SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 45: Meninggalkan Kedua Makam


__ADS_3

Setelah semalaman latihan, Isander membuka matanya tepat ketika matahari menampakkan dirinya ke Bumi.


Mata Isander bergetar beberapa saat, kemudian sepasang pupil mata yang jernih dan menawan terlihat dengan jelas.


Melihat ke sekeliling ruangan, Isander tidak menemukan ada Giya dan Nina, tampaknya mereka masih tidur di kamarnya.


Begitu dia memeriksanya, dugaannya benar, mereka ada di kamar sedang tidur dengan posisi yang rapi.


Isander tidak mau melihat mereka berdua lama-lama karena itu tidak baik. Dia mengalihkan pandangannya ke arah kamar lain dan langsung melihat sosok Meisya yang tidur dengan nyenyak.


Gadis kecilnya masih tertidur, padahal dia tidur lebih awal tadi malam.


Duduk di atas kasur, Isander memandang wajah Meisya yang imut dan menggemaskan dengan tatapan yang hangat dan bahagia.


Hanya dengan melihat buah hati tercinta, dapat membuat orang tuanya senang, Isander jadi mengerti mengapa anak itu begitu penting. Perasaan ketika melihat anak memang sangat membahagiakan.


Sudah beberapa hari ini dia dan anaknya makan daging ayam yang dibakar. Makanan tersebut tidak baik jika dikonsumsi dalam jangka panjang baginya. Maka dari itu, Isander berniat untuk memberikan Meisya makanan yang ada di dalam tas lagi.


Tidak apa-apa mereka berdua bertanya, Isander akan menjawab bahwa makanan ini baru datang dari seseorang yang kerap memberinya. Lagi pula, kedua wanita ini sudah menjadi tim, tak perlu menahan lagi. Jika mereka berkhianat, keduanya tidak cukup untuk mengalahkan Isander yang sendiri.


Membuka tasnya, Isander mengeluarkan kotak sereal dan kotak susu, tak lupa beserta dengan mangkuknya. Beberapa makanan yang ada di dalam tas disertai dengan mangkuk dan ada yang tidak. Makanan yang dibungkus, seperti nasi bungkus, nasi goreng, nasi padang, dan beberapa makanan yang lainnya yang hampir serupa tidak disertakan dengan wadah mangkuk.


Menempatkan 1 mangkuk di atas kasur yang kosong dan tidak tidak tempati oleh bagian tubuh Meisya yang tertidur, bersama dengan kotak susu dan kotak sereal gandum.


Tidak lama kemudian, Meisya yang tertidur bangun dan duduk dengan keadaan yang pengar. Dia memandang Isander dengan bingung beberapa saat lalu merangkak ke pelukan Isander dan hendak tidur lagi.


“Jangan tidur lagi, Sayang. Sudah pagi.“ Isander mengusap punggung kecil Meisya dengan lembut. Suara Isander tidak terdengar kencang, melainkan begitu lembut dan nyaman.


Meisya yang ingin tidur lagi langsung menahan dirinya untuk tidak tidur, dia lebih menuruti ucapan Isander daripada keinginannya.


Pasalnya, dia juga tidak terlalu mengantuk.


Duduk di pangkuan Isander, Meisya menggosok matanya, dan menatap wajah Isander.


“Ayah, aku mau makan.“ Mata bulat Meisya tampak sangat lucu, membuat Isander tidak tahan untuk tidak mencium pipi Meisya dengan rasa sayangnya yang tercurahkan.


Isander menoleh ke arah kotak sereal dan kotak susu diletakkan, dan Meisya ikut melihat ke arah yang Isander lihat.


“Yeay! Makan serel lagi!!“ Meisya bergegas melepaskan pelukan Isander dan mendekati makanan yang ia lihat di atas kasur.

__ADS_1


Matanya yang murni dan polos menatap makanan dengan begitu antusias, dia sudah rindu dengan makanan ini. Meisya suka sekali dengan makanan manis, melihat makanan yang disajikan oleh Isander membuatnya bersemangat di pagi hari.


Makanan itu Isander sajikan dengan bantuan Meisya, dia meminta Isander mengajarkannya cara menyajikan makanan sereal.


“Ini sereal, Sayang. Bukan serel,” kata Isander dengan nada yang lembut. Anak kecil jangan selalu dianggap biasa ketika mengatakan kosakata yang salah, takutnya membuat dia lama untuk belajar dan menguasai sesuatu yang baru.


Mendengar ucapan ayahnya, Meisya mengangguk sambil mengunyah makanannya. “Aku mengerti, Ayah. Aku suka sere … al! Nom, nom, nom!“


Tampilan Meisya sedang makan terlalu menggemaskan, Isander tidak bosan-bosannya melihat tingkah laku anaknya ini.


Tepat ketika Meisya makan, Giya yang sudah bangun memeriksa kamar mereka sambil memanggil, “Isander, apakah kamu sudah bangun?“


Giya berjalan sambil menggosok matanya tanpa melihat Isander dan Meisya yang duduk di atas kasur di depannya.


“Eh, ternyata kalian sudah bangun.“ Giya menatap Isander dan Meisya sedikit terkejut. “Meisya sedang makan apa?“


“Aku sedang makan sereal! Sangat enak! Kakak Giya mau?“ kata Meisya sambil menunjukkan mangkuknya yang berisi makanan kecil yang memiliki warna yang berbeda dan kuah susu.


Mata Giya melebar dan kemudian dia mengamati makanan yang ada di dalam mangkuk dengan wajah yang terkejut. “Sereal? Dari mana kamu mendapatkan makanan ini lagi?“


Pandangan Giya bergerak ke arah Isander yang duduk dan fokus memandang anak gadisnya makan.


Tanpa perlu berpikir lagi, Giya mengangguk. Kebetulan dia merasa perutnya kosong saat ini.


Dengan begitu, Isander mengeluarkan beberapa bungkus nasi bungkus dari dalam tas, dan memberikan 2 bungkus kepada Giya.


“Ambil ini, makanan ini untuk kamu dan Nina. Aku sarankan makan makanannya bersama dengan daging ayam bakar. Jika tidak mau juga tidak apa-apa, di dalamnya sudah ada potongan daging ayam,” ujar Isander kepada Giya dengan kata yang jelas.


Giya menerima makanan ini, kemudian mengajak Isander makan bersama di ruang berkumpul.


Mereka berempat sarapan di ruang tempat berkumpul. Semuanya memakan makanannya dengan wajah yang cerah dan ceria, seakan-akan lupa dengan kesedihan yang semalam.


Selain Meisya, mereka bertiga makan dengan makanan berat, tidak makan sereal seperti Meisya.


Setelah perut mereka terasa kenyang, mereka turun dari rumah pohon dan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya ke pemukiman.


Namun sebelum itu, Isander, Giya, dan Nina berdiri di dekat 2 makam untuk memastikan makam akan baik-baik saja.


Meisya sempat bertanya tentang kedua gundukan tanah di depannya. Begitu dijawab oleh Isander, Meisya membeku beberapa saat, kemudian menangis sangat sedih.

__ADS_1


Masih teringat jelas di ingatan Meisya wajah dari kedua orang yang sempat bertemu dengannya itu. Kakak perempuan yang baik dan kakak laki-laki yang terlihat bertanggung jawab itu telah tiada.


Perkataan yang dilontarkan oleh kakak perempuan itu yang paling diingat Meisya, berjanji untuk bertemu lagi di suatu hari nanti.


Sayangnya, kakak perempuan ini berbohong kepadanya, mereka berdua mengingkari janjinya. Mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan Meisya untuk selamanya.


Usai menenangkan Meisya, mereka memulai perjalanan pulang ke Rain Settlement sebelum hari makin siang.


Mereka berempat berjalan beriringan meninggalkan kedua makam Bima dan Fina, juga rumah pohon.


Beberapa daun berwarna kuning terjatuh dan terjun di antara angin yang berhembus. Dua di antara dedaunan itu mendarat dengan tepat di atas kedua kuburan tersebut.


Beberapa menit mereka berjalan, rasa di hati mereka masih terasa berat untuk meninggalkan rumah pohon, tetapi mereka semua harus tetap berjalan.


Kita harus tetap berjalan maju meski banyak tekanan yang datang untuk menghentikan kita dalam mencapai tujuan.


Di perjalanan, banyak monster yang menghalangi mereka dan menjadi retardasi mereka dalam menempuh perjalanan pulang.


Banyak Salmagtress yang menyerang mereka semua dan mencoba memangsa, tetapi yang terbunuh adalah monster itu sendiri.


Tidak hanya Salmagtress, mereka juga menemukan monster lain, Isander baru melihatnya. Nama monster yang baru itu adalah Dogagtress, monster berbentuk anjing yang besar, sedikit lebih besar dari Catagtress dan memiliki telinga panjang ke atas yang runcing.


Monster ini memiliki kekuatan yang hampir sama dengan Catagtress, hanya ada sebuah perbedaan di air liur. Dogagtress ini memiliki air liur yang beracun selain mengandung virus.


Kecepatan lari Dogagtress lebih lambat dari Catagtress. Meskipun demikian, itu masih cukup mudah untuk mengejar manusia.


Untuk menutupi kelemahannya, Dogagtress memiliki koloni yang lebih besar dan banyak dari pada Catagtress yang biasanya satu kelompok berisi beberapa anggota.


Dogagtress ini jarang sendiri-sendiri untuk mencari mangsa, mereka lebih cenderung untuk bersama dalam melakukan sesuatu


Oleh karena itu, Isander ketika melawan mereka agak sulit karena harus menjaga Meisya dan kedua wanita yang ikut bersamanya.


Monster ini juga pintar, memiliki strategi sendiri.


Pada pertempuran, monster-monster bukan membidik Isander dia memfokuskan serangan kepada kedua wanita yang ada di dekat Isander karena mereka tahu bahwa kedua wanita ini lebih lemah dan mudah diserang.


Meski agak kesulitan, Isander bisa melawan monster Dogagtress dan membunuh mereka semua dengan kemampuan barunya.


“Itu, mengapa kami tidak bisa diserang oleh para monster, Isander?“

__ADS_1


__ADS_2