SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 82: Monster Rusa


__ADS_3

Monster yang terbelah menjadi dua ini memiliki bentuk tubuh yang berbeda dari yang lainnya, berbeda dengan Goatager.


Namun, monster satu ini punya kesamaan dengan Goatager, yaitu sama-sama terdapat tanduk di atas kepalanya dalam bentuk yang tak sama.


Jika dilihat dengan lebih hati-hati, Isander mengetahui apa jenis hewan yang terkontaminasi oleh bakteri atau virus aneh di dunia ini.


"Rusa? Agak mirip dengan rusa, tetapi banyak perbedaan pada tubuh ini," gumam Isander sambil melihat kedua potongan tubuh monster tersebut dari jarak yang lumayan jauh.


Dia sedang menggendong Meisya, tidak bisa dekat dengan mayat monster yang ia bunuh, bau yang tidak enak akan dihirup oleh Meisya yang tertidur, itu akan membuatnya terbangun.


Dengan spekulasi yang dia percayai yang otomatis menjadi asumsi, dia kembali ke rumah untuk menempatkan Meisya tidur di kamarnya lagi, jika seperti ini terus, kemungkinan besar dia akan bangun dari tidur nyenyak.


Akan tetapi, tepat ketika dia sedikit lagi sampai di depan halaman rumah kayu, sebuah getaran halus di tanah terasa dari kakinya membuat Isander berhenti berjalan dan menatap ke sekelilingnya.


"Perasaanku saja atau tanah ini benar-benar bergetar barusan?"


Bam!


Kini bukan getaran lagi yang muncul, Isander mendengar suara langkah kaki yang menghantam tanah dengan kuat.


Sumber suara ini cukup jauh, telinganya bisa mendeteksi suara tersebut berada di ratusan meter jauhnya.


Perasaan jelek muncul di hati Isander, dia bergegas meletakkan Meisya di dalam rumah, kemudian dia membuat perlindungan tembok tanah di sekitar rumah membentuk lingkaran penuh.


Ketinggian tembak berkisar 4 meter dengan permukaan dinding terdapat duri-duri tajam berukuran 1 meter yang mencuat ke luar.


Setelah melakukan ini, Isander langsung memberi tahu Giya dan Nina untuk segera ke rumah jika penukaran koin telah dilakukan.


Bum!


Sosok Isander melompat dengan tinggi ke dahan salah satu pohon terdekat, dan tubuhnya melewati tembok yang dia buat dengan mudah.


Bayangan Isander bergerak di antara pepohonan dengan kecepatan yang tinggi, setiap pohon yang dia lewati bergoyang hebat hingga menjatuhkan banyak dedaunan yang layu.


Saat ini, Isander tampak sangat khawatir dan hati-hati. Alasan mengapa dia menempatkan Meisya di rumah karena dia tidak bisa membawa Meisya untuk bertarung dengannya.


Musuh yang akan dilawan kali ini terasa cukup menakutkan.


Lagi pun, di sekitar rumah tak ada monster, tetapi dia tetap membangun dinding berdiri untuk berjaga-jaga.


Dia yakin, Meisya baik-baik saja ditinggal di rumah.


Mengingat Giya dan Nina sudah mengonfirmasikan mereka berdua sedang berangkat pulang menuju rumah.


Makin jauh Isander berlari di antara pohon-pohon, makin keras suara benturan antara kaki dan tanah, langkah kaki ini terasa berat seolah-olah suara ini berasal dari raksasa.


"Monster rusa versi besar?" Berjongkok di atas dahan pohon, Isander melihat pelaku dari suara yang mengganggu tersebut.


Dugaannya benar, sosok dari monster yang membuat suara dentuman yang keras adalah seekor monster dengan ukuran jumbo.

__ADS_1


Ukurannya bahkan sama besar dengan monster beruang yang pernah Isander lawan, yakni Beargarets.


Namun, bentuk monster ini berbeda dengan beruang tersebut, dengan tinggi 9 meter dan panjang tubuh ke belakang 12 meter, monster ini mirip sekali dengan rusa raksasa dengan tanduk besar bercabang dan besar, kulitnya ditutupi oleh luka kering dari akar tumbuhan kecil memenuhi tubuh yang tak terluka.


Dapat dilihat sangat jelas jika suara hantaman tanah yang kuat berasal dari keempat kaki monster ini.


Tanah yang diinjak menjadi retak dengan garis halus yang membelah permukaan tanah dan menjalar lebih dari 1 meter.


Melihat ini, Isander memasang keseriusan yang tinggi. Tampaknya, dia telah menemukan lawan yang pasti. Kemungkinan dia dapat mengetahui batas kekuatan dari armor dan pedangnya ini.


Dengan niatnya yang ingin berhadapan langsung dengan monster ini, kemampuannya diaktifkan di detik berikutnya.


Seluruh tubuh Isander dibungkus oleh sebuah armor yang terbuat dari suatu material yang tak diketahui, dan sepotong pedang panjang muncul dari udara tipis tepat di tangan kanannya.


Whoosh!


Isander meluncur ke bawah dan mendarat di depan tubuh monster tersebut dengan kondisi tanpa goresan dan luka.


Berdiri di hadapan monster besar ini, mendongak ke atas, mata Isander menatap ke dua bola mata monster ini yang telah menemukan keberadaannya.


Tanpa banyak bicara, monster rusa yang begitu besar ini mengangkat kakinya hendak menginjak Isander yang kecil bagai tikus kecil.


Kecepatan Isander cukup untuk menghindari serangan remeh ini.


Sebuah senyuman muncul di balik helm zirah, Isander merasa dirinya direndahkan oleh monster jelek di depannya ini.


Didukung oleh perasaan yang sedikit kesal, tangan Isander bergerak sangat cepat, mengayunkan pedang Havoc Zweihander ke arah kaki yang memaku ke tempat dirinya berdiri sebelumnya.


Graahhh!


Monster ini seketika meraung kesakitan dengan sosoknya yang terlihat ingin runtuh karena kehilangan keseimbangannya.


Akan tetapi, kaki yang terbelah tersebut mengalami penyembuhan yang cepat dan dapat disebut sebagai regenerasi.


Potongan daging, tulang, dan akar pohon saling mengikat dan bersatu membuat sebuah kaki yang baru.


Alis Isander terangkat naik, ini tampak menarik. Dia benar-benar menemukan objek uji coba kemampuannya dengan tepat.


"Bagus, aku bisa mengeluarkan seluruh kemampuan dari armor ini padamu. Saatnya menguji armor ini."


Setelah mengatakan itu, Isander menghilangkan pedang Havoc, berniat untuk berkonfrontasi dengan monster ini hanya menggunakan kedua tangannya.


Mata monster yang teralihkan kembali menatap Isander yang berdiri di bawah di depannya.


Amarah yang memuncak mengendalikan sebagian tubuhnya, matanya menjadi lebih merah dari sebelumnya.


Kaki monster ini kembali terangkat, kali ini kaki kirinya, kecepatan gerakannya lebih cepat beberapa kali lipat dari sebelumnya.


Bang!

__ADS_1


Asap membumbung dengan bongkahan tanah terlempar ke segala arah.


Kecepatan fisik Isander masih lebih cepat dari serangan monster, dia dapat dengan mudahnya mengelak tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak.


Whoosh!


Usai menghindari hantaman kaki monster ini, Isander mengubah arahnya dan meluncur cepat menuju kaki yang ingin menumbuk tubuhnya.


Isander meninju kaki monster dengan sarung tangan armor, dan sebuah pukulan yang keras, membuat kaki ini menjadi retak bagai kayu yang dipukul oleh benda berat.


Tinju Isander terus berakselerasi dengan kecepatan yang tak dapat dilihat oleh mata orang biasa, meninju kaki ini berturut-turut.


Di bawah pukulannya, kaki monster yang menjadi objek hantaman ini memiliki kerusakan yang serius, darah dan daging terurai dan tersebar ke mana-mana, membuktikan bahwa pukulan Isander sangat-sangat kuat.


Pukulan ke daging terus berlanjut sampai seluruh kaki kiri monster ini hancur di beberapa detik lamanya.


Brak!


Kaki kiri monster tumbang dan hancur, rasa sakit yang tak tertahankan dengan jelas sedang dialami monster ini.


Emosi marah benar membuat monster ini gila.


Membuka mulutnya sampai lebar, sebuah duri tajam keluar dari dalam mulut dan membidik Isander yang ada di bawahnya.


Mengetahui gerakan ini, Isander mundur ke belakang dengan tiga kali lompatan.


Tsuk! Tsuk! Tsuk!


Ratusan duri kayu dengan panjang 30 sentimeter menancap kuat pada permukaan tanah.


Saking banyaknya duri yang keluar dari mulut monster ini, kelihatan mirip dengan hujan.


Isander terkejut dengan penyerangan yang dilakukan monster ini, ternyata monster besar satu ini memiliki kemampuan unik yang cukup kuat untuk melawannya.


Bukannya takut, Isander menjadi bersemangat mengetahui ini, dia menjadi lebih semangat untuk bertempur melawan monster rusa raksasa di depannya hanya bermodalkan kemampuan mode beast.


Mengandalkan kecepatannya, dengan mudah Isander memukul kedua kaki monster memakai seluruh kekuatan fisik dan armornya.


Sebelumnya, Isander telah menahan kekuatannya. Kali ini, dia akan menjadi serius.


"Rain Fist!"


Sebuah bayangan keluar di depan tubuh Isander, dan pukulan dengan kecepatan yang melebihi kecepatan suara menghancurkan kedua kaki tersebut dengan cepat.


Tidak perlu banyak detik yang dia pakai, hanya membutuhkan waktu 4 detik untuk Isander melakukan itu semua.


Tinju yang diselimuti oleh sarung tangan armor berwarna lilac terus bermunculan dengan akselarasi kecepatan gerakan yang sangat tinggi.


Pada kesempatan kali ini, Isander mengubah target menjadi kedua kaki depan monster ini selagi kaki depannya sedang beregenerasi.

__ADS_1


"Sayangnya, aku sudah bosan dengan bermain fisik. Maaf, aku harus membunuhmu sekarang!"


Pedang Havoc Zweihander muncul di tangan kanan Isander, dengan tebasan horizontal, kedua kaki depan yang sedang beregenerasi terpisah kembali.


__ADS_2