
Semua anggota tim Isander menepuk jidatnya hampir serempak. Ternyata Kila sendiri tidak pasti dengan wilayah Kebumen yang pernah dikunjunginya.
"Di sini memang dingin, terlebih polusi udara dan pemanasan global tidak lagi meningkat akibat manusia tidak memproduksi teknologi lagi," kata Nina dengan hasil logikanya.
Isander, Goron, dan yang lainnya mengangguk, membenarkan pernyataan yang keluar dari mulut Nina.
Duni ini sama sekali tidak memproduksi sebuah barang yang di mana harus mengeluarkan banyak limbah dan asap hitam yang mengepul ke langit.
Aktivitas tentang teknologi sudah hampir tidak ada. Di Pulau Jawa ini, Isander sama sekali belum pernah mendengar dan menemukan secara langsung tentang sekelompok orang yang memproduksi sebuah barang berbasis elektronik atau teknologi.
Di dunia ini sudah kembali ke zaman senjata dingin, seperti di zaman purba yang memakai alat tradisional untuk memburu atau mempermudah hidup mereka.
Zaman modern runtuh, dan orang-orang di sini hanya bertahan hidup dengan cara memburu dan jual-beli.
Rumah tembok yang terbuat dari semen saja hanya ada di kota dan pembangunan seperti itu tidak merata. Goron memberi tahu tentang pembangunan di dalam Kota Komodo yang di mana memang tidak merata.
Sebagian ada yang hidup di rumah kayu yang sederhana, dan ada yang hidup di rumah dengan bahan tembok semen dan batu bata.
Bahan-bahan untuk membuat rumah dengan tembok layaknya rumah modern sangat sedikit. Petinggi saja mengambil bahan-bahan tersebut dari pemukiman dahulu sebelum monster-monster menginvasi dunia.
Goron sendiri punya rencana untuk membuat rumah memakai bahan tanah dengan kekuatan Agta miliknya, tetapi itu dibatalkan karena memang tidak memungkinkan untuk dibuat.
"Dunia memang jauh menjadi lebih baik, tetapi itu tidak akan bertahan lama karena monster ini tidak jauh berbeda dengan manusia yang memiliki sifat keserakahan akan kekuasaan. Mungkin saja mereka mengalami evolusi yang mendekati manusia," jelas Aqila yang sudah paham sekali tentang monster.
Di kota memang ada sebuah pengetahuan tentang hal ini.
Sebagai orang yang hidup di kota, Goron juga mengangguk mengonfirmasi tentang ucapan Aqila, kemudian dia menambahkan, "Memang benar. Monster yang menginvasi akan jauh lebih menakutkan dan mengancam dunia karena kecerdasan mereka yang sangat-sangat kecil. Mereka tak berbeda dengan binatang. Dengan kecerdasan yang masih terbelakang, ditambah dengan kekuatan serta sifat mereka yang liar, dunia akan menjadi lebih buruk di tangan mereka."
Semua orang merenung untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh keduanya.
Isander pun setuju dengan pernyataan yang mereka berdua keluarkan.
Monster-monster ini memang sangat liar dan terbilang bodoh, sangat-sangat sulit dan memiliki peluang kecil untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.
Apabila mereka sudah berhasil memusnahkan manusia, kemungkinan besar mereka akan mulai berebut kekuasaan hingg memakan banyak korban jiwa, seiring dengan kekacauan yang mereka buat, dunia terkikis dan hancur dalam waktu yang dekat.
Manusia memang membuat dunia menjadi buruk, tetapi manusia punya otak cerdas dan perasaan.
Dengan kedua itu memungkinkan untuk dunia berkembang menjadi lebih baik.
Asalkan dunia tidak arahkan oleh petinggi-petinggi yang tak mementingkan orang lain, dan hanya mementingkan diri sendiri.
Isander bersandar di tembok rumah pohon, matanya bergerak di antara mereka semua, membuat semua anggota menjadi tidak tenang, kemudian bertanya, "Bagaimana menurut kalian tentang monster apa yang sebenarnya ada di wilayah Kebumen?"
"Aku pikir Elgoter ada di sana," jawab Reza dengan cepat.
Jawaban Reza membuat semua bertanya dengan alasannya.
Bahu Reza tersentak dan melanjutkan, "Aku hanya sekadar menebak."
"Menurutku, di sini tempatnya Gorgoter tinggal," kata Giya yang bermaksud menjawab pertanyaan Isander. "Aku melihat di sini banyak sekali hutan besar, mungkin saja ada Gorgoter yang tinggal dan besar tinggal di Kebumen."
"Masuk akal." Aqila mengangguk dan sependapat dengan ucapan Giya.
Di sini memang banyak sekali hutan dengan pepohonan yang tinggi serta lebat. Gorila atau Gorgoter suka dengan namanya hutan yang liar.
Hutan yang dilindungi sudah tidak ada di dunia ini. Semuanya menjadi hutan liat yang tak terurus.
__ADS_1
Goron mengetuk dagunya yang sedikit memiliki janggut, berpikir tentang kemungkinan monster tingkat S yang tinggal di Kebumen.
Dari aspek geografis, pendapat Giya memang masuk akal, tetapi entah mengapa Goron itu kurang tepat tebakannya.
Bukan Gorgoter yang ada di sini, monster S yang ia tebak adalah Hipgoter.
"Apa kalian semua berpikir tentang Hipgoter yang tinggal di sana?" Goron melirik mereka semua dengan wajah penasaran.
Isander sedikit mengangguk. "Aku sempat berpikir seperti itu, tetapi aku tidak yakin dengan Hipgoter tinggal di Kebumen. Lingkungannya kurang cocok."
"Bisa saja Hipgoter tinggal di sana," kata Aqila yang serius, "karena di suatu daerah besar pastinya ada sungai dan danau meski kecil. Hipgoter suka dengan tempat-tempat seperti itu."
Semua anggota Isander bertukar pikiran dan membahas tentang jenis monster yang akan mereka temui di Kebumen nanti.
Rasa tidak tahu memang menakutkan dan membuat orang kesusahan.
Tidak heran jika banyak sekali manusia yang punya phobia akan sesuatu yang tidak diketahui, misalnya phobia laut dalam.
Dengan ketidaktahuan juga membuat manusia mengalami suatu kegelisahan akan sesuatu dan berdampak buruk pada mental.
Maka dari itu, ketidaktahuan mereka dengan monster di Kebumen punya dampak bagi mereka, yaitu kemungkinan untuk kalah cukup meningkat walau ada Isander yang melawan monster tingkat S nanti.
Mereka akan sulit untuk melakukan persiapan bertarung karena minim informasi dan waktu. Mau tidak mau akan membuat rencana mendadak untuk melawan monster yang datang.
Setelah mengobrol tentang monster S, Isander dan Aqila diam-diam keluar dari rumah kayu untuk memeriksa area luar.
Isander merasa bahwa dari arah selatan mereka ada sebuah energi yang sangat besar sedang diam di suatu tempat.
Masih tidak bisa diketahui oleh Isander tentang apa energi itu karena jarak yang terlalu jauh.
Meskipun sudah diraba-raba, Isander tetapi belum bisa menebak.
Masih sama dengan cara mereka terbang, tetapi perbedaannya sekarang adalah Aqila sangat-sangat menempel pada Isander.
Dia bahkan tidak malu untuk mencium lembut leher Isander dan memegang bagian intim Isander.
Awalnya, gerakan ini tidak dihiraukan oleh Isander karena dia berpikir Aqila tak sengaja menyentuh, tetapi dia salah, Aqila memang sengaja dan ini memancing monster yang ada di dalam dirinya untuk keluar.
Benar saja, Isander tidak bisa membendung lagi hasratnya, kemudian dia menukik ke bawah mencari bangunan kosong untuk dijadikan tempat eksekusi.
Aqila bingung dengan tindakan Isander yang tiba-tiba ini.
Namun, setelah mengetahui Isander membawanya bangunan kosong, Aqila tahu apa yang ingin Isander lakukan.
Di dalam bangunan yang cukup bagus dan layak diinapi, Isander memandang Aqila di atas kasur yang terdiri banyak kain.
Wajah Aqila sangat-sangat merah, dia menatap Isander penuh kelembutan.
"Aku ingin memberi tahu informasi yang penting untuk kamu, informasi ini berasal dari istri kamu."
"Ap—"
"Dengarkan aku baik-baik dan jangan berbicara," sela Aqila sambil menutup mulut Isander dengan satu jarinya yang lentik.
"Istri kamu, Kayshila, dia memberi tahu aku sesuatu tepat beberapa menit sebelum hari kehancuran datang. Sesuatu itu adalah dia mengatakan padaku untuk berjanji aku harus mencintaimu jika dirinya sudah lagi tak bisa membalas cintanya padamu," ungkap Aqila dengan matanya yang mulai berair. "Kamu tahu? Aku sangat-sangat terkejut saat itu, ternyata Kayshila mengetahui bahwa aku juga mencintaimu ...."
Tetes demi tetes air mata Aqila keluar dari sudut luar matanya, itu mengalir ke pelipis dan terjatuh ke atas kain dan membasahinya.
__ADS_1
Air mata sudah memenuhi kedua mata Isander, dia benar-benar terkejut dengan ungkapan Aqila.
Ternyata istrinya memang menyukainya dari dahulu, dan mungkin rasa gengsi masih menguasai dirinya saat itu.
Namun, Isander masih tidak percaya dengan Aqila yang ternyata sudah menyukainya dari dahulu.
Mendengar ucapan Aqila barusan, Isander tahu apa yang harus dilakukan.
Dengan air mata yang mendarat ke pipi kanan Aqila, wajah Isander makin dekat, dan akhirnya dia mencium bibir Aqila dengan perasaan sayang.
Sesuatu terjadi pada mereka berdua selama lebih 2 jam.
Ruangan itu dipenuhi oleh jeritan dan juga permohonan maaf dari seorang wanita, beberapa suara aneh yang sangat menggairahkan muncul dari dalam sana.
Setelah 2 jam mereka melakukan kegiatan itu, Aqila terbaring tanpa mengenakan sehelai benang pun di atas kasur.
Tubuhnya penuh oleh keringat, dan bagian tubuh paling intimnya dipenuhi oleh cairan putih yang kental.
Saat ini, Isander berbaring di sebelah Aqila dengan tatapan sayang yang mendalam.
Aqila menoleh dengan senyuman, dan dia mengecup bibir Isander dengan mata yang penuh kepuasan.
Sekilas, bayangan istrinya muncul pada tubuh Aqila, Isander merasa dejavu dengan gerakan Aqila ini.
"Aku ingin kamu melakukan lagi hanya denganku nanti," kata Aqila dengan senyuman menawan.
Isander mengecup dahi Aqila, dan dia membalas, "Kamu hanya milikku. Kamu juga tak boleh melakukan itu dengan orang lain."
"Untuk apa aku melakukan kegiatan itu dengan orang lain? Aku merasa milikmu jauh lebih besar dari milik orang berkulit hitam yang sempat aku tonton dahulu, aku tak sengaja menontonnya."
"Tunggu? Kamu pernah menonton itu?"
Ujung bibir Aqila sedikit terangkat, senyuman tipis terbentuk di wajahnya dan dia berkata, "Aku pernah menonton bersama Kayshila saat itu. Kamu tahu? Dia sangat-sangat kecanduan film berbau panas. Tidak heran juga dia ingin bersama kamu dan menikahi kamu. Milikmu memang tidak terkalahkan."
Tubuh Isander tersentak, dan dia akhirnya menyadari mengapa istrinya selalu minta jatahnya setiap malam.
Sebelum adanya Sistem, kelebihan Isander adalah memiliki bagian belalai yang besar dan panjang.
Ditambah dengan banyak kemampuan dari Sistem ukurannya menjadi sangat besar.
"Kamu masih lelah?" tanya Isander pada Aqila yang mendadak menutup bagian pentingnya. "Apa yang kamu lakukan?"
"Aku sedang berusaha meningkatkan peluang untuk bisa memiliki bayi darimu, aku ingin punya Meisya yang kedua dariku dan kamu."
Mendengar jawaban dari Aqila, membuat Isander menjadi bertanya-tanya dalam hati, 'Genre apa yang sebenarnya ada di dalam hidupku? Mengapa mendadak menjadi mesum dan vulgar?'
"Aqila, jangan seperti itu. Sikapmu itu mirip dengan jal—"
"Meskipun aku bukan ****** karena ini juga kali pertamaku melakukan itu dan langsung denganmu, tetapi aku tidak keberatan untuk menjadi lacur pribadimu," kata Aqila yang kerap memotong ucapan Isander. Matanya kepada Isander tampak seduktif.
"Aku menerima lamaran pekerjaanmu, tetapi di luar kegiatan ini, kamu jangan menunjuk sikap itu kepada orang lain, oke?" Isander menatap Aqila dengan serius dan dalam.
Aqila mengangguk manja dan membalas, "Aku mengerti, Papa."
"Aqila, kamu jangan mengingat video itu lagi oke? Otakmu sudah terkontaminasi."
"Kalau itu membuatmu senang dan puas denganku, mengapa tidak?"
__ADS_1
Sikap liar Aqila terus-menerus keluar di sini.
Isander menjadi tahu sesuatu bahwa wanita pendiam dan dingin memiliki nafsu yang jauh lebih besar dari wanita yang lain.