SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 116: Bertemu Aqila dan Temannya


__ADS_3

Sejauh mata memandang, Isander tidak menemukan sosok Aqila di daerah persawahan dekat kuat Kota Komodo.


Hanya ada sawah-sawah terasering yang indah dengan padi yang tertancap di bidan sawah yang cukup luas.


Isander dan lainnya mulai membuka payung agar tidak kepanasan.


Mereka sudah menunggu selama hampir 1 jam dan langit makin terasa panas. Isander mau tidak mau harus menggunakan payungnya supaya Meisya tidak kepanasan.


Payung diberikan oleh Giya dan yang lainnya, mereka sempat menukar Koin Agta dengan barang-barang ini. Cukup berguna barang yang mereka beri.


Tepat ketika Isander kembali melihat ke sekeliling, dia akhir melihat beberapa sosok di kejauhan sedang berjalan ke arahnya dari arah kota.


Isander yang tahu siapa saja orang yang berjalan di kejauhan berdiri diam sembari mengobrol kecil bersama Meisya dan kedua gadi remaja di sampingnya.


Tidak lama berselang, orang-orang yang berjalan di kejauhan tersebut sampai di depan Isander.


Melihat Isander di depannya, Aqila tampak kikuk dan mencoba untuk menyapanya "Um, halo."


Suara Aqila terdengar malu-malu dan nadanya yang kecil.


Sebenarnya, Aqila grogi karena melihat Isander menggendong seorang anak kecil yang lucu dan imut. Aqila tentunya tahu siapa anak kecil yang digendong oleh Isander.


Setelah Aqila menyapa, anggota Garuda Comity lainnya ikut menyapa Isander dengan intonasi dan suara yang berbeda.


Sapaan yang paling tak menyenangkan datang dari Tara yang dari awal sudah memasang wajah yang dingin dan sinis.


"Sayang, sapa Tante Aqila, dia teman ibumu," ucap Isander kepada Meisya dengan lembut.


Ketika Isander mengatakan itu, wajah Aqila berubah dan dia menjadi berwajah sedih.


Matanya terfokus ke Meisya yang tampak malu-malu memandangnya.


Pupil mata Aqila bergetar, terlihat sangat rumit ketika melihat Meisya yang hidup dengan sehat dan lucu.


Aqila menjadi teringat dengan ibu Meisya yang telah tiada. Kalau saja dirinya datang tepat waktu untuk menyelematkan dia, mungkin Meisya tidak akan hidup berdua dengan ayahnya saja, ada seorang ibu yang siap memberi kasih sayang selama seharian.


Setelah terdiam sejenak, Aqila tersenyum canggung dan melambaikan tangannya ke arah Meisya, mencoba untuk terlihat ramah dan tidak dingin.


"Halo, Tante Aqila," sapa Meisya yang berhasil memberanikan diri menyebut nama orang yang masih asing.

__ADS_1


Mendengar sapaan Meisya, Aqila merasa hatinya menjadi bahagia dan senang, tanpa sadar senyuman muncul di mulutnya.


Kei, Hendra, dan Sadam ikut tersenyum begitu Meisya memanggil nama Meisya.


Mereka tak bisa menyangkal bahwa Meisya memang sangat imut dan lucu. Tanpa ada suap-menyuap, mereka telah menganggap Meisya sebagai anak kecil terlucu yang pernah mereka lihat selama hidup mereka.


"Ya, aku memintamu datang ke sini hanya untuk mengenalkanmu dengan Meisya. Kamu seharusnya sudah tahu siapa Meisya karena selama kamu yang membantuku di awal-awal saat aku sudah mempunyai Meisya," Isander berkata kepada Aqila dengan suara yang tenang dan juga dalam.


Aqila merespons dengan anggukan kepalanya. Apa yang diucapkan Isander adalah sebuah kebenaran.


Setelah itu, Alseenio melanjutkan, "Juga, aku ingin bilang sesuatu kepadamu tanpa ada orang lain selain kamu, aku dan kedua gadis remaja ini."


Dalam sekejap, Aqila terkejut dan langsung menoleh untuk melihat teman-temannya.


Sehabis mendengar ucapan Isander, teman-teman Aqila merasa diri mereka ditekan oleh sesuatu benda yang tidak terlihat, diri mereka terasa berat, bahkan Tara yang arogan merasa sedikit takut dengan suara Isander.


Dengan tatapan Aqila yang mempunyai arti tersembunyi, mereka berempat meninggalkan Aqila dan pergi ke gerbang Kota Komodo untuk menunggu Aqila selesai berbicara dengan Isander.


Aqila berhasil memenuhi keinginan Isander, kemudian Isander segera memberi tahu sesuatu yang ingin dia ucapkan di pertemuan ini.


"Kamu sudah tahu aku tak bisa bergabung dengan tim kamu karena aku sudah punya tim pribadi. Jadi, tujuanku memintamu datang ke sini adalah untuk merekrut kamu menjadi anggota timku. Maukah kamu menjadi anggota kelompok Isander?" ucap Isander sembari berkontak mata dengan Aqila secara langsung.


Sebelum dia menjawab, Aqila tenggelam dalam pikirannya, merenung untuk memilih antara kedua pilihan, yaitu iya dan tidak.


Butuh waktu lebih dari 1 menit untuk Aqila merenung, akhirnya dia sudah membuat keputusan yang bulat.


Menatap Isander, Aqila membalas, "Baik, aku akan menjadi anggota kelompokmu, tetapi ada syaratnya."


"Syarat? Apa syaratnya?" tanya Isander dengan ingin tahu.


Menarik napas beberapa kali, Aqila menatap wajah Isander dengan mata yang dalam dan berkata, "Aku ingin aku diperbolehkan tetap berhubungan dengan Kota Garuda dan aktif di Garuda Comity sebagai mata-mata."


Mendengar permintaan ini, Isander menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Aqila.


Tentu, Isander ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam Kota Garuda, apakah itu baik-baik saja di bagian dalam kota.


Berjabat tangan dengan Aqila, mereka berdua secara resmi menjadi anggota satu kelompok.


[Ding! Berhasil menerima Aqila! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu kemampuan satu level dan memberikan anggota baru 1 kartu kebangkitan elemen Agta!]

__ADS_1


Suara sistem kembali muncul di telinga Isander, memberi tahu suatu informasi.


Aqila secara terdaftar menjadi anggota kelompok Isander.


Semua anggota kelompok Isander memiliki kesetiaan yang terjamin dan itu berefek langsung kepada orangnya.


Ketika Aqila berjabat tangan dengan Isander, dia merasakan suatu sensasi aneh di kepalanya, kemudian ketika melihat Isander lagi, dia merasakan sesuatu yang berbeda.


Namun, hal aneh ini segera diabaikan oleh Aqila.


Dia tidak tahu bahwa pola pikir dan hatinya sudah berubah. Dia benar-benar setia kepada Isander.


Dengan begitu, Aqila menjadi mata-mata yang ditugaskan untuk memantau situasi di dalam kota.


Dengan kata lain, Isander mengizinkan Aqila seperti sebelumnya bertugas sebagai anggota Garuda Comity, tetapi tetap menjadi anggota kelompok Isander.


Dia di Kota Garuda hanya menjadi seorang pengamat yang berpura-pura menjadi anggota Garuda Comity.


"Ambil kartu ini dan jam tangan ini. Kartu itu kamu gunakan secepat mungkin karena kartu tersebut mampu membangkitkan kekuatan Agta berbasis alam pada dirimu, jam tangan ini alat untuk kita berkomunikasi ...."


Isander menjelaskan tentang kedua barang yang diserahkan kepada Aqila.


Mendengar penjelasan dari Isander membuat Aqila terkejut.


Dia terkejut bukan hanya karena manfaat kedua benda ini, melainkan terkejut karena Isander bisa membuat tembok tinggi di sekitar mereka hanya dengan hentakkan kaki ringan.


Kemampuan Isander satu ini baru dilihat oleh Aqila. Dan kemampuan Isander yang satu ini sangat luar biasa.


Pada saat yang sama, Tara, Kei, Sadam, dan Hendra terperangah dengan mata yang melotot ke arah Isander.


Mereka baru tahu Isander punya kekuatan yang berunsur tanah.


"Ini terlalu berlebihan bukan?" kata Kei melirik ke arah teman-temannya yang masih terkejut.


Tanpa ragu lagi, Aqila mengenakan jam tangan dan menyimpan kartu di dalam tasnya.


Dia akan menggunakannya nanti.


"Ambil tas ini. Di dalam tasnya ada makanan yang bisa dikonsumsi selama satu Minggu untuk kanu. Dan barang ini, ambil empat kantung makanan ini untuk mereka."

__ADS_1


__ADS_2