
Suara dentuman itu samar-samar terdengar sampai ke tempat di mana Tara berlari.
Mendengar ini, Tara benar-benar mengeluarkan seluruh kecepatan larinya untuk bisa sampai ke Kota Komodo.
Kakinya menendang tanah dan menerbangkan tubuhnya hingga melesat dengan cepat ke arah depan.
"Bertahanlah! Aku sebentar lagi akan sampai!" ucap Tara dalam hatinya sambil menatap ke depan.
Tersisa beberapa kilometer lagi untuk dia sampai, perkiraan memakan waktu beberapa menit lamanya. Seharusnya, mereka bisa menahan monster itu beberapa menit dari sekarang.
Tara yang arogan dan kerap mendominasi benar-benar belum sanggup melawan monster misterius yang telah lama dia cari.
Ketika menemukan monster itu, dia benar-benar tidak sebanding kejutannya dengan monster ini.
Jujur saja, dia dengan kekuatannya saat ini bisa mengalahkan monster level A lainnya, tetapi untuk kasus kali ini dia harus mengakui dirinya belum mampu.
Timnya saja tidak sanggup mengalahkan monster tersebut. Mau itu Aqila, Kei, Sadam, dan Hendra, mereka bergabung pun Tara tebak monster ini sangat sulit ditaklukkan.
Terlebih mengingat Aqila yang tampak aneh dan melemah, hal itu menurunkan harapan mereka dalam mengalahkan monster ini.
Dengan begitu, satu-satunya cara adalah meminta bantuan Agter lain dalam menghentikan monster dan memusnahkannya.
Deegiant, monster misterius yang katanya tidak banyak populasinya, bahkan beberapa tahun lalu hanya ada rumornya saja.
Akan tetapi, Garuda Comity pernah bertemu dengan monster ini sekilas, dan monster ini menghilang entah ke mana dengan memperlihatkan bagaimana monster tersebut pergi.
Alasan Tara dapat mengenali monster ini ialah karena tanaman merambat yang bergerak cepat. Pria ini lantas teringat momen di mana monster Deegiant menghilang dengan meninggalkan jejak tanaman merambat berbentuk seperti akar panjang yang bergerak begitu cepat.
Mereka tidak menyangka, monster ini jauh lebih kuat dari mereka.
Tara telah menimbang-nimbang dan memperkirakan kemampuannya, dan dia memiliki perasaan bahwa dirinya tak sanggup melawan monster ini meski telah menggunakan seluruh kemampuannya.
Bisa dilihat dari pertempurannya di atas tubuh Deegiant. Tebasan celurit yang ia banggakan tidak mampu memotong sepenuhnya leher dari monster lantaran tanaman merambat dengan cepat mengganti tanaman merambat yang berkumpul dan berhasil dipotong oleh celuritnya.
Walaupun itu bisa Tara potong sampai dalam secara lambat, tak mungkin baginya untuk terus melakukan hal tersebut. Membuang waktu sekaligus membuat kesempatan monster untuk menyerangnya.
Oleh sebabnya, Tara melompat turun dari atas tubuh monster dan memilih untuk menyerah daripada terus berjuang, lebih lagi saat itu dia tahu bahwa temannya sudah hampir sampai.
Dengan mata yang tajam, akselerasi Tara meningkat dan tubuhnya bergerak seringan dan secepat angin yang mengamuk.
Pada saat ini, asap debu yang menjulang menutupi tempat di mana Deegiant terbaring dan ingin bangkit mulai menipis.
Pemandangan yang ada di dalam asap berangsur-angsur terlihat.
Sosok Deegiant yang seharusnya mati karena tiga serangan kuat dari ketiga anggota Garuda Comity sekarang tengah terbaring lemah dengan luka tubuh yang berat.
Sebagian besar tubuhnya berlubang, api dan es membeku masih menempel di tubuhnya dan teres mencoba menghancurkan tanaman merambat yang bersatu dan membentuk tubuhnya.
"Apakah kita berhasil?" tanya Hendra pada mereka bertiga.
Aqila dan lainnya sedang bertengger di salah satu pohon tinggi dekat monster Deegiant. Mereka semua memantau monster dari jauh usai mengeluarkan jurus mereka paling kuat.
Mata Aqila berpindah, menatap Hendra dan dia menjawab dengan ragu, "Entah, aku tidak tahu."
"Seharusnya, monster ini tak bisa menahan dahsyat kita. Bukankah level S waktu itu pernah kita kalahkan dengan serangan gabungan kita?" kata Kei dengan penuh keyakinan.
Mereka adalah orang-orang yang dihargai oleh pemerintah karena berhasil mengalahkan monster level S di detik-detik terakhir.
Secara teknis dan logika, serangan gabungan mereka memang kuat dan cukup membunuh monster ini.
"Dahulu kita membunuh monster level S itu di saat monster sedang sekarat. Lagi pula, serangan gabungan kita harus dilakukan bersama Tara, dan serangan barusan tidak disertai serangan dari Tara." Hendra menetap Kei dengan wajah yang ragu.
Dalam sekejap mereka terdiam.
Kata-kata Hendra ada benarnya juga, mereka tak bisa menyangkal ucapannya karena semua itu adalah fakta.
Ketika mereka berhasil mengalahkan monster level S yang merupakan monster level atas, kondisi mereka sedang mendukung karena saat itu monster tersebut sedang sekarat akibat dibombardir oleh banyak serangan dari ribuan Agter yang ada di kota.
Jika saja mereka berlima melawan monster tersebut dalam kondisi sehat atau normalnya, mereka sudah tahu apa hasilnya.
Pandangan mereka berpindah bersama ke arah monster, dan memilih untuk mengawasi dari jauh.
__ADS_1
Baru saja mereka kembali melihat sosok monster, segerombolan tanaman merambat mulai berdatangan. Tidak diketahui dari mana asal tanaman tersebut, yang pasti tanaman ini mulai membentuk kembali tubuh monster Deegiant yang penuh luka habis bakar dan dibekukan.
"Tidak, kita harus mengganggu monster ini beregenerasi!" Kei yang melihat ini dengan cepat memberi arahan kepada semuanya.
Aqila dan anggota lainnya dengan sigap turun dari pohon dan berlari menuju tempat monster itu terbaring lemah.
Sratt!
Pedang di tangan Aqila menebas dengan cepat tanaman merambat yang mencoba untuk menyatu dengan monster dan menyembuhkan lukanya dengan cara menutupi kerusakan pada tubuhnya.
Selain Aqila yang menyerang, Sadam dan Kei juga merilis serangan di arah lain untuk menghentikan tanaman merambat yang mendekat ke tubuh monster.
Mereka berpencar untuk lebih efesien dalam mengganggu penyembuhan monster.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi pada mereka.
Bang!
Monster ini tiba melepaskan gelombang udara yang kuat, bahkan mampu melemparkan Aqila dan lainnya sampai menabrak pohon terdekat.
Sebuah suara aneh terdengar dari tubuh monster yang terbaring ini, dan kemudian monster ini menarik segala sesuatu pepohonan di sekitarnya dengan melalui tanaman merambat yang ditahan oleh Aqila dan teman-temannya.
Groaahh!
Tidak sampai 10 detik berselang, monster ini memulihkan kembali tubuhnya. Semua luka yang tercetak pada tubuhnya menghilang seolah itu tak pernah ada sebelumnya.
Berdiri tegak dengan keempat kakinya, mulut rusa besar terbuka dengan mengeluarkan suara yang membuat sakit telinga saking kerasnya.
Aqila, Kei, Sadam, dan Hendra masih tidak sadarkan diri akibat serangan tiba-tiba monster ini. Mereka terluka akibat benturan kuat pada batang pohon.
Swosshhh!
Beberapa tentakel yang terbuat dari tanaman merambat terbang sangat cepat, berniat untuk mengambil tubuh mereka berempat untuk sesuatu.
Keempat tentakel yang memanjang tersebut terulur cepat menyambar tubuh Aqila dan lainnya satu per satu.
Tanaman merambat yang keluar dari tubuh monster melilit tubuh Aqila dan lainnya untuk dibawa ke dekatnya.
Melihat Aqila dan yang lainnya berhasil tertangkap, monster ini menampilkan sebuah senyuman samar-samar, dan kemudian berencana untuk kembali berjalan ke arah Kota Komodo.
Tidak tahu kapan ada sosok pria datang di atas kepala monster Deegiant. Sosok itu adalah Isander yang berdiri di kepala Deegiant dengan gagah sambil memegang Dark Spear tampak sangat bergaya.
Berikutnya, Isander menancapkan bilah tombaknya tepat di ubun-ubun monster dan energi berwarna hitam memancar keluar mengacak-acak tanaman merambat yang membentuk kepala besar ini.
Duar!
Kepala monster ini meledak bagai semangka yang ditembak. Membuat tubuh besar monster tak memiliki kepala lagi.
Tubuh monster kehilangan keseimbangan, tubuhnya terguncang ke kanan dan ke kiri akibat kehilangan kepalanya.
Tubuh Aqila dan lainnya terlepas dari ikatan tanaman merambat yang panjang dan keempatnya terjun ke bawah.
Dengan kecepatan tubuh Isander yang luar biasa, dia sempat menangkap tubuh Aqila, sisanya dia tangkap dengan menggunakan kemampuan batang pohonnya untuk menggerakkan pohon terdekat melemahkan kecepatan mereka ketika mendarat di tanah.
Bam!
Isander berdiri di tangan sembari memeluk Aqila yang masih belum sadar dengan mata yang tertutup.
Melihat wajah Aqila, Isander teringat masa lalu saat di sekolah, wanita ini tak berubah banyak meski sudah bertahun-tahun tak bertemu.
Tepat ketika Isander menatap wajah Aqila, mata Aqila yang tertutup tiba-tiba terbuka lebar dan dia memandang wajah tampan Isander dengan pupil yang membesar.
Melihat Aqila yang bangun dan menatapnya, Isander juga ikut terkejut.
Keduanya terdiam sambil melirik satu sama lain dalam waktu yang lama.
"Sial, kenapa badanku terasa sakit?!"
"Mengapa ada banyak ranting kecil yang menempel di tubuhku?"
"Siapa yang menempatkan aku di atas pohon dalam posisi ini?!"
__ADS_1
Beberapa suara terdengar oleh mereka berdua, membuat Isander dan Aqila sadar akan gerakan mereka sendiri.
Lantas, Isander menurunkan tubuh Aqila di tanah dan dia kembali ke mode seriusnya. Memunculkan tombak hitam di tangan kanannya menghadap monster Deegiant yang kini kembali terjatuh dan tergeletak dengan posisi miring.
Sementara itu, Aqila berdiri di sebelah Isander dengan gugup sembari menepuk-nepuk pakaiannya yang masih terbungkus jubah hitam yang menutupi pakaian aslinya.
Terlihat wajah Aqila memerah sejak insiden dirinya dan Isander saling bertatapan. Dia baru sadar, Isander yang sekarang jauh lebih tampan dari sebelumnya, bahkan terdapat rasa misterius dan juga maskulinitas yang kuat.
Wewangian dari tubuh Isander yang khas tercium oleh hidungnya, tidak tahu mengapa dia selalu ingin mencium aroma itu lagi.
"Hei! Siapa kamu?!"
Kei dan teman-temannya menghampiri Aqila dan Isander dengan penampilan yang berantakan. Pakaian pada tubuh mereka sudah dikotori oleh tanah dan juga bagian-bagian kecil dari pohon.
Penampilan terlihat lucu, hampir saja Aqila tertawa melihat kondisi mereka yang seperti ini.
"Monster ini mulai beregenerasi lagi." Isander menatap monster di kejauhan dengan pandangan yang dalam.
Tanpa memberi mereka berempat kesempatan untuk berbicara, Isander memberi pesan dengan matanya masih mengamati pergerakan monster di depannya, "Kalian tak perlu melawan monster ini, aku tahu kalian tidak bisa mengalahkannya, biar aku saja."
"Apa maksudmu?! Kamu meremehkan kemampuan kami??" Sadam yang agak tenang tiba-tiba tersulut emosi karena ucapan Isander yang terdengar merendahkan timnya.
Isander mengalihkan pandangannya ke arah ketiga pria ini untuk melihat mereka.
Namun, ketiganya dalam sekejap menjadi memasang kewaspadaan karena mereka merasakan sinyal bahaya dari Isander.
Kei yang satu tingkat lebih kuat dari Sadam dan Hendra mengeluarkan butiran keringat dari dahi dan punggung belakangnya.
Tatapan mata Isander yang terlihat biasa ini terasa mengintimidasi dan menekan mereka untuk tunduk pada perintahnya.
Siwar api, tubuh gorila, dan penguatan kekuatan tiga kali lipat diaktifkan oleh mereka bertiga, siap untuk bertempur melawan Isander demi menjunjung tinggi martabat mereka sebagai seorang Agter.
Akan tetapi, Isander yang berdiri di dekat Aqila tiba-tiba dibungkus oleh sesuatu berwarna hitam dengan cahaya lilac.
Saat mereka melihat Isander yang berubah wujud, mereka terpana dengan tubuh mematung tak bergerak.
Benar, apa yang Isander perlihatkan ini mirip dengan sosok yang mereka takutkan di suatu pemukiman beberapa hari yang lalu.
"Kamu ...."
Kei bertekuk lutut begitu melihat Isander dalam bentuk ini, Sadam dan Hendra pun terjatuh di atas tanah dengan posisi berlutut sambil memandang Isander yang tertutupi oleh Cenagon Armor.
Mereka tidak salah, sosok yang membantai monster level B dengan mudah adalah Isander. Mereka masih jelas mengingat bentukan sosok tersebut yang mereka lihat di salah satu pemukiman.
Tak menyangka sosok ini merupakan seorang manusia yang bahkan terlihat sepantaran dengan mereka usianya.
Tidak hanya mereka saja, Aqila pun terperangah sampai dia menjaga jarak dari Isander takut dirinya terluka tak sengaja oleh Isander.
Dia merasakan semburan kekuatan yang besar dari tubuh Isander, ditambah armor hitam keren dan cantik ini memberi kesan menakutkan dan misterius.
Aqila belum pernah melihat baju zirah yang mirip dengan ini.
Masih hal yang aneh bagi Aqila terhadap Isander, dia masih ingat berapa hari atau Minggu yang lalu Isander belum punya kekuatan kuat seperti ini.
Tak pernah Isander menunjukkan bahwa dirinya memiliki kekuatan yang hebat.
Namun, dia belum memastikan apakah Isander benar-benar tidak punya kekuatan atau mungkin menyembunyikan kekuatannya selama ini dan berpura-pura menjadi orang yang lemah.
Pada intinya, Aqila benar-benar tidak menebak Isander akan sekuat ini. Kekuatannya sudah dikalahkan oleh Isander, bahkan dia merasa Isander beberapa tingkat lebih kuat darinya.
Aqila menjadi penasaran bagaimana Isander bisa sekuat ini. Apakah dia melewati berbagai perjalanan sulit yang membuatnya makin kuat? Dia benar-benar ingin tahu tentang hal tersebut.
Tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Isander berbalik menghadap monster Deegiant yang tengah beregenerasi dan melompat sangat tinggi hingga tanah yang menjadi tempat pijakannya retak dan berlubang.
Tubuh Isander meluncur cepat ke monster Deegiant.
Di atas udara, dia mengangkat Dark Spear tinggi-tinggi, bilah tombak bercahaya ungu dan kemudian mengayunkan Dark Spear ke bawah.
Cahaya hitam yang dibalut busur listrik ungu dengan ukuran panjang lebih dari 10 meter terlontar secara vertikal dengan akselerasi yang tinggi membidik tubuh monster yang ada di bawah.
Duar!
__ADS_1
Cahaya terang berwarna ungu memenuhi tempat di mana monster Deegiant dan Isander berada.
Ledakan besar yang timbul memberikan dampak pada tanah yang bergetar begitu kuat, Aqila dan temannya merasakan tanah yang mereka injak bergetar.