
"Dua Monster."
"Tiga Monster.
"..."
"Sembilan Monster!"
"Sepuluh Monster!"
Monster Goatager satu per satu tumbang dan terbunuh oleh dua bayangan yang terus bergerak dengan kecepatan yang cukup cepat.
Kedua bayangan tersebut adalah Nina dan Reza, mereka berdua berlomba-lomba menunjukkan kekuatannya dengan cara siapa yang membunuh monster paling banyak orang itu terkuat di antara keduanya.
Namun, jika dilihat dari jumlah pembunuhan keduanya yang selalu seimbang, sulit untuk menentukan siapa yang lebih kuat dari mereka berdua.
Kekuatan mereka punya keunikan masing-masing yang efesien dalam membunuh kumpulan para monster.
Nina dengan golok airnya yang tak memerlukan tebasan banyak untuk membunuh satu monster, tetapi memang kecepatan menyerangnya tidak lebih cepat dari Reza.
Kecepatan merupakan keunggulan Reza, sedangkan Nina kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dan lebih mematikan.
Bentuk senjata memengaruhi gaya dan jenis serangan mereka. Dengan bilah yang cukup besar, Nina mudah membunuh dan mencincang tubuh monster, kekurangannya kecepatan serangan yang agak lambat.
Semua kemampuan dari anggota Isander memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, dan itu hal yang wajar. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, segala sesuatu di dunia punya kelebihan dan kekurangan.
Isander sendiri pun memiliki kelemahan, dia memiliki banyak kemampuan bukan berarti tak terkalahkan, banyak yang harus dievaluasi dan diperbaiki oleh Isander sendiri.
Duar!
Tali cambuk yang keras menghantam tubuh salah satu Goatager sangat kuat.
Darah menyembur keluar dari tubuh Goatager akibat serangan ini, terlihat seperti ayam goreng yang ditumbuk, isian tubuh keluar dari dalam, sungguh mengerikan.
Dampak dari cambuk Kila bukan main, manusia biasa bahkan seorang Agter dengan tingkatan master bisa mati jika terkena serangan ini dengan telak.
Kerusakan yang ditimbulkan mirip dengan batu yang berukuran besar dihantamkan dengan keras dari atas, seorang Agter pun tak mampu menangkap serangan ini tanpa terluka, atau bahkan bisa mati.
Blar! Blar!
Suara sesuatu yang terbakar dan membara terdengar di sisi lain dari medan tempur.
Sosok Giya yang tengah sibuk menebas dengan pisau berapinya terlihat jelas. Apinya yang menari-nari sekujur tubuh pisau membuat Giya tampak mencolok meski dilihat dari jauh.
__ADS_1
Setiap pisau itu lewat, Goatager yang ada di sekitar Giya terbakar dan langsung kehilangan kemampuan untuk bertempur.
Tubuh monster seketika terbakar dengan api yang sangat panas, kulit mereka yang penuh luka dibakar oleh api menjadi hitam dan hangus. Rasa sakit yang dihasilkan sangat besar.
Api pisau Giya ampuh untuk melumpuhkan musuh dan membunuhnya secara perlahan.
Srat!
Pisau lempar menancap tepat di dahi monster, api yang ada di pisau menyambar dengan kecepatan yang dapat ditangkap mata.
Api yang panas dengan suhu melebihi 1.100 derajat Celcius membungkus seluruh tubuh monster sampai mati dan menjadi mayat yang kaku dan hitam.
Untuk sementara beberapa waktu yang singkat, aroma terbakar dan terpanggang menyelimuti medan tempur bagian Giya.
Pada saat yang sama, Isander dan Meisya tidak ikut memburu monster, mereka berdua duduk di bawah pohon besar tak jauh dari tempat mereka melakukan pertempuran.
Tujuan Isander ada di sini adalah untuk berjaga-jaga apabila ada monster yang tak mampu diselesaikan oleh mereka berempat.
Isander tidak mau jika dia yang selalu membasmi para monster dan anggotanya tak mengeluarkan kemampuannya sama sekali.
Jika seperti itu terus, kemampuan mereka akan menjadi tumpul dan kepribadian mereka juga perlahan berubah menjadi malas, tidak mandiri dan selalu mengandalkan dirinya saja.
Dia bukan seorang pengasuh atau pun instruktur, Isander adalah pemimpin kelompok.
Mengatur mereka dan membantu mereka terus berkembang sesuai dengan tujuan mereka bersama.
Isander dan Meisya sudah lama duduk di bawah pohon tersebut, kalau dihitung, mereka sudah ada di situ selama setengah jam.
Namun, Isander sama sekali tida khawatir dengan keempatnya, telinga Isander selalu siaga dan mengawasi mereka dari jauh.
Panca indra pendengaran diaktifkan oleh Isander sehingga dia dapat mendengar suara pertempuran mereka melawan monster di jarak ratusan meter.
Kontrolnya atas fisiknya sendiri sudah cukup untuk mengunci suara dan mencari sumber suara yang khusus dengan mudah, Isander telah meningkatkan kemampuan dalam mengendalikan seluruh tubuh dengan baik dan sukses.
Duduk bersama Meisya, Isander membiarkan Meisya menonton video anak-anak yang tersimpan di dalam jam pintar ini.
Video ini baru Isander temukan. Sebelumnya, dia tidak tahu ada file tersebut di dalam jam pintar.
Setelah dieksplorasi dan dilihat-lihat fitur lebih dalam lagi, Isander menemukan beberapa video anak-anak kartun yang mendidik dan film untuk orang yang telah dewasa yang mengandung kekerasan.
Jelas, Isander tidak memperbolehkan Meisya menonton film tersebut karena masih terlalu muda. Tunggu Meisya berumur lebih dari 6 tahun, mungkin Isander akan mengizinkannya menonton video-video tersebut.
Di masa kanak-kanak ini, Isander ingin Meisya menonton sesuatu yang mendidik sehingga putrinya ini mendapatkan nasihat serta pesan moral yang baik untuk perkembangan mentalnya.
__ADS_1
Tepat saat Isander dan Meisya sudah 45 menit duduk di bawah pohon sambil menonton dan memakan camilan kecil, Giya dan lainnya berhasil mengalahkan puluhan Goatager yang totalnya nyaris seratus ekor.
Mereka berjalan dan mendatangi Isander dengan membawa barang bukti berupa tanduk Goatager yang dipotong kecil pada ujung tanduk.
Sesuai dengan peraturan kelompok, semua orang mendapat hasil dengan rata karena semua anggota membantu dalam penyerangan.
Reza dan Nina secara tidak langsung dibantu oleh Giya dan Kila, juga sebaliknya.
Mereka semua bekerja sama dan tidak bersaing dengan sesama anggota.
Untungnya, mereka semua tak keberatan dengan peraturan ini, malah mereka senang.
"Sudah?"
Melihat kedatangan mereka berempat, Isander mengalihkan kepalanya dan menatap keempatnya dengan alis yang terangkat.
Giya dan lainnya mengangguk dengan cepat sebagai tanggapannya.
"Sudah, semuanya sudah beres, tersisa jejak pertempuran yang belum kami bereskan. Namun, Giya sudah setengahnya merapikan tempat pertempuran tersebut," ucap Giya sambil menatap Isander dan anaknya.
"Benar, monster sudah mati, kami tidak menyisakan satu ekor monster pun yang hidup," tambah Kila yang menguatkan pernyataan Giya.
Nina dan Reza juga mengangguk untuk menunjukkan ucapan Giya tidaklah berbohong dan sesuai kenyataan.
"Oke, kalian tunggu di sini, aku akan membersihkan jejak pertempuran kalian."
Isander berdiri dari akar pohon dan menggendong Meisya, berjalan ke depan Giya, dia menyerahkan Meisya kepadanya untuk dititipkan untuk waktu yang tak lama.
"Aku titip Meisya. Tolong beri dia tontonan anak-anak kartun bis."
"Siap, aku mendengarkan."
Setelah berpamitan dengan Meisya dan anggotanya juga, Isander melesat dengan cepat meninggalkan mereka semua dan berlari menuju ke tempat mereka berhasil mengalahkan kumpulan monster Goatager.
Tidak perlu mengadakan basa-basi dan sejenisnya, Isander bergegas melenyapkan tubuh, daging, darah, dan organ tubuh monster dengan menimbun dan menguburnya di dalam tanah.
Dilanjutkan dengan usahanya meratakan permukaan tanah yang tak karuan.
Proses perbaikan dan penghilangan jejak tidak lebih dari 5 menit lamanya.
Sesudah itu, Isander melompat ke atas pohon dan pergi kembali ke tempat keempatnya menunggu.
Isander bersama anggotanya kembali ke basecamp atau markas.
__ADS_1
Di sana, mereka semua membicarakan tentang sesuatu selagi masih ada waktu yang banyak.
"Jadi, aku dan Nina yang akan menukarkan koin terlebih dahulu?"