SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 34: Berniat Membantu


__ADS_3

Tanduk banteng besar itu menabrak perisai bulat wanita tersebut dan menciptakan sebuah ledakan yang besar disertai dengan debu yang berhamburan.


Boom!


Sosok monster banteng dan kedua orang yang dihantam oleh tanduk monster tertutup oleh tebalnya debu tanah yang beterbangan.


Tepat ketika debu tersebut menghilang, sebuah pemandangan terlihat.


Wanita yang memegang perisai bulat di kedua tangannya berlutut di atas tanah dengan wajahnya pucat. Darah mengalir keluar dari mulutnya dan matanya menatap sosok monster banteng dengan penuh rasa ngeri dan takut.


Tanduk monster banteng yang besar itu berhasil ditahan oleh perisai bulat ini dengan kondisi yang baik, tetapi kondisi wanita yang mengkhawatirkan, tubuhnya terus mengeluarkan darah melalui mulut.


Pria yang ada di belakang wanita ini langsung mengambil tubuh wanita dan menjauh dari monster.


Bersembunyi di belasan meter dari monster, pria ini meletakkan wanita yang melindunginya bersandar di atas pohon, darah masih menetes keluar mulutnya. Kesadaran wanita ini makin melemah hingga akhirnya menutup matanya.


Wajah pria ini penuh dengan penyesalan sekaligus amarah yang besar saat melihat wanita yang menolongnya tak sadarkan diri dan terluka, dia mengalihkan matanya dan menatap monster di kejauhan dengan mata yang merah karena amarah berapi-api.


Saat ini, salah satu tanduk monster banteng tertancap ke dalam tanah, monster ini mencoba untuk mengeluarkan tanduknya. Oleh sebab itu, pria dan wanita tadi bisa kabur dan menjauh.


Moooo!!!


Monster banteng meraung dan tanduk yang tertancap di tanah perlahan terlepas.


“Isander, kita harus membantu mereka. Kalau tidak, keduanya akan terus diincar oleh monster ini.“ Giya menoleh dan menatap Isander dengan panik.


Isander hanya diam, dan tak langsung merespons ucapan Giya. Dia mengintip dari balik pohon untuk melihat monster berbentuk banteng di kejauhan.


Terlihat monster ini menatap ke arah di mana pria itu pergi, tampaknya monster tersebut bisa mencium aroma keberadaan kedua orang itu.


Sempat Isander lihat ketika wanita tersebut menahan serangan mentah dari tanduk monster. Dia ingin menolong, tetapi dia sadar bahwa dirinya sedang menggendong Meisya. Lagi pula, ini bukan tanggung jawab Isander.


Melihat ayahnya yang belum membalas ucapan Kakak Giya, Meisya menatap Isander dan berkata dengan suara yang gamang, “Ayah, bisakah kamu mengalahkan monster besar itu dan menolong kedua kakak tadi?“


Suara permintaan Meisya terdengar di telinga Isander, bersamaan dengan itu suara mekanis Sistem muncul dan memberi sebuah informasi.


[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Sistem Memberikan Anda Kemampuan Natural Healing dan Hand of Earth!]


Sebuah perasaan hangat dan asing menjalar di dalam tubuh Isander setelah pemberitahuan dari Sistem muncul. Isander terkejut sesaat dan dia diam tak bergerak membiarkan sesuatu yang datang menjalar ke sela-sela tubuhnya.

__ADS_1


Proses integrasi berlangsung cepat, hanya beberapa detik usai Sistem datang dan memberikan kemampuan.


Selama proses integrasi terjadi, Isander masih memantau monster yang ada di kejauhan dan masih berusaha melepaskan tanduknya yang tertancap di tanah karena kecerobohannya.


“Baiklah. Ayah akan membantu mereka.“ Isander menarik kembali pandangannya dan menatap ke arah Meisya serta kedua wanita yang bersembunyi dengannya.


Mendengar ini, Meisya tersenyum senang dan dia bersemangat.


“Kamu bersama Kakak Giya dan Nina terlebih dahulu. Jangan nakal, oke?“ Isander menatap Meisya dan tersenyum lembut.


Meisya mengangguk cepat dan menunjukkan raut wajahnya yang gembira. “Oke, Ayah! Meisya mengerti!“


“Anak ayah yang pintar.“


Isander menyerahkan Meisya kepada Giya dan memberi sebuah instruksi atau arahan kepada keduanya.


“Kalian berdua pergi ke tempat di mana orang tadi bersembunyi selagi aku menghadapi si besar itu. Selanjutnya, kalian bawa mereka berdua menjauh sampai puluhan meter dari aku dan monster ini bertarung nanti. Apa kalian mengerti?“


“Aku mengerti!“


“Baik, aku akan lakukan, Isander.“


Kepada Isander bergerak ke atas dan ke bawah, menatap kedua wanita ini dengan puas.


Begitu kalimat itu terjatuh, sosok Isander yang ada di depan mereka menghilang dan hanya menyisakan suara lain.


“Rencana telah dimulai.“


Bam!


Tubuh monster banteng ini tiba-tiba bergeser ke arah kiri oleh sesuatu.


Monster banteng merasakan sakit di tubuh sisi sebelah kanannya, ada seseorang yang telah menyerangnya. Dia ingin sekali membalas, tetapi tanduknya masih susah untuk ditarik keluar.


Moo!!


Jeritan yang terkandung rasa amarah yang tinggi keluar dari moncong kepala banteng yang besar tersebut.


Dengan sekuat tenaga monster ini menarik tanduknya berniat untuk mengeluarkan tanduk yang tersangkut di tanah.

__ADS_1


“Percuma saja, Banteng Merah. Kamu tidak akan bisa melepaskannya.“


Sebuah suara muncul di gendang telinga monster, membuat monster ini langsung memberhentikan gerakannya.


Tidak tahu kapan ada seseorang muncul dan berdiri di atas tanduk yang satunya. Seorang pria berjongkok di atas tanduk sambil menatapnya dengan penuh rasa kasihan.


Entah mengapa saat monster tersebut melirik pria yang muncul tanpa diundang, amarahnya langsung melonjak dan makin sensitif.


Monster banteng ini menggelengkan kepalanya dengan cepat berusaha melonggarkan tanah yang menghimpit dan menjepit tanduknya sehingga bisa keluar.


Sosok pria tersebut menghilang lagi begitu monster banteng menggoyangkan kepalanya.


“Sudah kubilang, usaha kamu percuma, tak ada gunanya.“


Pria tersebut muncul sekali lagi, kini muncul tepat di depan wajahnya, hanya terpisah oleh jarak 3 meter.


Moo!!


Monster tersebut makin marah, dia berteriak keras sambil menghembuskan angin dari hidungnya.


Hembusan angin yang kencang meniup dengan keras tubuh pria tersebut.


Namun, pria tersebut menanggapinya dengan santai, tangan kanannya masih masuk ke dalam saku celana panjang yang dikenakan, menatap monster banteng dengan ekspresi yang menunjukkan rasa kasihan yang mendalam.


“Aku tidak tega denganmu. Kalau begitu, aku akan membantu kamu dari jebakan tanah ini.“


Di detik berikutnya, sosok pria tersebut ada di udara di ketinggian 5 meter dari permukaan tanah, kemudian jatuh ke bawah dengan posisi kepala di bawah.


Tangan kiri pria ini bergerak melakukan ancang-ancang ingin memukul di udara, dan muncul sebuah pemandangan aneh terlihat.


Kepalan tangan pria ini mengalami perusahaan, bongkahan tanah yang ada di bawah dengan cepat terbang dan membungkus tangan tinju pria tersebut. Tak sampai 2 detik berlalu, kepalan tangan pria tersebut berubah menjadi kepalan tangan besar yang terbuat dari tanah dan bongkahan tanah yang keras, serta beberapa batu kerikil yang ikut tertanam.


Dengan momen jatuh yang cepat, kepalan tangan pria ini maju ke depan dan menabraknya pangkal tanduk monster banteng yang tertusuk ke dalam tanah.


Bum!


Crack!


Suara dentuman besar terdengar dan disusul oleh suara sesuatu yang patah. Kedua suara tersebut sangat jelas munculnya di jarak belasan sampai puluhan meter dari tempat monster dan pria tersebut berada.

__ADS_1


Tak lama kemudian, sebuah jeritan dari monster besar itu keluar dan membuat semua orang yang ada di sekitar harus menutup kedua telinga.


MOOO!


__ADS_2