SISTEM ANAK DUNIA LAIN

SISTEM ANAK DUNIA LAIN
Bab 106: Sosok Mengejutkan


__ADS_3

Mereka memberhentikan gerakannya karena sudah memakan banyak waktu untuk mengurus tanaman merambat tersebut, di mana itu membuat mereka makin lama untuk sampai di Kota Komodo.


Maka dari itu, mereka memutuskan untuk kembali berjalan tanpa mengurus secara serius tanaman merambat yang melewati mereka semua.


Isander dan lainnya terus berjalan ke arah timur sambil sesekali menghancurkan tanaman merambat yang hendak menabrak mereka.


Tanaman merambat ini tidak punya mata dan semacamnya, bergerak ke satu arah, dan jika menabrak sesuatu dia akan mengubah arahnya untuk menghindari objek yang mereka tabrak dan tetap ke satu arah tersebut.


Bisa dibilang tanaman ini hidup secara utuh, melainkan hidup karena dikendalikan oleh keberadaan yang kuat hingga bisa mengontrol tanaman merambat dari jarak begitu jauh.


Swoosh!


Dark Spear yang dipegang Isander melambaikan tangannya beberapa kali dan langsung memotong banyak tanaman merambat tersebut bersamaan dengan tanah di bawahnya.


Energi berwarna hitam tersebut mampu memotong tanah yang padat dan keras hingga kedalaman puluhan sentimeter sebelum akhirnya menghilang.


Setelah itu, mereka lebih memfokuskan diri dalam perjalanan daripada merusak tanaman merambat ini yang tak ada habisnya.


Akan tetapi, setelah mereka perhatikan lebih jauh, tanaman ini memiliki arah yang sama dengan jalur mereka. Mengarah ke tempat Kota Komodo berada.


Mengetahui ini, Reza berpikir bahwa monster yang yang mengendalikan seluruh tanaman merambat yang bergerak ada di Kota Komodo.


Dengan begitu, mereka sepakat untuk mempercepat akselerasi mereka dalam berjalan agar lebih cepat sampai di Kota Komodo.


Isander pun berpikir dengan hal yang sama dengan Reza. Monster yang memanipulasi tanaman merambat tersebut berada di Kota Komodo atau mungkin di dekat daerah sana karena tanaman merambat ini makin lama makin banyak.


Dan juga seperti mengerucut ke satu arah di bagian timur


Medan yang mereka tempuh sekarang berada di kawasan yang cukup jarang ditumbuhi pohon, tetapi banyak rumput dan semak yang menghalangi jalan.


Dengan begitu, anggota kelompok Isander bisa melihat pergerakan dari banyaknya tanaman tersebut dengan jelas.


Tumbuhan tersebut bergerak makin meruncing dan tidak lagi lurus ke arah timur seakan tujuan mereka bergerak sudah makin dekat.


"Hati-hati, mungkin kita akan bertemu dengan monster yang mengerikan," ujar Isander kepada mereka semua dengan wajah yang serius.


Giya dan anggota kelompok lainnya mengangguk dan memasang kewaspadaan penuh, mereka semua terus melihat-lihat ke sekeliling, berjaga-jaga dari serangan tiba-tiba monster.


Isander baru sadar bahwa monster-monster sudah jarang mereka temui sehingga perjalanan ini terasa mulus dan mudah.


Namun, Isander tidak menganggap peristiwa aneh ini merupakan hal yang baik, tetapi sebaliknya. Isander curiga akan ada sesuatu yang tidak baik dan mungkin berbahaya dari datangnya kumpulan monster Catagtress dan Goatager.


Apabila mereka tidak ada, mungkin saja mereka takut akan suatu yang kuat sehingga tidak berani untuk tinggal di sekitar keberadaan sesuatu tersebut. Dan mungkin monster yang lebih kuat muncul di wilayah mereka dan para monster yang lemah tersebut memilih mengalah lalu pergi menjauh.


Banyak kemungkinan dari peristiwa ini. Poinnya ada di sesuatu yang kuat yang mengendalikan seluruh tanaman ini dan itu mempengaruhi kegiatan monster di sekitarnya yang lebih lemah.


Tepat ketika Isander tengah berjalan bersama anggota kelompoknya, tiba-tiba kakinya berhenti melangkah dan dia mengalihkan tubuhnya ke belakang.


"Keluarlah, aku tahu kamu mengikuti kami sedari tadi," ucap Isander dengan suara yang tenang.


Mendengar ucapan tiba-tiba Isander ini membuat semua anggota kelompoknya kebingungan dan heran dengan apa yang terjadi saat ini.


Mereka semua ikut menoleh ke belakang dan mengarahkan pandangan mereka ke arah yang ditatap Isander.


Sayang sekali, mereka tidak menemukan sesuatu yang dimaksudkan oleh Isander


Isander tersenyum begitu tahu ucapannya tidak didengar dan diabaikan. Kemudian dia mengeluarkan bola api kecil sebesar kelereng dan menembakkannya ke salah satu batang pohon yang berada di 30 meter darinya berdiri.


Bola api itu menghantam batang pohon yang terbuat dari kayu dengan tepat. Meledakan dengan api yang tak terlalu besar dan membakar sedikit batang pohon tersebut.


"Keluar, aku sudah tahu kamu bersembunyi di sana," kata Isander sekali lagi.


Begitu ucapan Isander kali ini jatuh, sesosok manusia berjalan keluar dari balik pohon dengan mengenakan pakaian yang serba tertutup oleh kain berwarna hitam hingga hanya terlihat rambut panjang yang tergerai berwarna pirang agak kuning.


Melihat sosok ini, Isander langsung teringat dengan seorang yang pernah ia temui di pemukiman luar kota, dan berpapasan dengannya.


Helen dan Reren pun ingat dengan sosok ini. Keduanya menunjukkan jari telunjuknya ke arah manusia di depan sembari melirik Isander dengan panik.


"Siapa kamu? Mengapa kamu mengikuti kami dari beberapa menit sebelumnya?" tanya Isander dengan dengan wajah yang tidak senang.

__ADS_1


Dark Spear telah menyala pada bilah, listrik ungu yang mengelilingi tubuh tombak membuatnya terlihat menakutkan.


Siapa pun yang melihat ini tahu bahwa tombak yang dipegang Isander sangat berbahaya.


Anggota kelompok Isander mengetahui tanda ini dan tanpa disuruh, Giya mengambil Meisya dari tangan Isander dan mereka semua agak menjauh.


Sosok yang mengenakan pakaian tertutup berwarna hitam terus berjalan dan berhenti di 10 meter di depan Isander.


Sepasang mata berwarna biru laut terlihat cantik itu memandang wajah Isander dengan tatapan yang menusuk dan personal.


Isander agak tidak nyaman melihat mata ini melihatnya. Tanpa banyak bicara lagi, Isander mengayunkan Dark Spear begitu cepat, mengeluarkan gelombang energi berbentuk kurva panjang yang melesat ke arah sosok aneh di depannya.


Tepat ketika gelombang energi berwarna hitam Isander ingin mengenai tubuh sosok ini, sebuah tembok besar terbuat dari es tercipta dan mencoba menahan serangan Isander.


Sayang sekali, tembok es yang terlihat kokoh tersebut tak bisa menahan lama serangan Isander sehingga beberapa detik berikutnya tembok itu terbelah menjadi beberapa bagian.


Asap dari percikan es membuat sosok hitam tersebut menghilang dari tembok.


Sosok berpakaian hitam ini salah memilih orang, Isander bukanlah seorang Agter, melainkan pria memiliki sistem sehingga dia langsung tahu apa yang ingin dilakukan sosok ini usai membuat tembok.


Keberadaan Isander tanpa diketahui oleh anggota kelompoknya telah menghilang di tempat, dan tiba-tiba dia muncul di atas pohon di jarak 60 meter dari tempat anggota kelompoknya berdiri.


Mereka melihat Isander berdiri di dahan pohon sambil mengangkat tubuh yang berpakaian hitam tersebut.


Ketika mereka menatapnya dengan jelas, Isander sedang mencengkeram leher sosok berpakaian tersebut dengan wajah yang dingin, lebih dingin dari tembok es.


Saat ini, Isander mengangkat tubuh sosok yang telah mengikuti dirinya dan anggota kelompoknya dari beberapa menit yang lalu.


Tangan Isander yang sangat kuat bagaikan tang yang mampu memotong besi tidak mudah untuk digerakkan.


Sosok berpakaian hitam yang sangat tertutup mencoba melepaskan jari tangan Isander dari lehernya karena dia sudah merasa kesakitan dan tak bisa mengambil napas.


Isander memandang sejenak kedua mata ini, dan kemudian menarik kain yang menutupi seluruh wajah sosok ini dengan cepat.


Srett!


Kain itu robek dan mengungkapkan pelaku sebenarnya di balik sosok berpakaian hitam.


Isander menjatuhkan sosok misterius ini dengan pupil mata yang menyusut.


Perlahan Isander mundur beberapa langkah di atas dahan menjauhi sosok berpakaian hitam tersebut secara perlahan.


"Senang bertemu denganmu lagi, Isander."


Di balik sosok berpakaian hitam yang begitu tertutup ini ada wajah wanita cantik dengan fitur wajah yang sangat tinggi. Dia tersenyum ke arah Isander dan menyapanya.


Orang ini adalah Aqila, teman dari istrinya dahulu saat kuliah.


Isander masih tidak bereaksi saat ini dan masih bingung. Matanya masih menatap Aqila dengan pandangan penuh keterkejutan.


Di detik berikutnya, wajah Isander berubah dan dia langsung melompat dari dahan dan berjalan meninggalkan Aqila.


Aqila terkejut dengan gerakan Isander, dan dengan refleks yang cepat ikut turun untuk mengejar Isander.


"Hei, Isander! Mengapa kamu pergi?! Kamu tidak kenal aku?! Aku teman istrimu?!" ucap Aqila dengan suara yang lantang sambil berlari mengejar Isander yang berlari lebih cepat darinya.


Tiba-tiba Isander berhenti berlari setelah mendengar ucapan Aqila. Membalikkan tubuhnya menghadap Aqila yang berlari di kejauhan dan dia berkata, "Tidak, kami belum pernah bertemu sebelumnya."


Ucapan Isander ini membuat semua orang tidak menduga.


Anggota kelompoknya yang pada awalnya terkejut sosok berbaju tertutup tersebut adalah Ice Frail, ditambah terkejut saat tahu Isander kenal dengan Ice Frail lalu fakta Ice Frail merupakan teman dari ibu Meisya. Seakan itu belum cukup mengejutkan mereka, ucapan mereka lebih mengejutkan lagi.


Aqila pun terkejut dengan perkataan Isander. Dia terkejut sesaat dan kemudian tahu alasan Isander bisa mengatakan itu.


Berdiri 2 meter dari Isander, Aqila memandang pria tampan di depannya dengan wajah yang sedih dan bersalah.


"Maaf, maaf, maafkan aku yang tak sempat membantu kamu dan dia saat itu, aku benar-benar menyesal tidak bisa menyelamatkan dia. Maafkan aku, Isander!"


Selama dia mengatakan kalimat itu, air matanya terjatuh membasahi bajunya sambil menahan tangisannya.

__ADS_1


"Kamu ...." Isander menatap Aqila dengan sorot mata yang rumit.


Isander tidak bisa menahan ini. Mengeluarkan napas panjang, dan dia berbalik untuk melanjutkan lagi jalannya menuju anggota kelompoknya.


Baru saja kaki melangkah satu kali, tangan Isander ditahan oleh Aqila dengan kedua tangannya.


"Maafkan aku yang tak pernah menolongmu secara langsung. Aku tahu kamu masih kecewa denganku karena tidak membantu kamu dan dia saat itu. Percayalah, orang yang mengirimkan makanan kepadamu dari Meisya lahir sampai kamu melarikan diri dari desa itu adalah aku. Aku tahu itu masih kurang untuk membalaskan perbuatan baik kamu dan dia padaku, dan menebus dosaku, aku selama ini sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, jika kamu masih belum bisa memaafkan aku, itu tidak apa-apa, aku pantas dibenci olehmu. Terima kasih."


Sebelum Aqila pergi, dia memberikan sebuah benda berupa bando berbentuk telinga beruang cokelat ke tangan Isander diam-diam, kemudian membalikkan tubuhnya dan menghilang di pepohonan.


Isander yang memegang bando ini tertegun beberapa menit lamanya, dan tetesan air jatuh di atas bando hingga membasahinya beberapa tempat.


Benar, pria yang tangguh ini akhirnya bisa menangis hanya karena sebuah bando yang lucu. Memang konyol, tetapi sebenarnya ini tidak konyol.


Bando yang diberikan oleh Aqila adalah barang peninggalan istrinya. Isander tahu bando ini karena barang ini berasal darinya, dia yang membelikan bando ini kepada istrinya dan kemudian diberikan kepada Aqila.


Ketika Isander menyerahkan bando ini, istrinya memang belum memiliki rasa. Dia menerima hadiahnya, tetapi diberikan kepada Aqila.


Akan tetapi, Aqila tahu benda ini merupakan pemberian Isander, dan Aqila yang menggunakannya hampir setiap hari ketika sekolah.


Isander yang tahu ini cukup sakit, wanita yang dia sukai tidak suka dengan pemberian. Akan tetapi, semua kesakitan itu terbayarkan saat istrinya dan dia menikah.


Ketika itu terjadi, Aqila sama sekali tidak tahu dan tidak datang, bahkan sampai istrinya telah tiada.


Hal yang membuatnya terkejut adalah orang yang selalu menyimpan makanan di depan pintu rumahnya saat di desa dahulu ternyata berasal dari Aqila.


Selama ini, makanan yang dikonsumsi Meisya dan dia selama bertahun-tahun berasal dari Aqila yang memberikannya secara diam-diam.


Isander sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata, ditambah lagi dengan munculnya benda yang ada di tangannya.


Hatinya sangat rumit, banyak sekali perasaan yang sedang bercampur aduk di dalam. Kesedihan, kekecewaan, kekesalan, dan penyesalan dirasakan di saat yang bersamaan.


Anggota kelompoknya yang melihat ini tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan waktu untuk Isander menyelesaikan tangisan.


Entah mengapa Meisya ikut menangis dan Giya sedang mencoba untuk menenangkannya, dibantu oleh Helen, Reren, dan Nina.


Hampir lebih dari 5 menit Isander berdiri diam tak bergerak menatap bando di tangannya, akhirnya dia bergerak untuk menghapus air matanya yang menempel di wajahnya.


Selanjutnya, dia membalikkan tubuh kembali dan berjalan ke arah anggota kelompoknya berada.


"Ayah!"


Meisya yang menangis langsung memanggil Isander di kejauhan. Putrinya minta untuk digendong.


Saat sampai di tempat anggota kelompoknya, Isander tanpa berbicara mengambil Meisya.


Di bawah tatapan mereka semua, Isander mengenakan bando pada kepala Meisya, dan memeluk putrinya sambil menangis tanpa suara.


Meisya yang terkejut kembali menangis. Keduanya menangisi seseorang yang berharga di hidup mereka berdua.


Giya dan lainnya tak bisa melakukan apa-apa, selain ikut merasa kesedihan Isander dan diam.


Mereka samar-samar tahu apa yang terjadi antara Aqila dan Isander, itu masih berkaitan dengan ibu Meisya yang masih menjadi suatu misteri yang selalu ingin mereka ketahui.


Isander dan Meisya menangis tidak terlalu lama, hanya beberapa menit, dan mereka kembali normal, tetapi ekspresi sedih dan rumit Isander masih ditampilkan.


Setelah menangis, energi Meisya terkuras hingga dia akhirnya tertidur pulas.


"Ayo bergerak ...."


Usai mengatakan itu, Isander kembali berjalan ke arah timur tanpa memandang anggota kelompoknya.


Melihat ini, mereka semua mengikuti Isander dan berjalan di belakang Isander dengan hati-hati.


Di sisi lain, Aqila duduk di atas dahan pohon tak terlalu jauh dari tempat di mana dia menyerahkan barang isti Isander.


Wanita yang dingin ini menangis lagi setelah sekian lama tidak menangis.


"Maaf, maaf ... maaf! Aku bodoh!"

__ADS_1


Aqila menangis sambil mengucap kata maaf berulang kali. Di dalam hatinya dia masih menyesalkan pilihan dia di masa lalu. Banyak kesalahan yang telah dia buat, dia benar-benar tak bisa diandalkan dan dia sangat tak pantas untuk ditolong.


__ADS_2