
"Aku siap!" Reren mengangguk kejam dengan wajah yang sangat antusias.
"Aku juga!"
"Semua barang sudah aku periksa, tidak ada yang ketinggalan di rumah ini."
"Sedih, kita secepat ini meninggalkan rumah yang selama beberapa hari ini telah melindungi kita semua."
Semua anggota kelompok Isander sudah menggendong tas masing, tas ruang angkasa atau tas ruang penyimpanan yang memiliki ukuran terbilang agak kecil.
Terlihat semuanya memiliki persiapan yang matang dan benar-benar rapih, bahkan baju yang mereka kenakan sekarang berbeda dengan biasa yang mereka pakai sehari-hari.
Pada hari ini, mereka akan pergi menuju Kota Komodo dan kembali bertualang.
Ini sesuai dengan rencana mereka beberapa hari lalu. Jauh-jauh hari mereka merencanakan kepergian mereka ke Kota Komodo.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Menarik pintu, Isander membukakan pintu rumah dan melangkah keluar dengan Meisya di pelukannya.
Sinar mentari yang cerah masuk ke dalam rumah dan terhalang oleh tubuh Isander yang keluar dari rumah, diikuti anggota kelompoknya yang keluar satu per satu dengan tertib.
Ketika mereka ada di depan halaman rumah yang banyak sekali rumput setinggi mata kaki, mereka berbaris ke samping memandang rumah kayu yang sangat sederhana.
Terlihat dari masing-masing wajah mereka yang tampak sangat sedih melihat rumah mereka yang akan ditinggalin hari ini.
Isander menghela napas, dan kemudian melangkahkan kakinya ke arah timur hutan.
Gerakan Isander membuat anggota kelompok meninggalkan rumah satu demi satu. Reza yang adalah seorang pria kuat tak bisa menahan tangisnya, dia sudah nyaman dengan rumah ini karena selama bertahun-tahun dia dan Kila tak punya tempat tinggal tetap.
Sebuah rumah yang benar-benar terasa rumah bagi Reza dan lainnya juga. Rumah kayu yang sangat sederhana dan agak jelek ini jauh lebih baik dari tempat tinggal yang pernah Reza dan lainnya pernah tempati.
Reza terakhir yang melihat rumah kayu ini untuk terakhir kalinya sebelum pergi ke Kota Komodo.
"Sampai jumpa, Kawan. Aku pasti akan ke sini lagi untuk melihatmu ...."
Setelah mengatakan ucapan itu, Reza menatap pemandangan depan rumah kayu beberapa detik sebelum dia berjalan meninggalkan rumah tersebut.
Terlihat jelas mata mereka semua mengandung perasaan sedih dan keengganan, tetapi mereka tidak bisa terus bertahan di tempat ini, ada tujuan utama yang harus mereka capai.
Tak hanya dengan manusia saja mereka merasakan sesak dan sakitnya perpisahan, dengan benda pun manusia tetap bisa merasakan sedih saat ditinggal oleh benda mati yang disayang.
Bukan pada objeknya yang membuat kita merasakan sakitnya, tetapi perasaan kita sendiri. Meskipun objek itu buruk dan tak berguna, kalau memang kita sayang terhadap sesuatu tersebut, saat perpisahan tiba pasti hati terasa sesak dan sakit.
Kelompok Isander yang terdiri dari 8 orang berjalan memunggungi rumah kayu tanpa melihat belakang kembali.
"Masih ingat dengan jalurnya?" tanya Isander kepada Reza yang berjalan di sampingnya.
Wajah Reza masih terlihat muram, sekejap berubah ketika Isander bertanya.
Reza mengangguk dan melirik Kila yang menyandarkan kepalanya di lengan kirinya, dia menjawab dengan yakin, "Masih ingat. Kila dan aku akan memastikan jalan yang kita lalui mengarah ke Kota Komodo."
"Oke, aku mengandalkan kamu dalam perjalanan ini." Isander tersenyum pada Reza dan kembali mengobrol dengan Meisya yang asyik mengoceh.
Mereka semua melangkahkan kaki di berbagai tempat, kebanyakan tempat yang mereka lalui adalah hutan dan perkebunan, ada beberapa pemukiman kecil bekas kehancuran monster yang mereka injak dan lewati.
Dalam 6 jam berjalan, mereka sudah melewati banyak tempat yang Isander pun lupa apa saja nama daerah yang baru saja ditempuh. Pada intinya, mereka sudah jauh, Isander rasa sudah melewati lebih dari 20 kilometer jauhnya mereka berjalan kaki.
Di jam 12 ini, Isander meminta mereka semua untuk beristirahat sejenak di dekat pohon yang rindang. Di sekeliling pohon ini terdapat perkebunan yang Isander lihat terdapat pohon rambutan dan kapas.
Untuk bisa di sana, harus banyak membunuh monster yang berusaha menghalangi mereka semua.
Tanpa Isander bantu, monster-monster yang datang ke kelompok mereka mati oleh anggota kelompoknya. Namun, Isander sesekali membantu mereka semua karena merasa bosan.
Monster yang bermunculan di tempat mereka mengistirahatkan tubuh banyak berjenis Dogagtress dan Dogager, monster jenis ini hampir memiliki semua persamaan bentuk, bedanya hanya di ukuran di mana Dogager lebih besar. Keduanya jenis yang berbentuk mirip anjing Jerman yang bisa melolong, agak serupa dengan hewan serigala.
__ADS_1
Meskipun mirip seekor anjing, mereka punya tubuh yang menyeramkan sekaligus lebih besar dari anjing biasa pada umumnya. Terdapat sebuah luka pada kulitnya, akar tumbuhan kecil dan sedang merambat dari luka dan itu terhubung satu sama lain, tetapi tidak tumbuh lebat.
Moncongnya yang memiliki taring tajam dan juga air liur yang terus menetes.
Matanya menyala merah dan tak berbeda dengan monster lainnya.
Dogager memiliki ukuran yang lebih besar dari Harimau Siberia atau bahkan Singa Atlas yang punah. Hampir dua kali lipat ukuran dari tubuh singa.
Sementara Dogagtress, dia memiliki ukuran yang jauh lebih kecil dibandingkan dari Dogager. Seukuran harimau dewasa.
Kedua jenis monster ini punya kelebihan dari segi kelincahan tubuhnya, kekurangannya ada pada ketahanan tubuh yang lemah.
Dengan begitu, kelompok Isander dapat membunuh banyak dari dua jenis monster tersebut meski agak kesulitan.
Anggota yang merasa kesulitan itu adalah Kila dan Helen, mereka sulit untuk membidik monster tersebut karena kelincahannya yang menyulitkan mereka dalam mengunci mereka sebagai target penyerangan.
Mereka punya banyak otak jika digabungkan, sebuah solusi muncul dan meminta Helen untuk menembak tanah tempat pertempuran dengan anak panah esnya.
Ternyata anak panah esnya tidak hanya bisa meledak dan menerbangkan paku es, tetapi juga bisa membekukan benda.
Permukaan tanah dalam sekejap ditutupi oleh es yang agak licin dan tajam sehingga menyulitkan monster yang punya 4 kaki untuk berlari.
Helen dan Kila bisa membunuh mereka yang akselerasi dalam berlari berkurang dengan drastis.
Pola strategi tersebut terus dipakai oleh mereka karena masih efektif untuk membantai banyak monster hingga sampai saat ini mereka beristirahat.
Makanan tidak lagi Isander siapkan karena Isander sudah memberi jatah makanan pada masing-masing mereka sesuai dengan rencana yang telah ia buat dan pikirkan waktu itu.
Makanan yang Isander berikan merupakan surga bagi mereka. Sangat sulit untuk manusia yang hidup di dunia mendapatkan makanan yang masih hangat dan enak penuh bumbu serta bahan-bahan makanan segar, seperti sayuran dan dagingnya.
Tak ada satu pun dari mereka yang berkata bahwa makanan yang diberikan Isander tidak enak.
Pada kenyataannya, makanan Isander memang sangat enak dan lezat. Mereka tidak berbohong karena mereka ingat dengan slogan sebuah produk saat Bumi masih normal, yakni rasa tak pernah bohong.
Perjalanan masih panjang, mungkin bisa 3 hari lebih untuk bisa sampai ke Kota Komodo. Durasi perjalanan reaktif, tergantung seberapa cepat mereka berjalan, faktor medan jalan dan monster juga diperhitungkan.
Dari segi jalan yang mereka lintasi tidak terlalu mereka masalahkan, mau itu kontur jalannya naik dan turun, jenis tanah penuh batuan dan banyak rintangan yang memutuskan jalan, semua itu tidak mereka permasalahkan. Hal yang jadi masalah mereka adalah para monster yang kerap menghalangi jalan mereka dan itu menjadi memakan waktu mereka untuk tiba di Kota Komodo menjadi lama lagi.
Dengan demikian, Isander memutuskan usai makan siang dan lanjut berjalan lagi bahwa dia akan ikut membantu mereka melawan monster. Kalau perlu, monster yang datang dan menyerang biar dirinya saja yang melawan, tugas anggotanya hanya menjaga keutuhan dan keselamatan anggota dari serangan diam-diam monster, juga mengambil beberapa bukti pembunuhan.
Blarr!
Bola api seukuran bola basket menabrak tubuh monster berjenis Dogagtress dan membakarnya sampai hangus, hanya menyisakan ekor monster yang utuh tanpa tersentuh api.
Kiekk!!
Beberapa monster berbentuk anjing sebesar harimau meringkuk dan berjalan mundur sembari menatap ngeri ke arah Isander dan anggota kelompoknya.
Belum sempat mereka menghindar, belasan bola tiba-tiba terbang dengan cepat menuju ke arah mereka, menghantam mereka disertai dengan ledakan api yang berukuran sedang.
Tubuh monster yang terkena lontaran bola api tak lama diselimuti oleh api yang menyala dan bersuhu panas.
Suhu api yang ada pada bola api mencapai lebih dari seribu derajat celsius yang sudah cukup untuk membuat daging terbakar hangus tanpa membutuhkan waktu yang lama.
Dalam sekejap, hutan yang Isander lewati dipenuhi oleh aroma hangus dari monster yang dibakar oleh bola-bola api milik Isander.
Bola api yang tercipta dari jarinya mampu membuat monster mati seketika dan tidak perlu mengeluarkan banyak usaha.
Semua tubuh monster yang menjerit berlari-larian karena tak tahan dengan rasa sakit dibakar api dikurung oleh Isander dengan tembok yang terbuat dari tanah.
Asap yang mengepul dan keluar dari api yang membakar monster ikut terkurung sehingga di tempat pertempuran terjadi tak lagi mencemari udara bersih.
Anggota kelompok Isander yang melihat ini terpana tak bergerak, mata mereka berpindah ke sosok pria tak jauh di depan mereka berdiri tegak dengan punggung yang kokoh.
__ADS_1
Saat mereka melihat Isander, mereka seperti telah melihat dunia yang berbeda. Kekuatan mereka dan Isander seolah-olah memiliki kesenjangan yang sangat jauh, saking jauhnya Isander tampak bukan dari dunia ini.
Isander menggerakkan kaki kanannya dan menggesekkan kakinya di atas permukaan tanah tiga kali.
Selanjutnya, tembok tanah berbentuk setengah lingkaran dengan diameter lebih dari 10 meter berubah bentuk menjadi tembok kubus tanpa atap dan kembali menjadi permukaan tanah yang bisa diinjak dengan normal.
Begitu tembok kurungan tersebut menghilang, itu memperlihatkan sesuatu yang ada di dalamnya, yakni kumpulan tubuh monster yang berwarna hitam berasap.
Beberapa dari tubuh monster yang terbakar ini ada yang sampai meleleh, dan darahnya keluar dari tubuh yang terlihat kering.
Anehnya, ada sesuatu yang masih utuh di antara kumpulan bangkai terbakar monster ini.
Melihat semuanya sudah selesai, Isander berbalik ke anggota kelompoknya yang menjaga jarak puluhan meter di belakangnya.
Mengambil Meisya dari tangan Giya, Isander berkata, "Kalian ambil bukti ekor dari mayat monster di sana. Aku menunggu kalian di depan."
"Baik!"
Perkataan itu jatuh, Isander berjalan memutar tanpa melewati tempat dirinya membakar monster dan menuju ke arah timur.
Anggota kelompok Isander lantas sadar dan mengingat perintah Isander tadi. Dengan sigap, mereka semua mengambil ekor monster yang disisakan tidak terbakar oleh Isander. Sengaja untuk mereka semua. Isander tak memerlukan Koin Agta.
Isander butuh makhluk kuat, makhluk yang membuat Meisya mengucapkan sebuah keinginan.
Bukti untuk menerima Koin Agta telah terkumpul oleh anggota kelompok Isander. Jumlah yang berhasil mereka kumpulkan dari pembasmian yang Isander lakukan ada 27 buah ekor yang utuh dan bisa ditukar.
Lumayan untuk mereka konversikan menjadi Koin Agta dan membeli suatu kebutuhan nantinya.
Setelah mereka semua mengumpulkan ekor monster Dogagtress, mereka bergabung dengan Isander dan melanjutkan perjalanan mereka yang masih jauh.
Belum sampai mereka berjalan selama 1 jam lamanya, langit sudah terlihat redup akan berganti menjadi malam.
Mengetahui hal ini, Isander dan lainnya bergegas untuk mencari tempat untuk beristirahat dengan aman dan nyaman.
Melihat jam yang menunjukkan bahwa masih ada waktu sebelum malam, Isander bergegas membuat tempat sederhana di atas pohon untuk mereka semua tidur dengan aman.
Tempat bermalam mereka sama konsepnya dengan tempat yang dibuat Isander ketika dia bertemu dengan Bima dan pacarnya.
Tempat di mana keduanya dikuburkan.
Desainnya tak jauh berbeda, hanya saja lebih sederhana dan agak diluaskan karena sudah ada banyak anggota yang masuk ke dalam kelompok Isander.
Omong-omong, Isander menyesal ketika tahu bahwa sistem memiliki fungsi membuat grup atau tim dan sejenisnya. Kalau saja dia tahu lebih awal, Bima dan pacarnya takkan meninggalkan dunia ini, bahkan tak mustahil bertualang bersamanya.
Apa gunanya menyesal? Isander menjadikan ini sebuah pelajaran. Buktinya, dia menerima Reza dan pacarnya menjadi anggota kelompoknya karena mereka berdua memiliki potensi untuk menjadi teman seperjuangan dalam melawan monster-monster.
Meskipun mereka bukan orang yang baik di awal, mereka mengakui kesalahan mereka dan berjanji untuk berubah.
Kini mereka benar-benar berubah dan tidak bukan cuma omong kosong saja, tak seperti di Bumi di mana banyak orang penting yang bersumpah untuk tidak melakukan korupsi, dan fakta di lapangan berkata lain.
Jangan diteruskan.
Kurang dari 1 jam kemudian, Isander berhasil sepenuhnya membuat tempat tinggal sementara untuk satu malam mereka semua.
Di atas pohon yang lumayan tinggi sebuah bangunan berbentuk kubus yang agak besar tertempel kuat pada batang pohon.
Saat mereka masuki, ada satu ruangan besar yang mengelilingi batang pohon cukup untuk mereka tidur bersama, dan beberapa ruangan yang lebih kecil.
Hanya dalam waktu sesingkat itu, Isander mampu membuat rumah yang lebih dari cukup untuk mereka tidur.
Untuk dijadikan tempat tinggal pun seharusnya tidak mengapa.
Kekurangan rumah ini karena ruangannya tak begitu banyak dan tak ada ranjang khusus tidur. Dengan kata lain, mereka harus tidur di bawah atau di lantai kayu.
__ADS_1
"Apa kita masih jauh dari Kota Komodo, Reza?"