
"Benar, sangat luas, Sayang. Kamu senang melihat orang-orang di sini?" Isander menatap anaknya dan bertanya tentang tanggapan anaknya ini.
Respons Meisya membuat Isander terkejut, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menjawab dengan suara yang sedih, "Tidak, Ayah. Meisya tidak suka melihat mereka yang orang bukan baik. Banyak teman-teman Meisya didiamkan begitu saja, mereka jahat."
Mendengar ini Isander terdiam dan berpikir sejenak.
"Kamu mau ayah membantu mereka semua, Sayang?"
"Boleh, apakah ayah masih memiliki makanan? Aku ingin ayah memberi mereka makanan yang Meisya suka, yaitu susu dan sereal, hihi."
Isander tersenyum dan mengangguk, makanan dan minuman yang disebut Meisya masih banyak. Kebetulan dia mendapatkan makanan 50 ton lagi. Itu sangat-sangat berlimpah.
"Oke, kalau itu Meisya. Kalau orang lain tidak baik, kita harus menjadi orang yang baik sesuai apa yang kita inginkan," kata Isander memandang wajah Meisya dengan senyuman yang penuh perasaan sayang.
Kepala Meisya mengangguk kejam, "Ya! Itu benar! Aku ingin menjadi orang baik yang menolong orang!"
"Ayo kita beri mereka makanan untuk membantu mereka!"
"Ayo, Ayah!"
Setelah itu, Meisya ikut turun dan berjalan bersama Isander sambil bergandengan tangan.
Mereka berjalan mencari anak kecil yang terlantar di sini, cukup banyak, setiap 10 meter mereka berjalan pasti ada saja anak kecil yang muncul.
Ketika berjalan 10 meter ke depan, mereka menemukan dua anak kecil berjenis perempuan yang duduk di pinggir sebuah bangunan kayu. Mereka duduk bersandar sambil memandangi orang yang lalu-lalang dengan pandangan yang bingung dan kosong.
Melihat keduanya, Meisya langsung menarik Isander ke arah mereka, kemudian tanpa basa-basi lagi, Isander mengeluarkan makanan dan memberikannya kepada anak-anak ini dibungkus dengan kantung plastik hitam.
Sengaja memakai itu agar orang-orang tidak tahu apa yang diberikan oleh Isander kepada anak-anak ini meski mereka tetap penasaran.
Dengan demikian, Isander memberikan makanan yang sudah dimasukkan ke dalam plastik secara diam-diam, dibantu Meisya yang membisikkan kepada mereka berdua bahwa dia dan ayahnya ingin memberi makanan.
Untungnya, sesama anak kecil mereka bisa saling mengerti dan tidak curiga.
Kedua anak kecil ini menerima makanan yang diberikan Isander yang berisi beberapa nasi bungkus, dua kotak susu dan sereal.
Kantung yang diberikan Isander cukup besar karena isinya yang terhitung banyak.
Isander dan putrinya terus membagikan makanan kepada anak kecil yang mereka temui.
__ADS_1
Total ada 113 anak kecil yang mereka bagikan makanan dan minuman untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Tentu dengan variasi makanan dan minuman yang berbeda, tetapi juga dnegan jumlah berat yang sama.
Kegiatan mereka berlangsung sampai sore, dan kembali lagi ke tempat awal Isander melakukan transaksi dengan seorang anak kecil, gadis remaja penjual boneka.
Namun sayang, Isander tidak menemukan sosok anak kecil tersebut.
Dia tidak bisa lebih lama di sini karena hari sudah mau gelap dan dia harus bertemu dengan anggota-anggota kelompoknya.
Isander menggendong Meisya yang masih segar bugar keluar pemukiman dan pergi ke tempat Isander dan lainnya berpisah.
Tempat itu menjadi tempat pertemuan untuk mereka lagi, Isander sudah menghubungi masing-masing dari mereka melalui jam tangan.
Orang-orang tidak tahu Isander menggunakan gadget jam tangan pintar dan canggih, Isander menggunakan jam tangan dengan sembunyi-sembunyi, jika sudah dipakai dia langsung memindahkan jam tangan ke mode tembus pandang atau tak kasat mata.
Berdiri bersama Meisya di atas rumput sambil memandangi tembok kota yang makin menjadi gelap, mereka menunggu Giya dan lainnya di tempat awal berpisah.
Tidak lama mereka menunggu, Giya dan Nina muncul di dalam pandangan Isander.
Mereka berlari cepat di kejauhan, jaraknya ada di ratusan meter dari tempat Isander berdiri dengan putranya.
Setibanya di depan Isander, Giya dan Nina mendekati Meisya dan menciumi pipinya untuk melepas rindu.
Giya menggendong Meisya dengan wajah yang senang.
"Bagaimana? Apakah berhasil menukarkan koinnya?" Isander memandang keduanya dan bertanya dengan alis kanannya sedikit terangkat.
Senyum senang terbentuk di mulut mereka. Giya menjawab dengan suasana hati yang gembira, "Semua bukti sudah diambil walau prosesnya lama. Kami membelikan banyak barang dari koin agta yang kami berdua miliki. Salah satunya kami membelikan Meisya baju bagus, dan juga pakaian untuk kamu."
"Apakah itu benar, Kak Giya?!" Meisya sangat senang mendengar Giya membelikan dirinya beberapa set pakaian.
"Iya, Gadis Manis. Nanti aku berikan bajunya setelah kita ada di tempat peristirahatan." Giya mengangguk dan tersenyum begitu lembut.
"Yay!!" Meisya mengangkat kedua tangannya terlihat sangat senang.
Mereka bertiga melihat Meisya dengan senyuman yang tulus, mereka sama-sama ikut gembira.
Beberapa menit berlalu setelah kembalinya Giya dan Nina, sosok Reza dan Kila pulang kepada Isander dan lainnya dengan mengabarkan sebuah berita.
"Kami sudah berhasil menukarkan barang-barang. Kila ingat Meisya, dia membelikan Meisya dua pasang baju. Kebetulan sekali ada yang menjual baju tersebut," jelas Reza menerangkan tentang kejadian yang dialaminya.
__ADS_1
Kila mengangguk membenarkan, kemudian mengeluarkan satu set pakaian anak kecil yang cocok untuk Meisya, pakaian tidur atau piyama.
Mata Meisya membesar, dia sangat tertarik dengan baju tersebut dan meminta Kila memberikan pakaian piyama kepada Meisya.
Barangnya cukup bagus, masih dalam keadaan yang baik tanpa ada kecacatan yang berarti.
Meisya menyukai semua pakaian yang dibelikan oleh keempat orang di depannya. Hari ini adalah hari yang sangat disukai oleh Meisya.
Dia mendapatkan banyak pengalaman yang seru dan indah, ditambah dengan hadiah barang yang diberikan oleh orang-orang terdekat.
Semua barang pembelian mereka berempat disimpan di tas penyimpanan masing-masing, Isander tidak memiliki tempat untuk menyimpan barang-barangnya.
Selain itu, mereka berempat membeli perlengkapan dan peralatan untuk kebutuhan sehari-hari yang harus mereka pakai, contohnya korek api, botol plastik, tali panjang, sabun, dan lainnya.
Mereka membeli barang yang diperlukan untuk bersama.
Akan tetapi, mereka tidak membeli makanan jadi, melainkan membeli bumbu dasar untuk memasak.
Semua kebutuhan mereka untuk hidup bersama dalam kelompok cukup terpenuhi.
Masalah makanan, Isander sudah memberi tahu dirinya yang akan memberi makanan anggota. Dengan kata lain, Isander sebagai pemimpin harus memberikan makana.
"Kita mau tidur di mana?" tanya Giya yang masih menggendong Meisya yang belum tidur.
Matahari sebentar lagi menghilang, mereka akan sulit untuk melihat wajah satu sama lain untuk berbicara.
Mendengar pertanyaan dari Giya, Kila menjawab sangat jujur, "Tidak tahu, aku bagaimana Reza dan Isander saja?"
Kila tidak tahu ingin di mana mereka tidur dan beristirahat, dia akan mengikuti Reza dan pilihan Isander.
Menatap keempatnya, dan Isander melontarkan pertanyaan, "Apakah ada tempat yang di sekitar sini, kecuali permukiman luar tembok? Seperti reruntuhan dan hutan yang tinggi?"
"Ada, aku masih ingat. Itu ada di bagian timur, tepatnya di dekat permukiman luar tembok kota," jawab Reza yang masih ingat denah daerah sekitar Kota Garuda.
"Benar, aku baru ingat itu!" tambah Kila yang teringat tentang hal tersebut.
"Ayo bergegas ke sana!" ajak Isander tanpa basa-basi lagi. "Reza, kamu pimpin jalan."
"Baik, laksanakan!"
__ADS_1