SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 33: Memperkuat Jembatan


__ADS_3

Giya menatap punggung Nina dengan wajah yang penasaran. Mereka mendaki tebing ini tidak membuat mereka bisa menyeberangi sungai.


“Di atas sana ada jembatan kayu yang masih bagus. Dibangun sebelum dunia ini hancur, kurasa,“ kata Nina kepada Giya.


Mereka terus mendaki sampai akhirnya tiba di atas tebing.


Mata Isander bergerak ke arah sungai, aliran sungai ini memang cukup deras. Tak heran apabila air terjun juga turun begitu kencang.


Tak jauh di depan mereka, ada sebuah jembatan yang terbuat dari kayu dan tali.


Ketiganya berjalan ke depan menghampiri jembatan tersebut.


“Masih kokoh.“


Tangan Giya mengetuk-ngetuk penyangga jembatan, terasa kuat dan kokoh.


Sungai ini agak menjorok ke bawah, makin tepi makin ke bawah tanahnya. Cukup bagus untuk membuat jembatan karena secara otomatis jembatan memiliki tinggi di atas sungai. Kalaupun meluap, itu tidak mudah untuk bisa menyentuh ketinggian jembatan yang dibangun.


Selain Giya, Isander juga memeriksa ketangguhan jembatan ini. Hasilnya, itu memang cukup kuat dan akan terus berfungsi sampai beberapa tahun ke depan.


Supaya lebih kuat, Isander menguatkan pondasi jembatan itu, Isander menggunakan kemampuan kayu yang dipunya untuk menguatkan kayu-kayu yang sudah agak rapuh.


Giya dan Nina melihat sebuah pohon bergerak dengan cara merambat ke arah mereka semua. Keduanya terkejut dan langsung memasang postur bertarung, tetapi keduanya langsung dihentikan oleh Isander.


Dengan cepat menjelaskan tentang pohon yang bergerak ini dan keduanya langsung mengerti apa yang terjadi.


Di bawah tatapan keduanya, salah satu akar pohon yang besar ini terlepas. Selanjutnya, akar besar pohon tersebut berubah bentuk menjadi sesuatu yang mirip dengan tali yang terbuat sepenuhnya dari kayu yang keras.


Kendali Isander cukup bagus. Tali yang terbuat dari kayu ini melilit beberapa bagian jembatan yang krusial, seperti tali dan kedua ujung jembatan, tempat jembatan ini bisa berdiri.


Setelah melilit, kayu yang memiliki sifat yang fleksibel menjadi keras dan itu melilit dengan kuat beberapa bagian jembatan yang penting.


Ingin sekali Isander rekonstruksi jembatan tersebut, tetapi dia tidak ada waktu. Butuh banyak waktu untuk merekonstruksi atau merenovasi jembatan ini agar lebih layak digunakan.


Keduanya benar-benar terkejut dengan kemampuan Isander ini, termasuk Meisya yang baru bangun tidur, dia terbangun karena suara gemuruh dari pohon yang bergerak.


“Sebaiknya, kita segera menyeberang.“ Isander tersenyum kepada mereka berdua yang memiliki ekspresi yang terkejut dan terpana.


Mendengar suara Isander, keduanya langsung menggelengkan kepalanya dan memulihkan kesadaran pikirannya.


“Baik. Ayo kita menyeberang!“ Giya mengangguk dan mulai memimpin lagi sesi penyeberangan.


Giya pertama yang mencoba menyeberangi jembatan. Meskipun jembatan itu bergoyang karena ada beban di atasnya, jembatan masih kuat untuk menahan.

__ADS_1


Pada akhirnya, Giya berhasil menyeberangi sungai dengan jembatan ini dalam kondisi tubuh yang baik-baik saja.


Berikutnya, Nina dan Isander secara bergantian menyeberang melalui jembatan kayu ini. Keduanya sama-sama selamat dan tak ada luka di tubuh mereka.


Setelah semuanya telah menyeberangi sungai, mereka melanjutkan perjalanan ke gunung salak untuk memburu monster Salmagtress.


Baru beberapa meter mereka berjalan dari sungai, mereka sudah dihadapkan oleh monster yang sama dengan monster yang Isander lawan.


Jumlah monster tidak banyak dan hanya ada 4 monster. Sangat sedikit.


Dengan demikian, hanya dengan Giya dan Nina yang melawan, mereka semua mati di tangan mereka berdua.


Kerja sama mereka berdua makin baik dan sinkron. Tahu apa yang harus dilakukan satu sama lain demi mengalah monster.


Giya sebagai orang yang membuat mereka melemah karena tusukan pisaunya yang menusuk di bagian krusial dan fatal, sedangkan Nina menjadi eksekutor dengan memotong tubuh mereka dan memotong jantung mereka yang ada di dalam tubuh monster.


Walaupun hanya 4 monster, mereka berdua membutuhkan waktu lebih dari 5 menit untuk menghabisi mereka semua sampai mati.


Untuk Isander, dia menghabisi monster-monster ini dengan waktu yang kurang dari 1 menit.


Mengingat dia memiliki Dark Spear yang sangat kuat, dia mungkin bisa membunuh mereka semua dalam hitungan detik.


“Sudah ambil sirip dua monster yang lain?“ Giya bertanya kepada Nina yang menghampiri dirinya yang tengah memotong sirip punggung monster.


Nina merespons dengan anggukan dan dia menunjukkan ke tas yang digendong Giya.


“Masukkan sirip ini juga.“ Giya menyerahkan dua sirip yang baru dia potong kepada Nina.


Mengambil sirip yang diberikan Giya dan Nina lipat agar bisa masuk ke dalam bungkusan sirip monster yang lain.


“Sudah semuanya? Ayo kita lanjutkan—”


Boom!


Belum selesai Giya berbicara, sebuah ledakan yang besar memotongnya secara paksa.


Suara ledakan ini berbunyi sangat jelas hingga tanah yang mereka pihak sedikit bergetar.


Meisya yang ada di pelukan Isander terkejut dan dia langsung memeluk ayahnya dengan erat.


Mereka bertiga dalam sekejap memasang kewaspadaan yang tinggi sambil melirik ke sekelilingnya.


“Apa itu?!“ Giya bertanya kepada Nina. Pasalnya, Nina pernah melalui jalur ini dengan selamat. Seharusnya, dia tahu dengan medan jalan.

__ADS_1


Nina menggelengkan kepalanya, wajahnya menuju ekspresi yang bingung sekaligus tegang. “Aku juga tidak tahu.“


Boom!


“Hiya!“


Suara ledakan kembali terdengar, tetapi kali ini disertai dengan suara manusia yang berteriak.


Mendengar ini, mereka saling memandang seolah mengetahui sesuatu.


Tanpa berbicara satu sama lain, mereka bertiga bergerak dan berlari menuju sumber suara.


Arah suara berasal dari arah tenggara.


Makin mereka berlari makin keras juga suara ledakan, bahkan getaran di tanah terasa sangat jelas.


Beberapa waktu yang singkat, mereka bertiga menemukan sumber suara tersebut dan itu berasal dari 1 makhluk monster yang memiliki jenis berbeda.


Monster ini memiliki perawakan yang besar, tingginya lebih dari 4 meter dengan panjang lebih dari 5 meter hampir menyentuh 6 meter. Seluruh tubuh berwarna merah dan bentuk monster ini mirip sekali dengan hewan banteng.


Bentuk monster ini serupa dengan banteng dan memiliki sepasang tanduk besar di kepalanya, seluruh tubuh berwarna merah, dan ukuran yang begitu besar.


Di sekeliling monster ini terdapat beberapa manusia yang mencoba dan berusaha untuk membunuh monster tersebut.


Sayangnya, serangan mereka tidak berarti bagi monster banteng ini.


“Terima ini!“


Seorang pria berlari dari kejauhan dan dia melompat sangat tinggi, tingginya lebih dari 3 meter sambil mengayunkan pedang berwarna silver di tangannya.


Srat!


Pedang tersebut berhasil membuat luka pada tubuh monster, tetapi luka itu hanya tergores begitu kecil.


Graaahhh!


Luka ini terasa sakit bagi monster dan monster itu menjadi marah kepada seorang pria ini.


Dengan tanduk yang besar, monster ini menyeruduk pria yang menyerangnya yang baru saja mendarat di tanah di depannya.


Tepat ketika monster banteng ini ingin menyerang pria tersebut, muncul seorang wanita dengan perisai bulat di tangan kanannya dan berdiri di depan pria tersebut.


Wanita ini memasang kuda-kuda dan mengarahkan perisai bulat kepada salah satu tanduk monster yang datang.

__ADS_1


Bukannya pria ini senang karena ditolong, pria tersebut malah menjadi marah dan menyesal.


“Tidak! Tidak! Pergilah! Jangan menolongku!“


__ADS_2