
“Kurasa kekuatanku sudah cukup kuat untuk mengalahkan monster yang besarnya sama dengan monster banteng itu.“ Isander memandangi kedua telapak tangannya yang dinodai tanah dan debu.
Dipikir-pikir olehnya, kekuatan yang telah dia dimiliki sudah cukup kuat untuk mengalahkan monster yang memiliki ukuran tubuh yang sama dengan monster banteng barusan.
Dengan kekuatan tombak hitamnya saja itu sudah cukup mengalahkan monster-monster yang semacam monster banteng tersebut.
Semua itu hanya perkiraan Isander. Belum tentu kenyatannya seperti apa yang diperkirakan oleh Isander.
“Tidak, dunia ini masih belum aku ketahui lebih jauh. Monster banteng tadi saja aku belum tahu nama sebutannya.“ Isander menggelengkan kepalanya, dia menepis pikiran sebelumnya.
Kekuatannya masih belum kuat menurutnya. Jauh dari kata cukup untuk bisa hidup damai di dunia ini.
Isander yakin ada monster yang lebih mengerikan dari monster banteng tersebut.
Bayangkan saja jika monster banteng ini memiliki koloni yang beranggotakan banyak, Isander yang kuat saja belum tentu bisa mengalahkan mereka semua dengan cepat. Kemungkinan besar, Isander kewalahan dengan monster ini.
Monster banteng yang Isander lawan tidak dianggap remeh, Giya dan Nina saja masih tidak yakin untuk mengalahkan monster banteng satu ini.
Sebagai informasi yang diingatkan lagi, Giya dan Nina adalah seorang Agter senior, kekuatannya beberapa kali lebih kuat dibandingkan manusia biasa. Jika diibaratkan, Giya dan Nina bisa mengalahkan puluhan manusia biasa.
Sayangnya, monster di dunia ini juga sangat kuat sehingga Giya dan Nina terlihat seperti manusia biasa di hadapan para monster.
Kaki Isander terus melangkah menuju ke arah Giya dan lain melarikan diri. Mereka pergi ke arah barat hutan, Isander memandang ke depan dan terus berjalan.
Tak lama kemudian, Isander menemukan tempat di mana mereka bersembunyi. Letak mereka bersembunyi ada di puluhan meter dari tempat dirinya dan monster bertarung. Sebenarnya, itu tidak cocok sebagai pertempuran, melainkan cocok disebut pembasmian.
Mereka semua ada di bawah sebuah pohon besar dan tinggi. Jika dilihat dari jenisnya, ini memiliki jenis pohon Sequoioideae atau pohon redwood, pohon terbesar dan tertinggi di dunia.
Dari kejauhan saja Isander bisa melihat betapa besarnya pohon ini, tingginya puluhan meter dengan besar batang pohon memiliki diameter yang lebar.
Makin dekat dia berjalan, Isander bisa melihat Giya, Meisya, Nina, dan seorang pria yang tak dikenal tengah duduk mengelilingi seorang wanita yang bersandar di pohon.
Noda darah yang ada di pakaian wanita itu bisa dilihat oleh Isander. Tampaknya wanita ini adalah orang yang sempat menahan kekuatan serudukan tanduk monster banteng.
Melihat wanita yang terluka ini, Isander bergumam dalam hati, “Apakah monster banteng tadi begitu kuat? Kurasa … monster banteng tadi tidak memiliki kekuatan yang besar saat menghantam tombak hitam milikku.“
__ADS_1
Isander masih ingat perasaan ketika monster tersebut menabrak tombak hitamnya, Isander hanya merasakan tubuhnya sedikit bergetar akibat menahan serangan telak monster banteng, tetapi tidak sampai membuat dirinya terluka. Tubuhnya aman-aman saja.
“Ayah!“
Tak sengaja Meisya melihat ke arah belakang, dia menangkap sosok Isander tengah berjalan sambil menggendong tas di punggungnya.
Meisya berlari dengan kaki kecilnya menghampiri Isander.
Namun, baru beberapa langkah Meisya berlari, kaki kirinya tersandung akar pohon dan tubuhnya ingin terjatuh.
Giya dan lainnya melihat detik-detik Meisya ingin terjatuh dan reaksi mereka tidak cepat.
Whoosh!
Tiba-tiba saja sebuah siluet hitam melintas dan sosok Isander muncul di tempat Meisya dan mengangkat tubuh Meisya menjauh dari tanah yang kotor serta keras.
Wajah Meisya yang terkejut dan takut langsung menghilang, berubah menjadi ceria dan senang.
“Ayah kembali!“
Isander tersenyum melihat Meisya yang tertawa, dia mencium pipi Meisya dengan penuh kasih sayang.
Melihat ayah dan anak ini berpelukan sangat bahagia, Giya dan Nina ikut senang, Pria yang bersama dengan Giya dan Nina pun sama. Mereka semua tanpa sadar tersenyum, hatinya merasakan sesuatu perasaan yang hangat.
“Ayah, kakak itu terluka, apakah ayah bisa menyembuhkan kakak cantik itu?“ celetuk Meisya sambil menunjuk ke arah wanita yang bersandar duduk di batang pohon.
Wanita ini sedang tidak sadarkan diri karena telah kehilangan banyak darah, tubuhnya masih bernapas bisa dilihat dari gerakan kecil di perut dan dadanya.
Begitu Isander ingin menjawab, Sistem muncul untuk kedua kalinya dan sebuah informasi muncul bersamaan dengan layar tipis di depan wajahnya.
[Ding! Terdeteksi Bahwa Meisya Memiliki Keinginan! Sistem Meningkatkan Kemampuan Natural Healing ke Level B!]
Masih dengan pola yang sama, Isander mengalami perubahan pada tubuhnya usai pemberitahuan Sistem muncul di kepalanya.
Isander merasakan ada sesuatu yang berubah pada tubuhnya, tetapi dia tidak tahu di mana letaknya.
__ADS_1
Ketika dia bingung, sebuah tirai tipis cahaya yang lain menyembul dari udara tipis tepat di depan wajahnya.
Sebuah deretan tulisan tercantum di layar transparan tersebut menginformasikan sesuatu kepada Isander.
[Natural Healing (B): Kemampuan penyembuhan yang dapat memulihkan luka yang ringan sampai sedang dengan cepat dan sedang ke berat dengan waktu yang cukup lama.]
Sebuah senyuman muncul di wajah Isander. Dia senang mendapatkan hadiah ini dari Sistem, sangat berguna untuknya dan orang lain. Kemampuan ini memiliki sifat yang penting.
Semua orang pasti butuh seorang dokter, terlebih di dunia yang tidak damai dan sedang kacau seperti ini. Banyak orang yang terluka membutuhkan seseorang yang bisa menyembuhkan. Sosok orang yang bisa melakukan penyembuhan sangat dibutuhkan oleh semua orang.
Akan tetapi, Isander tidak bisa selalu mengungkapkan kemampuannya kepada orang lain. Makin penting dirinya makin berbahaya juga posisinya. Isander tidak mau orang-orang mengincar dirinya, apalagi sampai meneror.
Meisya tidak boleh sampai berada di situasi yang berbahaya dan terancam.
Perlahan Isander berjalan sembari menggendong Meisya, dia mendatangi mereka bertiga dan berdiri tepat di depan wanita yang duduk dalam keadaan pingsan.
Giya, Nina, dan Pria ini memperhatikan gerak-gerik Isander, mereka penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh isander.
“Meisya mau kakak ini sembuh?“ tanya Isander kepada Meisya di pelukannya.
Meisya dengan cepat mengangguk dengan mata yang cerah. “Ya, Ayah. Kakak ini kasihan sekali, dia terluka. Banyak darah di bajunya, Meisya tidak tega.“
“Baiklah, Ayah akan menuruti permintaan Meisya.“ Isander tersenyum, dia senang hati menerima permintaan Meisya. “Lihat tangan Ayah, apakah indah?“
Isander mengulurkan tangannya dan menunjukkan tangannya yang mulai diselimuti oleh cahaya hijau yang terang.
Mata Meisya yang ingin tahu berubah menjadi kagum. Dia menyaksikan tangan Isander dengan antusias.
Selanjutnya, Isander mengarahkan tangannya yang diselimuti oleh cahaya lampu hijau ke bawah, tepat ke arah tubuh wanita yang terluka.
Semburan cahaya hijau tersebut keluar dan mengalir perlahan di udara menuju tubuh wanita tersebut, pemandangan sinar hijau ini benar-benar mirip seperti air yang jatuh dengan waktu yang diperlambat, sedikit terlihat melayang.
Sinar hijau masuk ke dalam tubuh wanita dengan lancar.
Mereka semua terdiam dan menunggu reaksi wanita ini. Namun, setelah 1 menit mereka menunggu, wanita ini masih diam dan tak bergerak.
__ADS_1
Di detik selanjutnya, jari-jari tangan wanita yang awalnya kaku ini mulai bergerak, dan reaksi yang lain mulai bermunculan.