
Senjata yang dipegang orang ini adalah celurit, tetapi memiliki ciri khas pada bilah dan tubuh senjata. Bilah pada senjata itu dibalut sesuatu energi aneh dan kemudian memotong tanaman yang menyelimuti monster ini.
Sesuatu yang membalut bilah berhasil memotong tanaman ini sangat dalam, membuat monster ini menjerit-jerit sembari menggelengkan kepalanya ke sana kemari untuk melemparkan manusia yang ada di atas tubuhnya.
Sayang sekali, manusia ini memiliki cengkeraman tangan yang kuat dan sangat sulit untuk melepaskannya dari leher monster.
Mau seberapa kuat monster itu menggerakkan lehernya, manusia tersebut akan tetap ada dan terus mencoba memotong leher monster sampai putus.
"Monster keparat! Akhirnya aku bisa memotongmu sampai mati!"
Ketika wajah orang ini terangkat, bisa terlihat wajah Tara yang bengis dengan senyuman aneh di wajahnya.
Celurit di tangan kanannya terus menerus memotong tanaman merambat yang ketat dan erat membungkus seluruh leher monster.
Namun, senyum Tara berhenti setelah puluhan kali dia menebas. Dia menendang leher monster yang besar ini dan meluncur ke bawah dengan ketinggian puluhan meter seraya meluncurkan tebasan angin yang lebar dan besar.
Begitu Tara melompat, sesuatu keluar dari lubang yang dibuat Tara pada leher monster, semacam tanaman merambat yang bersatu membentuk tombak yang runcing.
Jumlah tanaman yang berbentuk itu tidak hanya satu, robekan leher tersebut mengeluarkan lebih dari 20 tombak tanaman.
Tebasan angin tersebut sangat pas mengenai beberapa tombak yang timbul dari robekan leher, memotong semua tombak runcing tersebut hingga terjatuh.
Pada saat ini, beberapa sosok muncul di sekitar monster besar dan aneh ini.
"Sial, monster ini besar sekali!"
Kei, Sadam, dan Hendra berhasil sampai di tempat Tara dan monster raksasa berada. Mereka bertiga mengetahui keberadaan Tara karena energi yang dikeluarkan Tara sangat mudah ditemui oleh mereka.
Melihat ke atas, mereka terkejut dengan besar monster ini yang memiliki ukuran tinggi lebih dari 30 meter dan panjang hampir 50 meter. Seluruh tubuh tampaknya terbuat dari tanaman merambat yang saling merekatkan satu sama lain sehingga itu terlihat padat dan keras.
Tepat ketika mereka menengadahkan kepalanya ke atas, mereka melihat sosok manusia yang meluncur jatuh ke bawah.
Mengetahui ini, Sadam berubah menjadi gorila dan melompat sangat tinggi untuk menangkap sosok tersebut.
Saat Sadam mendarat di tanah, sosok Tara terlihat sedang dipegang oleh tangan Sadam. Tara yang di telapak tangan Sadam yang berubah menjadi tangan Gorila langsung melompat dan mengibaskan bajunya dari debu dan tanah.
Dia tidak berkata apa-apa, dan tiba-tiba saja mewujudkan senjata celurit dari tangan kirinya dan menembakkan beberapa tebasan angin yang besar untuk menghancurkan beberapa tombak yang jatuh tepat di atas mereka semua.
Brak! Brak! Duar!
Serpihan tanaman merambat yang sangat keras layaknya ranting pohon dan kayu terjun hendak menimpa mereka semua.
Tara dan yang lainnya segera menghindar dan menjauh dari tempat monster raksasa ini berada untuk sementara waktu.
Saat mereka semua menghilang, monster raksasa ini mencari-cari keberadaan Tara dengan mengirimkan tanaman merambat dari tubuhnya dan tersebar ke segala arah, kemudian monster raksasa berjalan menuju ke arah Kota Komodo yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Setiap langkah kaki monster ini mendarat di tanah, dentuman hebat tercipta disertai dengan asap debu yang membubung menutupi sebagian keempat kakinya.
Banyak pohon yang berada di dekat monster ini hancur dan roboh karena diinjak dan ditendang oleh keempat monster ini sengaja atau tidak sengaja.
"Di mana si Dingin itu? Mengapa dia belum sampai sekarang?" tanya Tara yang berdiri di dahan besar bersama Kei dan lainnya.
Kei yang memandang monster besar yang berjalan jauh di depannya langsung menoleh dan menatap Tara, dia menjawab dengan santai, "Entah, tetapi dia tak mungkin jauh dari kita."
Sadam turun dari dahan pohon secara mendadak, mereka semua yang masih di atas segera menatap Sadam dengan bingung.
"Kamu ngapain turun, Sadam?" panggil Hendra yang ingin tahu.
Alih-alih menjawab, Sadam menunjuk ke suatu arah yang ada di depan, tampak sedang memberi tahu mereka tentang sesuatu yang ada di depan.
Tara, Rei, dan Hendra mengalihkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sadam dan mereka melihat sesuatu yang membuat mereka terkejut.
Di dekat monster itu terlihat ada sesosok manusia yang mencoba untuk menghalau jalannya monster.
Dinding es yang besar dengan tinggi belasan meter mencoba untuk menahan kaki besar monster yang terangkat ke depan.
Sayangnya, dinding es besar tersebut tak mampu menghentikan langkah kaki monster dan dinding es hancur ditabrak oleh kaki monster.
Dengan serempak, ketiganya ikut turun dan bergegas berlari mendekati sosok tersebut.
Benar, itu adalah Aqila yang mencoba untuk menahan gerakan monster.
Melihat dinding esnya tak bisa memberhentikan gerakan monster ini dan terus melangkah makin dekat ke Kota Komodo, Aqila mendecakkan lidahnya dan wajahnya makin marah.
Dengan kedua pedangnya diayunkan, gelombang angin dingin meluncur sangat cepat menabrak kaki depan monster.
__ADS_1
Dari gelombang angin berbentuk kurva bulan sabit, es menjalar di kaki monster mencoba untuk membekukan seluruh kaki kanan bagian depan monster.
Sebuah senyuman muncul di wajah Aqila, ia merasa serangannya ini berguna untuk menghambat gerakan langkah kaki monster.
Dengan begitu, dia melemparkan serangan yang sama, membuat hampir seluruh kaki kanan monster ini menjadi tanaman merambat yang beku.
Monster ini baru sadar bahwa kakinya sudah dibekukan oleh sesuatu di bawahnya.
Melirik ke bawah, dia melihat seluruh kaki kanan sudah dilapisi es keras yang dingin.
Amarah monster ini tiba-tiba melonjak. Dalam sekejap es yang membuat lumpuh kaki monster itu hancur berkeping, tanaman merambat keluar dari bawah es dan melepaskan diri dari kerasnya es Aqila.
Bongkahan es yang berasal dari kaki monster yang beku berjatuhan ke bawah dekat di mana Aqila berdiri dan melancarkan serangannya tadi.
Menyaksikan ini, Aqila benar-benar marah dan hendak mencoba serangan selanjutnya, dia tidak sadar bahwa banyak sekali bongkahan es sebesar kepala manusia berjatuhan dan melayang di atasnya.
Blarr!
Salah satu kepingan es sebesar kepala manusia yang ingin menghantam kepala Aqila dalam sekejap terbakar, sebuah api terbang dan menabrak es tersebut sehingga Aqila selamat dari insiden tersebut.
Aqila menoleh ke samping dan menemukan empat orang pria berlari ke arahnya dengan cemas.
"Hei, perhatikan sekitar! Jangan lengah seperti itu!" teriak Kei yang tidak senang dengan Aqila.
Mendengar ini Aqila langsung terdiam.
Bukannya itu membuat Kei yang berlari menghampiri Aqila menjadi tidak marah, malah sebaliknya. Kei langsung menarik tangan Aqila dan menjauhkannya dari tempat di mana Aqila berdiri sebelumnya.
Bam! Bum! Brak!
Puluhan bongkahan es keras berjatuhan tepat di mana Aqila berdiri diam sebelum Kei menariknya.
Melihat ini, Aqila terkejut dan baru sadar dengan kesalahannya yang dia buat.
"Ada apa denganmu?! Mengapa kamu menjadi aneh seperti ini?!" Kei berkata dengan intonasi suara yang keras bagaikan seorang ayah memarahi anaknya yang nakal.
Mendengar ucapan keras Kei, Aqila diam tak bergerak sembari menundukkan kepalanya.
"Cih, kamu benar-benar konyol tadi! Mengapa kamu tidak menjauh dan malah tetap berdiri di situ?!" Kei masih marah dan mencoba untuk memberi tahu kesalahan yang Aqila perbuat.
Selain Kei, Sadam dan Hendra pun merasa aneh dengan Aqila.
Biasanya, Aqila merupakan anggota tim yang paling cerdas dalam membuat keputusan serangan, bahkan kekuatannya mampu mengalahkan Tara.
Tara tidak memperhatikan Kei yang marah, dia menatap monster di kejauhan yang terus bergerak. Sekarang dia tengah berpikir tentang bagaimana caranya mengentikan monster ini agar tidak terus berjalan ke arah Kota Komodo yang jaraknya tersisa sekitar belasan kilometer lagi.
Apabila tidak dihentikan, kemungkinan akan menghancurkan dinding Kota Komodo.
Ada pilihan lain jika mereka tidak bisa menghentikan monster ini, yakni pergi untuk memberi tahu para Agter di Kota Komodo dan meminta mereka untuk melawan monster ini bersama.
"Hei, aku punya ide." Tara mengalihkan wajahnya dan menatap mereka yang sedang diam menatap Aqila.
Mendengar ucapan Tara, Kei yang sedang marah dalam diam merespons Tara, dia menoleh dan bertanya, "Apa itu?"
Kei menekan amarah di dalam hatinya demi keberlangsungan misi darurat ini.
"Kalian mencoba untuk menghambat monster ini untuk membeli waktu agar aku bisa memberi tahu para Agter di Kota Komodo. Dengan begitu, kita bisa menghancurkan monster ini," jawab Tara mengungkapkan idenya yang tumben sekali cemerlang.
Ide Tara layak untuk dicoba, Kei dan lainnya setuju dan sepakat untuk melaksanakan ide Tara.
Whoosh!
Kelima orang ini meluncur cepat ke arah monster, keempat dari mereka berhenti di dekat monster yang berjalan menghancurkan banyak pepohonan, dan satu dari mereka terus berlari di antara banyak pohon dengan kecepatan yang tinggi.
"Ayo lakukan!"
Kei dan lainnya sekejap mengeluarkan kemampuan Agtanya membidik tubuh monster yang mirip Deegiant. Kekuatan mereka telah ditingkatkan, Hendra melipatgandakan kekuatan mereka sehingga serangan mereka memiliki kerusakan yang lebih besar dari serangan normalnya.
Pusaran api besar, tebasan es besar yang dingin, dan baru besar terbang menunjuk ke tubuh monster yang besar.
Api yang berkobar tersebut membakar sebagian kanan tubuh monster, dan es menjalar membuat beku sebagian kiri dari tubuh monster, kemudian batu besar berdiameter belasan meter yang diambil oleh Sadam menabrak tubuh depan monster dengan kuat.
Groaahhh!
Mereka semua sekejap sepakat usai melihat keseluruhan tubuh monster bahwa bahwa monster yang mereka hadapi adalah monster misterius Deegiant.
__ADS_1
Dengan raungan kesakitan, gelombang angin yang kencang menerpa pohon di sekitarnya sehingga membuat banyak pohon menjadi miring ke belakang.
Aqila, Hendra, dan Kei berlindung di balik tubuh Sadam yang kokoh dari angin yang mampu menerbangkan tubuh mereka.
Dalam sekejap, kerusakan yang ada pada tubuh monster Deegiant perlahan pulih dengan keluarnya tanaman merambat lainnya yang menutupi semua luka di tubuhnya.
Luka bakar, beku, dan juga robekan dalam akibat batu besar, semuanya dipulihkan dalam waktu yang cukup cepat.
Beberapa detik setelah auman keras itu keluar, luka pada tubuh monster sudah setengahnya pulih.
Mengetahui ini, mereka berempat memulai kembali operasi mereka yang terus membuat monster berhenti berjalan dan memperlambat dia untuk pergi ke wilayah Kota Komodo.
Sebuah senjata siwar yang memiliki gagang melengkung dikeluarkan oleh Kei sekali lagi, bilah pada senjata siwar tersebut diselimuti api merah yang membara, kobaran apinya sangat tinggi, bahkan ukurannya 2 kali lipat dari panjang bilah siwar.
Tangan Kei bergerak mengayunkan senjata tajamnya ke arah monster yang berdiri di kejauhan dan gelombang api membentuk kurva yang besar terbang dari bilah siwar.
Lengkungan api yang menyala tersebut melesat menuju tubuh monster.
Kei mengarahkan serangannya tersebut pada kaki kanan yang sempat Aqila lukai.
Duarr! Blarr!
Kaki monster dalam sekejap terbakar, serangan api yang berasal dari senjata Kei sukses melukai kaki monster tersebut.
Api yang menempel di kaki monster dengan cepat menjalar dan memenuhi seluruh tubuh kaki kanan monster bagian depan. Asap putih keabu-abuan tercipta dari kaki monster membuat sebagian tubuh monster tak bisa dilihat.
Hal ini membuat serangan Aqila tidak tepat mengenai sasaran. Kedua pedang panjangnya melemparkan angin dingin yang membekukan menargetkan tubuh monster bagian lehernya dan kaki kiri belakang, tetapi serangannya meleset, kedua serangan tak sepenuhnya mengenai tubuh monster.
Sementara itu, Sadam mencoba melawan langsung dengan monster ini memperbesar tubuhnya hingga ukuran dengan tinggi 9 meter. Dengan ukurannya yang besar, Sadam memeluk kaki belakang bagian kanan monster untuk menahannya berjalan.
Bam!!
Monster ini tumbang karena dia gagal dalam melangkahkan kakinya, tubuhnya yang diserang oleh ketiga serangan tersebut menjadi lumpuh sementara.
Melihat ini, mereka berempat menghindari tempat jatuhnya monster rusa raksasa dan memantau monster dari kejauhan.
Monster Deegiant terus-menerus berteriak sembari bergerak untuk bangkit.
"Jangan beri dia kesempatan untuk bangun!"
Kei memberi instruksi pada mereka semua, dan anggota lainnya bergerak untuk memberi serangan lanjutan.
Serangan mereka masih sama dan tak banyak variasinya, tetapi pengeluaran kekuatan mereka lebih besar dibanding sebelumnya.
Api yang tercipta dari bilah siwar Kei meledak dengan kobaran api yang sangat besar. Lidah api dari bilah siwar memanjang hingga membentuk bilah berbentuk siwar berukuran 4 meter.
Tubuh Kei yang seharusnya kebal dengan apinya sendiri, kini telah berkeringat karena radiasi panas yang dihasilkan oleh apinya yang bergelora.
Tanpa berlama-lama lagi, Kei yang ada di tanah tepat di belakang tubuh monster yang tergeletak ingin bangun langsung meluncurkan serangan pamungkasnya.
Mengayunkan siwarnya dengan kedua tangan, bilah tersebut memotong udara secara vertikal membidik pada bagian kedua kaki belakang monster.
"Great Flame Slash!"
Swooshh!
Hembusan angin dan suara kobaran api yang tertiup angin kencang terdengar di sekitar.
Semua dedaunan dan benda yang mudah terbakar yang ada di jalur terbang serangan Kei sekejap terbakar dan berubah menjadi abu ringan.
Mendengar teriakan ini, anggota lainnya ikut melepaskan serangan.
Aqila dengan pedang esnya yang menyala berwarna biru laut segera melambaikan kedua tangannya saling menyilang, mengeluarkan tebasan angin dingin berbentuk huruf X.
"Frozen X Cut!"
"Rock Rain!"
Serangan dari Aqila diikuti oleh serangan batuan besar oleh Sadam dalam ukuran yang begitu besar.
Ketiga serangan pamungkas tersebut melesat secara bersamaan, dan menghantam kuat pada bagian tubuh monster yang terbuka.
Ledakan!
Tanah berguncang, gelombang udara menghempaskan segala sesuatu di dekatnya, suara nyaring muncul yang disertai oleh cahaya yang menyilaukan mata.
__ADS_1