SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 137: Peningkatan Kedua Anak Burung


__ADS_3

Seluruh tubuh monster level B, yaitu Goatager mati tertusuk oleh bongkahan es sebesar kepalan tangan dalam jumlah yang lebih dari puluhan.


Darah meresap ke luar dan mengalir di antara tubuh monster yang terbaring lemah di atas tanah.


Kyak!


Dengan suara Glatash yang nyaring, dia mendeklarasikan bahwa dirinya menang dalam melawan monster level 4.


Glatash terbang di sekitar mayat monster, dan terus menatap ke bawah dengan pandangan yang tajam.


Kedua sayapnya yang berwarna putih itu diselimuti embun es sehingga setiap jalur yang dia lewati akan menimbulkan jejak salju di udara yang berwarna putih.


Melihat ini, Isander tersenyum puas dengan hasil kekuatan Glatash. Kekuatannya yang barusan ditunjukkan sudah bisa direkrut untuk bergabung ke dalam pertarungan besar melawan monster-monster.


Sementara itu, Magtash di sisi lain berhasil membuat Goatager menjadi kambing bakar dengan magmanya yang panas.


Hal yang membuat mereka berdua berbeda adalah serangan mereka yang muncul di kedua sayap. Tidak sama dengan induknya yang keluar dari dalam mulut.


Isander menjadi penasaran apakah jenis Suphaast punya varian serangan yang berbeda atau tidak. Dan jenis apa yang dimiliki induk dari kedua Suphaast ini.


Kyakk!!


Setelah keduanya membunuh Goatager itu, mayat monster level B dibawa oleh keduanya dengan cengkeraman cakarnya yang sangat kuat.


Kedua mayat itu dijatuhkan tepat di depan Isander seolah mereka sedang memberi hadiah kepada Isander.


"Makan saja, aku sudah kenyang," kata Isander dengan senyum.


Tentu, Isander tahu maksud dari kedua Burung Suphaast ini, mereka memang berniat untuk memberinya hadiah hasil dari mengalahkan monster Goatager.


Sayangnya, Isander tidak memakan daging monster seperti keduanya. Oleh sebabnya, Isander menolak pemberian mereka dengan cara halus.


Setelah Isander mengatakan itu, kedua burung ini mengambil kembali mayat monster Goatager yang berkali-kali lebih besar dari ukuran tubuh mereka, dan di bawa terbang ke dahan pohon yang berdiri di kejauhan.


Meisya tidak takut dengan mayat monster yang mereka berdua bawa karena Isander menutup matanya dengan sesegera mungkin.


Ketika sosok mereka berdua bersama mayat Goatager menjauh, Isander membuka mata Meisya lagi dengan lembut.


"Ada apa dengan burung-burung itu?" tanya Meisya yang ingin tahu.


Kepala Isander bergerak ke kanan dan kiri, kemudian dia menampilkan senyuman yang sangat lembut kepada anaknya, dan menjawab, "Burung-burung ingin memberi ayah hadiah, tetapi ayah tolak karena hadiahnya adalah monster."


"Hahaha! Ayah diminta makan monster oleh burung!"


Tiba-tiba Meisya tertawa begitu menggelikan, tertawa terbahak-bahak sampai dirinya memukul pelan tangan Isander yang menggendongnya.


Tampilan Meisya yang tertawa sekarang seperti seorang pria dewasa yang punya gaya tawa yang liar, tidak anggun sama sekali.


Isander tidak melarang Meisya tertawa seperti itu, nanti dia akan tahu sendiri.


"Anak ayah menertawakan ayahnya sendiri, Meisya harus diberi hukuman." Isander mencium pipi Meisya dengan perasaan sayang yang tak terukur.


Tawa Meisya terus berlanjut karena gerakan Isander membuatnya geli.


Pemandangan Isander dan anaknya yang bercanda bersama disaksikan oleh kedua gadis remaja.


Mereka berdua terlihat senang, tetapi di dalam hati mereka terdapat sebuah perasaan rindu yang besar.


"Aku rindu ayah dan ibu," kata Helen kepada Reren. Wajahnya tampak lesu.


Mendengar perkataan Helen, Reren segera memeluk Helen dan berkata dengan senyuman, "Aku juga, tetapi kita tidak boleh sedih, mereka pasti akan sedih melihat kita sedih di kondisi yang sudah cukup baik ini."


"Akan tetapi—"


"Dengarkan aku, jangan terlalu banyak menangis, energi kita akan terkuras setiap kali menangis dan nantinya kita tak bisa bertempur melawan monster secara maksimal. Gunakan energi kamu sebaik mungkin. Maka dari itu, jangan bersedih. Ingat, masih ada kakak di sampingmu dan akan terus menemanimu," potong Reren dengan memberikan kata-kata yang positif.


Ekspresi wajah Helen yang mendung kembali cerah, ujung mulutnya melengkung membentuk senyuman yang manis.


"Aku mengerti."


Melihat Helen yang tidak lagi bersedih, Reren menghela napas dengan lega. Jauh di dalam hatinya dia merasakan kerinduan yang tidak tertahankan untuk kedua orang tuanya.


Sebenarnya, dia ingin sekali menangis, tetapi menangis di dunia seperti ini tidak ada gunanya, tak ada yang peduli, hanya diri sendiri yang peduli.


Tepat ketika mereka berdua saling berpelukan, tiba-tiba Meisya memeluk kaki Reren dengan hangat.


"Kakak, kalian berdua jangan menangis, ada Meisya dan ayah di sini."


Suara susu yang menggemaskan keluar dari mulut Meisya.

__ADS_1


Tidak tahu kapan Isander tiba-tiba menurunkan Meisya dan membiarkan dirinya pergi ke Helen dan Reren yang tengah berpelukan.


Berikutnya, Isander yang berdiri di belakang mereka tidak menyangka ikut memeluk mereka berdua dengan pelukan hangat dari seorang ayah.


Isander tidak bisa melihat mereka bersedih dan dia memberanikan diri untuk memeluk kedua gadis remaja ini dengan rasa sayang dan kehangatan.


Hal ini membuat keduanya tidak bisa menahan tangis dan mereka menangis di pelukan Isander.


Waktu berlalu begitu cepat, mereka akhirnya bertemu kembali dengan Reza dan lainnya dan pergi ke rumah mereka yang ada di arah timur.


Seusai mereka makan malam, Isander mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di perjalanan mereka ke Candi Borobudur.


"Aku sempat menemukan Gua raksasa seukuran bukit kecil. Di dalam Gua yang gelap dan agak lembap Kimaya menemukan dua telur besar di sarang yang tak diketahui.


"Ketika aku menemukan menyentuh kedua telur itu, retakan muncul dan akhirnya menetas hingga kedua burung tersebut keluar dari dalam cangkang."


Isander menunjuk ke kedua anak Burung Suphaast yang duduk tenang sambil memejamkan matanya di pojok ruangan bersama Kimaya.


Reza dan yang lainnya memandang ke kedua anak Burung tersebut dengan sorot mata yang masih tidak mengerti.


Mereka semua tak mengerti bagaimana bisa Isander membawa kedua anak monster ke rumah ini.


Meskipun mereka semua tidak ada yang tahu jenis apa kedua anak Burung tersebut, tetapi mereka bisa merasakan aura kuat yang terpancar dari tatapan tajam anak burung tersebut.


Mereka berdua terlihat sangat kuat karena kekuatan unsur yang mereka punya itu memengaruhi aura yang pada sosoknya.


Di saat Reza dan anggota lainnya menatap dua anak burung tersebut, mereka semua merasa sedang berada di hadapan monster tingkat tinggi.


Tidak tahu di mana tingkatan yang sebenarnya. Pada intinya, mereka memang kuat dan sebanding dengan monster level B ke atas.


Pastinya, itu tidak sebanding dengan monster level C.


Selemah-lemahnya monster punya kekuatan unsur tak sampai ada di tingkatan monster level C atau mungkin yang lebih bawah lagi.


Awalnya, mereka juga tidak percaya bahwa anak burung bisa sebesar burung elang dewasa, tetapi ketika Isander mengatakan bahwa keduanya adalah monster, itu menjadi masuk akal.


Giya penasaran dengan kedua anak burung yang dibawa Isander, tetapi dia masih tidak berani mendekati mereka berdua karena masih asing.


Anak-anak burung ini sempat memperlihatkan keasingan dan rasa tak suka dengan Giya dan anggota kelompok lainnya.


Isander berasumsi keduanya masih belum terbiasa mencium bau tubuh mereka yang asing.


Mengapa mereka berdua merasa tak terbiasa, itu karena di awal kelahiran mereka hanya ada Ryzel, Meisya, Helen, dan Reren serta Kimaya yang ditemui sehingga selain dari itu mereka menganggap orang lain adalah musuh.


Hasilnya, mereka berdua belum bisa menerima dan masih butuh adaptasi lagi dengan anggota kelompok Isander yang lain.


"Apa nama kedua anak burung ini?" tanya Reza yang lupa dengan nama Glatash dan Magtash.


"Nama atau jenis monster?" Isander balik bertanya.


Reza termenung dan berkata, "Jenisnya yang aku ingin tahu."


"Oh, jenisnya." Isander menoleh sejenak ke Magtash dan Glatash dan menjawab, "Jenis monster ini dinamakan Suphaast."


"Suphaast?!" seru Nina yang tiba-tiba melotot ke arah Isander.


Semuanya terkejut dengan teriakan Nina yang mendadak muncul itu, dan mereka menjadi penasaran dengan apa sebenarnya jenis dari kedua anak burung ini.


"Ada apa? Mengapa kamu bereaksi seperti itu?" Kila menatap Nina dengan heran dan alisnya yang berkaitan.


Mimik wajah Nina yang terkejut langsung berubah menjadi serius, dia menatap semua orang dengan pandangan yang tak bercanda.


Selanjutnya, Nina membuka mulutnya dan mulai menjelaskan tentang sebuah informasi penting.


"Suphaast, aku pernah mendengar di pemukiman dekat Rain Settlement setengah tahun lalu. Dikatakan Suphaast adalah monster terbang yang berbahaya karena kerap memangsa manusia dan juga monster.


"Akan tetapi, para warga pemukiman tidak memberi tahu tentang seperti apa bentuknya. Hal yang pasti dari ucapan mereka adalah monster itu memang kuat dan berbahaya.


"Kemungkinan besar, Suphaast adalah mereka. Dari ungkapan awal para warga di sana saja adalah monster terbang. Kedua anak burung itu juga monster yang bisa terbang."


Semuanya termenung untuk beberapa saat, mereka memikirkan apa yang dijelaskan oleh Nina.


Isander langsung punya pertanyaan terkait cerita yang Nina beri tahu barusan.


Menoleh melihat wajah Nina, Isander bertanya, "Suphaast pernah muncul di sana atau sekadar cerita-cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut?"


"Menurut warga di sana, Suphaast pernah menampakkan diri di atas pemukiman. Namun, selama aku di sana untuk menyelesaikan misi tak pernah bertemu dengan monster itu," jawab Nina yang hendak meluruskan kakinya.


Jawaban Nina membuat semuanya berpikir.

__ADS_1


Saat ini, Isander berpikir tentang apa sebenarnya Suphaast dan di mana mereka tinggal.


Ketika mereka pulang dari Candi Borobudur, mereka tidak menemukan sosok induk Glatash dan Magtash di dalam Gua.


Tidak tahu ke mana induk itu pergi setelah Isander meminta izin, tidak ada jejak induk itu di sekitar gua, seolah-olah induk Suphaast pergi dan takkan pernah kembali.


"Oh, iya." Reza tiba-tiba teringat akan sesuatu dan dia menatap Isander dengan serius. "Goron dari Kota Komodo ingin bertemu kamu, Isander. Ada sesuatu yang mereka bicarakan dengan kamu."


"Apakah mereka bilang itu kepadamu?" Isander langsung menanggapi ucapan Reza.


Reza menggelengkan kepalanya. "Tidak, tetapi perbincangan Goron dengan temannya sempat aku dengar."


"Ya, itu benar. Kota Komodo punya sesuatu yang diberitahukan kepadamu, dan dia sedang mencoba untuk memanggil kamu," tambah Kila yang selalu bersama Reza.


"Tunggu, aku juga sempat pembicaraan beberapa Agter yang membahas tentang menemukan sosok hitam bersayap."


Mengetahui ini, Giya baru sadar dengan sesuatu yang ada di Kota Komodo.


"Mereka sungguh ingin mencariku?"


"Benar. Namun, aku tidak tahu kapan mereka akan mencari kamu. Beberapa hari ini atau mungkin Minggu mereka pasti sibuk untuk memulihkan keadaan kota seperti semula."


Informasi dari Reza membuat Isander bingung dan apa yang harus dia lakukan.


Setelah diam selama beberapa saat untuk memikirkan pilihan, Isander memutuskan untuk menunggu mereka saja selama kurun waktu beberapa hari ke depan.


Dengan obrolan tersebut, mereka semua pergi tidur dan malam ini Isander juga ikut tidur bersama Meisya karena sudah rindu memeluk Meisya sambil tidur.


Laju waktu terasa begitu cepat bak air yang mengalir deras dari air terjun, dengan perasaan yang terasa singkat, Isander dan lainnya sudah melalui tiga hari setelah hari di mana Magtash dan Glatash ditemukan oleh Isander.


Selama tiga hari berlalu ini banyak sekali kemajuan yang alami oleh Magtash dan Glatash.


Mereka berdua sudah bisa mengeluarkan kemampuan unsur alamnya dengan mudah.


Ukuran mereka berdua menjadi lebih besar dan tingginya mencapai 1 meter dengan lebar sayap 2,4 meter.


Selain ukuran yang menjadi bertambah, penampilan mereka pun meningkat dengan tubuh mereka yang memiliki corak serta sesuatu yang unik.


Pada kedua sayap Glatash terdapat beberapa bulu es yang berwarna kristal yang tumbuh di antara bulu-bulu putih.


Ketika dia memasuki pertarungan, seluruh tubuh Glatash akan berubah, tubuhnya diselimuti oleh embun es kristal yang lembut dan dingin.


Setiap jalur terbang yang dia lalui akan tertutup salju atau es. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama dan salju atau es beku itu akan mencair.


Sementara itu, Magtash punya penampilan yang lebih garang, sebagian sayapnya mengeluarkan lava cair yang panas saat memasuki pertarungan.


Di saat biasa, bulunya hanya terlihat berwarna merah kehitam-hitaman.


Apa pun yang ada di jalur terbangnya, itu akan terbakar, termasuk daun dan tanaman merambat.


Hal itu juga menjadi alasan mengapa Kimaya tak mau begitu dekat-dekat dengan Magtash.


Tubuhnya yang terbuat dari tanaman merambat akan terbakar.


Apabila bersama dengan Glatash, Kimaya tidak apa-apa, dia bisa menghancurkan es dan embun belum yang membuat tubuhnya kaku.


Jika terbakar, itu sulit untuk dia memulihkan diri.


Terlebih lagi ... Magtash ini punya watak yang berapi-api dan mudah marah jika bertemu monster.


Jikalau saja Kimaya ada di dekat Magtash, dia bisa-bisa terbakar.


Selain kedua anak Burung Suphaast yang meningkat dan menjadi lebih baik, Kota Komodo pun juga punya peningkatan yang baik.


Kota Komodo sudah hampir setengahnya diperbaiki. Dengan kecepatan ini seharusnya Kota Komodo bisa diperbaiki sepenuhnya dalam kurun waktu kurang 2 Minggu lagi.


"Di mana mereka akan bertemu aku?" tanya Isander kepada Reza dan Kila.


Reza dan Kila saling bertatapan dan dia menjawab satu per satu.


"Di sekitar tempat di mana rumah kita di bangun sebelumnya," kata Reza dengan raut wajah yang tegas.


Kila mengangguk dan menambahkan, "Kemungkinan di malam hari ini mereka akan mulai mencari kamu."


"Oke, aku akan ke sana nanti malam, sekarang kalian bantu aku membersihkan Candi Borobudur ini," ucap Isander sambil berjalan ke arah Puncak Stupa.


Pada saat ini, mereka semua sedang berada di Candi Borobudur yang rusak. Namun, sekarang Candi Borobudur sudah Isander dan yang lainnya perbaiki meski hanya meletakkan beberapa bagian candi ke tempat asalnya dan membersihkan lumut serta jamur di beberapa bagian bangunan.


Mendengar perintah Isander, mereka semua mengikuti Isander dan pergi ke atas candi untuk membersihkan dan memperbaiki.

__ADS_1


Selama kurang lebih 2 jam berselang hingga jam 4 sore datang, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu yang ada di Candi Borobudur.


"Benda apa yang di sana?!"


__ADS_2