
Di depan Isander, Candi Borobudur yang dia perbaiki bersihkan telah hancur tak karuan hingga sulit diidentifikasi sebagai candi.
Mereka tidak bisa melihat Candi Borobudur lagi, melainkan bangunan hancur yang berantakan.
Amarah muncul pada tubuh Isander, dia segera bergegas bersama dengan Meisya dan kedua gadis remaja untuk memeriksa lebih lanjut.
Begitu mereka dekati, Candi Borobudur ini bisa dilihat bahwa ada beberapa jejak suatu serangan yang cukup pada beberapa bagian candi sehingga membuat candi hancur berserakan.
Isander bisa melihat ada beberapa bongkahan bangunan candi yang terpental begitu jauh di dekat hutan. Sangat kacau dan bongkahannya banyak yang berhamburan ke mana-mana.
Meisya dan kedua gadis remaja menjadi sangat marah melihat ini, mata mereka memerah ingin menangis.
Mengingat perjuangan mereka berhari-hari, ternyata hasil usaha mereka dihancurkan begitu saja oleh sesuatu yang tidak diketahui.
Serangan yang tertinggal dan tercetak di sini masih belum bisa Isander pastikan pemiliknya.
Masih tidak diketahui pelakunya, bisa saja monster, Agter, atau memang alam itu sendiri.
Beberapa hari belakangan ini memang sedang seri turung hujan di siang hari, membasahi tanah di hutan dan membuat sepatu dan alas kaki mereka kotor.
Mungkin hujan yang turun di sini disertai badai dan mampu memorak-porandakan Candu Borobudur yang berdiri gagah dan megah.
Isander dan yang lainnya terus berkeliling mencoba untuk mendapatkan bukti dan jejak yang banyak.
Untuk sementara waktu amarah ditahan oleh Isander, dan dia fokus untuk mencari siapa sebenarnya pelaku di balik kehancuran Candi Borobudur.
Berita kehancuran Candi Borobudur telah Isander kirimkan ke Reza dan yang lain.
Beritanya membuat mereka juga terkejut karena tidak percaya.
Mereka tahu sendiri bagaimana Candi Borobudur dibersihkan dan diperbaiki, mendengar berita Candi Borobudur hancur, tentu saja mereka tidak percaya dan juga tidak terima sama sekali.
"Aneh, jejak cakaran atau pun hantaman dari monster tidak terlihat di sini," kata Isander sambil menatap ke beberapa bongkahan Candi Borobudur yang jatuh ke tanah.
Helen dan Reren mengangguk setuju, mereka berdua juga tidak menemukan sebuah jejak serangan dari monster yang biasanya berupa cakaran serta hantaman yang masih meninggalkan ciri khas monster yang menghancurkannya.
Misalkan yang menghancurkan adalah Rhigarets, akan ada jejak dalam berupa cula mereka yang panjang dan besar. Kemungkinan besar Rhigarets menyerang menggunakan cula yang ada di atas kepala mereka.
Di bongkahan-bongkahan candi tak ada jejak seperti itu, seolah kehancuran yang berserakan di mana-mana ini terjadi karena ada yang membongkar pasang dan diletakkan berjauhan satu dengan yang lainnya.
"Apa mungkin karena tornado angin?" Reren bertanya dan menatap Isander di depannya.
Mendengar ini, Isander segera menoleh ke belakang untuk melihat Reren, dan dia menjawab, "Bisa jadi. Namun, kita harus mencari bukti yang lain agar konkret."
"Bagaimana kalau kita bersama-sama pergi ke area hutan di sekitar sini?" usul Helen dengan hasil pemikirannya.
"Boleh," ucap Isander yang tidak keberatan dengan usulan Helen.
Memang mereka diharuskan melebarkan pencarian bukti, dan tidak terkonsentrasi pada bongkahan bangunan yang sudah tercerai-berai ini.
Dengan usulan Helen, mereka semua berjalan melebar ke sisi area Candi Borobudur didirikan dan terus ke sisi hingga hampir masuk ke hutan yang punya banyak pohon tinggi.
Di sana, mereka menyisir area hutan dengan cermat, benar-benar fokus mencari petunjuk dari kehancuran Candi Borobudur ini.
Akan tetapi, setelah satu jam mereka mengitari area luar candi, mereka tidak dapat mendapatkan hasil apa pun, alias nihil.
Hal ini membuat mereka menjadi kesal dan marah.
Isander benar-benar ingin sekali membunuh pelaku yang membuat Candi Borobudur hancur berantakan dengan bongkahan yang bertebaran ke segala arah.
Dikarenakan tidak ada petunjuk dari siapa yang menghancurkan candi, Isander memutuskan untuk memperbaiki Candi Borobudur sebisanya di hari ini.
Jadi, Helen dan Reren, bersama pet Isander menjaga Meisya, sedangkan Isander yang fokus memindahkan dan mengumpulkan bongkahan-bongkahan bangunan candi.
Namun, begitu Isander sudah kumpulkan, dia malah bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya karena Candi Borobudur benar-benar terpisah dan tidak ada instruksi bagaimana cara memasangnya.
Menyadari hal ini, Isander berniat untuk mengumpulkan semua bongkahan yang tersebar ke segala arah agar tidak ada yang hilang, dan suatu saat ada sebuah petunjuk atau cara memasang Candi Borobudur yang benar, semuanya bisa dilakukan.
Isander memindahkan semua bongkahan candi ke beberapa titik supaya jika ada yang hilang, itu tidak semuanya yang hilang. Setidaknya, masih ada bongkahan candi yang mungkin bisa dijadikan peninggalan terakhir.
Kegiatan Isander sempat ditunda oleh makan siang. Sebagai manusia, makan adalah suatu kegiatan yang harus dilakukan karena itu sebuah nikmat yang mungkin beberapa makhluk hidup tidak bisa merasakan nikmatnya.
Maka dari itu, Isander menunda terlebih dahulu dan fokus makan siang bersama.
Tidak lama setelah makan siang, Reza dan yang lain datang untuk membantu Isander mengumpulkan ribuan atau mungkin puluhan tibu bongkahan candi yang berhamburan di banyak tempat.
Dengan adanya mereka yang membantu, pekerjaan ini cukup cepat diselesaikan, mungkin besok pekerjaan sudah selesai.
__ADS_1
Di hari ini, sekitar ada lebih dari sebagian bongkahan berserakan di kumpulkan di empat titik yang berbeda, sisanya akan dilanjutkan nanti, kemungkinan diselesaikan besok.
Matahari di atas sudah ingin tenggelam dan menghilangkan diri dari dunia, telah datang waktunya untuk mereka pulang dan melaporkan apa yang terjadi di hari ini.
Perjalanan pulang selalu ada monster yang menghalangi jalan mereka dan menunda perjalanan, tetapi itu bukan masalah karena tim Isander dapat menyelesaikan monster-monster yang mendekati mereka sebagai objek latihan dan mengasah kemampuan.
Helen dan Reren lebih sering bergerak karena keduanya yang paling bawah tingkat kekuatan Agter dimilikinya.
Oleh sebab itu, Isander meminta untuk mereka yang pertama melawan monster yang ada.
Isander berharap keduanya bisa menyusul yang lain sehingga tim mereka benar-benar kuat dan dapat menghancurkan monster-monster yang hidup di dunia ini.
"Ice Arrow Bom!"
Helen menarik busurnya, dan anak panah berwarna putih kebiruan melesat cepat dengan ekor berwarna putih.
Tusk!
Panah Helen menancap tubuh Rhitager dengan dalam dan darah menyembur keluar membasahi tubuhnya.
Begitu satu tetesan darah mendarat di atas tanah, tubuh Rhitager sekejap meledak dengan bongkahan es yang terbentuk secara tiba-tiba.
Duar!
Daging busuk yang bau dengan darah kehitaman terpencar ke segala arah, es putih kebiruan diselimuti oleh darah merah yang kental.
Pemandangan itu begitu sadis, tetapi bagi mereka, para Agter yang sudah profesional tidaklah sadis. Mereka sudah bisa melihat pemandangan ini, dan sudah tidak asing lagi.
Orang normal mungkin sudah muntah-muntah dan mengeluarkan makanan yang sudah ditelan seharian ini.
Setelah melihat hasil Helen yang luar biasa. Isander melirik Reren yang berdiri di depan menghalau tubrukan Rhitager yang kuat.
Kedua perisainya yang makin kuat dan berduri banyak, sekejap membunuh Rhitager yang datang karena duri tajam menusuk seluruh tubuh mereka tanpa ragu.
Bisa dilihat bangkai monster yang menghantam perisai Reren, semuanya mati dengan banyak lubang di tubuh mereka.
Darah merah dan daging halus berceceran keluar, mengotori permukaan tanah.
Polisi udara dan pemandangan yang ada di tempat itu tidak cocok bagi Meisya. Dengan demikian, Isander membawa Meisya dan yang lainnya pergi dan tidak diam di tempat.
Setiap langkah kaki yang Isander lakukan, semua jejak dan bekas pertarungan ditimbun tanah, termasuk bangkai monster yang dikubur oleh tanah.
Sebelum ke topik utama, Isander meminta mereka untuk melaporkan tentang bagaimana kondisi Kota Komodo hari ini.
Mereka mengaku Kota Komodo sebentar lagi akan selesai, tembok kota hampir selesai, tetapi bangunan belum sepenuhnya selesai, ada beberapa bangunan lagi yang harus dibuat.
"Kalian bertemu Goron?" Isander melirik Reza sembari mengunyah kacang di mulutnya.
Reza mengangguk pelan dan juga ikut memakan kacang lalu dia menjawab, "Aku dan Kila sempat bertemu dan mengobrol sesaat. Meski kita masih menggunakan topeng, Goron tahu kami berdua."
Kepala Kila mengangguk beberapa kali, menguatkan ucapan Reza bahwa itu beneran terjadi.
Sementara itu, Giya dan Nina juga merespons dengan anggukan. Mereka berdua sempat bertemu Goron dan berbicara beberapa patah kata, sekadar berkenalan dan mencari informasi yang ada di Kota Komodo.
Mengambil botol air di depannya, Giya menyesap air beberapa detik, kemudian berkata, "Aku merasa Goron bertambah kuat, kekuatannya jauh di atas kita."
"Aku juga merasakan hal yang sama," kata Kila sembari mengangguk dan memakan kacang goreng.
"Dia sudah diberi kartu peningkatan, bahkan dia adalah orang pertama yang aku kasih."
Semua anggota tim Isander melirik wajah Isander dan mereka terkejut.
"Sungguh?" Reza menoleh melihat Isander dengan alis yang terangkat naik.
"Iya, aku memberikan dia terlebih dahulu sebagai hadiah. Sama seperti kalian waktu pertama kali bergabung," jelas Isander sambil mengambil kacang dengan satu kepalan tangan.
"Pantas saja, dia memang jauh lebih kuat dari anggota tim Kota Komodo yang lain."
Reza bersandar ke dinding dan mengangguk mengerti. Tidak heran jika Goron jauh lebih kuat dari mereka, semuanya mendapatkan kartu peningkatan, dan itu memang adik.
Lagi pula, mereka tahu Goron berada di atas mereka sebelum kartu peningkatan dibagi oleh Isander. Hasilnya, kartu peningkatan itu juga membuat Goron menjadi lebih tinggi lagi kekuatannya.
Giya dan yang lainnya paham mengapa Goron bertambah kuat. Goron sudah menjadi anggota kelompok, tidak salah mendapatkan kartu peningkatan juga.
"Bagaimana di sana? Ada monster yang menyerbu lagi?"
"Tidak ada, di sana masih aman saja sejak dimulai pemulihan kota," Nina kali ini menjawab pertanyaan Isander.
__ADS_1
"Itu benar." Reza mengangguk sembari memejamkan matanya.
Mendengar informasi ini, Isander merasa lega dan tenang. Namun, di lain sisi dia merasa aneh juga.
Dengan tidak adanya penyerbuan yang datang ke Kota Komodo, artinya kecil kemungkinan Candi Borobudur dirusak oleh monster.
Penyerbuan biasanya menghancurkan apa saja yang menghalangi lintasan mereka.
Dipikir-pikir lagi, jika ada penyerbuan pun tidak harus dari arah Candi Borobudur berada, bisa saja dari arah lain.
Ini membuat Isander bingung.
Satu-satunya cara agar mengetahui siapa pelakunya adalah pergi ke sana dan menginap di malam hari di sana.
Tidak ada cara lain lagi selain memantau dari dekat dan melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi di sana.
Isander punya pikiran seperti ini, tetapi Isander sendiri ragu. Dia masih tidak percaya diri dengan kekuatannya.
Di dalam hatinya, Isander memutuskan untuk besok malam saja pergi untuk menginap satu malam di sana.
Malam ini, Isander ingin berlatih dan berdiskusi dengan Cenagon. Siapa tahu saja dia bisa membantu. Walaupun Isander tidak berharap banyak.
Masuk ke topik utama, Isander menatap semua anggotanya, kecuali Helen dan Reren yang sudah lebih dahulu tidur.
Melihat tatapan ini, semua anggota Isander tahu bahwa obrolan menjadi lebih serius.
"Menurut kalian, apa penyebab dari kehancuran Candi Borobudur itu? Apa kemungkinan yang terjadi?" tanya Isander kepada mereka semua dengan sikap yang tenang.
Dalam sekejap, Giya dan Reza memasuki renungannya untuk memikirkan segala kemungkinan yang menurut penalaran mereka itu besar terjadi.
Isander memberi mereka waktu sembari memakan camilan kecil.
Hidup di dunia ini dengan Sistem, terasa seperti sedang piknik di hutan karena ada banyak makanan yang diberikan.
Sangat tidak terasa seperti bertahan hidup bagi Isander. Lebih terasa bermain-main atau berjalan untuk mencari hiburan lain.
Meskipun hiburan di sini sangat ekstrim dan berbahaya, punya risiko yang sangat tinggi, dapat menyebabkan nyawa direnggut oleh malaikat pencabut nyawa.
Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mereka semua berpikir tentang kemungkinan yang menurut mereka benar dan yakini.
Orang yang pertama membuka suara mengenai perihal Candi Borobudur yang rusak adalah Giya.
Giya menatap Isander dan menjelaskan, "Aku berpikir bahwa alam yang menyebabkan kehancuran pada candi. Alasannya adalah karena di malam hari kemarin terjadi hujan di sini. Bukan suatu yang mustahil jika Candi Borobudur rusak karena ada badai hujan yang dahsyat."
Mendengar pendapat dari Giya, semua anggota berpikir lagi terhadap penjelasannya..
"Apa itu mungkin? Harus berapa besar badai menerbangkan bongkahan bangunan Candi Borobudur dan menerbangkannya ke segala arah?" Reza bertanya dengan tidak yakin.
Reza berpikir pendapat Giya sulit untuk dijadikan asumsi sementara karena ada keanehan dan kurang logis.
Candi Borobudur ini terbuat dari material berbahan batu dengan jenis yang berbeda. Mungkin beratnya ada di sekitar 10 kilogram ke atas setiap bongkahan batunya.
Dengan berat sebesar itu, tornado apa yang mampu menerbangkannya.
Giya tidak bisa menjawab karena dia sendiri pun meragukan hasil pemikirannya.
Usai ikut berpikir, Isander menjawab pertanyaan Reza, "Tornado dahsyat yang memiliki kecepatan angin begitu tinggi, tidak mustahil menerbangkan batu. Namun, hujan di sini saja tidak begitu besar. Jika ada badai yang sebesar itu, kita bisa merasakannya di sini karena jarak juga tidak terpaut begitu jauh."
"Benar juga," ucap Giya dengan setuju.
Pendapatnya kurang masuk akal dengan kejadian kehancuran Candi Borobudur ini.
Butuh badai besar yang kuat untuk menghancurkan struktur candi, dan badai seharusnya bisa sampai ke sini karena jarak mereka dengan candi tidak begitu jauh.
Paling tidak, hujan yang sampai ke sini itu besar, tak kecil seperti kemarin malam.
Kemarin malam terjadi hujan, tetapi air yang turun tidak deras, cenderung kecil.
Jika deras, mungkin rumah ini akan bocor atapnya dan mereka bisa kebasahan.
Isander lupa untuk memperkuat dan memperbagus atap dan bangunan rumah ini agar tahan dari segala kondisi cuaca.
"Aku memiliki pendapat lain," celetuk Kila kepada mereka semua. "Aku berpendapat bahwa rusaknya Candi Borobudur dikarenakan monster yang kuat dan belum diketahui jenisnya"
Pendapat Kila dipikirkan lagi oleh mereka semua, tetapi tidak begitu lama.
"Ada kemungkinan monster pelakunya," kata Nina yang sependapat. "Aku juga sempat berpikir seperti itu. Namun, aku tidak yakin dengan pemikiranku sendiri."
__ADS_1
"Misalkan pendapat Kila benar, monster apa yang bisa melakukan hal itu tanpa meninggalkan jejak serangan fisik?" tanya Isander kepada mereka semua.
Pertanyaan Isander lagi-lagi membuat mereka kembali tenggelam dalam pikiran mereka sendiri untuk mengingat lagi jenis monster apa yang memungkinkan untuk bisa melakukan hal tersebut.