
Sebuah suara yang terdengar seperti seorang anak kecil, terdengar di telinga Isander. Arah suara berasal dari belakangnya, dan segera Isander mengalihkan pandanganya ke belakang bersama dengan tubuhnya.
Terlihat ada seorang gadis kecil yang memiliki usia sekitar 14 tahun yang tampak seperti sudah remaja, tengah berdiri di belakangnya sambil menatap wajah Isander.
Entah mengapa, Isander merasa familier dengan wajah dari gadis remaja ini. Rasanya dia pernah melihat wajah gadis remaja ini, tetapi dia tidak yakin benar-benar pernah melihat wajah ini.
"Anu, apakah kamu orang yang membeli boneka dari adikku?"
Tiba-tiba gadis remaja ini melontarkan pertanyaan dengan wajah yang hati-hati seolah dia takut menyinggung Isander.
Mendengar pernyataan dari gadis remaja ini, otak Isander langsung berputar dan mengingat kembali seorang gadis remaja yang pernah melakukan bisnis menjual boneka kepadanya.
Wajah gadis remaja yang ada di depannya sekarang mirip sekali dengan gadis remaja saat itu, tetapi gadis remaja ini tampak lebih besar tubuhnya dibandingkan dengan gadis remaja yang pernah menjual boneka.
Pertanyaan gadis remaja segera Isander jawab dengan nada yang ramah, "Iya, aku orangnya. Ada apa?"
"Itu," ucap gadis remaja yang tertahan, "bisakah kamu membayar gelang ini dengan sebuah makanan yang kamu punya?"
Gadis remaja di depan Isander mengulurkan telapakan tangannya dan memperlihatkan sebuah gelang yang terbuat dari tali dan beberapa pernak-pernik yang memiliki banyak warna.
Gelang ini diperuntukkan bagi anak kecil.
Ketika Meisya melihat gelang ini, dia tertarik dan langsung berkata, "Ayah, aku mau gelangnya!"
Isander tersenyum melihat Meisya yang ingin sekali memiliki gelang yang ditunjukkan gadis remaja di depannya. Tanpa berpikir panjang, Isander berniat untuk membeli barang kecil ini.
"Mau ditukarkan dengan makanan?" tanya Isander dengan serius.
Dengan cekatan, gadis remaja ini mengangguk beberapa kali dan menatap Isander dengan pandangan yang teguh.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Setelah melihat respons gadis remaja ini, Isander membuka tasnya yang ada di belakang, kemudian mengeluarkan beberapa makanan.
__ADS_1
Jumlah jelasnya, makanan yang Isander keluarkan lebih dari 9 buah terdiri dari, nasi bungkus, ikan asap, susu kotak, ayam bakar, dan sisanya makanan ikan kaleng.
Isander keluarkan dan dimasukkan ke dalam kantong plastik berwarna hitam agar orang-orang tidak tahu barang apa yang dibawa gadis remaja ini.
Bisa dilihat dari lingkungan yang ditampilkan di luar kota, kelihatan tidak tertib dan sangat kumuh.
Sebuah asumsi Isander buat, di luar kota ini tidaklah aman sepenuhnya. Jadi, Isander tidak ingin memancing penjahat yang bersembunyi di balik kegelapan luar tembok kota untuk beraksi.
"Terima kasih banyak! Terima kasih!"
Usai diberi kantung yang berisi banyak makanan, gadis remaja ini berterima kasih berkali-kali sembari menundukkan tubuhnya 90 derajat, menandakan gadis remaja ini tahu apa itu sopan santun.
Jujur saja, Isander terkejut saat melihat reaksi berlebihan dari gadis remaja ini. Dengan sigap, dia meminta gadis remaja tidak melakukan hal itu secara berlebihan dan heboh, Isander merasa tak enak.
Tepat ketika gadis remaja itu berhenti membungkukkan tubuhnya, sebuah ekspresi sedih yang terpampang jelas di wajah gadis remaja ini, membuat Isander merasa ingin tahu dan iba.
"Tunggu, mengapa kamu bersedih?" Isander bertanya ketika melihat gadis remaja yang memberinya gelang ini tampak suram dan sedih.
"Hiks! A–aku, aku baik-baik sa–saja," jawab gadis remaja ini dengan tersendat-sendat karena sesak yang ia rasakan di dadanya.
Gadis remaja penjual gelang terdiam sejenak, dia menunduk setengah wajah, tidak mau memperlihatkan wajahnya.
Namun, Isander tahu bahwa gadis remaja ini menangis secara sembunyi-sembunyi. Bisa dilihat tetesan air mata jatuh ke tanah satu per satu, dan itu dapat dilihat oleh Isander begitu jelas.
Meisya di pelukannya hanya bisa diam dan menyaksikan ayahnya dan gadis remaja tengah mengobrol sembari menyentuh gelang warna-warni di pergelangan tangannya.
"Bilang padaku, apa yang telah terjadi pada kamu dan dia?" Suara Isander terdengar sangat tegas dengan intonasi yang serius tanpa sedikit bercanda.
Tangisan kecil gadis remaja ini berangsur-angsur berhenti, kemudian dia menyeka air matanya dengan baju yang ia kenakan, dia berkata dengan suara yang sedikit terputus-putus, "Helen, dia sakit dari beberapa hari yang lalu, aku benar-benar tidak tahu harus mencari bantuan ke ma–mana. Bisakah—membantu dia sembuh? Kumohon .... Aku sangat putus asa!"
Air mata kembali keluar dari kedua matanya, matanya memerah menandakan gadis remaja ini tidak sedang menangis air mata palsu atau menipu.
Sudah jelas, tidak perlu ditanyakan lagi, Isander pasti akan menolong. Peristiwa ini sudah menyangkut sifat manusianya yang baik dan saling tolong.
__ADS_1
"Ya, aku akan membantu gadis itu sembuh. Di mana dia sekarang?"
"Eh?" Menatap Isander, gadis ini terkejut dengan jawaban Isander yang sangat cepat.
Semburan rasa senang muncul di dalam hatinya, dan dia segera mengajak Isander dan Meisya yang berada di pelukan ayahnya menuju ke dalam pemukiman.
Tempat mereka bertransaksi berada di luar pemukiman, tidak banyak orang yang melihat keduanya melakukan bisnis jual-beli.
Isander sudah memastikan tidak ada orang yang mengikuti mereka berdua.
Setelah mengikuti gadis remaja ini selama beberapa saat, sosok Isander dan Meisya berada di sebuah gubuk kecil yang dihimpit oleh banyak gubuk kecil lainnya.
Kelihatannya ini adalah area tempat tinggal dari orang-orang yang ada di luar kota.
Ini adalah kali pertama Isander masuk ke dalam kawasan pemukiman yang sangat padat. Sebagai perbandingan, Rain Settlement saja tidak sepadat ini, masih ada ruang antara satu rumah dengan rumah lainnya.
Tidak banyak bicara, gadis remaja ini mengizinkan Isander dan Meisya masuk ke dalam gubuk.
Saat Isander masuk ke dalam gubuk kayu yang reyot, dia bisa melihat seorang gadis remaja yang lebih kecil sedang tidur di atas lantai kayu dengan dibungkus banyak kain yang sedikit kotor.
Dari wajahnya saja sudah kelihatan pucat, tanda sedang mengalami sebuah penyakit.
Isander, Meisya, dan gadis remaja yang masih belum diketahui namanya duduk di sebelah gadis remaja yang tidur dengan kondisi yang sedang sakit.
Meisya yang melihat ini seketika bersimpati, wajah kecilnya menampilkan ekspresi sedih.
Mengalihkan perhatiannya ke wajah Isander, Meisya berkata dengan suara susu yang imut, "Ayah, apakah kamu bisa menyembuhkan kakak yang sakit ini?"
Usai Meisya mengatakan itu, Isander tertegun untuk sesaat. "Bisa, apakah Meisya ingin Ayah menyembuhkan gadis ini?"
"Ya! Aku mau!"
Meisya benar-benar anak yang baik, tanpa ada keraguan sedikit pun pada permintaannya, dia benar-benar ingin Ayahnya menyembuhkan gadis remaja yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
__ADS_1
Tepat ketika Isander ingin mencoba menggunakan kemampuan penyembuhan lukanya, tiba-tiba suara elektronik dingin dan kaku muncul di telinganya, memberi tahu dirinya akan sebuah informasi yang baru.
[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Memberikan Anda Kemampuan Penyembuhan Penyakit Level C!]