SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 146: Pelaku Sementara


__ADS_3

Rasanya senyuman Aqila berbeda kepada Isander. Nina dan wanita yang lain merasa senyuman Aqila memiliki maksud yang lebih dalam dan khusus, seperti seorang wanita yang jatuh cinta dan memberi senyuman kepada pria yang disuka.


Meskipun tahu ada makna tersirat dari senyuman Aqila yang cantik dan mempesona, mereka tetap diam dan sekadar tahu saja.


Sementara itu, Isander membalas dengan senyumannya yang tampan. "Iya, sama sekali tidak terluka. Aku bukan seorang dewa yang tak bisa dikalahkan, bahkan dewa saja bisa kalah."


"Aku mengerti. Pada intinya, kamu jangan sampai terluka, tetap ingat dengan Meisya. Kalau kamu terluka, kamu jangan terus bertarung, ada kalanya kamu kabur dan meninggalkan pertarungan bukan karena kamu adalah pecundang," Aqila memberi nasihat dengan senyuman yang manis sembari memeluk tubuh Meisya yang duduk di atas pangkuannya.


Meisya mengangguk mendengar namanya disebut oleh Aqila meski tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.


"Aku mengerti, aku akan mengingat pesan mu. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku dan Meisya." Isander mengangguk dan memberikan senyuman lembut kepada Aqila.


Berikutnya, mereka berdua saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang terasa berbeda.


Pipi Aqila terlihat memerah makin lama ia menatap kedua mata Isander, sedangkan Isander sendiri tampak terlihat malu dari ekspresi wajahnya.


"Lihat! Ada Kimaya terbang!" celetuk Reza sambil mendongak ke atas.


Mendengar suara Reza yang keras, semuanya ikut mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat apa yang Reza sebutkan, termasuk Isander dan Aqila.


Namun, begitu mereka melihat ke atas, sama sekali tidak ada Kimaya yang sedang terbang. Di atas hanya ada langit-langit rumah yang ditutup oleh atap.


Kimaya yang Reza sebut ada di bawah bersama mereka dan ikut melihat ke atas.


Isander dan Aqila tahu maksud dari Reza yang bertindak seperti itu.


Sadar dengan perbuatannya, Aqila menjadi malu dan dia menundukkan kepalanya sambil menggoda Meisya.


Sementara itu, Isander menggelengkan kepalanya dan menatap Reza sesaat sambil tersenyum tipis.


Setelah sarapan pagi dilakukan, mereka melanjutkan lagi obrolan atau diskusi mereka yang belum selesai.


"Candi Borobudur dirusak oleh seseorang atau sesuatu yang misterius?" Aqila dengan wajah yang kaget sambil memandang mereka semua.


Kila mengangguk dan berkata, "Anehnya, tidak ada jejak serangan atau kerusakan yang dihasilkan oleh sesuatu itu."


"Tampak seperti bangunannya dibongkar pasang layaknya mainan anak-anak bernama Gelo," tambah Reza yang sama-sama memasang wajah yang serius.


"Sekarang masih belum tahu siapa pelakunya?"


Isander menggelengkan kepalanya. "Belum. Semalam kita menebak-nebak dan berdiskusi, kami menebak kalau monster yang melakukannya."


"Monster?" Alis Aqila bertaut dan menundukkan kepalanya sambil menyentuh dagunya. "Monster apa yang bisa memindahkan banyak sekali batu yang menyusun candi? Dan itu tanpa ada jejak kerusakan yang disengaja, kan?"


"Benar."


Giya mengangguk membenarkan ucapan Aqila.


Ternyata Aqila juga ikut bingung dengan peristiwa kehancuran Candi Borobudur.


Memang dipikir-pikir lagi sangat aneh peristiwa tersebut. Dalam waktu semalam Candi Borobudur yang besar itu telah hancur berantakan dengan bongkahan batu di mana-mana dan tersebar rata.


"Menurutmu, monster apa yang mungkin bisa melakukan hal tersebut?" tanya Isander pada Aqila.


Saat ini, Meisya sedang bermain dengan Helen dan Reren di kamar, bisa didengar suara tawa dan canda mereka dari tempat di mana Isander dan yang lain berkumpul.


Pertanyaan Isander tidak langsung dijawab oleh Aqila, dia sedang merenung untuk memikirkan jawabannya.


Pengalaman Aqila sangat banyak, dia bertemu dengan berbagai macam monster selama 5 tahun ini, ditambah Aqila bergerak di bawah petinggi Kota Garuda. Seharusnya, informasi yang ia punya banyak, terlebih mengenai monster-monster yang mengancam.


"Whale Gozer tidak mungkin melakukan itu. Eagoter ada kemungkinan untuk melakukan itu," jawab Aqila dengan menebak-nebak.


Namun, apa yang Aqila sebutkan membuat mereka makin penasaran dengan monster itu.


Dengan permainan mereka untuk menjelaskan monster apa yang ia sebutkan tadi, Aqila mulai mendeskripsikan dan juga memberi pengetahuan umum dari kedua monster tersebut.


"Whale Gozer, monster tingkat S yang bentuknya seusai dengan namanya, yakni bentuknya mirip dengan paus, lebih tepatnya paus yang memakan plankton. Tentu, bukan paus pembunuh atau orca. Monster tersebut ada karena paus dari jenis itu terinfeksi bakteri monster sehingga mengalami mutasi.


"Memiliki ukuran yang besar, sekitar enam ratus meter panjangnya, dan giginya menjadi tajam dan besar, itu bisa menghancurkan monster level A dengan mudah dan memakannya hidup. Whale Gozer ada di Pulau Jawa, tepatnya di Laut Jawa.

__ADS_1


"Meskipun dia lebih suka hidup di air laut, tetapi bukan tak mungkin Whale Gozer pergi ke darat dan menghancurkan Kota Garuda dan Kota Komodo. Pasalnya, Whale Gozer ini punya empat kaki yang membuatnya bisa merangkak dan berjalan di atas tanah."


Monster baru yang mereka ketahui, dan cerita dari Aqila sangat mengerikan.


Begitu mendengar ukurannya saja, semua anggota tim Isander menjadi merinding dan gemetar ketakutan. Panjang 600 meter itu melebihi ukuran tangan makhluk yang dipanggil Isander.


Dengan ukuran sebesar itu, Whale Gozer bisa memakan banyak Elgoter tanpa kesulitan.


Mengingat bentuk paus yang memakan plankton punya mulut yang begitu besar, monster ini pun harusnya punya mulut jauh lebih besar.


Giginya yang awalnya untuk menyaring, kini menjadi gigi tajam layaknya gigi hiu. Bisa dibayangkan betapa menakutkannya apabila monster itu datang dan menghancurkan tempat tinggal Agter.


Hal yang membuat takut adalah Whale Gozer punya empat kaki yang bisa digunakan untuk merangkak. Dengan begitu, Agter bisa terancam dengan keberadaan makhluk besar satu ini.


Tidak cuma Reza dan yang lain menjadi merinding dengan bulu tengkuk yang berdiri, Isander pun merasa terancam dengan keberadaan monster satu ini.


Isander rasa kemampuan S miliknya tak bisa meremas monster sebesar itu. Tak tahu pastinya, itu hanya sekadar perkiraan saja.


Semoga saja bisa diremas sehingga monster itu bisa dibunuh dengan mudah.


"Hipgoter bisa dikalahkan oleh Whale Gozer itu?" tanya Nina dengan penasaran dan masih merasa takut.


Ujung mulut Aqila sedikit terangkat, mengangguk sambil menunjukkan senyum halusnya, dan dia menjawab, "Di hadapan Whale Gozer, Monster Hipgoter tidak ada apa-apanya. Mungkin saja bisa dimakan hidup-hidup karena ukurannya lebih kecil dari lebar mulutnya. Dia akan langsung dihap! Jika memang kedua monster tersebut bertemu di tempat yang sama."


"Sebentar." Isander berdiri dari tempat duduknya dan bergegas ke kamar untuk mengambil Meisya dan membawa kedua gadis remaja ke luar kamar.


Setelah kembali ke tempat duduknya, Isander langsung bertanya, "Apakah sesama monster bisa juga bertarung?"


"Tentu, monster ini punya nafsu dalam kekuasaan. Jika monster bertemu, terlebih monster tingkat tinggi saling bertemu, pasti akan terjadi pertengkaran karena masalah kekuasaan wilayah atau yang lainnya," jawab Aqila yang memang punya informasi jauh lebih banyak. Pengetahuannya tentang monster memang harus digali lebih banyak lagi.


Kepala Isander mengangguk, dia mengerti dengan penjelasan dari Aqila. Ternyata monster-monster tingkat tinggi ini punya kepintaran atau kebijaksanaan bagaikan manusia.


"Apa hanya itu saja kekuatan Whale Gozer?" Nina melirik Aqila dengan wajah yang terlihat antusias.


Respons Aqila kali ini membuat semuanya terkejut. "Tidak, Whale Gozer punya kekuatan unsur air. Mulutnya yang lebar dan besar, ternyata bisa menyemburkan air yang sangat banyak. Jikalau itu menyerang ke Kota Garuda, airnya bisa membuat Kota Garuda banjir atau bahkan tenggelam."


Glup!


Dengan semburan air sebanyak itu menghantam tubuh Agter, mungkin bisa menghancurkannya menjadi bulir-bulir daging bak bukit jeruk di minuman es jeruk.


Bisa juga langsung bersatu dengan air tersebut karena tekanan yang dihasilkan air sebanyak itu mampu membuat tubuh manusia hancur parah sangat halus hingga dapat bercampur dengan air.


Whale Gozer, Isander akan mengingat monster ini.


Mendengar penjelasan dari Aqila, bisa disebut Whale Gozer ini terkuat di tingkatannya, alias di tingkat monster S. Mirip dengan Deegiant mungkin tahtanya atau kelasnya.


Sangat mendominasi meski satu tingkatan dengan monster S yang lain.


"Aku lanjutkan lagi dengan monster berikutnya," kata Aqila sambil memeluk Meisya yang menghampirinya minta untuk dipeluk.


Melihat Meisya yang dekat dengan Aqila, hati Isander menjadi lega. Kedekatan mereka diharapkan oleh Isander sendiri karena itu merupakan sesuatu hal yang bagus.


"Eagoter adalah monster yang bisa terbang di udara, berbentuk mirip elang, tetapi yang aku tahu punya dua pasang sayap dan bentuknya juga sangat mengerikan serta menjijikkan. Aku pribadi pernah melihatnya di dekat Gunung Merapi. Untungnya, dia tidak melihatku di sana dan aku bisa selamat dari wilayah kekuasaannya.


"Ukuran Monster Eagoter sekitar tujuh puluh meter panjangnya, dengan tinggi sekitar enam puluh meter. Rentang sayapnya sangat lebar, hampir dua kali dari panjang tubuhnya. Sayapnya yang mengepak bisa membuat tembok kota hancur, itu hanya perkiraan yang aku buat saja. Untuk pohon besar, itu bisa copot dari tanah jika benar-benar berada di bawah kibasan sayapnya yang kencang.


"Kekuatannya adalah kendali angin, dia bisa mengendalikan angin terbatas. Aku kurang yakin dia bisa memindahkan batuan Candi Borobudur dengan kendali anginnya meski ada peluang jika memang dia yang melakukannya."


Mata semua anggota Isander membesar, mereka punya perasaan bahwa Monster Eagoter yang melakukan hal itu kepada Candi Borobudur.


Untuk memastikannya, Isander melemparkan pertanyaan lagi, "Di mana biasanya dia tinggal?"


"Sekitar Gunung Merapi, kalau tidak salah juga dekat dengan Candi Borobudur," jawab Aqila sambil mengetuk pipinya dengan satu jari.


Jawaban Aqila membuat mereka meyakini bahwa pelaku dari Candi Borobudur yang hancur adalah Monster Eagoter.


Melihat wajah mereka yang menjadi marah karena sudah meyakini siapa pelakunya, Isander dan Aqila menenangkan mereka semua untuk tidak termakan emosi.


Kelihatannya, kedua orang ini serasi, punya pikiran yang hampir sinkron.

__ADS_1


"Untuk sementara waktu, kita anggap pelakunya adalah Monster Eagoter. Namun, untuk lebih pastinya aku akan ke sana nanti malam untuk melihat lebih jelas dan langsung apa yang sebenarnya terjadi di malam hari," kata Isander kepada semua anggota timnya.


Rencana ini sudah Isander buat dari semalam, dia memutuskan untuk merealisasikan rencana itu dan menjalankannya.


Deskripsi tentang monster ini tidak begitu mengerikan, Eagoter hanya mengendalikan angin saja dan buka cuaca.


Isander bertanya-tanya lagi kepada Aqila perihal monster tersebut, dan memang benar kekuatannya hanya sekadar itu saja. Isander tidak menganggap monster tersebut begitu kuat.


Masih ada kemungkinan untuk menang, mungkin kemenangannya besar bagi Isander.


"Jadi, kedua anak burung ini adalah anak dari Burung Suphaast?" Aqila menunjuk ke Magtash dan Glatash.


Reza dan yang lainnya mengangguk, Isander juga mengangguk untuk mengonfirmasi.


"Ada kesamaan antara Suphaast dan Eagoter?"


"Um, mungkin kesamaannya hanya bisa terbang dan bentuknya memang mirip burung elang, bahkan setahuku Suphaast dan Eagoter juga berasal dari hewan yang sama, tetapi jalur mutasi mereka berdua berbeda," terang Aqila sambil melihat Magtash dan Glatash yang sedang duduk meringkuk dengan santai.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Sistem. Suphaast ini memang monster, tetapi evolusi atau mutasinya berbeda dengan yang lain. Jalur mutasi yang lain jadilah Eagoter dengan kejelekannya.


Bisa disimpulkan juga, jika Suphaast adalah monster yang punya peluang dijinakkan, sedangkan Eagoter sama sekali tidak bisa.


"Aku baru tahu Suphaast bisa dipelihara," gumam Aqila yang sedikit terkejut.


Isander hanya tersenyum mendengar ucapan Aqila dan dia ikut melirik ke dua anak burung tersebut.


"Suphaast itu monster A kalau aku tak salah ingat. Sementara Eagoter monster S. Mereka memang sangat berbeda selain dari bentuknya saja. Ukuran mereka satu dengan yang lainnya sangat jauh berbeda. Eagoter dengan puluhan meter dan Suphaast hanya beberapa meter.


"Akan tetapi, kamu sangat beruntung telah mendapatkan dua anak Burung Suphaast ini. Mereka berdua punya unsur elemen yang jarang dan terbilang kuat."


Aqila menatap Isander lagi dan menatapnya dengan serius.


Isander mengangguk dan tersenyum. "Mereka juga kalau tidak salah ada di level monster A kekuatannya. Mereka masih kecil sekarang, mungkin saat dewasa dan ukurannya besar, itu bisa naik ke level S.


"Sangat mungkin. Kamu benar-benar beruntung, Isander."


"Tidak seberuntung itu."


Setelah mereka semua membahas tentang monster-monster yang punya peluang menjadi pelaku dari kehancuran Candi Borobudur.


Reza dan yang lainnya berangkat lebih dahulu untuk memantau kemajuan perbaikan Kota Komodo.


Isander, Aqila, Meisya, Helen, dan Reren masih di rumah karena ada satu hal yang harus dilakukan.


"Gunakan kartu ini dan tempelkan di dahimu. Level kekuatan Agter kamu akan meningkat," ujar Isander sambil menyerahkan satu kartu peningkatan level yang tersisa.


Mengambil kartu ini, Aqila melihat-lihat sejenak kartunya, kemudian berjalan ke luar rumah untuk bersiap-siap melakukan peningkatan.


Isander meminta Aqila untuk di luar saja melakukan peningkatan level, mengingat kemampuan Aqila ini cukup tinggi dan punya dua kekuatan unsur yang berbeda, yakni Es dan Petir.


Di luar rumah sudah Isander siapkan alas untuk Aqila duduk dengan nyaman, tak ada masalah dengan tempat duduknya.


Dengan instruksi dari Isander yang Aqila ikuti, sebuah perubahan segera terjadi pada tubuhnya begitu kartu tersebut terserap ke dalam tubuh Aqila.


Bang!


Embun beku perlahan membubung tinggi dan bergerak menyelimuti tubuh Aqila. Tampak begitu tinggi.


Berikutnya, beberapa busur petir muncul di sekitar tubuh Aqila terlihat berbahaya.


Melihat pemandangan ini, Isander mengangguk karena kartunya bekerja dengan baik dan proses peningkatan berhasil diaktifkan.


Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk menunggu Aqila selesai dalam meningkatkan kekuatan level Agter miliknya.


Setelahnya, Aqila berdiri di depan Isander dengan pancaran aura yang lebih kuat.


Melihat keberhasilan Aqila dalam proses ini, Isander tersenyum senang sembari mengangguk ke arah Aqila.


Aqila pun membalas dengan lemparan senyumannya.

__ADS_1


Di detik berikutnya, Aqila tiba-tiba memeluk tubuh Isander seraya berkata, "Terima kasih banyak."


__ADS_2