SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 87: Monster Misterius


__ADS_3

Begitu mereka berempat berjalan di kejauhan dari rumah mereka, Isander tiba-tiba berhenti melangkah.


Di dalam tatapan Giya, Meisya, dan Nina, tubuh Isander berbalik ke belakang, dan dia menatap ke arah di mana rumah kayu berada, wajahnya terlihat serius dengan mata yang tajam.


Mereka semua dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres hanya dengan melihat raut muka Isander.


"Ada apa, Isander?" tanya Giya yang ingin tahu sekaligus merasa cemas.


Isander tetap melirik ke arah rumah mereka berada yang ditutupi oleh banyak batang pohon yabg berukuran besar.


Beberapa detik setelah pertanyaan Giya terlontar, mulut Isander bergoyang dan dia pun menjawab, "Aku merasakan ada sesosok makhluk aneh muncul di dekat rumah."


"Apakah itu suatu hal yang buruk?" Giya melihat Isander dengan perasaan yang khawatir.


"Kemungkinan besar iya, makhluk itu cukup mengerikan."


Sekejap Giya menjadi panik dan buru-buru berkata, "Bisakah kita lawan makhluk itu, paling tidak mengusirnya?"


"Bisa, tetapi lebih baik kalian tunggu di sini dan menunggu aku kembali. Aku merasa makhluk ini tidak lemah. Aku takut kalian terluka."


Isander memandang ketiga wajah mereka dengan ekspresi yang lembut dan penuh perhatian.


Tujuannya mengatakan ini supaya mereka tidak berisiko berada di situasi yang berbahaya, biarlah dirinya saja yang mendapatkan sesuatu hal yang berbahaya dma mengancam, asalkan anak dan anggota kelompoknya tidak.


Mereka semua mengerti apa yang dimaksud oleh Isander, dan mereka semua mengangguk setuju, bahkan Meisya pun ikut mengangguk berbarengan dengan Giya.


Senyum Isander tampak berbeda maknanya. Senyuman yang ditampilkan merupakan perwujudan rasa lega yang dia rasakan karena mereka mengikuti arahannya.


Memiliki anggota kelompok yang menurut memang menyenangkan dan membahagiakan.


Tas yang digendong Isander dilepas dan diserahkan kepada Nina seraya berkata, "Jaga tas ini, ambil saja makanan yang ada di dalam kalau kalian ingin makan, jangan menungguku karena aku tidak bisa memastikan jam berapa aku pulang. Selain makanan berat, kalian bisa mengambil beberapa camilan yang ada di dalam. Aku pergi sekarang."


Setelah mengatakan itu semua, Isander berlari cepat ke arah selatan.


Mereka bertiga pergi ke arah utara dari tempat rumahnya dibangun.


Rencananya, mereka akan pergi menuju ke tempat kemarin mereka membasmi banyak monster, tetapi melalui jalur dari arah yang berbeda karena mereka ingin menemukan tempat monster bersarang yang baru, siapa tahu saja ada banyak kumpulan monster yang hidup di bagian hutan yang lain ini.


Mengambil tas Isander, Nina memandang ke arah sosok Isander menghilang dengan perasaan yang khawatir.

__ADS_1


Meisya dan Giya pun dengan cemas menatap ke arah rumah, mereka memiliki perasaan yang tidak baik akan hal ini.


"Apakah kamu merasakan sesuatu juga dari sana?" tanya Giya pada Nina dengan wajah yang penasaran.


Kepala Nina bergerak ke kiri dan ke kanan sebagai responsnya, dia tidak tahu tentang hal itu. Menatap Giya dengan ekspresi yang serius dan berkata, "Tidak, aku sama sekali tak merasakan kedatangan dari sosok yang dibicarakan Isander."


"Ternyata perbedaan antara kekuatan kita dan dia jauh sekali," kata Giya dengan senyum yang masam sekaligus kecewa.


Giya sendiri tidak bisa merasakan keberadaan makhluk yang katanya muncul di dekat rumah. Dia berasumsi bahwa ini dipengaruhi oleh kekuatan yang mereka punya, dan kekuatannya lemah dibandingkan kekuatan Isander.


Dari hal ini saja sudah sangat jelas perbedaannya. Meskipun terasa mengecewakan, Giya tidak berkecil hati, dan semangat berjuang menjadi manusia yang kuat tumbuh dan meledak.


Sebagai wanita, gengsi yang dimilikinya terbilang cukup besar, dan dia bisa menggunakan rasa gengsi tersebut untuk meningkatkan kekuatannya dengan cara berlatih.


Dia tidak ingin kalah dari seorang pria, dan berniat untuk berlatih dengan metode membunuh banyak monster agar kekuatannya meningkat.


Pada umunya, cara para Agter meningkatkan kekuatannya adalah dengan cara memperbanyak membunuh monster.


Kekuatan mereka sering digunakan untuk membantai monster dan secara otomatis akan mengasah keterampilannya serta meningkatkan kemampuan yang mereka punya.


Pada saat ini, Isander yang melesat dengan cepat di antara pepohonan telah sampai di depan rumah.


Sudah beberapa kali dia berputar-putar mengelilingi area luar rumah dan dia tidak menemukan sosok monster yang dia cari.


Hanya ada jejak tanah yang terbelah tersebar tidak jauh di samping rumah.


Setelah Isander perhatikan dengan jelas permukaan tanah, dia curiga terhadap spot yang ada di dekat rumah, itu adalah bagian yang dihinggapi banyak tanah gembur yang berceceran.


Segera kekuatannya dikerahkan oleh Isander untuk membongkar bagian permukaan tanah membentuk lingkaran besar, dia sudah sangat curiga dengan sesuatu ini.


Begitu berhasil membongkar bagian permukaan tanah tersebut, dia menemukan sebuah lubang yang dalam dan agak besar mengarah ke suatu tempat.


Lubang ini bisa dilewati, tetapi Isander harus menundukkan tubuhnya kalau ingin masuk ke dalam dan menelusuri lubang.


"Monster baru lagi? Namun ... ini terasa lebih kuat dan berbeda dari monster yang sebelumnya."


Isander berjongkok di pinggir lubang dalam yang berdiameter 6 meter, kemudian kedua tangannya secara perlahan menyentuh permukaan tanah yang berdebu dan kotor.


Ada ide yang telah dia pikirkan. Lebih baik ia mengamati lubang ini tanpa harus masuk ke dalam, kekuatannya bisa mendeteksi dan meraba tanah sedalam beberapa meter dan seharusnya ini cukup untuk mengetahui apa yang ada di dalam lubang.

__ADS_1


Selanjutnya, Isander dapat merasakan sesuatu di setiap inci tanah yang ada di bagian bawah.


Ruang kosong yang dihasilkan oleh lubang ini mengarah ke suatu tempat yang ada di timur dari hutan.


Untuk mengetahui lebih lanjut ke mana arah lubang ini menuju, Isander harus berpindah tempat sesuai dengan arah lubang ini pergi.


Kemampuannya terbatas dan Isander tidak bisa memindai terlalu jauh.


"Eh? Mengapa kamu ada di sini, Isander?"


Reza dan Kila datang menghampiri Isander yang tengah berjongkok sambil meratapi permukaan tanah.


Mereka berdua merasakan kehadiran seseorang di sekitar rumah, dan mereka langsung keluar untuk memeriksa, ternyata itu adalah Isander.


Mendongak untuk melihat keduanya, dan dia berkata dengan nada yang serius, "Kalian sempat melihat sosok makhluk yang datang ke sini sebelum aku datang?"


"Sosok makhluk?" Reza bingung dan balik bertanya sebagai jawabannya.


Kepala Isander mengangguk beberapa kali. "Benar, mungkin seekor monster."


"Tidak, kami berdua tidak melihat dan tidak menyadari ada monster yang datang."


Keduanya mengungkapkan dengan jujur bahwa mereka tidak tahu tentang monster yang datang ke sini.


Mendengar jawaban mereka berdua, membuat Isander bingung terhadap perasaannya sendiri.


Seharusnya, perasaan tadi tidak salah, dia benar-benar merasakan ada sesuatu yang berdiri tidak jauh di sekitar rumah, dan Isander bukan halu.


"Aku minta bantuan kalian. Tolong kamu jaga lubang yang ada di sana, beri tahu aku jika ada sesuatu reaksi yang datang dari lubang, aku ingin meneliti dan menelusuri lubang tersebut."


Isander memberi instruksi kepada keduanya untuk menjaga ujung lubang yang ada di dekat rumah, mereka menuruti permintaan Isander dan bersama keduanya berjalan ke lubang yang dimaksud oleh Isander.


Bukan hanya Isander yang khawatir, Reza dan Kila pun sama. Jika ada sosok monster yang bisa bergerak di dalam tanah, itu suatu hal yang sangat berbahaya.


Isander melangkahkan kakinya secara perlahan dan mengikuti ke arah di mana lubang ada di dalam tanah terhubung.


Setelah beberapa menit dia berjalan, dia akhirnya menemukan ujung lubang ini di dekat suatu rumah gubuk kayu yang hancur.


"Sejak kapan ada sebuah gubuk di sini?"

__ADS_1


__ADS_2