15 Mei, tepat 15 hari lamanya Isander hidup di dunia aneh ini, Isander dan lainnya telah sampai di sebuah kota yang dilindungi oleh tembok yang tinggi.
__ADS_1
Isander berdiri di 1 kilometer dari tempat Garuda City bersama Giya dan lainnya.
Pemandangan tembok yang menjulang tinggi puluhan meter terlihat megah, sangat menakjubkan dan indah.
Kota di tengah hutan belantara, tampak menyatu dengan alam yang membuat orang terkesima melihat panorama ini.
Dalam ingatan Isander, penampilan kita ini berbeda dengan yang dahulu. Sekarang terlihat lebih besar dan temboknya ditinggikan lagi secara bertahap.
Di sekitar tembok ini seharusnya tidak ada tempat untuk orang. Di luar tembok langsung bertemu dengan hutan tanpa ada orang yang mau tinggal di dekatnya.
Berbeda dengan sekarang, Isander bisa melihat banyak orang yang berkumpul di luar tembok tengah mengobrol dan beraktivitas.
"Siapa mereka yang ada di luar ini?" tanya Isander kepada Giya dan lainnya.
"Mereka adalah orang biasa yang ditolak masuk oleh pemerintah kota karena tidak memenuhi syarat untuk masuk. Mereka memutuskan untuk tinggal di sekitar tembok," jawab Giya sambil menggendong Meisya yang tertidur.
Reza menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sejujurnya, tinggal di luar tembok kota merupakan tindakan yang sangat berbahaya. Bukan karena apa-apa, banyak sekali peristiwa penyerangan monster yang terjadi dan mengakibatkan banyak dari mereka yang mati mengenaskan. Aku tidak tahu, apakah ada berita tentang kematian mereka lagi setelah aku dan Kila meninggal kota beberapa bulan."
"Mereka memang keras kepala, padahal banyak sekali para Agter yang tahu kondisi sekitar kota mengingatkan kepada mereka untuk tidak tinggal di sini." Nina menampilkan wajah yang pasrah.
"Mau bagaimana lagi. Kupikir mereka tinggal di luar tembok kota supaya aman, fakta mengatakan sebaliknya." Kila ikut menggelengkan kepalanya seperti Reza.
Mendengar jawaban mereka, Isander paham dengan orang-orang yang membuat permukiman di sekitar tembok kota.
Terlepas dari apa yang dikatakan oleh mereka semua, Isander menjadi ingin berkunjung ke sana.
Menatap ke mereka semua, Isander melontarkan pertanyaan, "Kalian ingin menukarkan koin, bukan? Lebih baik kalian sekarang masuk ke kota, aku akan menunggu di permukiman di sana. Oh, ya, jangan lupa untuk mengeluarkan bukti pembasmian monster menggunakan tas yang besar yang biasa kalian pakai."
"Baik, aku mengerti, Isander."
"Aku selalu ingat ini."
"..."
Mereka semua tidak keberatan dengan arahan Isander dan bersiap untuk pergi ke dalam.
"Aku dan Kila pergi dahulu, ya! Selamat tinggal, bertemu lagi di sore hari nanti!"
Setelah Reza mengatakan itu, dia dan Kila berlari menuju ke arah tembok tinggi dan besar di kejauhan.
Melihat keduanya pergi, Giya dan Nina saling menatap dan mengangguk.
Giya memberikan Meisya yang tidur ke pelukan Isander. "Kami juga akan pergi sekarang. Jangan lupa untuk beri tahu keberadaan kamu nanti sore."
"Ya, itu pasti. Hati-hati di sana." Isander mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu juga, Isander. Jaga Meisya dengan baik, jangan sampai dia terluka."
"Apalagi itu, pasti aku laksanakan."
Setelah obrolan tersebut, Giya dan Nina berpamitan kepada Isander dan Meisya untuk masuk ke dalam Kota Garuda.
Beruntungnya Meisya tengah tertidur sehingga perpisahan ini tidak berlangsung lama. Kemungkinan besar Meisya akan menangis setelah Giya dan Nina pergi.
Pada sekarang ini, Isander kembali sendiri lagi, dalam sekejap dia merasa Dejavu. Dahulu dia juga sendiri, hanya ditemani Meisya, persis dengan kondisi sekarang.
"Aku juga harus pergi sekarang," gumam Isander. "Tunggu, ke mana aku harus pergi untuk bisa ke sana?"
Jam tangannya tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi lantaran tangan kirinya sedang dipakai untuk menggendong Meisya yang tertidur.
Dengan cepat otak Isander berpikir, dia akhirnya memilih untuk berjalan mengikuti mereka berempat pergi, Isander bisa melihat jalur yang dilalui mereka untuk bisa sampai ke dalam kota.
Otomatis mereka akan melewati permukiman juga, jika tidak lewat, paling tidak jalurnya dekat dengan jalur masuk ke permukiman.
Setelah melangkahkan kakinya mengikuti jalur Giya dan lainnya berlari ke dalam kota selama beberapa menit, Isander tiba di permukiman yang dia tuju.
Sebuah jalan besar yang terbuat dari aspal diinjak oleh Isander, kondisi jalan ini tidak bagus, banyak sekali bagian yang hancur dan berlubang. Kelihatan tempat ini bekas penyerbuan para monster ke kota.
Pada jalan ini, banyak sekali manusia yang tinggal dan bahkan berdagang.
Orang-orang lalu-lalang di jalan ini dengan tujuan masing-masing.
Penampilan mereka semua terlihat kotor, benar-benar tidak terawat.
Dan ini wajar, mereka tidak diurus oleh pemerintah kota sehingga makan dan membersihkan tubuh saja susah.
Kedatangan Isander yang membawa Meisya menjadi objek pandangan orang-orang,
Tampilan Isander yang bersih dengan baju yang sedikit lusuh sambil menggendong seorang anak kecil yang lucu tengah tertidur, membuat orang-orang tanpa sadar mengalihkan sorot matanya kepada sosoknya.
Wajah Isander yang tampan, seperti seorang Agter yang ada di dalam kota menjadi perhatian banyak wanita yang ada di sini.
Isander berjalan mengabaikan orang-orang yang melihatnya, dia fokus berjalan sambil melihat dan mencari sesuatu yang menarik.
Namun, setelah dia melihat-lihat barang-barang yang dijajakan, tak ada satu pun yang membuatnya tertarik.
Kebanyakan barang yang dijual adalah barang rongsok atau bekas, bahkan ada banyak barang rusak yang dijual.
Tepat ketika Isander malas untuk melihat banyak dagangan orang, tiba-tiba seorang anak remaja perempuan menghalangi jalannya.
Perempuan yang berusia belasan tahun ini menghalangi jalan Isander dengan wajah yang memerah.
"Anu, apa kamu tertarik dengan barang milikku?" tanya Gadis remaja ini tiba-tiba. Suaranya yang lembut terdengar ambigu.
Isander bahkan tersentak begitu mendengar pertanyaan dari gadis remaja ini.
Pikiran Isander mengarah ke sesuatu yang tidak-tidak.
Sebagai pria yang normal, Isander menolak dan segera menjawab, "Tidak, aku tertarik dengan barang milikmu."
Di dalam hatinya Isander berkata, "Dunia yang hancur, gadis sekecil ini saja sudah menjual dirinya demi mendapatkan uang."
"Jangan salah sangka dahulu," kata gadis tersebut yang sadar dengan ucapannya yang memiliki banyak arti. "Aku ingin menjual ini."
Gadis tersebut langsung mengeluarkan sebuah boneka beruang berwarna cokelat yang agak lusuh dari tas yang digendongnya.
Menghela napasnya, Isander menjadi lega, ternyata gadis ini ingin menjual boneka padanya.
__ADS_1
"Apakah gadis kecil itu menyukai boneka? Kalau suka, bisakah kamu membeli boneka ini?"
Saat menawarkan bonekanya, gadis remaja ini terlihat sangat menyedihkan. Isander merasa iba melihat ekspresi gadis remaja ini.
Dia memutuskan untuk membeli boneka ini untuk Meisya, kebetulan Meisya tidak memiliki mainan.
"Berapa harganya?" tanya Isander tanpa sadar bahwa dirinya tidak memiliki koin.
"Tiga Koin Agta saja," jawab gadis remaja dengan gembira.
Mendengar jawaban gadis remaja tersebut, Isander menepuk dahinya, dia lupa dirinya tidak punya satu koin pun.
"Apa boleh ditukarkan dengan benda lain? Ditukar dengan makanan contohnya?"
"Barter? Makanan? Boleh, tentu saja boleh!" Gadis remaja ini makin senang.
Isander ikut tersenyum senang, kemudian dia melontarkan pertanyaan lain, "Makanan apa yang kamu inginkan?"
"Um, ayam bakar saja," jawab gadis remaja ini setelah merenung sejenak.
"Oke, aku akan memberikannya kepadamu."
Setelah itu, Isander meletakkan tasnya di atas aspal lalu membuka ritsleting sedikit, dia berjongkok sambil menjaga Meisya tetap tertidur dan memasukkan tangannya ke dalam.
Tiga ekor ayam utuh dengan dibungkus oleh piring dan juga plastik dikeluarkan oleh Isander dari tasnya.
Melihat pemandangan Isander yang mengeluarkan ayam bakar berwarna cokelat, membuat semua orang yang ada di luar tembok tercengang.
"Ambillah, untuk kamu makan nanti."
Isander memberikan ketiga makanan tersebut di tangan gadis remaja dengan cara ditumpuk.
Gadis remaja ini terperangah tidak percaya sambil memandang sosok Isander dengan wajah yang stagnan. Tubuhnya refleks memeluk ketiga makanan tersebut agar tidak jatuh.
"Halo? Mengapa diam saja?"
Mendengar panggilan Isander, gadis remaja ini menggelengkan kepalanya dengan cepat dan sadar dari kebingungannya.
"Anu, maaf!" Gadis remaja ini ingin membungkuk, tetapi tidak bisa karena ada makanan yang dipegang oleh kedua tangannya. Berkemungkinan untuk jatuh jika dia membungkuk.
"Tidak apa-apa, bolehkah aku mengambil bonekanya?" Isander menatap gadis tersebut dengan ramah.
"Tentu, itu milik kamu sekarang." Kepala gadis tersebut mengangguk dengan cepat.
Melihat ini, Isander mengulurkan tangannya dan mengambil boneka yang terkait di jari gadis remaja ini. Boneka beruangnya memiliki tali gantungan.
Mengambil boneka ini, Isander melihat boneka dengan saksama.
Boneka ini dalam keadaan yang cukup baik meski terlihat lusuh karena faktor usia barang yang disimpan terlalu lama. Ukurannya pas untuk dipeluk Meisya dan bulu yang ada pada boneka terasa lembut.
Secara keseluruhan, Isander menyukai boneka ini.
"Ya, aku suka dengan bonekanya. Senang berbisnis dengan Anda," kata Isander dengan suara yang sopan dan tenang.
"Um, senang berbisnis dengan Anda juga." Gadis remaja tersipu dan mengangguk cepat. "Anu, apa aku boleh pergi?"
"Tentu, silakan saja. Aku tidak melarang.
"Terima kasih!"
Setelah mengatakan itu, gadis remaja tersebut berlari ke depan dan berbelok ke dalam jajaran orang berdagang.
Tampaknya di balik kios-kios kecil ini terdapat rumah untuk bisa ditempati.
Isander ingin ke dalam sana untuk melihat seperti apa yang ada di dalam.
Akan tetapi, niatnya tertahan karena banyak orang yang mulai menawarkan banyak barang kepadanya.
"Aku punya sandal jepit keluaran tujuh tahu yang lalu, apakah kamu mau?"
"Ini gelas plastik yang rusak, aku akan memberimu diskon jika kamu ingin membelinya."
"Sayang anak! Dibeli mainan kelerengnya, ini barang baru dan bagus, sedang diobral! Ayo beli!"
"Maukah kamu membeli barang ini, ini adalah konsol gim zaman dahulu, kini telah rusak dan tak bisa hidup."
"..."
Isander menolak tawaran mereka semua dengan sopan dan baik.
Untungnya, mereka tidak memaksa dan menerima tolakan Isander.
Pasalnya, tempramen dan aura tubuh Isander berbeda dengan orang yang ada di sini.
Visual Isander terlihat tinggi, bagai orang elite di permukiman yang kumuh, tidak seharusnya Isander ada di sini.
Dengan banyaknya orang yang berdatangan menawarkan barang dagangan, Meisya yang tertidur menjadi terbangun karena suara bising yang tak sengaja didengar.
Meisya bingung dengan pemandangan ketika bangun, dia terkejut melihat banyak orang di sekitarnya.
Isander memberi tahu Meisya bahwa dirinya sudah sampai di kota, lebih tepatnya di luar tembok kota.
Mengetahui hal ini, Meisya terkejut dan memandang segala hal dengan takjub.
"Wow, boneka!" Meisya langsung memeluk boneka yang dipegang oleh Isander.
Dia sangat menyukai boneka, terlebih boneka yang lucu dan memiliki bulu yang halus.
Mereka berdua berjalan menyusuri daerah permukiman luar kota.
Permukiman ini membentuk melingkar sesuai dengan bentuk tembok yang dibangun.
Jalan aspal sudah menghilang, Isander berjalan di jalan dengan alas tanah, tetapi orang yang berdagang dan berjualan masih ada.
Mereka ada di mana-mana.
Isander dan Meisya berjalan menyisir permukiman, ternyata permukiman ini menyambung ke segala sisi luar tembok kota.
__ADS_1
Dia merasa sedang mengelilingi tembok kota. Lebar kota ini sangatlah luas, Isander membutuhkan waktu berjam-jam untuk mengitari permukiman secara penuh.
"Luas sekali tempat ini, Ayah!"