
Mendengar ucapan Giya, Nina tersenyum di mulutnya dan berkata, “Seharusnya, tidak ada monster yang merepotkan kita.“
“Mengapa begitu?“ Giya bertanya kepada Nina sambil mulai berjalan. Dia melangkahkan kaki menginjak rumput di depannya.
“Di sini masih kawasannya Salmagtress. Mengingat Salmagtress sudah banyak dibunuh oleh Isander semalam, itu akan sedikit yang bermunculan, bisa jadi tidak ada.“ Nina menutup tasnya dan menggendongnya di punggung.
Tas di punggung Nina telah nyaman dibawa dan dia menoleh ke Isander dan Meisya di sebelahnya. Dia memberi isyarat kepada Isander dengan tatapan matanya.
“Benar juga.“
Dipikir-pikir lagi apa yang diucapkan oleh Nina benar. Di sini memang masih area tempat Salmagtress berada. Namun, populasi mereka sedikit di sini, kemungkinan besar sudah tidak lagi banyak, jarang muncul di daerah sini.
“Lebih baik kita pergi ke area hutan yang lebih dalam, kalau tidak salah di sana juga ada sungai,” kata Nina yang terus berjalan ke depan bersama Giya.
Isander menggendong Meisya dan mengikuti keduanya, dia berjalan santai di belakang sambil melihat-lihat sekitar.
“Sungai lagi?“ Giya terkejut dengan informasi, dia baru tahu ada sungai di hutan sekitar sini. “Dari mana kamu tahu?“
“Ketika kita berdua berpencar, kamu ke arah timur sana dan aku ke selatan hutan. Saat beberapa jam aku berjalan ke dalam hutan arah selatan, aku menemukan sebuah sungai dengan air terjun.“ Nina memperlambat jalannya agar mereka bertiga berjalan berbaris.
Gerakan Nina dimengerti oleh Giya. Maka dari itu, Giya terus berbicara sambil terus berjalan ke arah depan atau arah selatan.
“Oh, aku tahu peristiwa itu. Mengapa kamu tidak bilang?“
“Kukira kamu sudah tahu.“ Nina mengira Giya sudah tahu tentang air sungai di bagian dalam hutan.
Kepala Giya bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat. “Jika aku tahu, aku akan pergi ke sana dari pada ke arah timur.“
“Aku merasa, monster Salmagtress semalam yang dibunuh olehmu, Isander, mereka adalah monster yang membuatku terjatuh ke sungai. Mereka sama-sama berkelompok dan beranggotakan banyak,” tambah Giya kepada Isander. Dia baru ingat tentang ini di kepalanya.
Ucapan Giya membuat Isander tersadar dengan sesuatu yang mengganjal pada monster-monster semalam.
Tangan Isander mengelus punggung Meisya dan dia membalas, “Aku melihat ada beberapa luka sayat di antara mereka. Aku cukup bingung dengan ini lantaran bukan dari aku, ternyata itu bekas serangan kamu.“
__ADS_1
“Sudah kuduga, itu mereka.“
Giya menghela napas lega mendengar konfirmasi daei Isander. Monster-monster yang menyerangnya secara berkelompok sudah mati semalam oleh Isander.
“Omong-omong, mengapa kamu tidak bisa membunuh mereka semua, Giya?“ Nina penasaran mengapa Giya tidak melawan mereka semua.
“Jumlah mereka banyak. Ketiga pisau lempar tidak cukup dan belum mampu melawan mereka.“
Respons Nina terhadap jawaban Giya adalah anggukan kepala, dia juga mengetahui batas kekuatannya. Dirinya belum tentu bisa melawan monster sebanyak itu.
Segera, Nina menoleh ke belakang dan melihat Isander. Tatapannya memandang Isander dengan mata yang kagum dan menghormati.
Kekuatannya sangat lemah dibandingkan kekuatan Isander, Nina mengakui hal itu. Dia telah percaya dengan ucapan Giya bahwa Isander adalah pria yang kuat dari Giya.
Ia duga Isander ada di atas tingkat Agter Master. Kekuatan Agta yang memiliki unsur elemen alam biasanya memang kuat meski tingkatnya masih rendah.
Namun, di kasus Isander itu berbeda. Kontrol atas kekuatan Isander sudah ada di atas tingkat Agter Senior atau Master. Nina tahu dari kekuatan yang ditampilkan oleh Isander dan bukti semalam yang menandakan bahwa Isander memang kekuatannya ada di tingkat Agter Master ke atas.
Tatapan Nina diketahui oleh Isander meski dia sibuk menatap jalan karena medan perjalanan yang penuh dengan batu dan rumput. Diharuskan teliti melihat agar tidak terjatuh.
Bola mata Giya membesar ketika mendengar ini dan dia menoleh ke belakang untuk melihat Nina. “Apakah itu sungai yang terdapat air terjunnya?“
“Benar, itu sungainya.“ Nina mengangguk membenarkan tebakan Giya.
“Ayo kita ke sana!“ Giya sudah tidak sabar dan mempercepat langkah kakinya.
Melihat Giya yang sudah jalan lebih dahulu, Nina memberi isyarat kepada Isander untuk jalan di depannya, dia takut Isander ketinggalan di belakang.
Mereka bertiga sama-sama berjalan menuju air sungai yang dimaksud oleh Nina. Suara air jatuh dan aliran air yang besar sangat jelas mereka dengar.
Tak lama kemudian, mereka melihat sesuatu di kejauhan.
Mereka melihat di beberapa meter di depannya terdapat sebuah aliran sungai begitu jernih. Perlahan mereka bertiga mendekati aliran air tersebut dengan kewaspadaan yang tinggi.
__ADS_1
Ketiganya belum tahu dengan apa yang ada di sekitar aliran sungai. Demi keselamatan mereka harus mengendap-endap dan memeriksa situasi lebih dahulu.
Giya yang berjalan paling depan akhirnya sampai di pohon paling dekat dengan sisi sungai. Menoleh ke kiri dan ke kanan, dia melihat-lihat kondisi sekitar sungai.
Setelah memeriksa dan mengamati sungai, dia tidak menemukan ada monster dan semacamnya, ini aman.
Tangan Giya terangkat dan dia memberi isyarat kepada Nina dan Isander dengan tangannya.
Keduanya mengerti dengan kode atau isyarat ini, dan mereka semua mulai bergerak lebih dekat ke sungai.
“Sangat jernih!“
Menatap air sungai yang mengalir di depannya, Giya mengangguk puas dengan kebersihan air sungai.
Air sungai ini memang bersih. Nina sudah memeriksa dengan mengambil air dengan kedua telapak tangannya. Airnya tidak berbau dan kotor. Benar-benar bening.
Namun, aliran sungai ini cukup besar sehingga mereka tidak bisa melihat dasar dari sungai ini.
Mereka juga sudah menandakan bahwa sungai ini tak bisa digunakan sebagai tempat mandi karena aliran sungai yang deras tak cocok untuk berendam atau mandi.
“Ikuti aku. Aku masih ingat cara melewati sungai ini dan pergi ke seberang sana.“ Nina mulai berjalan dan memimpin ketiganya.
Tanpa berpikir dan bertanya, Giya dan Isander berjalan mengikuti Nina di depan.
Arah Nina melangkah itu menuju ke tempat air terjun yang ada di barat daya. Benar, sungai ini terlihat membelah hutan.
Faktanya, sungai ini muncul dari Gunung Salak dan membelah hutan secara vertikal dan dibelokkan oleh medan tanah sehingga memotong hutan secara horizontal.
Giya dan Nina sudah membahas ini, sungai ini masih sungai yang sama dengan sungai sebelumnya.
Mereka berjalan selama beberapa menit hingga sampai di dekat air terjun. Di sekitar air terjun, lebih tepatnya pada tebing terdapat tebing yang agak merendah dan kemiringannya bisa didaki oleh mereka.
Dipimpin oleh Nina, mereka bertiga mulai mendaki tebing yang kemiringan yang rendah.
__ADS_1
“Setelah di atas, kita semua pergi ke mana, Nina?“