
Semua orang menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat pemandangan yang luar biasa.
Meskipun jauh, mereka semua bisa melihat Isander yang melemparkan sebuah bola di tangannya yang entah apa bola itu dan segera bole itu meledak di atas langit yang masih cerah.
Semua awan yang ada di langit terhempas oleh ledakan tersebut dan membuat pemandangan indah yang sangat hebat.
Tak terbayangkan jika bola itu mengenai tubuh mereka, mungkin sudah menjadi daging halus yang bertebaran di tanah.
Setelah melakukan itu, Isander tersenyum di wajahnya dan perlahan berjalan ke tempat Giya, Meisya dan Nina sedang berdiri menunggunya.
Setiap Isander melangkah, retakan terbentuk di tanah, garis retakan menjalar luas dengan kedalaman yang dangkal, tetapi garis sangat banyak dan meluas sehingga darah serta daging monster yang berceceran masuk ke dalam tanah.
Secara perlahan, semuanya menghilang dan lenyap, hanya menyisakan sebuah belasan ekor monster yang utuh dan noda merah kehitam-hitaman bekas darah monster.
Berjalan ke arah mereka, Isander menyempatkan untuk mengambil ekor-ekor monster yang memiliki bercak darah.
Retakan tanah menutup lagi seiring Isander berjalan makin dekat dengan mereka bertiga.
“Kalian baik-baik saja, kan? Monster-monster itu tidak menyerang kalian?“ Berhenti di depan mereka, Isander langsung melontarkan pertanyaan dengan perhatian.
Mereka berdua yang sedang terpana lantas terbangun dari keadaan bingung dan menatap Isander di depannya.
Giya yang menggendong Meisya menjawab dengan senyum canggung, “Anu, kami bertiga tidak apa-apa. Monster tadi sama sekali tidak datang kepada kami.“
Untuk mendukung pernyataan Giya, Nina mengangguk mengonfirmasi ucapan temannya.
“Benar, Ayah. Kami tidak diserang monster jahat itu! Ayah sangat hebat dan luar biasa!“ celetuk Meisya dengan mata penuh bintang kekaguman yang ditujukan kepada Isander.
Mendengar ini, tidak hanya Isander saja yang tersenyum, Giya dan Nina juga menunjukkan senyuman yang hangat.
Tangan Giya mengusap rambut Meisya dengan lembut.
Setelah itu, Giya menyerahkan Meisya kepada Isander secara hati-hati.
“Syukurlah kalau kalian tidak terluka. Bagaimana dengan mereka semua?“ Menggendong Meisya dengan posisi nyaman, Isander bertanya kepada kedua wanita yang ada di depannya ini.
Nina dan Giya membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihat ke arah semua orang pergi.
Orang-orang dari Rain Settlement berdiri di kejauhan sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan bahwa mereka baik-baik saja.
__ADS_1
Di sana, mereka semua sedang membicarakan kekuatan Isander yang telah ditunjukkan beberapa menit yang lalu. Pemandangan yang menakjubkan tersebut membuat mata mereka terbuka tentang betapa kuatnya seorang manusia yang memiliki kekuatan Agter.
Mereka menganggap Isander seorang Agter, sebab itu sudah divalidasi oleh Ketua Pemukiman.
Ternyata, Giya dan Nina yang sudah mereka anggap kuat, sekarang tampak lemah apabila dibandingkan dengan Isander.
Persepsi mereka diubah, perasaan lebih menghormati Isander muncul secara alami di dalam tubuh mereka semua. Peristiwa ini pasti akan dilaporkan kepada Ketua Pemukiman, Pak Ghandi.
Usai Isander memeriksa keadaan Meisya, Giya, dan Nina, mereka bertiga berjalan ke arah orang-orang pemukiman yang bertugas mencari barang di reruntuhan.
Isander berbelok ke arah salah satu mayat monster yang tak sengaja terlempar olehnya di dalam pertempuran tadi. Monster tanpa kepala ini masih mempunyai ekor. Tanpa berpikir lagi, Isander menyuruh Giya untuk memotong ekor monster ini.
Sebuah rencana sudah ia pikirkan, yakni membagi ratakan hasil ekor monster ke Giya dan Nina.
Setelah melihat Giya memotong ekor monster, sebuah lubang tangan tercipta di bawah jasad monster, kemudian salah satu pohon yang ada di dekat Isander merangkak dengan akarnya menutupi lubang di tanah tersebut.
Panorama ini dilihat oleh semua orang, terutama Giya dan Nina, mereka berdua melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh Isander.
Mereka memperhatikan kaki Isander yang mengambil satu langkah ke depan, sontak sebuah retakan muncul dan menjalar hingga menciptakan lubang yang membuat mayat monster terjatuh ke kedalaman lebih dari 2 meter.
Akan tetapi, mereka tidak tahu bagaimana caranya Isander bisa menggerakkan sebuah pohon ini. Masih membuat mereka penasaran.
“Tidak-tidak, aku sama sekali tidak berhak menerima ekor monster ini.“ Giya menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tak mau menerima ekor monster dari Isander.
Lumayan jumlahnya, masing-masing mereka mendapatkan 5—6 ekor monster Catagtress.
Mendengar penolakan mereka terhadap kebaikannya, Isander langsung memutar otak dan mencari alasan agar mereka berdua menerima kebaikannya ini.
Melihat Meisya yang memeluknya sambil mencium pipinya tiba-tiba, sebuah ide terlintas begitu saja di kepalanya.
Sebuah senyuman terbentuk di mulutnya dan Isander berkata, “Terima empat ekor ini masing-masing untuk kalian, ini adalah hadiah karena sudah menggendong Meisya ketika aku sedang bertempur.“
Terdapat 8 ekor yang Isander miliki, sisa 8 ekor dibagikan kepada mereka berdua, mereka mendapatkan total 4 ekor per orang.
Begitu dibagikan, manik mata mereka terlihat tidak setuju dan enggan, tetapi ketika mendengar alasan Isander, mereka akhirnya menerima ekor-ekor monster tersebut.
Isander kebingungan ingin menyimpan ekor ini di mana, ia memutuskan untuk meminta tolong untuk Giya dan Meisya membawa barangnya.
Sungguh merepotkan jika memiliki tas yang tak bisa dimasukkan barang dari luar. Isander sudah protes tentang hal ini kepada Sistem, tetapi tak ada respons sama sekali.
__ADS_1
Sistem tidak akan menjawab pertanyaannya, hanya ada di kondisi tertentu Sistem memberi jawaban, seperti menjawab tentang perihal hadiah dan yang berkaitan dengan hadiah yang ia berikan, termasuk status pada panel transparan.
Tangan kanan Isander sudah penuh oleh barang-barang yang ditemui di reruntuhan, sedangkan tangan kiri digunakan untuk menggendong Meisya.
Meisya sendiri pun menggenggam baju yang ditemukan oleh Giya di reruntuhan, tangan mereka penuh.
Untungnya, Giya dan Nina masih bisa membawa barang lagi di tangannya.
Isander merasa tertolong.
Mereka bertiga mendekati orang-orang yang sedang menunggu kedatangannya.
Di kepala mereka semua masih teringat bagaimana Isander membuat tanah menjadi retak dan membuat lubang yang cukup untuk menenggelamkan tubuh monster di dalam tanah, pohon yang bergerak secara misterius menutupi lubang, dan tubuh monster terpental serta bola meledak yang dilemparkan oleh Isander.
Begitu Isander menatap wajah mereka semua, tampak jelas ekspresi mereka yang terlihat berbeda saat melihat dirinya. Terasa jelas tatapan mereka berbeda ketika melihat dirinya, agak terlihat hormat dan mengagumi.
Mengabaikan pandangan mereka semua, Isander dan lainnya mulai bergerak memimpin rombongan kembali ke kawasan pemukiman.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di pemukiman sebelum malam tiba.
Pemukiman baik-baik saja ditinggal oleh Giya, Nina, dan mereka semua.
Orang yang menjaga gerbang pintu pemukiman tersenyum melihat mereka kembali dengan selamat.
Di perjalanan, Isander sempat memburu puluhan ayam, orang yang bertugas membawa makanan membawa semua ayam untuk mereka makan.
Untuk seorang Agter, mereka diberikan beberapa ekor untuk makan pribadi, sebagai ungkapan rasa terima kasih karena sudah membantu mereka semua mendapatkan makanan.
Isander juga mendapatkan jatah 5 ekor ayam yang masih hidup dan ditempatkan di khusus peternakan ayam, di pemukiman ini juga ada yang berternak agar mereka tidak kehabisan makanan.
Para Agter boleh meminta ayam untuk dipanggang dan dimakan secara pribadi, warga setuju dengan itu.
Malam ini adalah malam untuk mereka berpesta, api unggun dinyalakan di tengah pemukiman dan mereka membakar beberapa ayam untuk dimakan.
“Bersorak untuk keberhasilan kita semua! Ayo Berpesta!“
“Ya!!“
Pemimpin kelompok pencari barang di reruntuhan berseru keras, dan dijawab oleh semua orang dengan perasaan yang bangga.
__ADS_1
Setelahnya, mereka makan-makan dan bergoyang diiringi dengan suara gendang yang agak dikecilkan.
Meisya yang mendengar ini ikut menari di depan Isander. Tarian Meisya sangat lucu, membuat semua orang tak bisa menahan senyuman.