SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 128: Penyerangan Tiba-tiba


__ADS_3

Isander mengajak Helen dan Reren untuk kembali ke Kota Komodo lantaran ada sesuatu yang tidak baik terjadi di sana.


Ini situasi darurat, sangat darurat bagi Isander yang di kota itu ada anggota kelompoknya yang sedang menukarkan Koin Agta.


Dengan wajah yang bingung dan penasaran, Helen bertanya sambil menatap Isander radio belakang, "Ada apa, Kak Isander?!"


"Apa yang sedang terjadi? Mengapa kita kembali lagi?" tambah Reren yang juga merasakan hal yang sama.


"Sesuatu yang buruk terjadi di sana." Isander berjalan makin cepat sehingga kedua gadis tersebut harus setengah berlari untuk mengikutinya. "Serbuan monster yang tidak diprediksi berhasil membobol pertahan Kota Komodo."


"Monster menyerang Kota Komodo?"


Mendengar ini, Helen dan Reren kaget sedikit tersentak. Mereka berdua terkejut karena mereka sendiri melihat Kota Komodo beberapa waktu yang lalu baik-baik saja, dan kini ada kabar bahwa Kota Komodo diserang oleh kelompok monster.


"Monster itu datang dari arah selatan. Untuk mengetahui lebih lanjut, kalian baca saja pesan dari mereka."


Setelah Isander mengatakan itu, Helen dan Reren mengikuti ucapan Isander, membuka jam tangannya dan melihat pesan yang dikirim oleh Giya dan anggota kelompok lainnya.


Benar saja apa yang dinyatakan oleh Isander, banyak monster sedang menyerang Kota Komodo secara besar-besaran.


Pantas saja mereka tidak melihat ada banyak monster yang sedang mengarah ke Kota Komodo, asal monster itu dari arah selatan pulau.


Sementara mereka pergi ke arah timur laut pulau.


Isander baru ingat bahwa Candi Borobudur itu ada di sekitar barat laut dari Kota Komodo yang katanya ada di daerah Yogyakarta.


Hal ini membuat Isander bingung dengan letak sebenarnya di mana Kota Komodo berada.


Jika Candi Borobudur ada di timur laut, artinya Kota Komodo berada di sebelum Kota Yogyakarta, yakni daerah Kebumen atau sekitarnya.


Pikiran itu tak perlu dipikirkan karena sekarang Isander sedang terburu-buru untuk pergi ke Kota Komodo.


Mereka bertiga berangsur-angsur bergerak cepat dengan berlari, Kimaya mengikuti Helen dan Reren di belakang karena Isander menyuruhnya untuk berjaga-jaga di belakang.


Sementara itu, Isander memimpin jalan sambil menggendong Meisya yang ikut khawatir.


Meisya tahu apa yang dibicarakan oleh Isander dan kedua gadis remaja, tetapi dia tidak ikut nimbrung dan hanya diam, Meisya takut.


Beberapa detik menit berselang, Isander dan yang lainnya sampai di hutan dekat Kota Komodo.


Isander, Helen, Kimaya, dan Reren naik ke atas dahan pohon untuk melihat pemandangan Kota Komodo sekarang.


Mereka semua melihat sebuah sawah yang terlihat indah sebelumnya, kini telah dirusak oleh ribuan monster dengan berbagai jenis.


Monster ini berusaha mendahului satu sama lain untuk bisa masuk ke dalam Kota Komodo melalui tembok kota yang runtuh.

__ADS_1


Wajah mereka menampilkan ekspresi terkejut begitu melihat tembok kokoh dan tangguh kota berhasil dirusak dan dibobol oleh monster.


Dari sini, Isander bisa melihat siapa pelaku yang merusak tembok kota tinggi ini.


"Mammoth?" gumam Isander memperlihatkan wajah yang tidak percaya dengan apa yang sekarang dia lihat.


Monster besar dengan tinggi badan mencapai 80 meter dan panjang 90 meter, memiliki bentuk mirip gajah, tetapi gadingnya lebihi mirip ke mammoth yang panjang dan besar, sedangkan tubuhnya mirip gajah karena tidak berbulu.


Ukurannya yang besar, diperkirakan menjadi alasan mengapa tembok kota bisa rusak dan hancur.


Isander baru pertama kali melihat monster sebesar ini, ukuran Deegiant bahkan kalah jauh dengan ukuran monster satu ini.


"Monster apa itu?!" Helen dan Reren bertanya-tanya setelah menemukan monster gajah raksasa sedang memporak-porandakan Kota Komodo bagian selatan.


Melihat banyak sekali monster di belakang monster besar ini yang masih belum bisa masuk ke dalam kota, Isander tidak akan menyuruh Helen dan Reren untuk menyerah monster sebanyak ini karena terlalu berisiko besar.


Setelah Isander lihat-lihat, monster-monster yang punya ukuran jauh lebih kecil dari monster gajah raksasa ini ada di tingkatan B dan A yang di mana itu tingkatan yang kuat, terlebih jumlah mereka begitu banyak.


Segera, Isander memberi pesan kepada Giya dan lainnya menanyakan keberadaan dan kondisi mereka.


Tanpa menunggu lama, Giya dan yang lainnya membalas pesan Isander bahwa mereka ada di luar Kota Komodo bagian timur.


Mengetahui ini, Isander meminta kedua gadis remaja dan Kimaya untuk mengikutinya.


Melewati dalam hutan yang tersembunyi, Isander dan lainnya bertemu dengan Giya dan anggota kelompok lainnya.


"Tepat ketika aku dan yang lainnya sampai ingin menukarkan bukti pembunuhan monster, tiba-tiba alarm berbunyi, tidak lama kemudian, tembok berdengung dan bergetar hebat, suara dentuman tembok itu bisa didengar oleh kita semua dari jauh," terang Giya dengan wajah yang panik.


Dia benar-benar ketakutan sekarang karena penyerangan besar-besaran oleh monster ini menakutkan.


Reza menambahkan dengan cepat, "Apa yang dikatakan oleh Giya benar, itu terjadi begitu saja tanpa ada imbauan atau peringatan. Para Agter di sana pun bingung karena ini terlalu mendadak."


"Apakah Goron ada di sana?" tanya Isander dengan cemas.


"Kemungkinan Goron dan timnya ada di sana karena monster besar itu sedang ditahan oleh banyak Agter secara bersamaan," jawab Nina yang mengamati peristiwa yang terjadi dari dalam Kota.


Dengan beberapa pertanyaan yang Isander lontarkan dalam waktu 3 menit lebih, mereka semua menjawab pertanyaan Isander dengan baik.


Selama itu, para Agter di Kota Komodo berjuang melawan monster-monster yang berhasil masuk dengan kekuatan penuh.


Pada saat yang sama, banyak sekali Agter yang membantu Goron dan timnya melawan monster besar satu ini dan menghentikan monster yang kecil masuk lebih dalam lagi.


"Sialan, makan ini!"


Goron meninju tanah dan menciptakan hentakan besar yang mengguncang tanah, membuat ratusan Monster Rhigarets, Rhigarets, Goatager, Eltager, dan monster lainnya di radius 100 meter terhempas ke udara beberapa saat.

__ADS_1


Serangan Goron tidak berguna di hadapan monster gajah raksasa ini, kakinya yang menginjak tanah yang ditinju oleh Goron bagaikan paku bumi yang menancap begitu dalam, itu tidak bisa digoyangkan.


"Serang mereka!"


Beberapa anggota tim Goron menyerukan perintah menyerang setelah melihat banyak monster kecil terjatuh dan kehilangan kemampuannya untuk sementara.


Puluhan ribu Agter dari berbagai level mengeluarkan serangan jarak jauh, disusul dengan serangan jarak dekat dari Agter Melee Weapon Badge.


Namun, ketika para Agter membantai ribuan monster yang berhasil masuk ke dalam kota, monster gajah raksasa tiba-tiba menggerakkan kakinya ke atas lalu menghentakkan kakinya ke permukaan tanah begitu keras.


Boom!


Gelombang kejut terjadi akibat tabrakan keras dari kaki monster gajah raksasa, melemparkan semua Agter terdekat layaknya semut yang ditiup.


Goron yang kuat pun terdorong ke belakang sejauh puluhan meter akibat gelombang kejut yang tercipta dari hentakan kaki monster ini saja.


Dalam satu kedipan mata, posisi Agter ada di bawah monster, ribuan Agter terluka parah Lantara terkena dampak angin besar dari serangan monster.


Goron dengan cepat melihat kaki monster raksasa ini kembali bergerak dan mencoba untuk melangkah sambil menginjak ratusan Agter yang terbaring lemah di tanah.


"Tidak! Kumohon, jangan lakukan itu!"


Dengan teriakannya Goron berlari sekuat tenaga menghampiri kaki besar yang ada di udara, berniat untuk menghentikannya.


Kedua tangan Goron yang terbuat dari tanah itu membesar, tetapi ukuran paling besarnya tidak sebesar telapak kaki dari monster gajah raksasa ini.


Dengan kecepatan kaki raksasa itu turun, kedua tangan Goron dan kaki raksasa bertemu dengan hantaman yang kuat.


Bam!


Krak!


Suara retakan terdengar nyaring usai suara tabrakan keras muncul.


"Arghh!!"


Di bawah kaki monster yang sangat besar, sosok Goron terlihat sedang berjongkok menahan telapak kaki monster untuk tidak menghantam banyak Agter.


Kedua tangan besar yang terbuat dari raksasa hampir hancur sepenuhnya, tetapi Goron mencoba mengulur waktu demi menolong Agter yang ada di bawah telapak kaki ini.


Tanpa menunggu untuk disuruh, beberapa Agter perawat mengambil semua Agter kurang dari satu menit, dibantu oleh Agter yang baru saja datang di medan pertempuran.


Seluruh tubuh Goron dipenuhi oleh keringat yang bercampur darah, bagian kaki dan tangannya bergetar hebat karena tenaganya hampir habis terkuras.


Melihat semuanya sudah ditolong, Goron merasa lega di hatinya. Dengan demikian, tubuhnya tiba-tiba menjadi lemah, tangan tanahnya yang besar terkelupas sedikit demi sedikit dan runtuh.

__ADS_1


"Akhirnya, hari ini datang. Terima kasih dunia, aku sangat senang bisa hidup di sini."


__ADS_2