
Melihat tirai tipis yang muncul di sudut matanya, Isander memilih untuk mengaktifkannya.
Jelas, adanya fungsi tambahan dari sistem itu akan membuatnya lebih kuat, apalagi sudah dicantumkan bahwa dengan diaktifkannya sistem baru akan membantunya menjadi kuat sekaligus anggota kelompoknya juga.
Pilihan ini tak perlu ada pertimbangan lagi, orang yang bodoh sekalipun tahu harus memilih apa.
[Ding! Fungsi Sistem Grup berhasil diaktifkan!]
[Apakah Anda menerima Giya sebagai anggota kelompok?]
[Apakah Anda menerima Nina sebagai anggota kelompok?]
[...]
Serangkaian pemberitahuan Sistem terdengar di benak Isander.
Dia menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Sistem dengan jawaban iya. Isander memang menginginkan mereka semua menjadi anggota kelompoknya.
[Ding! Berhasil menerima Giya! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu peningkatan kemampuan satu level dan Kemampuan semua anggota ditingkatkan menjadi Agter Master Three Star!]
[Ding! Berhasil menerima Nina! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu peningkatan kemampuan satu level dan semua anggota mendapatkan 1 kartu elemen dasar!]
[Ding! Berhasil menerima Reza! Selamat Anda mendapatkan 1 kartu kemampuan satu level dan semua anggota diberikan tas kecil penyimpanan ruang 1 meter kubik!]
[Ding! Berhasil menerima Kila! Selamat Anda telah mendapatkan 1 kartu kemampuan beaster badge acak dan makanan serta minuman 50 ton. Semua anggota mendapatkan jam tangan anggota!]
Setelah rentetan pemberitahuan dari Sistem berbunyi di dalam benaknya.
Isander diberi tahu bahwa semua hadiah ada di ruang penyimpanan sistem dan Isander diwajibkan untuk memberikan semua barang yang telah menjadi haknya para anggota.
Mereka berempat tidak diberi tahu bahwa oleh Sistem. Hanya Isander yang mendapatkan peringatan tersebut. Sistem sangat-sangat bersifat khusus dan tak mau orang lain tahu.
"Berhenti sebentar." Isander yang menggendong Meisya tiba-tiba berhenti berjalan. "Ada yang ingin aku beri tahu kepada kalian semua."
Giya dan lainnya ikut berhenti dan mereka berdiri di depan Isander dengan barisan yang rapi.
Semuanya penasaran dengan apa yang ingin diberitahukan Isander kepada mereka. Wajah Isander yang serius membuat mereka makin ingin tahu.
"Apakah ada sesuatu yang berbahaya?" tanya Giya yang menebak-nebak.
Respons Isander ialah gelengn kepala tanda tebakan Giya salah.
Tanpa banyak omong kosong lagi, Isander mengulurkan tangan kanannya ke depan, sebuah cahaya yang terang muncul tepat jari-jemari Isander, membuat semua orang harus menutup matanya saking terangnya cahaya yang datang.
Zing!
Pada saat ini, setelah cahaya yang berkilauan terang menghilang, di tangan kanan Isander terdapat 4 buah kartu polos berwarna ungu yang memancarkan sinar berwarna-warni.
Visual kartu yang dipegang Isander membuat semua orang tertarik untuk lebih ingin tahu.
Tak menunggu mereka melemparkan banyak pertanyaan kepadanya, Isander memberikan keempat kartu tersebut kepada mereka semua dengan 1 kartu untuk masing-masing dari mereka.
Mengamati kartu yang diberikan oleh Isander, terlintas banyak pertanyaan yang ingin mereka sampaikan kepada Isander.
Melihat wajah mereka semua yang bertanya-tanya, Isander tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Kartu yang kalian pegang adalah kartu yang dapat membuat kalian memiliki kemampuan berunsur elemen alam. Itu tidak bisa ditentukan, bisa saja di antara kalian memiliki unsur yang sama," jelas Isander kepada mereka semua.
Sontak saja, mereka semua terkejut luar biasa, bahkan Reza melompat ke belakang karena keterkejutannya yang ia rasakan begitu hebat.
Mereka semua memandang Isander dengan wajah yang sangat-sangat tidak percaya.
Mengetahui arti dari tatapan mereka semua kepada dirinya, Isander melanjutkan dengan wajah yang serius, "Tempelkan kartu tersebut ke Badge atau Lencana kalian semua. Setelahnya, kalian akan tahu omonganku hanya omong kosong belaka atau nyata."
Tidak ada yang berbicara saat ini, seolah mereka semua tak bisa berbicara lantaran rasa terkejut yang mendominasi tubuh mereka.
Rasa ingin tahu melanda tubuh mereka sehingga mereka bergerak sesuai dengan keingintahuan mereka yang dalam.
__ADS_1
Tepat ketika mereka menempatkan kartu tersebut di badge milik mereka masing-masing, semburan sinar terang memancar dari mereka semua dengan warna yang berbeda.
Isander dengan cepat menutup mata Meisya menghalangi sinar cahaya yang kuat menembak ke pupil mata Meisya yang lembut.
Sinar cahaya dengan warna yang bermacam-macam masih meletus dari tubuh mereka berempat, berlangsung tak lebih dari 1 menit lamanya.
Usai cahaya menghilang, penampilan mereka terlihat berbeda secara tak kasat mata, aura mereka sangat jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Giya yang berdiri tegak mulai membuka matanya, sebuah nyala api yang terbakar muncul dari pupil matanya sekilas.
Tiba-tiba, Giya melemparkan 2 pisau lemparnya yang memiliki bentuk yang berbeda. Api berwarna kuning menyelimuti keseluruhan pisau dan terbang ke arah Isander.
Klang!
Kedua pisau lempar berapi tersebut terpental kembali dan terjatuh ke tanah.
Isander menghilangkan tombaknya lagi setelah memblokir serangan tiba-tiba Giya..
Setelahnya, Giya tersadar, pupil matanya kembali normal dan kemudian dia terjatuh ke tanah.
Nina yang baru saja mendapatkan kemampuan elemennya langsung membantu Giya yang jatuh ke tanah. "Giya, kamu kenapa?"
"Dia sedang menyesuaikan dirinya terhadap kemampuan barunya, Nina. Biarkan saja, dia akan bangun dengan sendirinya."
Tidak tahu kapan Isander muncul di depan Nina dan Giya sambil membawa Meisya di pelukannya yang tengah asyik memakan vitamin berbentuk permen.
Pemandangan yang ditampilkan Giya sudah diperingatkan oleh Sistem kepada Isander.
Kemungkinan ada perubahan sifat di awal mendapatkan kekuatan Agta berunsur elemen. Maka dari itu, Giya menjadi mempunyai emosi membara, bahkan berani menyerang Isander secara terang-terangan.
Untungnya, Isander memiliki reaksi yang jauh lebih cepat dari kecepatan lemparan Giya, dia dengan mudahnya memblokir kedua pisau lempar yang berapi.
Sudah sangat jelas elemen yang didapatkan Giya.
Tak lama kemudian, Reza dan Kila pun tersadar, tetapi mereka memiliki sifat yang biasa saja, bahkan Reza mengubah sikap sifatnya kepada Isander.
Keduanya memiliki kekaguman dan rasa terima kasih yang tinggi terhadap Islander.
Dengan tenangnya pria ini memberikan mereka berdua sebuah kekuatan yang sangat langka dan kuat.
"Sama-sama," kata Isander dengan santai. "Apa kekuatan Agta kalian?"
Reza mengeluarkan belatinya yang memiliki bentuk yang sama, kemudian menjawab, "Belatiku memiliki unsur elemen angin, setiap kali aku menyerang, kecepatan seranganku meningkat berkali-kali lipat, ditambah dengan tebasan angin yang dapat memotong musuh dari jarak tertentu."
Kemampuan Reza sangat bagus, Isander menghargai kemampuannya yang keren ini.
Berikutnya Kila, wanita ini mengeluarkan cambuknya yang memiliki model yang berubah dan lebih terlihat keren.
Tali cambuknya memiliki warna silver dan terdapat retakan yang begitu jelas.
Menunjukkan senjatanya, Kila berkata sambil tersenyum bahagia, "Cambuk yang aku punya dapat mengubah talinya menjadi batu sehingga mampu memberikan kerusakan ekstra."
Begitu suara itu jatuh, Kila menampar tanah di kejauhan dengan tali cambuknya.
Swoosh!
Di detik-detik tali ingin menyentuh tanah, tali tersebut berubah mengeras yang memiliki sifat seperti batu, dan tanah ditampar dengan keras.
Bam!
Cambuk Kila menimbulkan kerusakan yang cukup kuat. Tanah yang dipukul seketika terbelah dan terdapat lubang yang lumayan dalam, kedalamannya lebih dari 30 cm dan dengan panjang 2 meter sesuai dengan panjang tali cambuk Kila.
Peningkatan Kila sangat kuat dibandingkan dengan sebelumnya.
Isander berpikir cambuk Kila dapat membunuh Catagtress dalam sekali serangan saja.
Reaksi Reza sangat berlebihan, dia menciumi Kila dengan ganas lantaran dirinya sangat-sangat gembira.
__ADS_1
Kila pun membalas ciuman Kila dan akhirnya mereka berdua saling berciuman mesra.
Dengan lekas Isander mengalihkan tubuhnya kepada Giya dan Nina.
Giya sudah sadar sepenuhnya, tak perlu ditopang oleh Nina lagi.
Melihat Isander, Giya menampilkan wajah yang sangat bersalah. "Maaf, aku tidak bermaksud menyerang barusan, maafkan aku!"
"Aku tahu, telah aku maafkan." Isander tersenyum lembut sambil menatap Giya. "Bagaimana dengan kemampuan kamu?"
"Aku? Pisau lemparku bisa terbakar oleh api yang bersuhu seribu derajat Celcius," ucap Giya dengan wajah yang lega.
"Musuh yang terkena pisau lempar punyamu akan ikut terbakar juga?"
"Benar, Tu–tuan Isander." Giya bingung harus memanggil Isander dengan panggilan apa.
Menunjukkan senyuman di wajahnya, Isander berkata dengan santai, "Panggil aku dengan panggilan yang biasa saja. Aku sudah terbiasa dengan itu."
"Baik!" Giya dengan cepat mengangguk.
"Bagaimana dengan kamu, Nina?"
Pandangan Isander beralih ke sosok Nina yang berdiri di samping Giya.
Tangan Nina mengangkat sepasang pisau yang terlihat lebih besar dari sebelumnya.
Di bawah tatapan Giya, Isander, dan Meisya, pisau Nina mencair menjadi air jernih dan jatuh ke atas tanah, kemudian menghilang.
"Pisaunya dapat berubah wujud menjadi air dan kembali lagi menjadi bentuk pisau sesuka hatiku. Selain itu, aku bisa membentu pisau dari air apa pun dan dapat aku gunakan," beber Nina dengan wajah yang penuh kesenangan.
Mendengar penjelasan Nina, Isander mengangguk puas dan memberikan jempol kepada keduanya.
"Sangat bagus. Di antara kalian tidak ada yang memiliki unsur alam yang sama. Keberuntungan yang bagus. Aku memberikan kalian waktu untuk menyesuaikan diri terhadap kemampuan baru kalian, kalian bebas mengeksplor kemampuan. Setelah puas, kalian datanglah kepadaku, ada sesuatu hal lain yang ingin aku berikan." Isander menatap keduanya dengan serius.
Tanpa memberikan keduanya kesempatan untuk bertanya, Isander berjalan ke sebuah pohon besar di beberapa meter di kejauhan.
Kemudian Isander duduk di sana bersama Meisya dan mulai melakukan sesuatu.
Melihat Meisya yang sibuk memakan camilan yang tak terlalu manis, Isander merasa waktu ini adalah yang cocok untuk dirinya melakukan hal ingin dia lakukan.
Memejamkan matanya secara perlahan, dan kesadaran Isander masuk ke dalam ruangan yang gelap.
[Ding!]
Suara elektronik yang kaku terdengar, diiringi dengan munculnya layar transparan yang mengambang di depannya.
Isander sudah tahu apa yang harus dilakukan, dia menggunakan 2 kartu peningkatan kemampuan satu level ke 2 kemampuan yang telah dia punya. Kartu yang tersisa akan dia pakai nanti.
"Sistem, aku ingin menggunakan dua kartu peningkatan untuk meningkatkan kemampuan Magnetar Body dan Ball of Storm!"
[Ding! Kartu Peningkatan Kemampuan Berhasil Digunakan!]
[Selamat Kemampuan Magnetar Body Meningkat Menjadi Level B!]
[Selamat Kemampuan Ball Of Storm Meningkat Menjadi Level B!]
[...]
Setelah pengingat ini muncul, sebuah reaksi muncul pada tubuh Isander.
Meisya yang duduk di pangkuan Isander merasakan rasa hangat yang nyaman dari tubuh Isander, tetapi itu tidak sampai membuat dirinya terganggu.
Proses integrasi telah selesai. Selanjutnya, Isander ingin menggunakan satu kartu yang spesial, yakni Kartu Kemampuan Beaster Badge Acak.
Dengan keputusan yang bulat, Isander berkata dengan lantang di dalam hatinya, "Gunakan Kartu Kemampuan Beaster Badge sekarang!"
[Ding! Kartu Kemampuan Beaster Badge Acak Berhasil Dipakai!]
__ADS_1