
Bangunan yang mereka lihat sekarang mirip sekali dengan Candi Borobudur. Namun, Candi Borobudur sekarang sudah ditumbuhi banyak tanaman dan juga tanah.
Hal ini menyebabkan Candi yang tampak megah menjadi tidak tinggi lagi.
Selain itu, banyak beberapa bagian candi yang rusak seperti di bagian puncak bangunan yang disebut puncak stupa, dan bagian-bagian ke bawahnya ada yang beberapa hancur.
Sayangnya, untuk Pagar Langkan ini sudah tertimbun tanah hingga tidak terlihat lagi.
Banyak pepohonan yang tumbuh di atas candi sehingga bangunan yang indah ini benar-benar rusak.
"Aku tidak tahu Candi Borobudur menjadi seperti ini," kata Helen yang masih ingat dengan bentuk Candi Borobudur waktu kecil masih di sekolah dasar.
Reren yang lebih tua dari Helen mengangguk, dan melanjutkan, "Aku tidak berpikir Candi Borobudur bisa dihancurkan dan tak terselamatkan."
Setelah mengatakan itu, keduanya menoleh untuk melihat Isander yang masih kebingungan.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Reren kepada Isander.
Isander termenung beberapa saat, memikirkan apa yang harus dilakukan untuk masalah ini.
Tidak lama dia merenung, dia akhirnya menemukan jawabannya.
Menatap Reren dan Helen, Isander menjawab dengan wajah yang serius, "Sebisa mungkin kita perbaiki Candi Borobudur ini dengan cara membersihkan banyak tanaman yang tumbuh di atas bangunan sampai sore tiba."
"Baik."
Reren dan Helen mengangguk mengerti dengan keputusan Isander.
Dengan demikian, mereka semua mulai mencabuti beberapa tanaman yang mudah untuk dibersihkan dan dilepas dari bangunan. Candi Borobudur yang cukup luas.
Mereka tidak berpencar, mereka membersihkan satu spot bersama lalu pindah ke spot lain secara bersama.
Selama 2 jam mereka berusaha menyingkirkan tanaman kecil, mereka berhasil mencabut semua tanaman yang bisa mereka cabut di seluruh bagian Candi Borobudur.
Kegiatan ini cukup melelahkan bagi Helen, Reren, dan Meisya. Kebetulan anak Isander sempat membantu meski tidak terlalu banyak karena keterbatasan staminanya sebagai seorang anak kecil.
Sementara untuk Isander, dia tidak kelelahan dengan kegiatan ini, tetapi perutnya pribadi masih suka dengan makan makanan di siang hari.
Mereka beristirahat sejenak di jam 1 siang untuk makan siang bersama di atas candi.
Bisa dibilang Candi Borobudur sekarang serupa dengan bukit buatan.
Dari kejauhan tampak seperti bukit, tetapi saat sampai di jarak yang cukup dekat terlihat corak dan bentuk bangunan candi yang khas.
"Melelahkan juga membersihkan tanaman dan rumput di Candi Borobudur," kata Helen yang bersandar di pohon dekat Candi Borobudur.
Reren yang mendengar ini hanya bisa menggelengkan kepala dan menelan gado-gado.
"Setelah ini kamu tidak akan lelah karena semuanya sudah selesai. Tinggal tugasku saja yang mencabut pohon besar yang tumbuh di atas Candi Borobudur dan menggerus tanah yang ada di bawah," ujar Isander kepada Helen.
Ucapan Isander membuat Helen dan yang lainnya senang, mereka tidak perlu mencabuti banyak tanaman satu per satu lagi.
Melihat wajah mereka yang tersenyum, Isander melanjutkan ucapannya, "Namun, kalian harus tetap pergi bersamaku karena di sini tidak aman. Apa kalian berdua mengerti?"
"Kami mengerti!" Helen dan Reren mengangguk tegas dan berkata hampir bersamaan.
"Meisya juga mengerti, Ayah!" celetuk Meisya dengan senyuman manis di wajahnya.
Tingkah lucu Meisya tak bisa Isander abaikan, ini benar-benar imut dan obat di dunia yang penuh keseriusan ini.
Dengan gegas Isander mencium pipi Meisya penuh rasa sayang dan cinta.
Meisya yang sedang mengunyah makanan tersenyum dan memberikan senyuman ke Isander.
"Muah!"
Setelah mencium pipi Isander, Meisya tertawa kecil dan kembali fokus memakan makanan sendiri.
Dia tidak lagi disuapi oleh Isander karena permintaannya yang ingin menjadi orang dewasa yang bisa makan dengan tangannya sendiri.
Isander tidak mengekang Meisya dan dia mengajari Meisya dalam menggunakan sendok dan alat makan lain dengan benar.
Dikarenakan Meisya ini memang pintar dan cepat tangkap, hanya dalam beberapa hari saja dia sudah bisa makan sendiri dengan menggunakan beberapa alat makan meski tidak begitu bagus.
__ADS_1
Meskipun tidak bagus cara penggunaan alat makannya, Meisya terbilang rapi dan bersih dalam menyantap makanan karena hanya ada sedikit makanan yang berjatuhan dan berserakan di sekitar piring Meisya.
Setelah makan siang sambil mengobrol santai ini, Isander dan yang lainnya melanjutkan kegiatannya untuk membersihkan bangunan candi dari banyak pohon dan tanah.
Brak!
Dengan kekuatan Isander yang sangat besar, dia bisa mencabut pohon dengan mudah sampai ke akar-akarnya.
Sebuah batang pohon yang tinggi dan tak terlalu besar diangkat oleh Isander seolah terlihat ringan, kemudian dia melemparkan pohon tersebut ke bawah.
Mereka semua memandang Isander dengan pandangan mata yang mengagumi dan memuji.
Kekuatan Isander memang tak perlu ditanyakan lagi, Helen dan Reren menyaksikan secara langsung bagaimana Isander saling meninju dengan banyak monster di level yang cukup tinggi.
Hasilnya, Isander yang memang dalam konfrontasi tersebut tanpa adanya luka.
Dengan melihat Isander juga, Helen dan Reren segera memikirkan tentang jodohnya nanti, dia ingin memiliki pria yang kuat, minimal seperti Isander.
Mereka sudah lelah berjuang sendirian, sebagai wanita dia ingin dilindungi oleh seorang pria yang kuat.
Pada saat ini, Isander fokus mencabut pohon berkambium yang punya ukuran agak besar.
Jumlah pohon-pohon ini tidak begitu banyak seperti tanaman kecil. Seharusnya, ini akan lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya.
Benar saja dengan perkiraannya, Isander selesai mencabut banyak pohon secara tuntas dalam waktu kurang dari 2 jam.
Dalam kurun waktu tersebut, Helen, Meisya, dan Reren juga bersama ketiga pet Isander memberi tahu tata letak pohon yang harus Isander cabut.
Dengan bantuan mereka juga membuat Isander efesien dalam menyelesaikan tugasnya.
Isander tidak berhenti di situ masih ada satu yang harus mereka kerjakan lagi, yakni membersihkan tanah yang ada di atas bangunan Candi Borobudur.
Untuk membersihkan tanah-tanah yang menyelimuti candi, Isander mempunyai rencana sendiri.
Pertama dia harus pergi ke puncak dahulu, kemudian memulai menyingkirkan tanah mulai dari atas bangunan.
Dengan kekuatan Hand and Foot of Earth, sekumpulan tanah mulai bergerak dan pergi dari candi sampai jatuh turun ke bawah.
Bagian bangunan teratas berhasil Isander singkirkan tanah-tanah yang hinggap di sana karena jumlahnya tidak begitu banyak. Tak perlu memakan banyak waktu untuk menyelesaikan itu.
Pola tersebut terus dilakukan oleh Isander dan tanah yang digerus dan dipindahkan makin banyak hingga bisa beberapa gerobak.
Untuk menyelesaikan ini cukup memakan waktu yang banyak. Isander berhasil membuang semua tanah di sekitar candi hampir di sore hari, tepatnya di jam 4 sore.
Sayangnya, di bagian Pagar Langkan Isander belum sempat untuk menggali dan memindah tanah yang mengubur bagian candi tersebut.
"Ayo kita pulang!"
"Ayo!!"
Arah yang mereka ikuti untuk pulang adalah arah barat daya.
Mereka semua berjalan dengan pengawal 3 pet yang luar biasa kuat.
Isander melihat di jendela status bahwa tingkatan Magtash, Glatash, dan Kimaya adalah sama.
Ada di tingkat A yang cukup kuat dan spesial.
Hal yang sangat disayangkan bagi Isander adalah menjadikan mereka pet tidak diberikan sebuah imbalan atau hadiah dari Sistem.
Berbeda dengan merekrut anggota kelompok yang pasti dihadiahkan sesuatu.
Meskipun begitu, Isander masih bersyukur karena dia juga sudah dihitung beruntung. Tidak ada sejarah di mana Agter memelihara monster.
Di masa-masa awal kehancuran ini, semuanya masih saling bentrok dan menjatuhkan satu sama lain.
Mungkin di beberapa tahu ke depan akan ada seorang Agter yang bekerja sama untuk mencari sebuah titik temu yang ujungnya akan menjadi sebuah kedamaian yang absolut.
Maka dari itu, Isander senang punya tiga pet luar biasa sekaligus lantaran dari ketiganya ini punya unsur alam yang berbeda.
Dari Sistem, Isander menjadi tahu bahwa Kimaya memang Deegiant, tetapi Deegiant yang punya jenis berbeda.
[Informasi Pet]
__ADS_1
Nama: Kimaya
Ras: Deegiant Prime (Monster)
Kemampuan: Vines Manipulation
[Rank: A]
Kimaya berasal dari ras Deegiant Prime yang sama sekali tidak Isander ketahui.
Tak ada informasi atau keterangan lanjutan dari ras ini. Sistem tidak memberikan sebuah informasi yang terkait dengan ras Kimaya.
Kemampuan yang dimiliki Kimaya memang tanaman merambat, dan ini sesuai dengan fakta yang ada. Kimaya sangat lihat dalam mengontrol banyak sekali tanaman merambat.
Meskipun tubuhnya kecil, dia bisa mengontrol banyak sekali tanaman merambat yang ada di sekitarnya.
Kecil-kecil cabai rawit, tak boleh diremehkan.
Berikutnya, dua pet Burung Suphaast yang ternyata memang kembar.
Kedua anak burung ini juga spesial karena punya kemampuan unik dan ras yang unik juga.
[Informasi Pet]
Nama: Glatash
Ras: Glace Suphaast (Monster)
Kemampuan: Glace/Ice Manipulation
[Rank: A]
Sesuai dengan jendela tentang informasi dari Glatash, dia punya garis keturunan Glace Suphaast, mungkin ini berbeda dengan garis keturunan ibunya.
Monster ini punya kemampuan unik yang terbilang kuat, yaitu manipulasi es atau bongkahan es.
Tingkatannya ada di level A yang cukup baik, sama seperti Kimaya.
Sayangnya, Glatash ini belum begitu bisa menunjukkan kekuatannya dan dalam proses kebangkitan secara alami.
Sama seperti dengan Magtash, dia juga berada di dalam proses atau tahapan kebangkitan natural yang biasa dihadapi oleh Suphaast.
Mengingat mereka berdua masih kecil dan bahkan baru lahir ke dunia ini.
[Informasi Pet]
Nama: Magtash
Ras: Magma Suphaast (Monster)
Kemampuan: Magma Manipulation
[Rank: A]
Untuk informasi jati diri Magtash, dia punya keunikan berbeda dengan saudarinya, dan cukup bertentangan dengan kemampuan saudarinya.
Omong-omong, jenis atau gender Magtash adalah pria, sedangkan Glatash adalah wanita.
Dengan kemampuannya dalam mengendalikan magma, dia bisa mengeluarkan lahar yang sangat panas dan melelahkan musuh bersama magma dengan mudah.
Tingkatan kekuatannya juga tidak berbeda dengan Kimaya dan Glatash, berada di level A.
Akan tetapi, hal yang membuat Isander merasa aneh dan bingung adalah garis keturunan mereka berdua yang berbeda. Magtash ini adalah Magma Suphaast, jauh berbeda dengan Glatash.
Mengingat kembali dengan sosok induknya induknya hanya menampilkan kemampuan jet air yang kuat. Tampilannya pun tidak mencolok seperti kedua anaknya ini.
Selama perjalanan ini, Glatash dan Magtash sudah banyak membunuh dan memakan monster di level C.
Mereka berdua hanya bisa mengeluarkan kemampuan kecil seperti peluru es dan batu panas dari kedua sayapnya.
Benar, cara mereka mengeluarkan serangan adalah dengan sayapnya.
Hal ini juga berbeda dengan induknya.
__ADS_1
Chuaks!
Salah satu monster level B mati terkena tusukan bongkahan es tajam Glatash, dan dia terbaring lemah sambil menatap Glatash yang mendarat di depannya.