SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 25: Berangkat Misi


__ADS_3

Tatapan mereka kepada Isander tertulis rasa kekaguman yang luar biasa.


Sebuah lemparan batu bisa membunuh 6 ekor sapi, itu sebuah kekuatan yang sangat besar. Orang biasa tidak akan bisa melakukan hal tersebut, bisa dibilang mustahil.


Tak mungkin 1 ekor pun mati karena lemparan batu dari orang biasa, kecuali lemparan itu membidik kepala dari sapi. Ada kemungkinan untuk mati dan tewas dalam sekali lemparan batu.


Kasus Isander berbeda, ia melemparkan batu ke bagian perut sapi sehingga membuat lubang yang bisa melihat apa yang ada di sisi lain.


Melihat sapi yang mati itu terjatuh dan tak bergerak, dan beberapa sapi berlarian, Isander menginjakkan kakinya ke tanah untuk melakukan sesuatu.


Berikutnya, sebuah bongkahan tanah mencuat keluar dari dalam tanah dan memblokir jalan semua sapi yang berniat kabur.


“Tangkap sapi itu sebelum mereka pergi jauh.“


Setelah kata-kata itu jatuh dari mulut Isander, semua orang tersadar dan mereka bergerak sesuai dengan perintah Isander.


Mereka semua berlarian menuju sapi yang kebingungan dan sempat terjatuh karena menabrak bongkahan tanah yang timbul sehingga tak sengaja tersandung.


Dalam keadaan takjub dengan kekuatan Isander, mereka semua menangkap kumpulan sapi dengan rapi dan terkoordinasi dengan baik.


Giya dan Nina membantu mereka semua untuk menangkap banyak sapi. Mereka menangkap sapi tersisa dengan keadaan hidup lalu digotong menggunakan gerobak besar yang telah mereka bawa.


Gerobak ini mereka bawa dari pemukiman setelah hewan buruan terlihat dan semua yakin untuk memburu hewan ternak tersebut.


Tak selalu gerobak besar ini dibawa oleh mereka, terkadang mereka bisa membawa beberapa sapi dengan cara ditarik kalau masih hidup dan digotong menggunakan bambu bersama-sama.


Setelah melihat semuanya mengikat sapi dengan tali, Isander dan lainnya bergerak kembali ke pemukiman untuk menyimpan sapi-sapi ini di tempat penyimpanan makanan dalam pemukiman.


Untuk 6 ekor sapi yang mati, mereka akan segera potong dan masak. Daging yang dipotong ini akan diawetkan dengan cara pengasapan dan pengeringan supaya tahan lama dan bisa dikonsumsi oleh mereka dalam beberapa hari ke depan.


Mereka ingin mengawetkan dengan cara penggaraman, tetapi garam itu sulit didapatkan dan sangat mahal harganya. Mereka ada stok garam yang sedikit dan itu pun digunakan untuk rasa pada daging yang akan mereka makan.


Pulang dari berburu, hari menjelang sore, ada beberapa watu untuk mereka semua menyimpan hasil buran hari ini.


Total ada 4 sapi yang hidup dan mereka giring ke pemukiman. Sapi-sapi ini terlihat sehat dan segar, apalagi Isander lihat tubuh sapi yang sangat besar karena banyak makan.


Makanan di hutan melimpah karena aktivitas manusia sedikit yang berdampak perusakan hutan yang minim. Lagi pula, sapi hanya memakan rerumputan dan hutan dekat pemukiman banyak sekali rerumputan hijau.

__ADS_1


Sapi-sapi yang hidup tersebut dimasukkan ke dalam area ternak, di sana sudah ada belasan sapi di kandang. Ada beberapa orang yang mengemban tugas beternak, orang-orang ini memiliki pengalaman beternak saat dahulu, sebelum hari kehancuran terjadi. Jadi, orang-orang ini dengan senang hati mengerjakan pekerjaannya.


Melihat ada sapi baru, mereka menunjukkan ekspresi senang. Makin banyak sapi dan hewan ternak lain datang, makin bagus juga hasil ternak mereka.


Selain ternak sapi, ada juga orang yang bertugas beternak ayam. Ada sebuah bangunan yang tak jauh dari kandang sapi, bangunan tersebut berisikan puluhan ayam yang diternak, ini juga hasil dari perburuan dan hasil perkembangbiakan secara alami.


Maka dari itu, hasilnya memang tidak cepat, tak sama seperti ternak ayam dahulu. Jatuhnya peternakan ayam ini serupa peternakan yang dilakukan orang di desa, tak memakai obat, vaksin, vitamin, pakan berkualitas, dan lainnya yang membuat ayam cepat tumbuh besar.


Meskipun begitu, para petugas yang bertugas mengembangbiakkan ayam tahu apa yang harus dilakukan ketika ayam sakit. Ayam-ayam yang mereka pelihara, kebanyakan jarang sakit dan bisa selalu dimakan atau dipanen.


Setelah Isander dan lainnya berburu, mereka semua sama-sama memanggang daging ayam dan sapi untuk malam di rumah.


Mereka dianjurkan untuk makan setelah 2—3 jam langit menjadi gelap, setelah itu mereka harus tidur dan tak boleh menyalakan lampu minyak.


Bukan karena apa-apa, itu akan memancing monster untuk datang.


Monster-monster biasanya bergerak di malam hari. Mereka harus tetap transparan dan menyatu dengan alam.


Tak heran jika Isander melihat setiap rumah disediakan dedaunan kering, gunanya untuk menutupi bagian rumah agar terlihat rusak dan tak terurus.


Ini cara mereka untuk berkamuflase dan bersembunyi dari para monster yang berkeliaran di luar sana.


Minyak lampu yang disediakan juga sudah dimatikan, Meisya tertidur pulas setelah mendengarkan sebuah cerita baru.


Pada kesempatan malam ini, Isander menceritakan sebuah kisah kelinci yang sombong dan kura-kura. Cerita ini sangat klasik dan biasa diceritakan kepada anak-anak.


Sayangnya, cerita ini belum diberi tahu kepada Meisya. Isander baru menceritakannya malam ini.


Di malam hari ini, Isander tak lupa untuk melatih kemampuannya dan memperdalam ilmu kekuatannya.


Tak terasa malam berlalu dan matahari kembali muncul menyinari pemukiman.


Aktivitas Isander dan Meisya tak berubah, mengawali hari dengan sarapan yang cukup karena mereka akan melanjutkan dengan makanan berat di beberapa jam setelahnya.


Giya dan Nina juga datang ke rumah Isander untuk mengajak Isander pergi dari sini dan ikut mereka berdua melakukan misi.


Sebenarnya, misi mereka berdua ini sama, tetapi mereka waktu itu memburu di tempat yang berbeda. Sekarang mereka sepakat untuk memburu bersama karena mereka tahu monster-monster sekarang tak lagi sendirian, kebanyakan dari mereka berkoloni.

__ADS_1


Membuat mereka kesulitan untuk membunuh beberapa dari mereka.


“Kalian ingin membunuh monster ikan?“ tanya Isander kepada mereka berdua yang berdiri di depannya dengan nada yang memastikan.


Giya dan Nina secara bersamaan mengangguk dan membenarkan.


“Salmagtress, monster yang akan kita buru beberapa bulan ini, tepatnya dua bulan lagi.“ Giya menatap Isander dengan serius. “Kamu yakin mau ikut kami berdua?“


“Aku mau ikut, Kak Giya dan Kak Nina!“ Meisya menyahut keduanya dengan wajah yang bersemangat. “Ayah pasti akan membantu kalian. Ayahku hebat!“


Begitu mendengar ini, Isander mengalihkan pandangannya dari wajah imut Meisya kepada mereke berdua. “Jawabanku sama dengan jawaban Meisya. Aku ikut dengan kalian.“


Kedua wanita ini saling memandang setelah mendengar jawaban Isander dan mereka berdua mengangguk. “Baiklah, kita harus bersiap-siap sekarang.“


Selanjutnya, Isander dan Meisya melakukan persiapan. Meisya membawa tas kecil yang berisikan baju, sedangkan Isander berisi makanan yang tak pernah ia tunjukkan isi dari tasnya kepada kedua wanita ini.


Isander juga membawa kantong tambahan yang terbuat dari kain yang sudah kotor, isinya adalah bajunya sendiri.


Sementara itu, untuk makanan daging dibawakan oleh Gina di dalam tasnya.


Mereka berempat keluar dari rumah Isander dan berangkat misi.


“Pak Ghandi sedang mengobrol dengan siapa?“ Isander bertanya kepada Giya dan Nina yang ada di sebelahnya.


Isander melihat ada Pak Ghandi yang mengobrol di pintu pemukiman dengan seseorang, terdapat sebuah kereta yang ditarik oleh kuda di antara mereka berdua.


“Kalau tidak salah, itu adalah salah satu pedagang yang datang ke sini untuk melakukan barter. Umumnya, Pak Ghandi akan menukarkan daging dengan garam yang dibawa pedagang ini.“ Giya menatap Pak Ghandi yang mengobrol dengan seorang pria di kejauhan.


Ketua Pemukiman biasanya akan berdagang dengan seseorang penjual atau pedagang keliling.


Di dunia ini ada seorang penjual atau pedagang yang siap untuk melakukan barter barang dengan orang di pemukiman ini.


“Tolong beri tahu Bapak Ghandi kalau kita semua ingin pergi melakukan misi lagi, mungkin beberapa hari ke depan kami kembali ke sini lagi,” kata Giya kepada Pak Tole penjaga pintu depan pemukiman.


Pak Tole mengangguk. “Siap, akan aku beri tahu Pak Ghandi. Kalian semua harus berhati-hati, jangan sampai terluka, kami menunggu kedatangan kalian selalu!“


“Terima kasih, Pak Tole. Kami berempat pergi dahulu. Sampai jumpa!“

__ADS_1


“Dadah!“


“…”


__ADS_2