
Monster-monster baru sudah banyak bermunculan karena sebuah minuman yang dibagikan dan disebarkan oleh pelaku yang sedang mereka cari ini.
Isander sudah memberi tahu kepada mereka semua untuk membantu mencari pelaku yang membuat minuman berbahaya tersebut. Masalah ini bukan tanggung jawab perorangan atau kelompok tertentu saja, melainkan tanggung jawab semua umat manusia.
Jika tidak cepat ditangkap pelakunya, Isander khawatir umat manusia punah takkan lama lagi.
Sudah dihancurkan dari luar, umat manusia juga diserang dari dalam. Dengan begitu, umat manusia akan binasa secara perlahan dalam waktu yang singkat dan tidak lama.
Mereka mengerti dengan masalah ini dan memang memiliki kesadaran untuk membantu Kota Garuda menemukan pelakunya.
Goron pun ingin memberi tahu Kota Komodo untuk bersiaga dengan penyebaran minuman aneh yang dapat mengubah seorang Agter menjadi monster yang mengerikan dan berbahaya.
Apa yang dikatakan oleh Aqila adalah fakta.
Monster yang berubah dari sosok manusia sebelumnya, menghasilkan jenis monster baru yang jelek dan kuat.
Dan monster-monster yang baru ini punya kekuatan yang begitu kuat sehingga ada yang setara dengan monster A dan monster B.
Contohnya itu monster berkepala tiga yang sempat mereka bunuh sebelumnya di pagi hari.
Kekuatan monster berkepala tiga itu kemungkinan ada di tingkat monster A. Bukan tanpa sebab, ada beberapa faktor dari monster yang membuat mereka berpikir monster tersebut satu tingkat dengan monster A yang lain.
Mendengar ucapan Aqila, mereka semua terkejut beberapa saat karena baru tahu bahwa satu monster aneh berkepala tiga itu satu dari banyaknya jenis monster baru yang belum diberi namanya.
Mungkin mereka akan menamakan monster batu yang ditemui mereka nanti versi mereka sendiri.
"Monster berkepala tiga ini kita beri nama Monster Trihed supaya mudah dihafalkan oleh kita semua," saran Isander kepada anggota timnya sendiri.
Semua anggota tim Isander mengangguk menyetujui saran Isander dalam menamakan monster yang mereka lawan tidak lama sebelumnya.
Trihed adalah plesetan dari nama tiga kepala dalam bahasa Inggris. Sengaja dipelesetkan agar mudah untuk diucapkan.
Memakan camilan kecil yang punya rasa asin, Isander menatap mereka semua dan kembali bertanya, "Bagaimana menurut kalian tentang monster itu? Seberapa kuat kemampuan monster itu? Setara dengan monster tingkat apa?"
Pertanyaan Isander membuat mereka semua saling memandang satu sama lain, menentukan jawaban yang sesuai dengan pengalamannya melawan Monster Trihed.
Mengambil camilan yang disediakan oleh Isander, mengelus pipi Meisya yang sedang tidur rebahan bersama Helen di atas karpet, Aqila menjawab, "Monster itu kuat, termasuk monster yang tangguh dengan kemampuan yang hebat sehingga bisa dijajarkan dengan Monster A yang lainnya dan sudah kita ketahui."
"Benar, Monster Trihed punya kemampuan yang sebanding dengan monster A yang lainnya. Salah satu dari kemampuannya ada yang mirip dengan monster A yang muncul secara natural, bukan karena minuman aneh," tambah Reza mengonfirmasikan tentang ucapan Aqila.
Tak hanya Reza, semua anggota Isander punya perasaan dan pengalaman yang sama dalam menghadapi Monster Trihed.
Mungkin, Monster Trihed ini sedikit lebih kuat karena punya tiga kepala yang masing-masing dapat menyemburkan cairan hijau yang panas dan bersifat melelehkan benda padat.
Besi mungkin bisa dilelehkan menjadi benda cair.
Sangat berbahaya jika benar-benar terkena tubuh mereka, itu akan menjadi daging leleh.
Ketahanan tubuh monster ini juga cukup tangguh dan tahan lama, bisa bertahan hidup selama beberapa menit dari hujan serangan yang dilontarkan oleh mereka semua secara bertubi-tubi tak berhenti.
Isander mengangguk mengerti mendengar ucapan Reza dan Aqila, ternyata Monster Trihed sebanding dengan Spidgarets dan Deegiant mungkin.
Namun, Monster Deegiant dibandingkan dengan Monster Trihed, kemenangan masih dipegang oleh Deegiant.
"Pada kesimpulannya, monster yang berasal dari minuman pengubah manusia menjadi monster punya peluang untuk memiliki kemampuan monster tingkat A. Minuman Pengubah Monster punya kesempatan yang cukup tinggi menciptakan seekor monster yang setingkat dengan monster A. Jujur saja, ini sangat berbahaya dan mengancam. Kita benar-benar harus menangkap pelakunya sebelum minuman tersebar lebih banyak di Pulau Jawa."
Isander mengambil kesimpulan dari obrolan mereka semua barusan.
Sudah bisa dipastikan, pelaku pencipta minuman misterius harus segera ditemukan.
Dengan rasa ingin tahu yang besar, Kila bertanya kepada Aqila mengenai bentuk dan ukuran minuman misterius yang sangat berbahaya itu.
Dikarenakan Aqila tak bisa menggambar, dia menerangkan bentuk minuman tersebut sesuai dengan yang dilihat dan ketahui.
"Minuman tersebut memiliki kemasan botol yang ditutupi plastik, bukan tutup botol yang harus diputar untuk bisa terbuka. Botolnya mirip botol susu atau minuman teh yang di Indonesia. Airnya berwarna hitam kehijau-hijauan. Namun, aku tidak tahu rasa dari cairan tersebut. Cairannya saja baru bisa diketahui dari bekas botol minuman," beber Aqila kepada mereka semua.
Setelah mendengar ucapan Aqila, mereka semua tahu bahwa minuman ini memang dibuat sendiri, bukan minuman jadi yang dibuat oleh mesin.
Kemasannya dibuat dari kemasan botol plastik yang sulit untuk diuraikan. Tutupnya kebanyakan sudah banyak menghilang sehingga itu diganti oleh plastik yang diikat menggunakan helaian daun pisang, atau serat pepohonan yang lain.
Paling berbahaya adalah cairannya yang makin berbeda dengan cairan yang sebelumnya Aqila ceritakan.
Kemungkinan besar terjadi perubahan bahan yang membuat dampak dari minuman tersebut juga berbeda, bahkan lebih kuat dan luar biasa hasilnya.
Buktinya bisa dilihat tiga orang Agter atau manusia yang berubah menjadi monster tiga kepala yang mengerikan dengan kekuatan setara monster A yang normal dan diketahui.
Trihed, monster itu masuk ke dalam daftar jajaran monster A di dunia ini.
Isander menoleh ke Aqila dan berkata, "Kurasa ada perubahan pada minuman ini. Sebab warna cairannya berbeda dengan apa yang kamu sebutkan sebelumnya."
Semua anggota tim mengangguk membenarkan ucapan Isander. Memang ada perbedaan bahan campuran untuk membuat minuman tersebut.
"Benar, bahan itu juga yang memberikan dampak besar ke peminumnya, membuat Agter atau manusia biasa menjadi monster yang kuat," balas Aqila sambil sedikit mengangguk.
Tangan Aqila terentang dan tiba-tiba bongkahan es seukuran bola kasti yang tajam muncul di telapak tangannya.
Swoosh!
Bongkahan es ditembakkan ke arah utara mereka, tepatnya ke batang semak-semak di arah utara tempat mereka makan siang sekarang.
Disusul oleh tombak logam tajam yang meluncur cepat ke titik yang sama.
Semua anggota tim Isander bingung dengan gerakan Aqila dan Isander yang tak berbicara terlebih dahulu.
__ADS_1
Melihat mereka bingung meminta kejelasan apa yang sedang ia lakukan, Isander tersenyum memandang mereka semua, "Satu manusia aneh kembali muncul. Kurasa mereka tidak mau dibicarakan sehingga menguping di sini."
Kata yang dikeluarkan oleh Isander membuat mereka terkejut, dan sebuah senjata berlian dikeluarkan oleh mereka semua untuk berjaga-jaga.
Tak lama setelah bongkahan es dan tombak logam itu diluncurkan, sesosok manusia tua dengan senyum lebar berdiri dan menampakkan diri di balik semak.
Reza dan yang lainnya tahu manusia macam apa yang sedang mereka lihat sekarang.
Manusia itu tidak berbeda dengan tiga orang yang berubah menjadi monster.
Tubuh pria tua ini tertancap tombak hingga menembus perutnya, sedangkan bongkahan es membuat sebagian tubuh bagian atasnya membeku dan kaku.
"Manusia ini sudah mengikuti kita sejak ketiga manusia yang menjadi monster. Pria tua inilah yang menciptakan suara semak yang bergesek." Isander malas untuk memperhatikan pria tua aneh itu dan dia hanya melihat anggota timnya sambil memeluk Meisya yang kembali ketakutan. "Sama seperti biasa, aku akan menunggu kalian di arah barat laut dua ratus meter dari sini. Aku akan memberikan titik koordinat kepada kalian. Semangat!"
Setelah Isander mengatakan itu, dia mengambil beberapa sampah dan membakarnya di udara, kemudian menghilang untuk pergi meninggalkan para anggota timnya.
Sengaja ditinggalkan agar mereka semua bisa mandiri dan mampu melawan monster-monster kuat yang ada di dunia ini.
Jika Isander yang melawan monster-monster kuat selalu, itu membuat timnya menjadi aksesoris saja yang tak memiliki kegunaan.
Oleh sebab itu, kesempatan untuk melawan monster Isander berikan tanpa adanya ikut campur tangan mereka semua.
Tentu, Isander tetap memberikan penjagaan dengan mengirimkan tiga binatang psikisnya.
Kimaya, Magtash, dan Glatash tidak semata-mata akan membantu mereka jika memang tak diperlukan.
Apabila mereka sedang terpojok, ketiga binatang psikis Isander akan bergerak menolong mereka.
Begitu Isander pergi, manusia yang berwujud pria tua ini mulai berjalan perlahan keluar dari semak tempat persembunyiannya. Matanya tidak pernah berpindah ke arah mereka semua.
Giya, Aqila, Reza, dan yang lainnya memasang postur bertarung, kewaspadaan dan kesiagaan mereka menjadi tinggi.
Senjata berlian Isander dicengkeram dengan erat di tangan setiap anggota tim.
Tanpa sedikit pun pria tua itu berbicara, sebuah pedang muncul di tangannya, berlari dengan cepat mengarah ke mereka semua.
Gerakan tiba-tiba pria tua ini membuat semua anggota Isander ikut bergerak.
Kedua cakram berlian dipegang erat oleh Aqila, kemudian dia berlari ke arah yang berlawanan untuk memotong jarak.
Klang!
Bilah pedang dan bilah cakram berbenturan, mengeluarkan suara nyaring dari tabrakan benda keras tersebut.
Tangan pria tua itu berputar dan menarik pedangnya untuk membuat tebasan melengkung menuju perut Aqila.
Sayangnya, tangan Aqila punya reaksi yang cepat untuk memblokir serangan pria tua aneh tersebut.
Sebuah panah es menusuk bahu pria tua itu, tubuhnya terdorong dan membuat pria menjadi sedikit kehilangan keseimbangan.
Aqila yang mengetahui ini langsung mundur dengan kecepatan yang cepat.
Pria tua yang merasa sakit akibat panah es yang menancap tubuhnya menjadi marah dan hendak mengejar Aqila.
Namun, anak panah itu bukan panah biasa, melainkan panah es milik Helen.
Ketika pria tua itu ingin bergerak ke arah Aqila yang kabur menjauh, panah es di tubuhnya meledak dan memunculkan bongkahan es kecil yang terhempas dalam kecepatan yang tinggi.
Dalam sekejap, setengah badan monster tersobek dengan daging dan darah berhamburan ke mana-mana.
Aqila dan anggota lainnya yang berpencar melihat tubuh pria tua itu hancur setengahnya.
Tangan kiri dan kaki menghilang, bahkan setengah kepala dan wajah pun terkoyak, menampilkan daging dan jeroan manusia yang sangat sadis. Sama sekali tidak enak dipandang orang.
Meskipun telah terluka parah dan kehilangan banyak anggota tubuh, pria tua ini masih bisa hidup, terbaring tengkurap mencoba untuk bangkit dengan pendarahan yang hebat.
Giya dan Helen tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, keduanya melemparkan serangan mereka ke pria tua yang sekarat tersebut.
Pisau lempar diberkahi api dan panah es yang melesat cepat berhasil menancap di tubuh pria tua dengan kuat.
Mereka semua mengira pria tua yang aneh ini akan mati, tetapi tebakan mereka salah.
Perubahan terjadi dengan cepat pada tubuh pria tua yang penuh oleh luka berat.
Panah es yang melontarkan ratusan bongkahan emas sempat menghancurkan perubahan tubuh pria tua itu, tak berefek apa-apa padanya.
Api yang menyelubungi tubuh pria tua itu padam akibat perubahan yang tengah berlangsung.
Seorang pria tua yang kurus itu berubah menjadi monster berbentuk aneh, mirip dengan biaya yang memiliki kaki rusa.
Ukuran panjangnya tak sampai 10 meter, dan tinggi hanya 4 meter.
Benar dengan dugaan Isander dan mereka, pria tua ini pasti salah satu Agter yang telah terinfeksi.
Aqila menoleh melihat anggota tim yang berpencar, kemudian dia mengangguk hampir bersamaan dengan anggota yang lain.
"Ayo kita bunuh monster ini!"
Dengan seruan Aqila yang lantang, mereka semua mulai menyerang menggunakan kekuatannya masing-masing.
Reza dan Nina bergerak mencari momen dan sudut yang tepat untuk menyerang, mereka menunggu serangan jarak jauh anggota yang lainnya selesai.
Aqila berubah gaya bertarungnya menjadi seorang pemanah, dia mencoba untuk membentuk busur dari kekuatan esnya, tetapi itu sulit dan tak bisa.
__ADS_1
Dengan begitu, Aqila hanya bisa melemparkan bongkahan es atau duri kecil yang tersemat benang-benang listrik yang merusak.
Bongkahan es menembak begitu cepat, bagaikan peluru mesin gun yang mengeluarkan peluru bertubi-tubi dalam kecepatan tinggi.
Serangan Aqila dibarengi oleh panah es dan tali cambuk Kila yang keras.
Kulit monster ini cukup keras sehingga butuh banyak sekali serangan untuk menghancurkannya.
Pada tembakan bongkahan es pertama, kulit monster yang tangguh dan kokoh dapat menahan serangan yang datang, tetapi begitu serangan yang lainnya menghantam tanpa henti, ketangguhan kulit monster menjadi pecah dan hancur.
Baru saja monster itu ingin bergerak ke arah Reren yang cukup dekat darinya, luka sudah mulai bermunculan dari berbagai serangan yang muncul di beberapa arah.
Bam!
Gundukan tanah keras yang tumpul langsung timbul dan menabrak bawah perut monster biaya aneh yang berjalan dengan empat kaki rusanya.
Monster tersebut langsung terpental dan berputar-putar di udara beberapa kali.
Begitu mendarat, posisi monster sudah terbalik dengan keempat kakinya ke arah atas.
Semua anggota Isander tersenyum melihat ini, kelemahan makhluk berkaki empat adalah bagian perut bawahnya yang lunak ketimbang punggung yang menghadap ke atas.
Dengan kesempatan yang datang, Nina dan Reza bergerak dibantu oleh Kimaya yang menjaga tubuh monster tidak bisa kembali ke posisi normalnya.
Tanaman merambat mengikat keempat kakinya dan itu terhubung ke beberapa pohon dari empat arah yang berbeda.
Monster ini sungguh tak bisa bergerak lagi.
Belati dan pisau keduanya membelah dengan kekuatan unsur elemen yang kuat.
Angin yang ada pada belati Reza menambahkan kecepatan dan ketajaman, ayunannya tampak liar.
Sementara pisau atau golok kecil Nina, air yang terkandung pada senjatanya itu membuat gerakan tebasan Nina menjadi sedikit cepat dan ketajamannya ditingkatkan jauh lebih merusak.
Ratusan cahaya dingin berbeda warna memenuhi tubuh monster.
Semua anggota tim Isander melihat sambil bersiap membuat serangan setelah keduanya menyerang.
Tidak menunggu lama, hanya 1 menit berlalu, Nina dan Kila memberhentikan aksinya untuk kembali ke posisinya.
Monster yang diserang oleh mereka berdua mendapatkan banyak sekali luka yang cukup dalam, hampir semua kulit monster terkelupas, mengungkap jeroan atau organ monster tersebut.
Tanpa banyak berpikir, Aqila dan yang lainnya melemparkan serangan terakhir sebagai pengeksekusian monster yang sekarat ini.
Berbagai serangan dari semua anggota menghujam monsternya tanpa memberi kesempatan untuk menghindar.
Es, api, tanah, petir, angin, dan air, semuanya terdapat pada beberapa serangan yang berasal dari anggota tim Isander.
Serangan-serangan tersebut menghantam monster hingga membuat ledakan.
Tanah dan asap debu menutupi sosok monster yang menjadi target penyerangan.
Untuk sementara waktu, mereka semua berdiri diam untuk menunggu hasil dari serangan mereka.
Begitu asap menghilang, mereka melihat bahwa monster yang sekarat itu telah menjadi bongkahan daging berdarah dan organ-organ monster yang terpotong juga berserakan ke segala arah.
Kali ini, Goron ingin mencoba untuk melakukan pembersihan medan pertempuran, dia tidak bisa karena untuk melubangi tanah saja butuh tenaga besar.
Sementara Isander itu hanya melemparkan bola yang terbuat dari angin dan petir, lubang besar yang melenyapkan semua jejak pertempuran hingga ke tanahnya tempat berpijak saat bertempur.
Masih dengan pola yang sama dari dahulu, Isander datang untuk membersihkan jejak pertempuran mereka semua agar orang-orang tidak tahu bahwa ada orang yang sempat lewat di sini dan membunuh monster.
Mengingat bahwa Agter aneh mulai mengikuti mereka tanpa sebab, penghapusan jejak wajib untuk dilakukan demi menghindari ancaman.
Setelah semuanya selesai, mereka melanjutkan perjalanan lagi ke wilayah Brebes.
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, dalam 2 jam setelah membunuh pria tua yang berubah menjadi monster, mereka semua berhasil mencapai titik di mana tanda S berada di peta kertas.
Akan tetapi, Isander dan anggota kelompoknya tidak menemukan monster S di tempat reruntuhan pemukiman yang cukup padat ini.
Hanya ada bangunan rumah dan hutan muda yang ditumbuhi pepohonan muda.
Bisa dikatakan muda karena sebelumnya hutan tak merambat ke reruntuhan pemukiman yang rumahnya terbuat dari tembok semen.
Rumahnya bukan terbuat dari kayu dan bambu lalu atapnya menggunakan daun kelapa atau dedaunan yang lain.
Seharusnya, tidak ada hutan di sekitar pemukiman tersebut.
Mereka sekarang ada di jarak beberapa ratus meter dari titik pemukiman atau keberadaan monster S yang sudah ditandakan di peta.
Sebelum ke sana, mereka harus mengamati dan mengintai tempatnya, mencari di mana monster S yang mereka targetkan berada.
Mata Isander terpejam beberapa saat, dia menyebarkan kendalinya terhadap pohon batang kambing dalam jangkauan beberapa kilometer.
Dahi Isander mengernyit, kemudian dia membuka matanya dengan cahaya melintas cepat.
"Monster ini kuat, kalian tak bisa melawan monster ini," ujar Isander yang mengetahui letak keberadaan monster S.
Pernyataan Isander membuat semua anggotanya menjadi heran dan ingin tahu.
"Monster apa itu?" tanya Reza dengan cepat.
Isander menoleh ke semua anggota timnya seraya menjawab dengan suara yang dalam, "Monster Elgoter ... jumlahnya ada enam ekor."
__ADS_1