
Ledakan es dari kedua serangan mereka berempat segera membekukan sebagian kaki dan tubuh Monster Gorgoter.
Lapisan es yang keras dan dingin itu menutupi kaki kanan Monster Gorgoter, membuatnya tak bisa melangkah, kemudian lapisan es yang menutupi bagian kiri dadanya hancur karena tubuhnya jatuh tersandung.
Bam!
Tubuh besar Gorgoter itu meronta-ronta, berusaha untuk bangun dengan penglihatan yang rusak.
Namun, dada bagian kanan yang terbakar, dan pinggang yang ditampar oleh tali cambuk dari batu itu memberikan dampak besar bagi seluruh tubuhnya.
Monster Gorgoter kesulitan untuk bangkit lagi.
Kesempatan ini digunakan dengan baik oleh mereka semua.
Aqila dan Helen menyerang secara bertubi-tubi menggunakan kemampuan es milik mereka berdua.
Ratusan panah es yang meledak dan membekukan tersebut berhasil mengenai semua tubuh Monster Gorgoter.
Panah es meledak dan itu membuat bagian tubuh Monster Gorgoter membeku menyebar sangat cepat.
Tubuhnya yang besar itu menjadi kaku dan tak bisa meronta-ronta ingin bangkit.
Dalam sekejap gunung es tercipta oleh keduanya dalam 2 menit menyerang.
Mereka semua sedikit tersengal, serangan yang mereka semua lancarkan itu menggunakan stamina yang besar.
Tak heran sangat berdampak kuat kepada Monster Gorgoter.
Jika tidak menggunakan tenaga dan kekuatannya, serangan mereka sangat kecil karena tubuh Gorgoter kuat menahan serangan mereka.
Berbeda jika itu melawan serangan Isander. Tubuh kuat Gorgoter seolah tidak ada pertahanan sama sekali, padahal tubuhnya sangat kuat dalam menahan serangan musuh.
Hal itu dikarenakan ada beberapa energi murni yang ikut dalam serangan yang dilakukan Isander.
Tidak akan bisa ditahan jika hanya menggunakan tubuh saja, seperti yang dilaksakan oleh Monster Gorgoter.
Tak aneh jika Isander bisa menghancurkan Monster Gorgoter menggunakan pukulannya yang sangat-sangat berat.
"Apakah dia sudah selesai?" tanya Helen yang terengah-engah kelelahan.
Aqila, Giya, dan Kila hampir menggelengkan kepalanya bersamaan, menandakan bahwa monster itu belum mati.
"Lalu, mengapa kita diamkan monster itu? Bukannya kita harus menyerang monster itu sampai mati?" Helen menatap heran kepada Aqila dan yang lainnya.
Sudut bibir Aqila terangkat naik, dan dia menjelaskan, "Goron akan menyerang dengan serangan pamungkasnya, dilanjutkan oleh kita semua. Jadi, gunakan waktu istirahat sejenak ini untuk mengumpulkan energi dan menyiapkan serangan pamungkasmu sendiri."
Helen mengangguk mengerti, kemudian dia segera mengeluarkan panah es dari tangannya.
Mereka semua mulai untuk menyiapkan serangan paling kuat yang bisa dilakukan.
Tak hanya Helen saja, Aqila dan yang lainnya segera membuat serangan pamungkasnya.
Pada saat ini, semua anggota tim Isander memiliki serangan terkuat yang akan ia lancarkan.
"Aku mulai lebih dahulu!"
Kedua tangan Goron menjadi sangat besar. Setelah mengatakan itu, dia meninju ke tanah dengan pukulan yang keras.
Bum!
Retakan menjalar dari titik pukulan pada permukaan tanah ke tempat monster itu dibungkus es dingin yang kaku.
Sebuah ledakan yang kuat terbentuk, diiringi dengan bongkahan es yang hancur.
Duar!
Bongkahan tanah raksasa yang tajam mengerucut tiba-tiba muncul dari bawah tanah, menusuk perut dan dada Monster Gorgoter hingga menembus ke punggungnya.
Segera semuanya yang melihat ini melancarkan serangan mereka satu per satu.
Reren berlari maju, kemudian dia memukul kepala monster dengan perisai durinya yang keras.
Goresan memenuhi seluruh kepala Monster Gorgoter yang tak bergerak.
Setelah Reren kembali ke formasi, sebuah tali cambuk raksasa dengan kekerasan seperti batu membentur tubuh monster hingga tusukan bongkahan tanah Goron menjadi makin dalam.
Bisa dilihat, tulang belikat kiri patah, tangan kiri Gorgoter tak bisa digerakkan lagi.
Grahhh!
Tiba-tiba monster Gorgoter yang tak bergerak tersebut meraung keras penuh ungkapan kesakitan yang sulit untuk dikatakan.
Tusukan, luka lecet, dan hantaman dari benda tumpul nan keras itu sangat sakit, memberikan tubuhnya kerusakan yang dalam.
Tusk!
Dua buah pisau kecil menancap tepat di atas ubun-ubun kepala Gorgoter yang terbaring tertusuk bongkahan tanah keras.
Melihat ini, Giya tersenyum lebar dan segera mengaktifkan kekuatan Agta terbesar.
__ADS_1
Dari kedua pisau yang menusuk itu keluar kobaran api besar yang menutupi seluruh kepala Monster Gorgoter.
Rasa panas dan perih bisa dirasakan oleh monster itu.
Darah yang keluar dari bekas garis luka goresan dari perisai Reren dibakar seluruhnya, perasaan sakit tak tertahankan membuat tubuh Monster Gorgoter bergetar hebat.
Pada saat kepala Monster Gorgoter dibakar, sosok Nina dan Reza muncul di bagian punggung monster, mereka berdua mulai mengeluarkan serangan hebatnya masing-masing.
Ratusan cahaya hijau dan biru itu memenuhi seluruh tubuh monster, disertai cipratan darah yang menyembur ke segala arah.
Keduanya menebas seluruh permukaan tubuh keras Gorgoter dengan kedua senjata kecil di tangannya dalam kecepatan serangan yang luar biasa.
Saat mereka berdua berhenti melancarkan serangan ribuan tebasan, seluruh tubuh Monster Gorgoter dipenuhi oleh darahnya sendiri.
Darah merah kehitaman dan berbau busuk tersebut mengalir keluar dari luka garis yang jumlahnya ribuan menyebar ke sekujur tubuhnya bagian punggung sampai kaki.
Setelah Nina dan Reza selesai, mereka berdua pergi tak lupa untuk memberikan serangan tambah lain berupa gelombang angin berbentuk bilah dan semburan air yang basah.
Luka ditambah air, itu merupakan cara mendapatkan rasa perih yang teramat menyakitkan.
Monster Gorgoter itu sudah tersiksa dari segala jenis luka, tubuhnya bergetar hebat sembari berteriak kesakitan.
Setelah itu, Helen yang sudah siap melancarkan satu panah es terkuatnya langsung melepaskan anak panah tersebut dari busur es.
Kecepatan terbang panah Helen begitu cepat hingga rumput yang ada di bawah jalur terbangnya bergoyang hebat diikuti dengan embun beku yang melapisi daunnya.
Semua yang ada di jalur lintasan terbang anak panah Helen menjadi membeku.
Berikutnya, ujung panah tersebut menancap dibagi kanan dan pemandangan menakjubkan terjadi.
Bang!
Panah es tersebut mengeluarkan bunga es yang besar, menghancurkan bahu kanan Gorgoter.
Bahu kanan tersebut hampir terpisah seluruhnya hingga ke bagian kiri perut yang masih tertusuk.
Lagi-lagi, perasaan sakit yang luar biasa ini dirasakan oleh Gorgoter. Tubuhnya ingin bergerak, tetapi itu tidak bisa.
Seluruh tubuhnya menjadi sangat lemah seiring darah keluar dari seluruh lukanya.
Kepala Gorgoter saja sudah menjadi hitam, bau daging dibakar bisa dicium oleh hidung semua anggota tim Isander.
Whoosh!
Sebuah tombak es yang diselimuti oleh petir meluncur cepat dan menunjuk ke kepala yang terbakar menjadi hitam.
Semuanya tahu siapa yang melancarkan serangan tombak es ini.
Pada saat tombak es Aqila menancap tepat di tengah kepala Gorgoter, tombak tersebut mengeluarkan benar-benar listrik yang banyak.
Berikutnya, ledakan kehancuran membasmi seluruh tubuh Monster Gorgoter.
Boom!
Es dan listrik bersatu untuk menghancurkan setengah tubuh Monster Gorgoter.
Daya ledakan yang hebat itu tak bisa ditahan oleh ketahanan tubuh alami Monster Gorgoter lantaran terdapat energi listrik yang dampak kerusakan sulit untuk diterima.
Bongkahan-bongkahan es yang meledak itu pun memberikan kerusakan yang signifikan untuk memecah bagian kepala dan atas tubuh Gorgoter menjadi potongan daging yang bau.
Selanjutnya, daging-daging besar tersebut dihancurkan oleh kekuatan listrik bertegangan tinggi.
Mereka semua diam berdiri dengan tubuh yang sedikit terengah-engah, lebih dari setengah dari semua tenaga pada tubuhnya dihabiskan untuk satu serangan.
Sekarang mereka butuh istirahat sejenak.
Mereka semua saling memandang satu dengan yang lain, Aqila mengangguk memberi isyarat, kemudian mundur dari medan pertempuran, meninggalkan tubuh besar Gorgoter yang besar dan tak utuh lagi.
Tubuh besar Gorgoter ditinggalkan begitu saja di medan pertempuran yang hancur dan berwarna merah.
Darah Gorgoter benar-benar mendominasi permukaan tanah di sekitar, bau busuk yang menyengat memenuhi tempat itu, sangat tidak enak jika berlama-lama di sana.
Tidak lama setelah mereka pergi, sosok Isander muncul dengan tangan kanan menyentuh tanah.
Bum!
Seluruh tanah yang hancur terkena benturan dan tabrakan serangan anggota timnya langsung ambruk ke bawah.
Dengan luas permukaan tanah 500 meter persegi tersebut amblas, kemudian Isander tutupi dengan tanah lagi.
Semuanya menjadi terkubur, termasuk darah, tak ada yang tertinggal.
Dalam sekejap mata seluruh tempat bekas pertempuran menghilang, digantikan oleh pepohonan rindang yang Isander coba pindahkan untuk mengisi kekosongan lahan yang luas.
Setelah semuanya selesai, Isander menghapus beberapa tubuh monster tingkat A dan tingkat B yang juga tidak sengaja dibunuh oleh Isander ketika menyerang 4 Monster Gorgoter.
Cukup dengan melemparkan Ball of Storm sebesar kelereng sampai bola kasti, tubuh monster tersebut hancur menjadi daging cincang gosong.
Isander menutup daging-daging kecil yang bertebaran di mana dengan pasir.
__ADS_1
Kemampuan baru harus segera digunakan pada kegiatan yang sedang dilaksanakan.
Setelah semuanya selesai, Isander kembali lagi ke semua anggota timnya untuk makan siang.
Makan siang sudah lewat setengah jam, mereka harus mengisi energi dengan makan dan istirahat satu jam sebelum melakukan kegiatan berikutnya.
Di atas dahan pohon yang besar dan tinggi, mereka semua duduk pada dahan-dahan di satu pohon yang sama, Isander membuatkan tempat mereka makan dan beristirahat di atas sini.
Kemampuan logam Isander manfaatkan untuk membuat alas mereka duduk atau tiduran.
Manipulasi logam merupakan kemampuan yang beberapa hari ini sering Isander gunakan dan pakai. Pasalnya, banyak sekali kegunaan dari kemampuan tersebut.
Logam bisa digunakan untuk apa saja, dengan sifatnya yang keras dan tangguh, bisa diaplikasikan untuk benda-benda yang mereka butuhkan.
Kursi dan tempat tidur dibuat menggelengkan logam dari Isander, sangat praktis dan tahan lama barangnya.
Berlian tidak Isander gunakan sesering itu, mungkin berlian ia berikan kepada Giya, Aqila, dan wanita lainnya yang suka batu permata yang cantik tersebut.
Para pria kurang peduli dengan keindahan, mereka lebih membutuhkan kekuatan. Berlian Isander tidak diinginkan oleh Goron dan Reza.
Namun, Isander memiliki ide untuk membuatkan mereka senjata tajam.
Senjata yang dibuat dari berlian seharusnya bagus dan bisa digunakan untuk berperang atau bertempur.
Dengan begitu, setelah makan siang selesai, tangan Isander mulai membuat pedang berlian yang dipadukan dengan gagang logam.
Gagang tidak boleh terbuat dari berlian karena sulit untuk dibentuk bulat sempurna. Jika bentuknya tidak halus, itu dapat membuat tangan pengguna luka karena ketajaman berlian.
Maka dari itu, gagangnya atau pegangan pedang dibuat dari logam.
Pedang berlian, belati kecil, pisau, palu, dibuat oleh Isander menggunakan berlian yang kuat.
"Pedang? Aku ingin belajar menggunakan pedang saat bertarung," Reza memegang pedang dari berlian berwarna hijau muda yang cukup terang saat bertemu cahaya matahari.
Kilauan dari bilah tipis berlian ini cukup menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.
Mereka langsung bisa tahu bahwa peda yang di tangan Reza terbuat dari berlian cantik.
Swoosh!
Pedang berlian diayunkan cukup cepat, Reza bisa merasakan kestabilan dan kendali yang nyaman pada pedang ini.
Meski sedikit berat, tetapi ini bisa dijadikan kelebihan. Dengan pedang yang memiliki massa yang besar akan memberikan kerusakan yang dalam juga.
Benar saja, batang pohon yang roboh dipotong oleh Reza dengan satu lambaian tangan.
Ketajaman bilah berlian sangat tinggi, tetapi ketahanannya agak sedikit buruk.
Ada kerusakan di beberapa bagian mata bilah pedang usai memotong kayu beberapa kali.
Mengetahui ini, Isander segera mereparasi senjatanya.
Kali ini, bilah yang digunakan tidak murni berlian, melainkan ada campuran logam.
Dengan begitu, ketahanan senjata akan lebih baik lagi.
Berlaku pada semua senjata yang dibuat Isander.
"Senjata itu aku berikan satu kepada kalian masing-masing, sebagai alat darurat atau alternatif. Bisa digunakan jika kalian memang ingin hemat tenaga dan stamina. Jadi, terima senjata itu untuk kalian gunakan bertempur melawan monster," ujar Isander kepada semua anggotanya yang duduk di bawah pohon.
Mereka semua mengangguk mengerti dengan ucapan Isander dan dengan senang hati menerima senjata hebat ini.
Senjata sebagus ini tidak bisa mereka tolak. Selain kuat, senjata ini memiliki tampilan yang indah. Kalau dijual juga akan mahal karena ada kandungan berlian ratusan karat.
Di tahun sebelum ada peristiwa monster ini, harga berlian sangat-sangat mahal per karatnya.
Menerima senjata berlian dari Isander mengingatkan mereka di masa-masa damai tanpa ada pertumpahan darah dan pengorbanan sia-sia.
Masa yang indah, kini mereka sedang memperjuangkan masa-masa tersebut bersama Isander.
Omong-omong, senjata yang mereka terima berbeda-beda jenisnya.
Goron lebih memilih palu godam karena tubuhnya yang besar dan kuat butuh senjata yang besar juga.
Sementara, Giya mengambil tombak dengan alasan mudah untuk digunakan dan bisa dilempar juga.
Pedang berlian dipilih oleh Reza dan Kila. Menurut mereka, pedang mudah untuk digunakan.
Nina dan Helen lebih menyukai belati pendek yang tajam, sedangkan Reren mengambil perisai berlian yang kokoh dan tahan lama, lama rusaknya.
Untuk Aqila, dia memilih cakram setengah lingkaran. Senjata tersebut bisa digunakan dengan gaya yang indah dan keren. Juga, kerusakan yang dihasilkan cukup mematikan.
Isander tidak membuat senjata untuk dirinya sendiri. Dark Spear dan Havoc Zweihander lebih kuat dari senjata berlian, percuma dan sia-sia membuat senjata dari berlian untuknya.
Saat melawan keempat monster Gorgoter saja sarung berlian sempat hancur dan terkelupas. Material berlian masih belum bisa menahan efek atau dampak dari kekuatan pukulan Isander.
"Reza, apakah kamu menemukan daerah yang terdapat monster S paling dekat dari sini?" Isander melirik Reza yang duduk bersandar di batang pohon sambil melihat kertas peta.
Reza mengangguk merespons cepat pertanyaan Isander. "Ada tanda monster S di sebelah timur laut, tidak jauh dari monster S di sini."
__ADS_1
Setelah Reza mengatakan itu, beberapa anggota tim Isander melihat tanda wilayahnya.
"Monster S itu ada di Purbalingga bagian utara," kata Kila dengan wajah yang yakin.