SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 44: Menguburkan Pasangan Tidak Beruntung


__ADS_3

Begitu Isander sampai di dekat rumah pohon, dia melihat Nina berdiri di bawah rumah pohon sambil memegang pisau, kekuatan Agta miliknya.


Nina terkejut saat mendapati Isander sedang menggendong seseorang di kedua tangannya. Dia dengan cepat menghampiri Isander dan bertanya, “Ini? Ada apa dengan Bima, Isander?!“


Pertanyaan Nina tidak Isander jawab, dia hanya memasang ekspresi wajah yang kecewa dan sedih.


Melihat tidak ada respons dari Isander, Nina menatap Bima dengan seksama. “Tunggu! Apakah Bima adalah seorang pria yang dikejar oleh monster—”


“Ya, itu benar,” potong Isander dan kemudian dia berjalan lagi, diikuti oleh Nina yang memiliki mata yang rumit.


Nina melihat ke arah punggung Isander yang berjalan di depannya dengan mata yang memiliki perasaan yang bingung. Dia masih tidak percaya bahwa orang yang sempat mereka temui kemarin sudah tidak ada.


Perut Bima tidak ada reaksi seperti orang yang dapat bernapas, sudah dipastikan dia telah tiada, ditambah dengan konfirmasi dari Isander bahwa orang yang sedang sekarat dan dikejar oleh banyak monster adalah Bima.


Keduanya berdiri di dekat akar pohon tempat rumah pohon berada, keduanya menatap tubuh Bima yang dibaringkan di atas tanah dengan masih memakai busana yang sudah robek dan tercabik-cabik.


Mereka tampak sangat sedih, terlebih Nina yang sudah menangis, dan dia sekarang menangis sambil menatap Bima dengan tangan memegang dagu.


Isander menceritakan apa yang terjadi sebelumnya kepada Nina dengan jujur dan sesuai fakta. Nina yang mendengarnya pun langsung percaya karena tidak ada jejak atau tanda kebohongan dalam kalimat Isander yang dikeluarkan.


Semua ceritanya logis dan tidak diada-adakan. Terdengar mungkin bisa terjadi sesuai dengan ucapan Isander.


“Jadi, aku meminta tolong padamu untuk jaga mayat Bima ini. Aku akan pergi untuk mencari tubuh Fina, Bima sudah memberi tahu aku tentang di mana tempat penyerangan monster kepada Fina terjadi,“ ujar Isander menatap Nina dengan serius.


“Baiklah, aku akan menunggu. Kamu hati-hati di sana, tetap waspada,” balas Nina kepada Isander dengan wajah yang masih ada aliran air mata di pipinya.


Setelah mendengar jawaban Nina, Isander berlari ke arah utara dengan cepat sambil mengeluarkan Dark Spear.


Sambil berlari, Isander membuat jejak dengan cara menggoreskan batang pohon yang dia lewati dengan bilah tombaknya supaya tidak tersesat di jalan.


Letak di mana penyerangan berada adalah di dekat monster banteng merah pernah bertarung dengan Isander.


Jaraknya lumayan jauh beberapa kilometer dari tempat rumah pohon Giya dan Nina berada.


Namun, dengan kecepatan lari Isander, itu bisa ditempuh dalam waktu yang singkat, Isander mengeluarkan seluruh kecepatan larinya yang bisa dia lakukan.

__ADS_1


Saking cepatnya Isander berlari, dia benar-benar berubah menjadi siluet yang melintas di antara pepohonan dan bergerak lurus ke arah tempat yang dia tuju.


Whoosh!


Garis hitam meluncur cepat membuat dedaunan jatuh, rumput, semak, dan daun pohon bergoyang mengikuti arah angin yang dihasilkan oleh kecepatan lari Isander.


Beberapa menit kemudian, Isander berdiri di depan mayat seorang wanita.


Mayat seorang wanita ini sangat parah kondisinya, beberapa anggota tubuh menghilang, hanya menyisakan kepala yang berlumuran darah, badan, satu kaki, dan satu tangan.


Bagian tubuh pun tidak terlalu bagus kondisinya. Di bagian perut terbuka dan mengeluarkan organ bagian dalam.


Tanpa banyak omong, Isander mencoba menggunakan kekuatan penyembuhannya kepada mayat ini.


Setelah mencoba, itu efektif dan berhasil untuk memulihkan luka. Isander menyambungkan beberapa bagian anggota tubuh mayat ini sambil mengaktifkan kekuatan penyembuhannya.


Organ yang keluar Isander masukkan dengan asal, terpenting masuk dan hilang. Berikutnya, luka robek pada bagian perut menghilang dan robekan pada anggota tubuh yang terpotong telah rapat kembali.


Waktu untuk mencapai hasil penyembuhan seperti itu cukup lama, memakan waktu belasan menit.


Isander tidak tenang apa ila meninggalkan para wanita sendiri, lebih lagi anaknya sendiri.


Mengingat jarak tempat yang begitu jauh, itu membutuhkan waktu yang lumayan lama bagi Isander di perjalanan.


Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu di tempat tadi, dan segera berangkat lagi ke rumah pohon dengan perasaan yang tidak tenang.


Untungnya, ketika dia sampai di rumah pohon, dia masih melihat Nina yang berdiri sambil memperhatikan Bima yang sudah tidak lagi bernyawa.


Jasad Fina tidak berubah menjadi monster karena seluruh luka pada tubuhnya dihasilkan karena cakaran dan bukan gigitan. Oleh karena itu, Fina takkan berubah menjadi wujud seorang monster.


Di samping Nina ada Giya yang juga menatap Bima begitu sedih dan sayu. Keduanya masih ingat bagaimana mereka bertemu dengan Bima dan Fina, itu sangat hangat, terlebih ketika melihat Bima dan Fina bermesraan.


Pasangan ini memiliki takdir yang buruk, sangat tidak baik dan mengenaskan akhir hidupnya.


Mereka berdua makin menangis, ledakan air mata terjadi di antara keduanya, mereka tidak tahan untuk menatap jasad Fina.

__ADS_1


Isander tidak berkata apa-apa, kemudian dia membaringkan jasad Fina di sebelas jasad Bima.


Setelah menunggu mereka sudah tidak lagi menangis, Isander dan keduanya mulai menggali lubang di dekat akar pohon.


Berikutnya, mereka menguburkan kedua mayat ini secara terpisah, tetapi berdekatan satu sama lain.


Tidak lupa diberikan tanda kuburan agar mereka tetap ingat dengan Bima dan Fina.


Mereka bertiga duduk berlutut di dekat makam Bima dan Fina, entah apa yang mereka lakukan.


Mata mereka terpejam sambil mengucapkan sesuatu kata yang baik untuk kedua mayat ini.


Tak lama berselang, Giya Berdiri dan dia pergi ke atas rumah pohon untum memastikan keadaan Meisya. Disusul oleh Nina dengan mata yang masih meneteskan air mata.


Dan terakhir, Isander masih berlutut sambil melihat nama kedua mereka di tanda makam.


Dia berpikir bahwa ini terjadi karena dirinya, dia sudah memiliki firasat yang buruk terhadap keduanya, akan terjadi sesuatu yang baik.


Namun, dia salah, dia tidak menahan mereka untuk pergi dan tak mengajak mereka berdua untuk bergabung dengannya.


Jika saja dia mengajak mereka berdua bergabung, kemungkinan tidak akan terjadi peristiwa yang buruk ini.


Setelah dipikir-pikir beberapa kali, Isander tidak menyalahkan dirinya lagi, dia berpikir ini memang sudah takdir, tak ada yang disalahkan tentang kejadian apa yang terjadi saat ini.


"Sudah jalannya, aku tidak bisa memprotes takdir. Tak ada yang salah di antara kita semua. Semua salah monster."


Setelah mengatakan kalimat itu, Isander meninggalkan kedua makam ini dengan perasaan yang berat. Melirik kedua makam ini sekali lagi, Isander langsung naik ke atas rumah pohon tanpa ragu.


Di dalam rumah pohon, suasana ceria tidak ada, digantikan oleh suasana yang sedih.


Giya dan Nina pergi tidur tak lama setelah mereka berdua menangis.


Hanya ada Isander yang tersisa di ruang berkumpul. Dia duduk bersila dan memejamkan matanya.


Saat ini dia sedang menenangkan hatinya, dan membiarkan rasa tenang serta damai memenuhi pikiran dan hatinya.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Isander memasuki kondisi fokusnya dan mulai berlatih untuk meningkatkan semua kemampuannya.


__ADS_2